Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 180

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 180

Saat Giam Liong menyerang kembali dengan bacokan bertubi-tubi, sang lawan terus mengelak dan menangkis. Suara denting senjata terdengar bersahutan, membuat Swi Cu terbelalak melihat putranya tersebut.

"Han Han, pergunakan Pek-jit Kiam-sut! Cepat, jangan mundur dan balas serangan lawanmu!" seru ayahnya yang merasa tidak sabar. "Gunakan ilmu itu, Han Han! Jangan sampai kau kalah karena terlambat bergerak."

Benar saja, Han Han mulai terdesak. Giam Liong, yang dipenuhi amarah, mengerahkan jurus-jurus ampuh dari ilmu silat Golok Akhirat (Imhoat). Didorong semangat balas dendam, pemuda itu bergerak bagaikan harimau kelaparan, membacok dan menusuk dengan kecepatan luar biasa. Han Han, yang sebelumnya hanya mengelak, kini terpaksa bertahan mati-matian. Sang ibu pun berkali-kali menjerit saat melihat putranya nyaris terkena tebasan Golok Maut.

*Bret!* Ujung baju dan kancing pakaian Han Han terbabat. Beng Tan menahan napas, hampir berteriak karena cemas. Giam Liong benar-benar kesetanan. Saat menyadari bahaya yang mengancam, Han Han segera membentak nyaring dan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, Huitiauw (Rajawali Sakti Terbang ke Langit). Tubuhnya melesat, berubah menjadi bayangan putih yang menyambar naik turun untuk melepaskan diri dari kungkungan sinar golok.

"Giam Liong, keluarkan seluruh kepandaianmu!" tantang Han Han.

Giam Liong terkejut melihat lawannya berhasil lolos. Namun, ia bukanlah pemuda sembarangan. Untuk menandingi, ia mengeluarkan ilmu sakti Seratus Langkah (Pekkun). Kaki Giam Liong bergerak lentur seperti karet, membal ke sana kemari. Han Han terkejut melihat lawannya kini mampu membayanginya dengan kecepatan serupa.

Di pinggir arena, ayah dan ibu Han Han serta Beng Tan terbelalak takjub. Mereka tidak menyangka Giam Liong memiliki ilmu tersebut, yang ternyata dipelajarinya dari kitab peninggalan ayahnya yang ditemukan di sumur tua. Ju-taihiap merasa kagum; andai Sin Hauw masih hidup dan menguasai ilmu ini, tentu ia akan sulit dikalahkan.

Karena kedua pemuda itu bertarung dengan sangat cepat dan sengit, perhatian semua orang tersedot ke tengah arena. Mereka lengah hingga tidak menyadari sosok Kedok Hitam yang perlahan beringsut pergi. Kedok Hitam berhasil menyelinap masuk ke markas Hek-yan-pang dan bersembunyi di kamar pribadi ketua, Beng Tan.

Di dalam kamar itu, Kedok Hitam merintih kesakitan karena luka-lukanya. Seorang murid wanita bernama Thio Leng tak sengaja memergokinya.

"Hei! Kau Kedok Hitam, keluarlah dari kamar ketua!" seru murid itu.

Kedok Hitam tertawa sengau. Dengan kemampuan yang masih tersisa, ia menyambar dan menotok tubuh Thio Leng hingga roboh. "Tolong aku, carikan obat yang manjur dan diamlah di sini. Jangan berteriak atau kubunuh kau!"

Thio Leng yang ketakutan terpaksa menuruti perintahnya. Ia mengobati luka-luka di tubuh dan wajah pria itu. Namun, saat Thio Leng tengah sibuk mengobati luka di pundak, Kedok Hitam yang dipenuhi birahi tiba-tiba menotoknya lagi hingga tak berdaya. Ia menanggalkan pakaian gadis itu dan melampiaskan nafsu bejatnya dengan buas.

Keasyikan melakukan kekejian tersebut membuat Kedok Hitam lengah akan situasi di sekitarnya. Ia tidak menyadari bahwa di luar sana, Giam Liong tiba-tiba menghentikan serangannya. Pemuda itu sadar bahwa musuh utamanya bukanlah Han Han, melainkan si Kedok Hitam, pembunuh sekaligus pemerkosa ibunya. Ketika pengaruh totokan pada Thio Leng mulai memudar, gadis itu pun berteriak meminta tolong sekuat tenaga. Kedok Hitam terperanjat, menyadari bahwa ia telah terjebak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment