Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 184

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 184

Tang Siu melepaskan cubitannya dan Han Han tertawa menggoda.

"Hayo, cubit lagi. Biar mereka menjadi saksi!" Tang Siu merah padam. Akhirnya, ia melompat dan pergi dari tempat itu sambil memaki Han Han.

Murid-murid tertegun namun tertawa melihat apa yang terjadi. Kiranya putra Hek-yan-pang ini telah mendapatkan pujaannya. Diam-diam di tempat itu memang telah tersebar bisik-bisik bahwa alangkah cocoknya putra ketua mereka bersanding dengan murid dari Kun-lun itu. Kejadian di kota raja telah mereka dengar dan keberanian serta kelihaian Tang Siu menjadi buah bibir. Ketika sang kongcu bercanda riang dengan gadis ini, melompat, dan pergi, Han Han sendiri sudah tidak ragu-ragu atau canggung lagi mendekati kekasihnya. Dengan terang-terangan, ia menggandeng dan membawa kekasihnya itu dengan mesra.

Anak-anak murid perempuan banyak yang iri, namun mereka tahu keadaan. Diri mereka tidak cukup pantas dibandingkan putra sang ketua yang gagah dan tinggi kepandaiannya itu. Ketika Han Han masuk dan memenuhi panggilan ayahnya, sang kekasih mula-mula malu dan likat, tetapi tiba-tiba sang calon ibu mertua bangkit berdiri menyambut.

"Han Han, Ibu mengucap gembira bahwa kau telah mendapatkan pasangan yang cocok. Ayahmu telah memberi tahu dan biarkan ia duduk di dekat Ibu. Lihatlah, siapa yang datang!" Han Han dan Tang Siu merah semburat. Gadis ini masih berdenyar-denyar oleh kebahagiaannya sendiri, tapi begitu ia memandang seorang kakek berjubah emas, ia mendadak terkejut.

Seorang tosu berwajah lembut ada di situ, duduk dekat ketua Hek-yan-pang. Ketika Han Han juga terkejut karena seorang kakek lain bermuka merah duduk di sebelah kanan ayahnya, tersenyum dan berseri-seri, mendadak kedua muda-mudi ini langsung menjatuhkan diri berlutut.

"Suhu...!" "Suhu!" Hampir serempak keduanya berseru. Han Han, yang mengenal gurunya di situ, langsung memberi hormat. Sementara kekasihnya yang juga melihat gurunya di situ, langsung memberi hormat dengan girang bukan main. Gadis ini tak menyangka bahwa Kim-sim Tojin, gurunya, muncul dan datang di Hek-yan-pang. Ketika ia menubruk dan dielus-elus gurunya, Yang Im Cinjin tertawa dan menepuk-nepuk pundak Han Han. Kakek itu berseru, "Han Han, lama sekali pinto harus menemui Kim-sim totiang. Pinto jauh-jauh hari telah memberikan lamaran, mendahului ayah ibumu. Maaf kalau pinto dianggap lancang, tapi kini pinto telah membuktikan kepada Kim-sim totiang bahwa apa yang pinto lihat adalah benar!"

"Ha-ha, Yang Im Toheng sungguh waspada, aku kalah. Tapi bagaimana, tak ingin bukti kalau ini menyangkut kebahagiaan anak-anak muda? Maaf, selanjutnya biar kuserahkan muridku ini, Toheng. Urusan cinta adalah urusan anak muda. Nanti akan pinto tanya dan beri jawabannya!" Dua kakek-kakek itu tertawa bergelak. Mereka rupanya sudah tahu lebih dulu dan Han Han maupun Tang Siu saling lirik dengan muka kemerah-merahan.

Baru sekaranglah Han Han tahu guru dari kekasihnya ini, seperti juga Tang Siu yang baru kali itu mengenal Yang Im Cinjin atau Im Yang Cinjin ini, karena kakek sakti itu memang sering disebut dengan dua nama. Namun ketika seseorang terisak di sana, Yu Yin terlihat oleh dua muda-mudi ini, semua terdiam. Han Han tertegun melihat Giam Liong yang duduk di sudut dengan lengan kiri terbalut.

"Giam Liong..." sapa Han Han lirih dan lembut. Pemuda ini memandang putra mendiang Golok Maut itu dan Giam Liong mengangguk. Tak ada pancaran kegembiraan di wajah Giam Liong. Si Naga Pembunuh ini muram. Ketika Tang Siu juga melihat Yu Yin dan gadis itu beringsut mendekati murid si Kedok Hitam ini, Yu Yin tiba-tiba tersedu.

"Tang Siu, aku... aku terpukul oleh semuanya ini!"

"Tenanglah..." gadis itu memeluk dan merangkul sahabatnya ini. "Semuanya telah terjadi, Yu Yin. Semuanya telah lewat. Aku turut bersedih, tapi semua harus diterima dengan tabah."

"Aku tahu, tapi... tapi Ayah..."

"Ayahmu telah tiada, Yu Yin. Tak usah dipikirkan itu."

"Tidak... tidak, bukan itu. Aku... aku teringat kekejamannya, Tang Siu. Ooh, ia... ia keji dan jahat benar. Aku tak dapat melupakan kekejamannya. Dan ia... ia ternyata guruku pula!"

Yu Yin mengguguk dan jatuh di pelukan sahabatnya. Ternyata ia tidak menyesali kematian ayahnya, melainkan menyesali sepak terjang dan kejahatannya. Gadis itu mengalami pukulan berat karena guru yang ternyata ayahnya itu juga adalah seorang yang kejam dan tidak berperasaan. Dulu dia hendak melapor kepada ayahnya ketika gurunya membelejeti pakaiannya, tak tahunya gurunya itu adalah juga ayahnya. Betapa ayahnya memperkosa ibu Wi Hong, belum lagi kejahatan-kejahatan lain yang tak terhitung banyaknya, kecurangan, dan kelicikan yang tak pantas dimiliki seorang bangsawan. Yu Yin tersedu-sedu dan hancur, ia merasa serasa ingin mencekik dan membunuh ayah sekaligus gurunya itu.

Yu Yin ingin mati saja; mengapa ia dilahirkan dari benih laki-laki seperti itu? Kalau bisa, ia ingin kembali ke rahim ibunya dan minta dibatalkan. Kalau bisa ia tak perlu lahir!

Melihat Yu Yin mengguguk menceritakan semuanya, Tang Siu juga meleleh air matanya. Namun untunglah, Ju-hujin bangkit berdiri dan mengelus gadis ini. "Yu Yin, tak perlu lagi mengingat-ingat segala perbuatan ayahmu. Kami telah mengampuninya. Dia telah tiada. Biarkan arwahnya mencari ketenangan di sana dan jangan diganggu dengan kebencianmu itu. Jelek-jelek ia ayahmu, tak baik mengutuk atau mencaci. Diamlah dan lihat dua kakek ini hendak bicara kepadamu, juga Giam Liong."

Gadis itu mengangkat mukanya. Ia bertemu pandang dengan istri ketua Hek-yan-pang ini dan Yu Yin menjerit. Pandang mata lembut dan penuh keharuan terdapat di situ. Ketika Yu Yin ganti menubruk dan tersedu-sedu di pelukan wanita ini, Swi Cu menahan pula runtuhnya air mata. "Sudahlah... sudahlah, Yu Yin. Hapus air matamu itu dan mari dengarkan apa yang hendak dibicarakan dua orang tamu kita. Mereka menanti kesempatan."

Yu Yin masih tak mampu menahan dirinya sampai akhirnya Ju-taihiap terbatuk-batuk, barulah tangis gadis itu reda. Beng Tan berkata biarlah yang lewat tetaplah lewat, yang akan datang masih menunggu mereka dan ini harus disongsong.

"Sudahlah, simpan air matamu untuk hal lebih penting. Ji-wi Totiang ini membawa sesuatu untuk kalian, Yu Yin. Lihat dan dengarkan mereka."

"Ji-wi Locianpwe membawa apa?"

"Sesuatu yang penting. Dari Bu-beng Sian-su."

"Bu-beng Sian-su? Kakek dewa itu?"

"Benar," Yang Im Cinjin tersenyum, mendahului tuan rumah. "Ada yang kami bawa, anak baik. Tapi sebenarnya kami hanya bersifat pengantar. Kami membawa oleh-oleh dari kakek dewa itu."

Yu Yin menghentikan tangisnya dan otomatis terdiam. Sekarang dia sudah menguasai hatinya lagi. Hiburan dan kata-kata sahabatnya di situ amatlah menyejukkan. Ketika gadis itu merasa sejuk karena ada orang-orang yang masih mau mendekatinya dengan penuh sayang dan perhatian, Yu Yin melepaskan pelukan Ibu Han Han dan duduk lagi dengan baik.

"Kami datang atas dua hal," Yang Im Cinjin mulai bicara. "Pertama adalah melihat murid-murid kami yang bertaut jodoh, sedangkan yang kedua adalah mengantar sesuatu dari Bu-beng Sian-su, guru dari Ju-taihiap."

"Hm, Sian-su tak mau kuanggap guru," ketua Hek-yan-pang menggeleng. "Kakek dewa itu menganggap setiap orang dapat menjadi guru bagi dirinya sendiri, Totiang. Ia aneh dan tak mau kusebut suhu!"

"Benar, tapi kau telah mempelajari beberapa ilmunya. Meskipun ia tak mau disebut guru, tapi Taihiap tentu akan tetap menganggapnya demikian. Orang yang rendah hati selamanya begitu!"

"Dan pinto baru kali itu pula bertemu dengannya. Aih, ia hebat benar!" Kim-sim Tojin, guru dari Tang Siu, berseru kagum. "Pinto ingin bertemu lagi, Taihiap. Sayang, ia pergi dan kesempatan bicara belum pinto dapatkan lagi!"

"Hm, apa yang ia bawa?" ketua Hek-yan-pang tertarik. "Oleh-oleh apa yang hendak diberikan kepada kami, Totiang? Bolehkah kami tahu?"

"Tentu, tapi sebenarnya ini khusus buat pemuda itu, juga gadis itu. Hanya kalian semua boleh tahu dan biarlah sekarang kubuka," Yang Im Cinjin merogoh saku bajunya, memandang ke arah Giam Liong dan Yu Yin. Karena Han Han kini juga beringsut dan duduk di dekat Giam Liong, Yang Im Cinjin menyerahkan secarik kertas kepada Giam Liong.

"Dari Sian-su, Locianpwe? Untuk aku?"

"Begitu katanya, dan nanti dua-tiga hari lagi kakek itu datang kepadamu."

"Terima kasih. Surat apakah ini?"

Giam Liong membuka surat itu, menjentik, dan tertegun karena surat yang diterimanya tidaklah berisi apa-apa selain tiga baris syair. Tentu saja, ia berkerut kening.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment