Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 182

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 182

Sekali tersabet, tentu Giam Liong akan kehilangan kepalanya. Namun, ketika bayangan putih bergerak—Han Han yang sadar lebih dulu, disusul ayahnya yang bergerak menotok pundak Yu Yin—Giam Liong selamat, meski golok itu tetap menyambar ke kiri. Putuslah lengan Giam Liong.

"Crak!" Jerit dan pekik menggema di ruangan itu. Giam Liong seketika roboh bermandikan darah. Yu Yin menjerit; sama seperti Giam Liong, ia tadinya penuh amarah dan benci. Tapi, begitu pemuda itu menerima serangannya tanpa mengelak atau menangkis, bahkan sengaja menyerahkan kepalanya, Yu Yin terpekik dan berseru tertahan. Pukulan Han Han membuat bacokan gadis itu melenceng, sementara totokan Ju-taihiap membuatnya roboh. Golok mencelat dan dirampas pendekar itu.

Saat Yu Yin sadar akan tindakannya, kemarahannya berubah menjadi kecemasan. Gadis itu meraung, "Giam Liong, jangan tinggalkan aku. Jangan mati!"

Kamar itu menjadi ribut. Tangis dan raungan Yu Yin memenuhi ruangan. Ketika Yu Yin meloncat dan menubruk Giam Liong, ia memeluk pemuda itu sambil terisak. Mengira pemuda itu tewas, ia membenturkan dahinya ke lantai, "Giam Liong, tunggu aku. Biar kita beriring ke akhirat!"

Namun, sesosok bayangan lain berkelebat. Tang Siu, gadis berbaju putih, membentak nyaring. Gadis itu mencengkeram Yu Yin tepat saat temannya hendak membenturkan dahi. Gerakan Tang Siu amat tepat karena saat itu Han Han dan kedua orang tuanya tengah membelalakkan mata melihat kamar pribadi yang dipenuhi genangan darah dan bau anyir. Yu Yin tersentak, terangkat naik, lalu menjerit dan meronta. Tang Siu segera memberi tahu bahwa Giam Liong masih hidup. Pemuda itu hanya pingsan dengan lengan yang buntung.

Ketika Han Han dan ayahnya mencengkeram putri Coa-ongya ini, Yu Yin tertegun melihat darah di tubuh Giam Liong ternyata bercampur dengan darah orang lain. Air mata gadis itu tetap deras mengucur. Ju-taihiap berkata dengan suara serak, "Dia benar, Giam Liong masih hidup. Tapi siapakah temanmu ini?"

Yu Yin menangis tersedu-sedu hingga akhirnya pingsan. Kecemasan dan kegembiraan bercampur menjadi satu, ditambah keterkejutannya melihat kematian ayahnya. Saat ia roboh dan ditangkap oleh Tang Siu, Han Han yang tertegun menjawab lirih, "Inilah gadis yang kuceritakan itu, Ayah. Inilah Tang Siu yang dulu menolongku dari tangan Eng Hwa. Ia gadis gagah perkasa yang mengagumkan hatiku!"

"Hm, dia rupanya. Gagah sekali. Tapi maaf, kita harus keluar dari kamar ini dan biarkan murid-murid membersihkannya terlebih dahulu!" Tang Siu buru-buru memberi hormat yang dibalas anggukan. Gadis itu sempat saling lirik dengan Han Han. Ia tidak menduga pemuda itu ada di sini, dan ternyata pemuda ini adalah putra ketua Hek-yan-pang.

Sembari Han Han dan ayahnya memberi isyarat agar kamar pembantaian itu dibersihkan, Beng Tan dan istrinya menolong Giam Liong. Meskipun mereka merasa ngeri atas tindakan pemuda itu, dendam dan kemarahan Giam Liong dapat dimengerti. Swi Cu yang mendengar kematian sucinya diam-diam menangis. Giam Liong dan ibunya sebenarnya berada dalam penderitaan batin. Perbuatan Kedok Hitam yang begitu keji, bahkan di saat terakhir masih sempat memperkosa dan menghina mereka, membuat Beng Tan dan istrinya merasa iba melihat buntungnya lengan pemuda itu.

Tanda bahwa sesungguhnya pemuda itu tidak akan menjadi "iblis" jika bukan karena peristiwa hebat, penderitaan, dan kisah malang ditinggal orang tua. Sementara murid-murid membersihkan kamar ketua, Giam Liong mendapat perawatan dari ayah angkatnya.

Tiga hari kemudian, suasana di Hek-yan-pang masih diliputi mendung perkabungan. Tidak ada anak murid yang berwajah cerah, namun kejadian itu menjadi pembicaraan bisik-bisik di antara mereka. Keberingasan Giam Liong dalam membunuh Kedok Hitam membuat anak murid bergidik. Kedok Hitam telah dimakamkan di hutan di luar Hek-yan-pang atas permintaan Yu Yin.

Yu Yin malu bukan main. Perbuatan ayahnya yang memperkosa murid Hek-yan-pang sungguh menampar harga dirinya. Ia teringat beberapa sapu tangan hitam di kamar ayahnya, sapu tangan yang biasa dipakai gurunya, si Kedok Hitam, yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Gadis itu terhuyung dan menutupi muka ketika mendengar cerita itu dari Han Han dan Tang Siu.

Dua hari ini Yu Yin terus menangis. Saat melihat Giam Liong yang terserang demam dan menggigil karena buntungnya lengan, air matanya jatuh berderai.

"Bagaimana dengan dia, apakah betul tidak apa-apa?"

"Giam Liong akan sembuh. Tapi guncangan jiwanya masih bergetar, Nona. Harap kau menjauh dulu dan biarkan ia bersama kami," ujar Beng Tan. Pendekar itu khawatir jika kedua orang muda itu dibiarkan bertemu kembali. Sang pendekar memberi isyarat kepada putranya agar Han Han membawa putri Coa-ongya itu ke tempat lain bersama Tang Siu.

Han Han mengerti. "Benar, biarlah kita serahkan mereka, Yu Yin. Biarkan Ayah yang memberi tahu kalau Giam Liong sudah sembuh betul."

"Dan aku yang membuntunginya. Oh, aku menyesal, Han Han. Aku ingin menukarnya dengan tanganku sendiri. Aku berdosa kepada Giam Liong!"

"Sudahlah, semua dalam keadaan tak sadar. Kalau sadar, tentu tidak begitu. Mari kita keluar dan berjaga di tempatmu saja."

Yu Yin terisak. Kalau tidak ada Han Han dan orang tuanya, barangkali ia sudah gila. Kepada Tang Siu, satu-satunya teman wanita yang paling setia, Yu Yin berbagi duka.

"Aku malu kepada Ju-taihiap. Aku ingin menyingkir jauh-jauh!"

"Kenapa?"

"Sepak terjang ayahku membuatku malu seumur hidup. Bayangkan, ia telah menghina keluarga ini padahal Han Han membelanya!"

"Sudahlah, apa yang telah lewat tak usah dibicarakan lagi. Aku ingin bertanya, apa yang akan kau lakukan kalau nanti Giam Liong sembuh?"

"Aku... aku ingin minta maaf, Tang Siu. Tapi aku tak dapat mengembalikan lengannya!"

"Bagus, kau tidak akan membunuhnya, bukan?"

"Gila! Aku tidak mungkin melakukan itu. Aku tahu sepak terjang ayahku yang sebenarnya!"

"Kalau begitu aku tidak khawatir lagi. Dan aku dapat melepasmu bersama Giam Liong tanpa ganjalan."

"Kau mau ke mana?" Yu Yin tertegun mencengkeram tangan temannya. "Bicaramu aneh, seolah kau mau pergi!"

Tang Siu menarik napas dalam, tersenyum pahit. "Masa kita harus selalu berkumpul berdua? Aku sudah rindu guruku, aku ingin pulang ke Kun-lun. Ini rumah orang, kita hanyalah tamu. Kau pun harus pergi kalau Giam Liong sembuh!"

Yu Yin tiba-tiba sadar. Ia menjerit dan memeluk kencang temannya itu. Tang Siu membelai rambutnya dengan lembut, "Tak ada orang berkumpul selamanya, seperti juga tak ada orang berpisah selamanya. Kalau kau sudah tidak mengganggu Giam Liong lagi, aku lega. Kita tentu harus berpisah. Aku bertahan di sini semata karena ingin menemanimu."

"Terima kasih. Tapi tak kuat rasanya berpisah denganmu. Kau sahabat dan pelindungku paling setia."

"Hush, kau dan aku sama-sama wanita. Kita berjodoh untuk bertemu, dan aku kagum kepadamu!"

"Kagum kepada seorang putri manusia sesat? Jangan mengejekku, Tang Siu. Akulah yang kagum padamu. Kau benar-benar pendekar gagah. Aku iri kepada orang tuamu yang melahirkanmu!"

"Aku tak tahu siapa orang tuaku. Aku sudah diambil murid sejak kecil oleh guruku. Tapi aku benar-benar kagum kepadamu, Yu Yin. Kau berbeda jauh dengan ayahmu. Kau sebutir mutiara di tengah lumpur yang kotor. Kau putri bangsawan yang bersahaja. Inilah yang mengagumkan hatiku!"

"Ah, tak seberapa dibanding dirimu. Aku merasa tetap ditempeli dosa ayahku itu. Apa kata orang kalau ingat kekejamannya!"

"Orang tak akan mengingat-ingat itu. Kau adalah pribadi yang lain. Kau berbeda!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment