Chapter 183
"Kau sekuntum mawar harum yang kebetulan hidup di tengah-tengah pecomberan!"
"Sudahlah, tak usah memuji-mujiku, Tang Siu. Yang jelas, aku tak mau lagi tinggal di istana. Segala gelar dan sisa-sisa kebangsawananku akan kucopot. Aku ingin hidup jauh dari istana, sebagai wanita biasa!"
"Maksudmu kau tak pulang ke rumah?"
"Benar."
"Kalau begitu ke mana?"
"Aku hendak mengikuti Giam Liong. Ke mana dia pergi, ke situlah aku hidup. Aku... aku ingin menebus dosa kepadanya!"
Tang Siu terharu. Tiba-tiba ia memeluk dan mencium sahabatnya ini. Air mata meleleh dan cinta yang besar terlihat di sana. Memang sejak dulu Giam Liong dan gadis ini sebenarnya saling mencintai. Teringat betapa Yu Yin siap menerjang bahaya demi pujaannya, tidak takut dan tidak gentar membela Giam Liong, maka bayangan Han Han muncul. Tadi pemuda itu meninggalkan mereka sebentar.
"Ayah memanggil Yu Yin sendiri. Mohon kalian keluar dan aku ingin bercakap-cakap sebentar denganmu."
Tang Siu tertegun. "Yu Yin?"
"Ya, benar, Tang Siu. Aku ingin bercakap-cakap sebentar denganmu. Ada sesuatu yang penting!"
Dua gadis itu bangkit berdiri. Yu Yin merasa girang karena mungkin Giam Liong sudah sadar. Begitu Han Han mempersilakan dan ia bergerak keluar sambil menghapus air matanya, Han Han mengajak Tang Siu ke taman di belakang bangunan. Saat gadis ini mengikuti dan berdebar karena merasakan sesuatu yang tidak biasa—Han Han tampak gugup, dua kali menumbuk batu, terpelanting, dan hampir jatuh—pemuda itu akhirnya berhenti di dekat tanaman anggrek. Tang Siu heran melihat wajah Han Han yang merah dan pucat berganti-ganti.
"Eh, kau sakit, Han Han? Kau tidak enak badan? Kau mau diserang demam juga?"
"Tidak," suara Han Han gemetar seperti orang kedinginan. "Aku... aku hendak bertanya kepadamu, Tang Siu. Benarkah kau hendak pulang ke Kunlun?"
"Eh!" Gadis ini terkejut. "Kau mendengar pembicaraan itu?"
"Maaf, tadi aku hendak masuk ketika kalian tampak berangkulan. Aku berhenti di luar dan terpaksa menunggu. Dan... aku mendengar kata-katamu tadi."
"Hm, ada apa?" gadis ini tak mengerti dan merasa heran. "Bukankah itu wajar dan bukan hal aneh? Masa aku harus selalu menumpang di Hek-yan-pang. Aku tamu, malah sebenarnya tak diundang!"
"Kau... kau tidak senang di sini?"
Gadis ini terkejut, dua mata beradu. Ketika Tang Siu melihat sorot aneh di mata Han Han—seperti bingung atau penuh permohonan—ia menahan detak jantungnya karena tiba-tiba ada sambaran mesra di mata putra ketua Hek-yan-pang ini. Tang Siu menggigil tak keruan.
"Han Han, apa sebenarnya maksudmu? Aku jadi bingung mendengar kata-katamu. Apa yang hendak kau tuju?"
"Aku... aku..." Han Han tercekik. "Aku sedih mendengar kata-katamu tadi, Tang Siu. Apakah kau tak kerasan di sini, tak senang?"
"Tentu saja aku senang, tapi..."
"Tapi bagaimana kalau tidak buru-buru pergi dulu? Aku mengharap lebih lama lagi kau tinggal di sini, Tang Siu. Syukur kalau selamanya?"
"Han Han...!"
Namun, Han Han tiba-tiba menyambar dan mencekal lengannya. Ada sesuatu yang berat diperjuangkan pemuda itu. Saat Tang Siu terkejut, Han Han menggenggamnya erat-erat. Aneh sekali, Han Han tiba-tiba menangis! Ketika pemuda itu memejamkan mata dan Tang Siu tak mampu melepaskan tangannya, gadis ini berdetak dan menggigil. Han Han berkata dengan terputus-putus dan tersedak, "Tang Siu, aku... aku hendak menyatakan apa yang selama ini mengganggu perasaanku. Aku... aku hendak menyatakan cinta! Apakah kau menerima cintaku? Apakah kau mau tinggal lebih lama di sini? Aku butuh jawabanmu, Tang Siu. Atau nanti aku bisa mati berdiri dihimpit perasaan ini!"
Tang Siu menjerit tertahan. Rasa heran dan kagetnya tiba-tiba menjadi perasaan terkejut. Mukanya seketika merah padam dan ia membetot lepas tangannya. Han Han terkejut dan membuka mata, ia menyatakan cinta bagaikan seorang dusun yang berhadapan dengan seorang panglima perang. Han Han tersentak melihat gadis itu melarikan diri sambil menangis masuk ke kamar!
"Tang Siu...!" Putra Ju-taihiap yang gagah ini terhenyak. Ia kaget dan penasaran oleh sikap gadis itu, tentu saja Han Han mengejarnya. Han Han terjatuh lagi saat kakinya terserimpet akar-akaran, ia gugup, lalu bangun dan mengejar lagi dengan muka berubah. Ada rasa takut dan terpukul di hati pemuda itu. Saat hampir menabrak pintu kamar yang dibanting, pemuda ini berteriak dan melihat gadis Kunlun itu mengguguk di tempat tidur dengan kepala terbenam di bawah bantal.
"Tang Siu, aku... aku salah apa..."
Han Han lupa menutup pintu kamar, ia berlutut dan bertanya dengan muka merah pucat tak keruan. Seumur hidup baru kali ini ia menyatakan cinta dan langsung mendapat sambutan seperti itu. Kontan Han Han bingung. Saat murid Yang Im Cinjin ini berbisik kembali dengan gemetar, aneh sekali, Tang Siu malah tersedu-sedu. Han Han mematung.
"Sst...!" sebuah panggilan tiba-tiba mengejutkan. "Kemari, Han Han. Tinggalkan dia sebentar!"
Han Han menoleh. Ia kaget karena lupa menutup pintu kamar dan Ki Bi, bibinya, muncul di sana. Saat wanita itu menggapainya agar keluar, Han Han bangkit dan membiarkan Tang Siu mengguguk. Di luar pintu kamar, wanita itu berbisik, "Berikan bunga ini kepadanya. Kalau dia menolak berarti tak cinta, tapi kalau diterima berarti cintamu tak bertepuk sebelah tangan!"
"Bibi tahu?"
"Aku pernah muda, Han Han, dan aku tentu saja tahu watak wanita. Berikanlah, dan cepat masuk lagi!"
Sang bibi menghilang. Di genggaman tangan Han Han terdapat setangkai mawar merah yang segar dan sedang berkembang. Harumnya menyengat hidung dan Han Han kagum sekali akan bunga itu. Namun, dengan menggigil dan berjingkat masuk kembali, Han Han kembali berlutut. Isak tangis gadis itu reda. Rupanya Tang Siu heran dan curiga kenapa suara Han Han tiba-tiba hilang. Ke manakah pemuda itu?
Saat ia menggerakkan kepalanya dan melirik dari bawah bantal, mendadak saja Han Han menyusup di situ. Keduanya terkejut. Lucu. Tang Siu tiba-tiba terkekeh, kaget tak dapat menahan geli!
"Heii!" Keberanian Han Han seketika bangkit, gadis itu meloncat dan lari keluar kamar.
"Ada apa, Tang Siu? Kenapa menangis dan kini tertawa? Tunggu, aku membawa sekuntum bunga!"
Namun, gadis itu tak menoleh. Han Han harus berjungkir balik dan menghadang di depan jika ingin menghentikan gadis ini. Saat Tang Siu menjerit hampir menabraknya, gadis itu menahan larinya, maka Han Han gembira menawarkan bunga mawarnya. Sikap Tang Siu mengembalikan keberaniannya.
"Aku hendak mengulang pertanyaanku tadi. Kalau kau menerimanya, harap terimalah persembahan ini. Namun kalau kau menolaknya, harap dibanting dan dicampakkan!"
Tang Siu tertegun. Ia merah padam melihat mata Han Han yang bersinar-sinar. Mata itu masih lembut dan penuh mesra, ia tak mampu melawannya. Saat ia menunduk dan Han Han menyusupkan bunga mawarnya, aroma harum menyengat hidung. Tiba-tiba Tang Siu menangis dan memejamkan mata. Mawar itu dicekal erat-erat!
"Tang Siu...!" Han Han girang bukan main. Hatinya serasa melonjak. Pemuda ini melompat, menubruk, dan menyambar kekasihnya. Tang Siu tersedu-sedan. Saat Han Han bertanya kenapa gadis itu menangis, Tang Siu menjawab, "Aku... aku bahagia..."
"Bahagia?"
"Ya, sekarang tercapai keinginanku, Han Han. Kenapa baru sekarang kau bilang? Aku... aku sebenarnya menunggu-nunggu..!"
"Ha-ha, kau malah membuat aku bingung. Aduh, tadinya kusangka ditolak, Tang Siu. Dan aku jadi gemetar tak keruan. Eh, kau harus dihukum!"
Han Han memberanikan diri mencium pipi sang gadis. Tiba-tiba Tang Siu menjerit dan meronta, namun tak dilepaskan. Han Han mencium lagi dan akhirnya dua muda-mudi ini tertawa. Kegembiraan dan kebahagiaan besar terjadi di situ. Han Han nyaris mabuk kepayang. Saat ia hendak mencium bibir kekasihnya, Tang Siu berontak karena menyadari ada orang di belakang. Han Han menurunkan kekasihnya dan dengan tersipu-sipu melihat bibinya, Ki Bi, di sana.
"Maaf, kau dipanggil ayahmu, Han Han. Ada sesuatu yang hendak dibicarakan."
"Tak usah, aku sudah di sini!" ketua Hek-yan-pang tahu-tahu muncul, berdiri di belakang Ki Bi seperti setan. "Ada panggilan untukmu, Han Han. Ada tamu penting. Dan kalian rupanya sudah saling mengikat janji!"
"Ah," Han Han dan Tang Siu tersipu-sipu, apalagi gadis ini, seperti kepiting direbus!
"Tamu siapa, Ayah? Dan kenapa kau sendiri sampai datang memanggilku?"
"Aku tak sabar menyuruh bibimu Ki Bi. Dan aku ingin memanggilmu sendiri. Giam Liong telah sadar dan ia pun ingin bertemu denganmu."
"Giam Liong? Bagus, aku ke sana, Ayah. Tapi bagaimana dengan Yu Yin?"
"Ia sudah di sana. Ibumu juga di sana. Sudahlah, cepat datang dan kuberitahukan ibumu bahwa sebentar lagi ia akan bermenantu!"
Beng Tan tersenyum dan berkelebat lenyap meninggalkan dua muda-mudi itu. Ki Bi tertawa ditahan. Wanita itu pun berkelebat lenyap, meninggalkan Han Han dan Tang Siu yang malu bukan main karena diketahui orang-orang tua itu. Saat ia mendesis mencubit Han Han dan bertanya apakah ayahnya tadi tahu ia mencium pipinya, Han Han tertawa lebar.
"Memangnya kenapa? Kau kini kekasihku, Moi-moi. Dan tak apa ayah ibuku tahu. Toh nanti aku harus menciummu lagi di pelaminan!"
"Apa? Di depan banyak orang? Cih, tak tahu malu. Jangan kurang ajar!"
"Eit-eit, ini adat, peraturan. Masa aku harus mencium nenek-nenek kalau yang bersanding adalah istriku yang cantik ini. Ha-ha... aduh, tobat, Siu-moi. Ampun, lepaskan cubitanmu. Aduh, bengkak tanganku!"
Ternyata saking gemas dan malunya, gadis ini mencubit Han Han dengan begitu keras sampai kulit Han Han membiru. Saat pemuda itu berteriak dan melolong-lolong, anak murid mulai berdatangan.