Chapter 176
"Aku ingin secepatnya menghadap Ayah. Aku ingin melaporkan perbuatan guruku yang tidak tahu malu!"
"Apa yang ia lakukan? Kau diapakan?"
"Aku... aku..." Yu Yin terisak. "Aku hendak diperkosanya, Tang Siu. Entah sudah atau belum, aku... aku ingin menghadap Ayah. Aku akan melaporkannya."
Tang Siu terkejut. "Diperkosa?"
Yu Yin tidak menjawab. Gadis itu terisak, menubruk temannya, dan menangis sejadi-jadinya. Kejadian semalam membuat putri Coa-ongya ini syok berat hingga nyaris pingsan. Ia berkali-kali menerima pukulan batin setiap teringat perbuatan gurunya yang dengan enak dan tak tahu malu memegang-megang tubuhnya untuk mencari Golok Maut, padahal mustahil golok itu disembunyikan di pakaian dalam. Gurunya pun sebenarnya tahu bahwa ia tidak membawa golok tersebut.
Tang Siu tertegun dan hampir tidak percaya. Namun, melihat pakaian Yu Yin yang robek-robek dan celananya yang terkuak, ia pun berdesir. Apakah malapetaka itu benar-benar terjadi? Apakah aib itu menimpa temannya? Ketika Tang Siu tidak melihat bekas-bekas mencurigakan, ia merasa agak tenang, lalu memeluk dan menghibur temannya dengan gemetar. Tak disangka, Kedok Hitam sungguh keji.
"Yu Yin, kau boleh mencari ayahmu. Tapi apakah hal itu tepat? Bukankah sekarang sedang terjadi pertempuran di luar?"
"Aku tidak peduli. Aku akan melapor kepada Ayah! Akan kuberitahukan sepak terjang guruku itu, Tang Siu. Biar Ayah memecat dan menghukumnya. Suhu sungguh keterlaluan!"
"Baiklah," gadis itu tidak melihat jalan lain. "Aku mengantarmu, Yu Yin. Mari kita cari ayahmu!"
"Kau ikut?"
"Tentu saja, aku harus menjaga keselamatanmu."
Yu Yin mendekap sahabatnya dengan penuh terima kasih. Belum pernah ada sahabat yang begitu hebat pertolongannya, yang siap mempertaruhkan nyawa untuknya. Setelah saling berpelukan, Tang Siu mengajak temannya segera berangkat.
"Sudahlah, kita berangkat. Di luar ada perang dan kerusuhan. Kota Raja sedang guncang. Giam Liong mengamuk!"
"Baik, terima kasih, Tang Siu. Seumur hidup aku tidak akan melupakan budi baikmu ini."
"Ah, tidak usah dibesar-besarkan. Ayo keluar!"
Yu Yin teringat pakaiannya yang robek. Ia segera menyambar pakaian seorang pengawal, mengenakannya dengan tergesa, lalu mereka melanjutkan perjalanan. Mereka masuk dan keluar gedung, merobohkan dayang atau pelayan yang menghalangi dengan totokan, hingga akhirnya sampai di kamar utama tempat ayahnya biasanya berada.
"Tunggu, kau di luar saja. Aku masuk sendirian!" ujar Yu Yin. Tang Siu mengangguk dan berjaga di pintu depan.
Yu Yin memasuki kamar ayahnya, namun kamar itu kosong. Ia mencari ke ruangan samping, namun ayahnya tetap tidak ada. Ketika ia membuka pintu yang menuju ke taman, ia tertegun melihat empat sapu tangan hitam bergelantungan di kisi-kisi bambu di antara tanaman anggrek.
"Milik Suhu..." gumamnya.
Yu Yin terkejut. Ia mengira gurunya baru saja bertemu dengan ayahnya dan meninggalkan kedok hitam itu. Ia mengenal sapu tangan berciri khusus dengan dua lubang membentuk segitiga di sudut mata itu. Bagaimana mungkin gurunya sampai masuk ke kamar pribadi ayahnya? Hal itu menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Yu Yin segera menutup pintu dan meloncat keluar.
Ia tidak menemukan ayahnya dan merasa bingung. Saat kembali bertemu Tang Siu, Yu Yin menggeleng pertanda tidak berhasil.
"Tidak ada. Barangkali di tempat Kaisar?"
"Kau mau ke sana?"
"Tidak, percuma, Tang Siu. Lagipula amat berbahaya, terutama untukmu. Di kamar Kaisar banyak jebakan rahasia yang tidak kukenal. Kalau aku tertangkap tidak apa-apa, tapi kalau kau... ah, tentu bahaya. Mari kita keluar saja. Aku ingin membantu Giam Liong melawan guruku itu!"
"Baik, mari Yu Yin, aku juga ingin tahu bagaimana Giam Liong menghadapi gurumu!"
Dua gadis itu bergerak membaur dengan para pengawal. Karena di luar sedang terjadi kekacauan akibat serbuan Chu-goanswe, mereka berhasil menyusup di antara pasukan kerajaan. Suasana di sana sangat mencekam; teriakan dan jerit pengawal terdengar di sana-sini, disertai derap pasukan berkuda yang menyeramkan.
Pasukan pejuang yang bercampur dengan orang-orang persilatan memiliki keterampilan lebih dibanding pasukan kerajaan. Mereka bertempur dengan semangat tinggi karena Giam Liong sedang menghadapi Kedok Hitam, tokoh istana yang paling lihai. Sementara itu, Pat-jiu Sian-ong yang membantu Kedok Hitam ternyata telah tewas.
"Hidup Sin-siauwhiap! Hidup Si Naga Pembunuh! Sikat dua sisanya itu!" sorak para pejuang.
Yu Yin dan Tang Siu mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Mereka mendengar kabar bahwa Pat-jiu Sian-ong telah tewas setelah kepalanya dibabat Golok Maut oleh pemuda itu.
"Bagaimana dengan Kedok Hitam dan temannya?" tanya seseorang.
"Mereka terdesak. Hantu Selatan berkali-kali menyelamatkan diri dengan ilmu menghilangnya!"
Yu Yin dan Tang Siu berusaha mendesak maju melalui ribuan pasukan. Sempat ada pengawal yang curiga, namun mereka akhirnya membiarkan karena situasi yang kacau dan ancaman maut yang lebih nyata.
Giam Liong sendiri memang telah berhasil merobohkan Pat-jiu Sian-ong dengan memainkan Imhoat dan pukulan Kim-kang-ciang yang dahsyat. Ia juga mengeluarkan ilmu seratus langkah saktinya, Pekkun. Ilmu ini membuat gerakan kaki Giam Liong bagaikan karet, maju mundur dengan cepat dan loncatan yang mengejutkan. Ia selalu menempel ke mana pun lawan bergerak.
Pat-jiu Sian-ong pucat pasi. Saat Giam Liong melancarkan pukulan Kim-kang-ciang dari tangan kiri, kakek gundul itu terpental.
"Mampus kau!" seru Giam Liong. Pat-jiu Sian-ong terbelalak melihat serangan itu menyambar, namun meski ia berusaha mengelak, serangan tersebut tetap mengejarnya.