Chapter 177
Saat kakek itu menangkis namun terpelanting, Giam Liong mempergunakan tenaga *sinkang* warisan kitab di sumur tua. Gerakan *Pekkun* membuat pemuda itu tiba-tiba mendekat, dan kali ini golok di tangan kanannya bekerja. Gerakan ini tak mungkin dielak, membuat Pat-jiu Sian-ong ngeri. Ia berteriak pada temannya, namun Lam-ciat maupun Kedok Hitam tak sempat menolong.
Dua orang itu baru saja tergetar oleh tangkisan Giam Liong; apalagi Golok Mautnya benar-benar ditakuti lawan karena dapat bergerak tak terduga, seperti yang dialami kakek gundul itu. Ketika Pat-jiu Sian-ong tak mampu berkelit dan golok menyambar lehernya, kakek ini tiba-tiba roboh dan kepalanya terlepas dari batang tubuh.
"Crat!" Golok itu bersinar-sinar. Kali ini yang menjadi korban adalah seorang tokoh, bukan prajurit biasa seperti yang tadi dibabat Giam Liong. Saat kakek itu roboh dan tepuk riuh di pihak pemberontak menggetarkan istana, Lam-ciat maupun Kedok Hitam menjadi pucat. Mereka ngeri dan gentar oleh kehebatan pemuda itu. Giam Liong bersimbah peluh, namun dadanya yang bidang itu serasa makin kokoh, berkilat-kilat, dan tampak begitu jantan. Sungguh mirip seekor banteng!
Karena Giam Liong telah membuang bajunya yang robek terbakar panah api, pemuda ini bertelanjang dada memainkan golok dengan gerak langkah *Pekkun*. Tandangnya benar-benar garang; siapa pun yang coba-coba maju mendekat pasti terkibas dan roboh oleh sinar maut goloknya. Kedok Hitam telah dua kali menyuruh orang-orangnya mengacau, entah dengan tombak atau panah. Tapi ketika semua itu terpental dan malah menyambar Kedok Hitam sendiri, laki-laki ini menyumpah karena harus berdua menghadapi pemuda tersebut.
Giam Liong tak kenal lelah, napasnya hebat. Karena bertanding penuh semangat balas dendam, Kedok Hitam dan Hantu Selatan—yang termasuk tokoh-tokoh tua—harus mengakui daya tahan tubuh mereka tidak sekuat anak muda itu. Perlahan-lahan napas Kedok Hitam tersengal dan Lam-ciat pun memburu. Kakek itu terengah-engah dan mulai gemetaran. *Kim-kang*, pukulan emas yang didapat dari sinar bulan purnama, tak mampu menghadapi *Kim-kang-ciang* milik Giam Liong. Meskipun sama-sama bersinar kuning, pukulan pemuda itu lebih antep. Hal itu karena hawa murni pemuda ini jauh lebih baik daripada lawannya yang memperoleh *Kim-kang* dengan cara mengumbar birahi.
Karena Lam-ciat sering terhuyung dan terpelanting saat bertemu pukulan pemuda itu, kakek ini akhirnya mulai mundur dan sedikit demi sedikit menjauhkan diri dari pertempuran.
"Hei!" Kedok Hitam membentak saat melihat gelagat temannya yang tidak beres. "Jangan menjauhkan diri, Lam-ciat. Keparat kau! Bantu aku dan jangan mundur."
"Hm," kakek ini terkekeh menyeringai. "Aku tidak mundur, Kedok Hitam, melainkan mencari kesempatan untuk merobohkan bocah ini. Kau biar di depan saja dan aku di belakang."
"Pengecut!" Kedok Hitam marah. "Tak usah macam-macam, Lam-ciat. Kau di kanan, aku di kiri. Keluarkan *Hoan-eng-sut*-mu dan robohkan dia!"
Kakek itu menggerutu. Di mulut ia mengangguk, namun kenyataannya ia tetap menjaga jarak. *Hoan-eng-sut* telah dikeluarkan, namun tetap saja gagal. Setiap ia menyambar dari belakang, pemuda itu pasti membalik dan Golok Maut menyambut. Karena akhirnya ia malah dikejar dan menerima tusukan-tusukan cepat dengan *Pekkun*, Lam-ciat menjerit ketika tiba-tiba ia mendapat pukulan di tengkuk—bukan dari Giam Liong, melainkan justru dari Kedok Hitam, rekannya sendiri!
Saat kakek itu terjatuh, Lam-ciat marah karena mendapat bentakan dan makian. "Lam-ciat, jangan macam-macam di sini! Kalau kau tidak mau membantuku, aku akan membunuhmu!"
"Keparat!" kakek ini memaki. "Kau tak usah marah-marah kalau tak mampu menandingi pemuda ini, Kedok Hitam. Yang dicari pemuda itu sebenarnya adalah kau, bukan aku. Aku enggan membantu setelah kau bersikap kasar begini!"
"Eh, kau meninggalkan istana?"
"Hm, kupikir cukup sudah bantuanku ini, Kedok Hitam. Tapi urusan pribadimu sebaiknya tak usah kucampuri. Aku tetap membantu istana, dan sebagai buktinya lihat aku menghajar pemberontak-pemberontak itu!"
Lam-ciat meninggalkan Kedok Hitam dan justru membantu pasukan kerajaan. Saat Kedok Hitam harus berhadapan sendiri melawan Giam Liong, ia tampak pucat dan kaget. Sementara itu, Lam-ciat beterbangan dan terbahak-bahak menghajar pasukan Chu-goan-swe.
Giam Liong tertawa dingin melihat wajah lawan yang gelisah dan merah pucat berganti-ganti. "Hm, itulah hadiah untukmu. Orang sesat mendapatkan teman yang jahat, Kedok Hitam. Sekarang kau ditinggalkan kawanmu. Bagus, kita sekarang berdua. Lihat aku membunuhmu seperti dulu kau membunuh ayahku. Kaki dan tanganmu akan kupotong-potong. Dan benda jijik yang kau pakai untuk memperkosa ibuku akan kurajang seperti cabai!"
"Argh!" Laki-laki itu berteriak menggetarkan dinding. "Kubunuh kau, Giam Liong!"
Belasan *hui-to* kecil berhamburan dari tangannya bagaikan hujan. Giam Liong terbelalak namun tidak kaget. Ia telah melihat gerakan tangan yang mencurigakan saat lawan merogoh kantong baju. Dengan langkah *Pekkun*, ia mengelak dan menggerakkan goloknya, mementalkan golok-golok terbang itu. Ia membalas dengan melepas tujuh belas *hui-to* ke arah musuhnya.
Tujuh belas golok terbang dibabat golok kutung di tangan Kedok Hitam. Laki-laki itu masih cekatan dan Giam Liong kagum, meskipun kemarahannya bertambah. Saat Giam Liong mengejar, Kedok Hitam kembali melepas golok terbang dengan tenaga sakti yang mengerikan. Namun, Giam Liong berhasil menangkis semuanya hingga golok-golok kecil itu patah dan sebagian menyambar tuannya sendiri.
Kedok Hitam menggeram dan melempar tujuh *hui-to* beronce, bukan ke arah Giam Liong, melainkan ke arah Lam-ciat yang sedang tertawa melihat Kedok Hitam didesak. Lam-ciat terkejut, namun karena tak sempat mengeluarkan *Hoan-eng-sut*, sebatang *hui-to* menancap di tenggorokannya.
Lam-ciat tersentak, Giam Liong pun kaget. Kedok Hitam rupanya sudah gelap mata! Begitu kakek itu sadar, ia mencabut *hui-to* dari lehernya dan melemparkannya kembali ke arah Kedok Hitam, disusul terjangan tubuhnya yang menubruk bagai seekor kerbau jantan. "Kedok Hitam, kau bangsat keparat! Berani benar kau menyerang aku!"
Kedok Hitam mendengus. Ia marah karena Lam-ciat telah mengejeknya saat terdesak. Akibatnya, ia melepaskan dua kali tujuh golok terbang berturut-turut ke arah Lam-ciat. Saat kakek itu menyeruduk, Kedok Hitam dengan licik mengayunkan kakinya, mendorong si kakek hingga menumbuk tubuh Giam Liong.
"Hm!" Giam Liong mengeluarkan tawa dingin. Lam-ciat yang terluka tenggorokannya menggeram bagai babi disembelih. Kedok Hitam yang dituju, namun Giam Liong yang malah dihadapi. Kedok Hitam terus mendorong kakek itu agar menubruk si pemuda.