Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 18

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 18

Tapi ketika wanita itu mulai membiarkannya saat dia merasa lapar, Han Han menangis dan anak ini mulai rewel.

"Diam, jangan cerewet! Aku ibumu juga, jangan menangis!" Namun, mana mau anak itu menurut. Seharusnya saat itu Wi Hong memberinya makan atau minum. Tetapi karena Wi Hong menganggap anak itu bukan anaknya sendiri, perhatian atau kasih sayangnya tentu saja tak sama dengan cintanya terhadap Giam Liong. Dia menjadi marah ketika anak itu menangis semakin keras.

"Eh, tidak mau diam? Kutampar kau... plak!" Wi Hong yang mulai menampar dan menyakiti anak ini akhirnya bukan membuat sang anak ketakutan, melainkan malah semakin marah. Hal itu terbukti dari si anak yang kini menangis melengking-lengking.

"Keparat!" Wi Hong merah mukanya. "Kau tidak mau diam, bocah? Kau minta kuhajar?" Ketika Wi Hong mulai mencubit dan menampar berulang-ulang, Han Han menjerit-jerit dan meronta-ronta. "Bluk!" Wi Hong akhirnya membanting anak itu! Swi Cu tentu akan terpekik kaget kalau tahu sikap sucinya terhadap anaknya ini. Wi Hong marah-marah dan memaki-maki anak itu, yang untungnya tidak sampai mati, tapi tentu saja kesakitan!

Saat Wi Hong membiarkan anak itu menangis menjerit-jerit dan menamparnya sekali lagi, dia berkelebat mencari buah-buahan di hutan. Pada saat itulah muncul seorang tosu yang menarik napas dalam-dalam. Tosu ini meraih dan mengambil Han Han dengan lembut. Anak itu masih menangis melengking, tetapi ketika tosu ini mengeluarkan sebotol susu, menempelkan dan meminumkannya ke mulut si bocah, tiba-tiba Han Han diam.

Anak itu mula-mula terbelalak melihat tosu yang tak dikenal ini, berkejap dan mau menangis lagi, tetapi dengan lembut dan penuh kasih tosu itu berbisik menyerahkan susu botolnya. Han Han diberi minum dan seketika dicecaplah botol susu itu oleh anak ini. Ketika susu mulai mengalir, Han Han merasa girang dan diam. Selanjutnya tosu itu sudah tersenyum-senyum dan tertawa lembut menimang si bocah.

"Ha-ha, minumlah, anak manis. Puaskan rasa laparmu dan biarlah pinto (aku) memberimu minum lagi kalau kurang." Han Han tertawa. Tiba-tiba anak itu dapat terkekeh ketika si tosu mempermainkannya dalam timangan lembut.

Han Han tak menangis lagi dan saat itu berkelebatlah Wi Hong yang telah kembali dengan setandan pisang. Begitu wanita ini melihat si tosu, tiba-tiba Wi Hong terkejut.

"He!" Wi Hong membentak. "Siapa kau, tosu bau? Kenapa mengambil anakku dan lancang membawanya tanpa sepengetahuanku!"

Tosu itu menoleh. Rupanya dia tidak terkejut oleh kedatangan Wi Hong, bahkan tersenyum. Ketika dia bergerak, anak itu tidak dilepasnya, malah ditepuk-tepuk lembut. Tosu ini menghadapi Wi Hong dan berseru, "Sian-cai, kau datang lagi, Hujin. Kukira kau tak mengurus anak ini dan membiarkannya menangis. Ah, maaf, aku mengambilnya tanpa sepengetahuanmu karena kulihat kau bersikap kejam. Anak ini kau banting, dan pinto tentu saja tak dapat membiarkan ini."

"Keparat!" Wi Hong sudah melempar pisang di tangannya, berkelebat mendekati. "Lepaskan anak itu, tosu bau! Dan serahkan kepadaku!"

"Maaf," sang tosu menggeleng. "Kau tak mengasihi anak ini sebagaimana mestinya, Hujin. Aku ingin meminjamnya barang beberapa tahun dan biarlah kukembalikan kepadamu kalau sudah cukup kuat."

"Apa? Kau mau merampasnya? Keparat, jahanam terkutuk!" Wi Hong berkelebat maju menghantam tosu ini. Dia menyerang penuh kemarahan karena si tosu terang-terangan ingin membawa Han Han. Berkata "meminjam" dalam dunia kang-ouw berarti merampas. Begitu membentak, tangannya diayun ke depan dan Wi Hong melakukan tamparan.

"Plak!" Si tosu menggerakkan sedikit ujung jubahnya. Wi Hong terpental dan wanita itu kaget bukan main. Dia melengking dan menyerang lagi, namun kembali terpental ketika bertemu ujung baju lawan. Si tosu ternyata lihai dan pantas saja begitu berani. Ketika Wi Hong melengking dan mencabut pedangnya untuk menusuk serta membacok, si tosu berlompatan menghindari serangan-serangan ganas tersebut.

"Bedebah! Terkutuk!" wanita ini memaki-maki. "Hayo tangkis pedangku kalau berani, tosu bau. Hayo layani aku dan jangan mengelak melulu!"

"Hm, begitukah? Baik, aku tak akan mengelak melulu, Hujin. Dan kalau kau menghendaki aku menangkis, maka itu pun akan kulakukan... plak-plak!" Pedang si nyonya yang tiba-tiba ditangkis lengan baju si tosu terpental dan hampir saja mengenai muka Wi Hong sendiri. Nyonya itu menjerit dan terbelalak pucat.

Wanita ini akhirnya menjadi gentar, namun kemarahannya belum lunas. Dia melihat si tosu mulai bergerak dan ke mana pun pedangnya menusuk, ke situ pula tosu ini menyambut, kian lama kian keras hingga telapak tangan Wi Hong terasa pedas dan sakit! Wi Hong menjadi naik pitam namun juga gelisah karena sadar berhadapan dengan lawan yang luar biasa. Dia membentak dan satu tusukan pedangnya mengarah ke leher si tosu, yang tiba-tiba di tengah jalan berubah secepat kilat menuju ulu hati.

"Hm, jurus yang baik, tapi bersifat nekat. Lepaskan pedangmu, Hujin, dan hentikanlah pertandingan ini... Prat!" Pedang yang diterima dan digulung si tosu tiba-tiba tertangkap dan terbungkus lengan baju, ditarik kuat hingga Wi Hong berteriak kaget. Dia melancarkan jurus Bianglala Menukik Ulu Hati, satu serangan maut yang sebenarnya bersifat mengadu jiwa. Tapi karena pedangnya terbelit dan tak dapat digerakkan, dia tertarik ke depan. Karena tak sudi jatuh dan ditendang, Wi Hong melepaskan pedangnya dan berjungkir balik memaki-maki.

"Bedebah, tosu keparat, jahanam terkutuk!" Wi Hong mengusap keringat dingin ketika melayang turun, kaget dan marah sekali. Tosu itu melempar balik pedang kepadanya sambil tersenyum. Wi Hong menggigil membentak tosu itu. "Kau siapa? Sebutkan namamu! Aku belum menyerah kalah dan ingin mencoba lagi. Kalau kau dapat merobohkan aku, barulah aku betul-betul menyerah!"

"Hm, wanita yang keras," tosu ini tertawa pahit sambil menghela napas. "Aku Yang Im Cinjin, Hujin. Lama tak keluar dunia kang-ouw dan barangkali kau tak mengenalku. Aku sejak tadi sudah mengikuti gerak-gerikmu dan kasihan kepada anak ini yang tak kauperhatikan sebagaimana layaknya seorang ibu yang baik. Kau tak keberatan dia kubawa, bukan? Ini bukan anakmu, dan kau tentu tak menyesal. Maaf, aku tertarik melihat tulang-tulang dan bentuk kepalanya yang membayangkan kecerdasan tinggi!"

Wi Hong membelalakkan mata. Tiba-tiba wanita ini bergetar ketika si tosu menyebut namanya, Yang Im Cinjin, seorang tokoh yang sudah lima puluh tahun tidak muncul. Tokoh itu amat hebat dan sakti karena setingkat dengan nenek gurunya. Tokoh luar biasa yang konon memiliki ilmu pukulan Yangkun (Silat Sakti Im dan Yang) yang begitu dahsyat hingga dikabarkan dapat menggugurkan gunung dan mengeringkan lautan. Lima puluh tahun yang lalu, tokoh ini tak ada tandingannya, hanya setingkat di bawah kesaktian manusia dewa Bu-beng Sian-su.

Namun, karena Bu-beng Sian-su lebih dianggap sebagai dongeng, Yang Im Cinjin yang sering bertanding dengan jago-jago dunia kang-ouw lebih dikenal kehadirannya. Begitu kakek itu muncul dan menyatakan diri sebagai Yang Im Cinjin, tokoh yang tingkatnya jauh di atas dirinya, Wi Hong sempat terpaku. Namun, ketidakpercayaan akhirnya menguasai dirinya. Yang Im Cinjin seharusnya sudah berusia seratus tahun, tidak masuk akal jika masih setegar dan segagah kakek ini yang tampak seperti berusia lima puluh tahun dengan muka bersinar serta gigi yang masih utuh.

Merasa ditakut-takuti, Wi Hong melejit dan membentak, "Tosu siluman, kau rupanya pembohong! Yang Im Cinjin tentunya sekarang sudah mampus atau menjadi kakek renta yang tak mungkin setegar kau. Kau dusta! Mampuslah, aku ingin bertanding lagi dan coba kau tunjukkan Yangkun yang kau banggakan itu!"

Sang tosu mengerutkan kening. Alis putihnya sedikit bergerak ketika lawan menubruknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment