Chapter 181
Begitu Giam Liong terkejut dan tidak melihat laki-laki itu, ia membentak dan melakukan tusukan silang. Han Han terpaksa mundur dan menangkis, sementara Giam Liong berjungkir balik sambil berteriak mengguntur.
"Han Han, mana si Kedok Hitam!" Han Han terkejut. Ia mulai berkeringat menghadapi lawannya yang begitu hebat dan gagah.
Begitu Giam Liong berjungkir balik dan memandang bekas tempat si Kedok Hitam dengan marah, ia mendapati tempat itu telah kosong. Beng Tan dan anak muridnya tersentak.
"Eh, ke mana dia?"
"Benar, laki-laki itu tidak ada!" Murid-murid Hek-yan-pang geger. Mereka terkejut dan heran bagaimana laki-laki itu bisa pergi. Namun, ketika menyadari bahwa pertandingan itu terlalu menarik perhatian, semua pandangan tertuju ke sana. Giam Liong marah sekali karena kehilangan lawannya.
"Han Han, kau harus bertanggung jawab kalau ia lolos. Awas kau, nanti kita bertemu lagi!" Han Han tertegun. Ia terbelalak kaget mengetahui si Kedok Hitam ternyata pergi. Namun, begitu Giam Liong meloncat dan meninggalkannya, mata pemuda itu menajam bagai elang yang mencium mangsa. Ia melihat percikan darah di rumput dan tanah kering. Bagai harimau mengendus daging segar, cuping hidung pemuda itu bergerak-gerak.
Giam Liong berkelebat mengikuti bercak darah itu. Han Han, Beng Tan, dan yang lainnya segera menyusul. Mereka terbelalak melihat bercak darah itu menuju markas. Beng Tan menahan napas melihat Giam Liong menggereng. Seluruh wajah dan tubuh pemuda itu memancarkan api, berkilau-kilauan, dan menakutkan.
Saat bercak darah itu hilang dan timbul lagi di tempat lain, Giam Liong terus mencari hingga hidungnya mengeluarkan asap. Saat itulah terdengar jeritan Thio Leng. Giam Liong berkelebat ke tempat itu dan Golok Penghisap Darah tiba-tiba mendengung. Ada sinar terang kemerah-merahan yang memancar dari badan golok tersebut.
Karena jerit itu berasal dari kamar Beng Tan, Giam Liong tidak sungkan mendobrak pintu. Beng Tan dan istrinya terkejut sekaligus marah mendapati Kedok Hitam sedang bergegas menyelinap ke kolong tempat tidur. Thio Leng telah tewas dicekik dengan urat pecah.
"Kedok Hitam, kau jahanam keparat!" Seruan Giam Liong mengguntur. Pemuda itu menerjang, membuat Kedok Hitam pucat pasi. Ia menyesal totokannya tidak tahan lama. Kedok Hitam terkejut saat Giam Liong menjebol pintu kamar, yang berarti pemuda itu meninggalkan lawannya. Saat itu, Han Han dan ayah ibunya masuk.
Tiga orang itu terbelalak melihat kejadian di dalam kamar. Thio Leng, murid Hek-yan-pang, membujur kaku dengan tubuh telanjang bulat. Bekas kekejian di dalam kamar pribadi ketua Hek-yan-pang itu sungguh terkutuk. Swi Cu, sang istri, sampai mendelik dan mengepal tinju. Wanita itu teringat peristiwa hampir dua puluh tahun lalu ketika ia hampir diganggu laki-laki itu. Kedok Hitam yang tak bermoral!
Ketika wanita itu memekik dan tubuhnya berkelebat ke depan, Giam Liong membacok tempat tidur, namun si Kedok Hitam meloncat dan bergulingan. Kemarahan Swi Cu tak terbendung lagi.
"Kedok Hitam, kau keji dan tak berperikemanusiaan!" Kedok Hitam terkejut. Saat ia menghindar dari bacokan Giam Liong, ia ditendang oleh sang nyonya hingga mencelat dan membentur tembok. Swi Cu melengking mengejar lawannya. Nyonya yang semula menahan diri itu kini meledak.
Han Han terhenyak, tak menyangka kekejian Kedok Hitam sampai sebegitu jauh. Ia tak mengira laki-laki yang dibelanya itu malah menghina keluarganya. Kamar pribadi ayahnya dipakai untuk memperkosa. Ketika pemuda itu tertegun sementara ibunya melengking dengan kemarahan luar biasa dan wajah Beng Tan berubah pucat padam, Giam Liong tiba-tiba berkelebat dan mendorong sang nyonya.
"Bibi, serahkan anjing ini kepadaku!" Swi Cu terjengkang. Ia berteriak marah kepada Giam Liong, namun pemuda itu sudah meloncat ke arah lawan. Kakinya bergerak dengan langkah sakti Pekkun, membuat Kedok Hitam pucat pasi karena terpojok di tembok.
Saat Kedok Hitam melotot melihat Golok Maut menyambar lehernya, ia melolong ketakutan. "Ju-taihiap, tolong!" Tangannya putus. Dalam panik, ia mencoba menangkis Golok Maut, namun tentu saja tidak kuat; sikunya terlempar hingga ke bawah. Sekali bacok, Giam Liong membuat laki-laki itu menjerit roboh dan bergulingan.
Giam Liong mengeluarkan tawa aneh saat mengejar lawannya. Kaki kanan Kedok Hitam menjadi sasaran, menjadikannya bulan-bulanan kemarahan. Kamar yang besar itu tetap tidak cukup luas bagi Kedok Hitam untuk melarikan diri. Ke mana pun ia melempar tubuh, di situ pula ia membentur tembok atau meja kursi. Akibatnya fatal; Giam Liong telah membuntungi kaki dan tangannya. Tubuh yang semula gagah itu kini menjadi pendek setelah Golok Maut menebas paha dan kedua pangkal lengannya.
Untuk terakhir kalinya, Giam Liong tertawa bergelak sambil menyambar kedok laki-laki itu, merenggutnya hingga lepas. Bersamaan dengan itu, goloknya menyilang ke kiri dan ke kanan di bawah pusar laki-laki itu, sebelum akhirnya membabat lehernya.
"Coa-ongya, sekarang aku menepati janjiku... crat-crat!"
Bergumpal daging mengiringi pekik ngeri laki-laki itu. Giam Liong, yang bagai harimau haus darah, telah mengakhiri kebuasannya dengan bacokan ke bagian rahasia laki-laki tersebut. Darah dan potongan daging muncrat ke mana-mana. Swi Cu menjerit dan menutupi muka karena ngeri, lalu membalikkan badan dan muntah-muntah.
Kepala Kedok Hitam mencelat, menggelinding di lantai, lalu menumbuk dinding. Han Han terbeliak dengan wajah merah kehitam-hitaman; pembantaian paling sadis terjadi di depan matanya. Ia terkesima seolah melihat mimpi buruk. Namun, begitu pembantaian selesai dan Golok Maut menancap di dinding, bergetar setelah membabat kepala Kedok Hitam, Giam Liong berlutut dan menghirup darah lawannya. Pemuda itu tertawa sekaligus menangis dengan kedua tangan ditengadahkan ke atas.
"Ibu... ayah... lihatlah. Aku telah membunuh musuh besarku ini. Lihatlah, ia telah kucincang dan aku mereguk darahnya. Ha-ha, aku telah memenuhi sumpahku, Ibu. Dan aku sekarang keramas darahnya!"
Benar saja, Giam Liong meraup dan keramas darah lawan. Ia berlutut di batang leher yang masih deras mengucurkan darah, mencuci dendamnya. Api kebencian itu telah lumat, namun saat semua orang merasa ngeri oleh tingkah laku pemuda yang bagai binatang buas tersebut, sesosok bayangan berkelebat dengan jeritan nyaring, "Giam Liong!"
Semua menoleh dan terkejut. Seorang gadis cantik dengan pakaian lusuh dan awut-awutan tiba-tiba masuk ke kamar itu. Giam Liong menoleh; dua pasang mata beradu. Gadis itu merasa ngeri melihat sikap Giam Liong, pandangannya tertumbuk pada kepala di lantai serta Golok Maut yang masih bergetar menancap di tembok. Begitu ia mengamati kepala yang wajahnya telah rusak itu, ia segera mengenalinya sebagai wajah ayahnya. Gadis itu menjerit histeris.
"Ayahhh!"
Semua yang hadir merinding. Yu Yin, gadis itu, menambah suasana semakin memukau. Ia menubruk dan mengguguk di sana, memeluk dan menciumi kepala tanpa tubuh itu. Gadis itu tampak seperti kesurupan. Namun, begitu ia mendongak dan melihat Golok Maut yang masih bergoyang di tembok, ia meloncat dan berteriak nyaring.
"Giam Liong, kau membunuh ayahku!"
Yu Yin menerjang dan menyentak golok itu, lalu membalik dan membabat leher Giam Liong dengan kemarahan luar biasa. Guncangan batin yang hebat membuatnya syok. Saat golok menyambar, Giam Liong tetap berlutut dengan mata membelalak. Han Han dan ayahnya berseru kaget, "Giam Liong, awas!"
Namun, Giam Liong tidak bergeming. Pemuda itu mengalami perubahan psikis setelah pembunuhan tersebut. Jiwa yang semula penuh dendam dan api mendadak padam, apalagi setelah kekasihnya datang dan menyaksikan apa yang ia lakukan. Karena yang dibunuh adalah orang tua kekasihnya sendiri, detak jantung bagai palu godam menghantam pemuda ini.
Api kebencian dan dendam mendadak sirna. Giam Liong tertusuk oleh pandangan mata kekasihnya yang bercampur kaget dan ngeri. Saat itu juga, kepedihan luar biasa merobek hatinya. Giam Liong tiba-tiba ingin bunuh diri. Saat kekasihnya menerjang dan mencabut Golok Maut untuk membacok lehernya, pemuda itu tidak ingin mengelak. Golok membabat, dan sinar putih panjang meluncur ke leher pemuda itu.