Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 178

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 178

Karena Giam Liong tidak mengelak seperti Kedok Hitam itu, melainkan menyambut dan menggerakkan Golok Mautnya, maka kakek ini terbeliak melihat kilatan sinar putih panjang. Alih-alih hendak menerjang srigala, tak tahunya bertemu harimau yang jauh lebih ganas.

Karena tidak mungkin lagi kakek itu mengelak, sementara cara serudukannya justru seperti seekor kerbau yang menyerahkan kepala, sinar maut itu memapak gerakannya. Terdengar suara ngorok tertahan ketika kepala kakek itu putus. "Crat!" Kakek itu tewas dengan mengerikan. Kepalanya seketika terlempar dan darah memuncrat seperti pancuran. Batang tubuh itu tumbang dan sejenak dua belah pihak tertegun. Pasukan kerajaan maupun pasukan pemberontak sama-sama bengong.

Namun, begitu kakek itu tewas, sorak gegap gempita meledak dari pihak Chu-goanswe. Mereka berteriak riuh rendah hingga membuat lawan pucat pasi, dan Kedok Hitam tiba-tiba melarikan diri.

"Berhenti!" Giam Liong membentak melihat gerakan itu. "Selesaikan urusan kita, Kedok Hitam. Jangan lari!"

Kedok Hitam berkeringat dingin. Ia mencoba menyelinap dan lari di balik pasukannya, namun Giam Liong melihatnya. Pemuda itu hanya sekejap dikecoh dengan gerakan Lamciat, matanya tetap melirik lawan dan akhirnya mengetahui ke mana Kedok Hitam melarikan diri. Ketika Giam Liong berkelebat dan Pekkun-nya bekerja dengan cara mengejutkan—melekat tak jauh dari lawan—ia mengeluarkan golok-golok terbangnya dan menyambitnya seperti yang dilakukan lawannya tadi.

"Cit-cit-cit..." Kedok Hitam tahu bahaya. Tanpa menoleh, ia menggerakkan tangannya ke belakang, menangkis dan meruntuhkan senjata-senjata itu. Namun, karena Giam Liong terus mengejar dan belasan *hui-to* kembali menyibukkan lawan, laki-laki ini menjadi pucat dan gentar. Ia berlari berbelok-belok masuk ke istana, berteriak kepada pengawal agar menyerang atau menghalangi pemuda itu.

"Tahan dia! Serang, bunuh!"

Namun, Giam Liong bergerak dengan Golok Mautnya. Lawan diterjang dan siapa pun tercerai-berai. Golok Maut tak banyak bicara, dan akibatnya pasukan mundur sambil berteriak-teriak. Mereka terjengkang dan saling dorong dengan rekan lainnya, gentar menyaksikan golok yang haus darah itu. Karena semua menyibak, Giam Liong dengan mudah melakukan pengejaran. Tak ada yang berani menghadang, membuat laki-laki itu semakin pucat dan ngeri. Semangatnya kini di ujung rambut.

"Hei, tahan! Tahan dia! Jangan biarkan masuk istana!" Namun, tak ada yang menggubris. Laki-laki itu menyuruh orang menghadang Si Naga Pembunuh sementara ia sendiri lari terbirit-birit.

Ketika Giam Liong tertawa mengejek dan tetap menempel di belakang, Kedok Hitam menoleh dengan wajah pucat seperti kertas. Pemuda itu mengeluarkan seruan dingin yang seakan membekukan darah, "Kedok Hitam, sekarang ajalmu tiba. Menyerahlah dan berhenti!"

Laki-laki ini gemetar. Ia mencoba mengandalkan pasukan, namun tak satu pun yang berani, apalagi di situ pasukan Chu-goanswe sedang bersorak dan menerjang pasukannya hingga kalut. Kaum pemberontak girang bukan main karena untuk kesekian kalinya Giam Liong mengejar si Kedok Hitam. Kini, laki-laki itu tidak dapat mengandalkan tenaga istana untuk melindungi dirinya. Lagipula, Pat-jiu Sian-ong dan Lamciat juga binasa.

Ketika ke mana pun ia lari Giam Liong selalu menempel di belakang, sebatang *hui-to* akhirnya menancap di pundak laki-laki ini. Kedok Hitam mencapai puncak ketakutannya dan menjerit, "Sri Baginda, tolonglah hamba!"

Giam Liong mendengus. Lawan sudah memasuki istana, namun ia tetap membayangi. Giam Liong sudah berkali-kali memasuki istana dan membuatnya waspada akan jebakan-jebakan. Cukup kenyang ia akan semua itu. Benar saja, beberapa jebakan dipakai lawan, namun semuanya dapat dihindarkan. Jarak dengan Kedok Hitam semakin dekat, laki-laki itu melengking putus asa, lalu keluar lagi dan berkelebat di atas gedung-gedung, menuju ke luar kota raja.

"Giam Liong, kau bocah jahanam keparat! Lepaskan aku, harta dan kedudukan akan kuberikan kepadamu!"

"Hm, aku tak butuh semuanya itu. Aku butuh kulit dan dagingmu, Kedok Hitam, juga jantungmu yang hitam itu. Berhentilah, dan lihat aku merajang kulitmu termasuk benda yang kaupakai untuk memperkosa ibuku itu!"

"Tobat, aku menyerah. Minta ampun. Lepaskan aku!"

"Hm, tak ada ampun!" Giam Liong muak dan benci memandang lawannya itu; sikapnya menjadi lebih beringas. "Kau harus minta ampun terlebih dahulu kepada ayah ibuku di akhirat, Kedok Hitam. Baru setelah itu kepadaku!"

"Aduh, kau terkutuk. Kau bocah keparat. Kau... crep!"

Kedok Hitam menjerit. Giam Liong melepas golok terbangnya lagi dan kini menancap di pipi. Dari samping, pemuda itu menyerang lawannya. Ketika lawan terjungkal namun lari lagi dengan hebat dan mengagumkan, laki-laki ini menuju ke Timur. Ia telah melewati ratusan kepala, dan ribuan orang yang menonton terbelalak. Kejar-kejaran itu mendebarkan sekali. Golok Maut di tangan Giam Liong tetap bersinar-sinar dan cahaya dari golok ini memantul menyilaukan mata. Semua merasa ngeri dan bergidik. Naga Pembunuh benar-benar siap menghabisi lawannya.

Ketika laki-laki ini melompati pintu gerbang dan turun di luar, ia lari sekencang-kencangnya dan mencoba menyusup di malam gelap, namun Giam Liong terlalu dekat jaraknya. Sebatang *hui-to* kembali menyambar dan laki-laki itu roboh. Hebatnya, ia masih dapat berdiri lagi dan lari kesetanan. Kedok Hitam rupanya mendapat tenaga mukjizat yang luar biasa, bukan untuk dipakai bertanding melainkan untuk melarikan diri. Ketika Giam Liong kembali kagum karena laki-laki itu mampu melesat kencang, terbang bagai harimau bersayap, ia melepas lagi dua golok terbangnya mengenai paha lawan. Kedok Hitam menjerit namun masih dapat berlari, bahkan kian kencang.

Ketika malam berganti pagi, mereka tiba di telaga Hek-yan-pang!

"Hei!" Giam Liong terkejut dan sadar. "Berhenti kau, Kedok Hitam. Ada apa datang ke situ!"

Namun, laki-laki itu mengeluarkan lengkingan panjang pendek. Ia sudah memanggil-manggil Pek-jit-kiam Ju Beng Tan. Giam Liong berubah sikap karena ayah angkatnya muncul dan berkelebat di seberang sana. Ketika dua bayangan lain juga bergerak dan muncul—itulah Han Han dan bibinya, Swi Cu—berturut-turut anak-anak murid Hek-yan-pang bermunculan hingga telaga tiba-tiba penuh orang.

"Ju-taihiap, tolonglah aku! Giam Liong hendak membunuhku... byurr!"

Laki-laki itu terjun ke telaga, menyambar dan buru-buru menyergap sebuah perahu. Anak murid Hek-yan-pang berteriak karena ditendang dari perahunya. Kedok Hitam panik. Ketika laki-laki itu mendayung dengan cepat dan pucat menuju seberang, Beng Tan dan lain-lain terbelalak di sana. Giam Liong marah besar, melempar dua potong papan kecil, mengejar, dan berjungkir balik di atas telaga sambil meluncur.

"Kedok Hitam, kau pengecut! Ada apa membawa-bawa orang lain? Berhentilah, dan terima ini!"

Tiga golok bercuit... Kedok Hitam mengelak, namun *hui-to* itu tiba-tiba membalik. Laki-laki ini kaget karena Giam Liong ternyata mempergunakan kepandaiannya yang jarang digunakan, membuat golok seolah bernyawa. Senjata itu menyambar kembali laki-laki itu hingga daun telinganya putus dan terpenggal.

"Aduh, ampun, Giam Liong. Tobat..."

Beng Tan dan anak istrinya terkejut. Kedok Hitam yang sudah bermandi darah benar-benar membuat geger pagi itu. Ia datang dengan keadaan menyedihkan, mukanya pucat pasi. Pundak dan pipinya juga tertembus golok kecil. Ketika Giam Liong mendengus dan bergerak di air dengan amat cepat mengejar, lawan benar-benar merasa ajal telah tiba mendengar bentakan pemuda itu, dingin dan menggetarkan bulu kuduk.

"Kedok Hitam, siapa pun tak dapat mencampuri urusan kita. Kau telah membunuh ayah dan ibuku. Dan kau pun memperkosa ibuku sebelum mati. Ajalmu sudah dekat, berhenti dan terimalah!"

Laki-laki ini berteriak. Ia sudah hampir di seberang ketika tiba-tiba tiga *hui-to* kecil menyambarnya lagi. Senjata-senjata itu mendahului Giam Liong sebelum pemiliknya datang. Karena Kedok Hitam tak mungkin menangkis kecuali mengelak, golok lewat di sisinya dengan cepat, lalu tiba-tiba seperti tadi, *hui-to* terbang ini membalik dan kembali menyambar dari depan.

"Ju-taihiap, tolong!"

Beng Tan tak sempat bergerak. Bentakan atau seruan Giam Liong tadi membuatnya tertegun. Kabar bahwa Wi Hong dibunuh dan diperkosa laki-laki ini membuatnya merah padam. Kedok Hitam sungguh keji. Ketika Swi Cu maupun Han Han juga terbelalak dan kaget, jeritan ngeri terdengar ketika hidung laki-laki itu terpapas.

"Crass!"

Kedok Hitam terjungkal. Sekarang ia terlempar dari perahunya tepat di seberang, terbanting dan roboh di dekat ayah dan anak itu. Ketika ia mengeluh dengan suara bindeng, darah memenuhi muka dan pakaiannya, Giam Liong tertawa bergelak dan menyambar ke depan. Golok Penghisap Darah berkelebat.

"Kedok Hitam, sekarang terimalah kematianmu!"

Laki-laki itu tak sempat mengelak. Walaupun ia mampu mengelak, ia tidak mungkin lebih cepat dari golok. Senjata di tangan Giam Liong bergerak bagai kilat menyambar, desingnya mengerikan. Tapi ketika laki-laki itu terjerembap dan terbeliak menyaksikan sambaran golok—hidung dan telinganya deras mengucurkan darah—berkelebat cahaya putih dan bentakan yang menggetarkan telaga.

"Giam Liong, jangan bersikap kejam!"

Ledakan atau dentangan itu memekakkan telinga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment