Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 179

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 179

Giam Liong terkejut ketika tiba-tiba dari arah kiri menyambar pedang yang menyilaukan mata, yakni pedang di tangan Han Han yang dikenalnya sebagai Pedang Matahari, senjata milik ayah angkatnya yang kini rupanya dimiliki oleh sang anak kandung.

Ketika suara dentuman dua senjata di tangan mereka beradu begitu keras, bunga api memuncrat dan masing-masing terpental, terbanting, serta bergulingan. Giam Liong berseru keras, sementara Han Han juga berjungkir balik. Telapak tangan kedua anak muda itu sama-sama terasa panas dan terbakar.

"Crang!" Golok Maut dan Pedang Matahari menggetarkan seisi ruangan.

Beng Tan dan istrinya sampai terhuyung mundur, sementara anak-anak murid Hek-yan-pang terlempar ke sana kemari. Suara dahsyat dari benturan dua senjata ampuh itu bagaikan halilintar menyambar; ledakannya benar-benar menggetarkan telaga. Air di tepian pun sampai memuncrat tinggi karena begitu hebatnya benturan tersebut.

Ketika kedua anak muda itu berdiri kembali, Han Han mendarat dengan tenang, sementara Giam Liong menggigil dan bergemertuk menahan amarah yang meluap-luap kepada pemuda berbaju putih yang merupakan putra dari ayah angkatnya itu.

"Han Han, kau jangan ikut campur! Atau aku tidak akan mengingat siapa kau!"

"Maaf," Han Han bergidik ngeri melihat mata Giam Liong yang tampak seperti setan. "Aku tidak akan mencampuri urusanmu kalau kau tidak di sini, Giam Liong. Tapi nyatanya kau telah datang ke Hek-yan-pang, dan kami sebagai tuan rumah tentu tidak dapat membiarkan pembunuhan terjadi di depan mata. Urusanmu tidak akan kucampuri jika kalian berada di luar. Namun, karena kau sudah datang ke sini, kau dan dia kuanggap tamu dan tidak akan dibeda-bedakan."

"Tapi aku datang bukan untuk bertamu! Aku mengejar musuhku ini. Kalau begitu, lempar dia ke seberang dan jangan ikut campur!"

"Aku tidak dapat memaksa. Kalau Kedok Hitam tidak mau pergi, maka dia adalah tamuku. Silakan kau tunggu di seberang atau sama-sama menjadi tamu di sini."

"Kau... kau...!" Giam Liong tidak dapat berbicara, tiba-tiba ia berbalik dan menghadap ke arah ayah angkatnya. Ketika sepasang matanya membuat Beng Tan mundur selangkah, sinar mata itu benar-benar penuh api. Giam Liong berkata dengan suara menggigil menahan amarah yang meledak-ledak, "Ayah, apakah sikapmu sama seperti Han Han? Apakah kau juga akan melindungi dan membela jahanam ini? Kutegaskan di sini bahwa apa pun akan kulakukan untuk membunuh musuhku ini, Ayah. Jangankan di Hek-yan-pang, di istana pun aku tidak gentar. Aku telah bersumpah untuk membunuh dan membalas dendam. Nah, aku mohon jawabanmu, apakah kau juga akan bersikap seperti Han Han? Tidak usah berbelit-belit, karena siapa pun tahu bahwa jahanam ini sengaja datang ke Hek-yan-pang bukan sebagai tamu, melainkan memang ingin meminta perlindungan. Aku masih menghormat dan memandang mukamu!"

Beng Tan menarik napas dalam-dalam. Akhirnya ia dapat menenangkan diri dan meminta sang istri untuk diam. Sesungguhnya, siapa pun akan gentar menyaksikan sikap Giam Liong ini. Si Naga Pembunuh itu akan menerjang siapa saja yang berani menghalanginya, termasuk dirinya sendiri. Karena Beng Tan tahu watak anak angkatnya yang pendiam namun bergemuruh, ia mencoba bersikap objektif dan netral. Kedok Hitam memang terlalu jahat dan tidak patut dilindungi. Han Han, putranya, belum benar-benar tahu watak laki-laki itu. Namun, karena ia juga memahami watak anaknya yang tidak mungkin membiarkan keberingasan membabi buta—anaknya terpengaruh iba dan ngeri melihat penderitaan Kedok Hitam—maka ia berkata dengan suara datar namun penuh wibawa.

"Giam Liong, aku pun tidak takut akan ancamanmu. Mati bagi seorang pendekar bukanlah apa-apa. Tapi karena urusan ini sudah melibatkan kami, baik langsung maupun tidak, maka meskipun kau benar, Han Han juga tidak salah. Diundang atau tidak, bermaksud meminta perlindungan atau tidak, nyata-nyata kalian telah datang ke Hek-yan-pang. Nah, aku akan bersikap netral di sini. Kau boleh mengemukakan segala alasanmu, tapi betapapun tentunya kau juga harus menghormati dan menghargai hak kami sebagai penguasa wilayah Hek-yan-pang. Karena baik kau maupun Han Han sama-sama memiliki kebenaran, aku tidak akan campur tangan. Biarlah kau selesaikan urusan itu dengan Han Han. Aku akan berdiri di luar, tidak memihak. Kalian selesaikan sendiri masalah itu sebagaimana layaknya seorang pendekar. Kau turuti kata-kata Han Han atau Han Han siap menerima kemarahanmu!"

"Ayah tidak menyuruh Han Han minggir?"

"Aku tidak berhak menyuruhnya, Giam Liong. Ia pun benar karena ia merasa sebagai pemilik wilayah ini. Tapi karena kau pun juga benar bahwa kedatangan Kedok Hitam bukan sebagai tamu melainkan sebagai orang yang meminta perlindungan—dan Han Han rupanya hendak melindunginya—silakan kau selesaikan urusan itu dengannya atau kau tunggu di seberang sampai Kedok Hitam keluar!"

Giam Liong mengeluarkan erangan aneh. Ia terpukul oleh kata-kata itu namun menyadari bahwa hal tersebut benar. Sebagai pemilik Hek-yan-pang yang wilayahnya didatangi orang, tentu saja pemilik berhak mengusir atau menerima, melawan atau melindungi. Menyadari Kedok Hitam sungguh licik—laki-laki itu tertawa dan terbatuk-batuk, yang membuat Giam Liong merasa sangat benci—pemuda itu membentak.

"Kedok Hitam, jangan buru-buru tertawa! Betapapun, aku akan membunuhmu. Kalau Han Han melindungimu, bersyukurlah bahwa nyawamu masih diberi sedikit umur panjang!"

"Heh-heh... ugh!" Laki-laki itu tersedak, girang, dan sejenak dapat melupakan sakitnya. "Kau telah mendengar kata-kata itu sendiri, Giam Liong. Hek-yan-pang membantuku. Kau harus berhadapan dengan mereka dulu kalau ingin membunuhku. Ugh... jasa baik ini tentu tidak akan kulupakan, dan kelak Sri Baginda akan kuberi laporan agar menganugerahkan pangkat besar!"

"Kau tidak usah banyak mulut!" Beng Tan membentak dengan tidak senang. "Hek-yan-pang tidak pernah membela atau melindungi orang jahat, Kedok Hitam. Yang berbuat di sini adalah putraku sebagai pribadi, bukan membawa-bawa Hek-yan-pang. Ia bergerak semata atas dasar perikemanusiaan, rasa iba, dan kasihan melihat dirimu diancam bahaya!"

Laki-laki itu tertawa sumbang, lalu mengerang dan merintih lagi merasakan sakitnya. Ia duduk bersandar dan membalut luka-lukanya sendiri. Keadaannya mengenaskan, dan siapa pun tentu akan merasa kasihan. Memang benar kata-kata Beng Tan tadi, namun karena semua orang juga tahu bahwa laki-laki ini amatlah jahat, culas, dan curang, maka tidak ada yang menolongnya. Han Han sendiri melindunginya hanya karena merasa ngeri dan bergidik melihat keganasan Giam Liong. Musuh yang sudah terpapas daun telinga dan hidungnya masih juga dikejar-kejar, belum lagi beberapa golok terbang yang menancap di pipi dan pundak. Ah, semua ini membuat watak mulia Han Han bangkit. Ia tidak dapat membiarkan kekejaman itu berlangsung di depan mata. Lain halnya kalau Giam Liong menyiksa atau membunuh lawannya di luar sana. Karena Han Han dan Giam Liong memiliki watak yang berbeda, Giam Liong sudah berhadapan dengan calon lawannya ini untuk kedua kalinya sebagai musuh.

"Han Han," suara Giam Liong berat dan terdengar dingin, kemarahannya masih tetap berkobar. "Apakah kau tetap melindungi dan hendak membela jahanam ini? Apakah kau tidak dapat membiarkan aku menyelesaikan dendamku dan nanti kita selesaikan urusan kita sendiri?"

"Maaf," Han Han menarik napas dalam-dalam. "Aku melihatmu terlalu kejam dan tidak berperasaan, Giam Liong. Sungguh ngeri hatiku melihat apa yang kaulakukan kepada lawanmu ini. Lihat, ia luka-luka dan sudah terpapas hidung dan telinganya, tapi masih juga kau kejar-kejar. Ia telah bertobat dan meminta ampun, namun kau tetap juga menyerangnya. Hm, aku tidak dapat melihat semuanya ini dan hatiku berontak. Kau tunggulah di luar sana kalau ingin membunuh. Tapi kalau kau bersikeras dan hendak membunuh di sini, karena ada aku, maka tentu saja aku tidak akan tinggal diam. Kau berada di wilayah Hek-yan-pang, wilayah ayah ibuku. Harap kau tahu ini dan terserah mana yang hendak kau pilih."

"Baik!" Giam Liong bergetar menggerakkan Golok Mautnya, matanya mencorong bagai naga sakti, berkilat-kilat. "Kau dan aku rupanya sama-sama teguh pendirian, Han Han. Kita sudah sama-sama tidak ada titik temu. Mari selesaikan persoalan ini secara pendekar, dan kau atau aku yang roboh memperebutkan jahanam itu!"

"Aku tidak berebut. Aku hanya membela kebenaran sesuai kata hatiku."

"Tidak usah banyak cakap. Cukup kita bicara. Han Han, kau atau aku yang mati, awas...!"

Golok Maut berdesing menyambar Han Han, bergerak dengan kecepatan kilat, tiba-tiba sudah melesat bagai halilintar dan membabat leher pemuda itu. Giam Liong tidak mau banyak bicara lagi. Percuma adu debat; Han Han akan membela pendiriannya seteguh ia membela pendiriannya sendiri. Ketika Golok Maut bicara dan inilah penyelesaian secara laki-laki—siapa yang roboh memperebutkan Kedok Hitam—Han Han mengelak. Namun, golok itu mengejar juga. Ia melompat, tapi tetap diburu, dan yang diincar adalah lehernya. Kalau sudah begini, Giam Liong benar-benar seekor naga pembunuh; siapa pun akan diterkam dan dilahapnya. Karena serangan itu berbahaya dan dua kali berkelit tetap juga dikejar, hawa dingin Golok Maut membuat bulu kuduk meremang. Han Han menangkis, dan untuk kedua kalinya dua senjata yang sama-sama ampuh itu bertemu.

"Crang!"

Anak-anak murid terpelanting. Han Han tergetar, sementara Giam Liong juga terhuyung, membentak, dan maju lagi. Beng Tan maupun istrinya harus mundur dengan muka pucat. Swi Cu menjerit kecil ketika putranya tadi menangkis. Lelatu api yang memuncrat dari kedua senjata di tangan masing-masing pemuda itu membuat yang lain berteriak, apalagi dentang senjatanya memekakkan telinga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment