Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 185

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 185

Isi syair itu bicara tentang dendam.

Dia terkejut!

Namun, karena tidak mengerti apa arti pemberian ini dan ke mana kakek itu hendak membawanya, Giam Liong—yang belum berjumpa dengan sang kakek dewa—mengangkat mukanya memandang Yang Im Cinjin.

Sorot matanya memancarkan keheranan.

"Aku tak melihat apa-apa. Surat ini hanya berisi sebuah syair. Apa maksudnya dan apakah Locianpwe tahu?"

"Hm, inti ceritanya adalah dendam. Dan jelas yang dituju adalah kau. Pinto belum jelas ke mana kakek itu membawamu, Giam Liong. Agaknya kau harus berhadapan sendiri dengan kakek itu."

"Syair apakah?" nyonya rumah tiba-tiba bertanya, teringat bahwa dua puluh tahun yang lalu Bu-beng Sian-su juga pernah memberi syair kepada mereka. "Bolehkah aku tahu dan apa isinya?"

"Silakan," Giam Liong mengangguk dan memberikan kertas itu.

Han Han sekilas telah membacanya. "Isinya menyeramkan, Bibi. Aku tak mengerti, tapi agaknya memang aku yang dituju."

"Hm," alis nyonya itu segera berkerut, matanya bersinar-sinar. "Sama seperti kita dulu, Suamiku. Sebuah pelajaran yang tentu penting!"

"Apakah itu?" Beng Tan tertarik. "Dapatkah kau baca biar kudengar?"

"Aku agak ngeri. Biar Giam Liong saja yang membaca!"

"Atau aku saja," Yu Yin berseru dan tak tahan ingin tahu pula. "Tadinya katanya untuk aku dan Giam Liong, Bibi. Biar kulihat dan kubaca!"

Swi Cu mengangguk. Ia menyerahkan kertas itu dan membiarkan Yu Yin membaca. Ketika gadis itu membaca dalam hati, Ju-taihiap berseru tidak sabar. "He, baca, Yu Yin. Bagaimana isinya!"

Yu Yin sadar. Ia membeber kertas itu dan dengan wajah agak takut ia membaca. Begitu ia mengeluarkan suara, Yang Im Cinjin maupun Kim-sim Tojin mengangguk-angguk:

*Api memercik di sudut hati,*

*Merayap cepat membakar bumi,*

*Musnahlah sudah kasih dan budi,*

*Tinggallah jiwa yang penuh benci.*

*Dendam kesumat membawa laknat,*

*Hancur periuk ditimpa genta,*

*Sudah kodrat datang menjerat,*

*Celakalah badan rusak binasa.*

*Satu jalan melepaskan diri,*

*Membuang racun lekatkan jari,*

*Taruh di tengah sang dewa cinta,*

*Siap dan tenang menebus dosa!*

"Hm, menyeramkan!" Ju-taihiap mengangguk-angguk, berdesir. "Benar katamu, Giam Liong. Syair itu menyimpan sesuatu yang menggetarkan hati. Aku juga merasa seram!"

Yu Yin melipat kertas itu. Ia telah selesai membaca dan dua kakek di sana mengangguk-angguk. Mereka telah tahu isi syair itu karena sebelumnya memang telah membacanya. Syair itu boleh diketahui semua orang karena memang untuk semua orang, meskipun Giam Liong-lah yang dituju.

Ketika Beng Tan menarik napas dalam-dalam dan Han Han berkerut kening, ia berkata, "Isinya tentang kebencian dan dendam kesumat. Tapi apa arti dari bait ketiga?"

"Ya, aku juga belum tahu. Tapi tentu penting!" sang ayah menjawab.

"Hm, pinto dapat menangkap maksudnya, Taihiap. Tapi pinto tak berani bicara, biarlah kakek itu sendiri yang menjawab," kata Yang Im Cinjin.

"Aku juga dapat menangkap, tapi kurang pantas rasanya kalau lancang mendahului," Kim-sim Tojin menimpali.

"Apakah Ji-wi Locianpwe tahu?"

"Kami pikir begitu, karena kami adalah orang-orang tua yang telah banyak makan asam garam dunia. Tapi biarlah Sian-su sendiri yang menerangkan."

Beng Tan mengangguk. Itu adalah etika; sebagai sesama orang tua, Kim-sim Tojin maupun Yang Im Cinjin tak mau lancang. Setelah suasana hening sejenak, Yang Im Cinjin tertawa dan mengebutkan lengan. Minuman dan makanan kecil telah habis.

"Taihiap, urusan pinto telah selesai. Pinto telah membuktikan kepada Kim-sim Totioang dan kini menyampaikan oleh-oleh itu kepada yang bersangkutan. Pinto hendak pergi dulu, seminggu dua minggu lagi kita bertemu."

"Eh!" Beng Tan terkejut. "Locianpwe mau ke mana? Jangan tergesa-gesa, kami masih ingin ditemani!"

"Ha-ha, pinto masih ada urusan sedikit. Lagipula di sini sudah ada puteramu, Han Han. Biarlah pinto pergi dulu." Kakek itu bangkit berdiri tanpa menanti jawaban. Ia mengangguk kepada tuan rumah dan Kim-sim Tojin, lalu berkelebat lenyap.

"Han Han, aku pergi dulu. Dan kau Giam Liong, pinto turut prihatin atas semua yang menimpamu!"

Giam Liong dan Han Han membelalakkan mata. Mereka tak menyangka kakek itu pergi secepat itu. Han Han bangkit berseru pada gurunya, Giam Liong juga berdiri dan menghadap ke arah kakek itu berkelebat.

"Suhu, Teecu masih ingin melepas kangen kepadamu. Jangan lama-lama!"

"Dan terima kasih atas pemberianmu, Locianpwe. Aku juga ingin bertemu lagi dan bicara tentang pelajaran bijak!"

"Ha-ha!" suara kakek itu terdengar dari luar pulau. "Pelajaran bijak akan kaudapatkan dari Bu-beng Sian-su, Giam Liong. Aku tak mempunyai pelajaran apa-apa kecuali nasihat dan sekadar wawasan. Hati-hatilah menghadapi masa depanmu!"

Giam Liong tertegun. Kakek itu telah lenyap, tapi suaranya terdengar jelas. Karena ia sudah ditempa kepahitan hidup dan apa pun akan dihadapi dengan tabah, ia duduk kembali dengan tenang.

"Siancai, Yang Im Toheng membuat orang lain tak enak saja. Hm, masa depan memang selalu penuh tantangan, Anak Muda. Jangan takut!"

"Aku tak takut," Giam Liong tertawa getir. "Aku cukup mengalami hal-hal pahit, Locianpwe. Tapi nasihat Yang Im Locianpwe baik agar aku bisa waspada."

"Hm, syukurlah. Dan bagaimana dengan aku sekarang?" Kim-sim Tojin bangkit berdiri. "Apakah kita di sini saja, Siu-ji? Apakah tidak pulang?"

"Pulang?" Tang Siu terkejut, Han Han pun tampak berubah. "Terserah kepadamu, Suhu, tapi bagaimana dengan sahabatku Yu Yin..."

"Ha-ha, Yu Yin ataukah Han Han!" kakek itu tertawa bergelak. "Yu Yin sudah ada pasangannya, Tang Siu. Dan kita tentu harus pulang menunggu pinangan resmi dari Ju-taihiap!"

"Ah!" Ju-taihiap terkejut dan bangkit berdiri. "Urusan anak-anak gampang dibicarakan, Totioang. Tapi kuminta dengan hormat tinggallah di sini dua tiga hari menunggu Sian-su. Janganlah tergesa-gesa meninggalkan Hek-yan-pang."

"Benar," Yu Yin tiba-tiba berseru dan melirik sahabatnya. "Aku butuh sahabatku, Locianpwe. Biarkan Tang Siu di sini menemaniku. Atau aku juga pergi dan biar kuikut ke Kun-lun!"

"Wah, kalian mendesakku! Ha-ha, pinto tak enak kepada Ju-taihiap, merepotkan tuan rumah!"

"Tidak," Swi Cu tiba-tiba berseru, memahami lirikan dua muda-mudi itu. "Kata-kata suamiku benar, Totioang. Tinggallah di sini dua tiga hari menanti Sian-su. Kami tidak merasa repot!"

"Nah," kakek itu berseru, tertawa memandang muridnya. "Bagaimana kalau begini, Tang Siu? Apakah kita turuti?"

"Terserah Suhu," gadis itu menjawab sambil girang. "Kalau Suhu mau pulang tentu Teecu ikut, tapi kalau Suhu masih di sini tentu Teecu menurut."

"Ha-ha, kalau begini pinto kalah. Eh," kakek itu menoleh kepada Yu Yin. "Kau benar-benar butuh muridku ini, Nona? Kau tidak berbasa-basi, bukan?"

"Aku masih ingin bicara banyak dengan murid Locianpwe. Aku tidak berbasa-basi!"

"Bagus, kalau begitu kuterima. Jangan merasa repot kalau pinto di sini, Ju-taihiap."

"Kami tulus mengajak Totioang. Justru kami akan kecewa kalau Totioang buru-buru pergi," Beng Tan tersenyum.

"Baik, kalau begitu pinto akan menunggu sampai kakek dewa itu datang dan terima kasih atas ajakan ini."

Kim-sim Tojin tertawa mengangguk. Hari itu mereka bergembira dan bercakap-cakap. Malamnya, mereka semua beristirahat. Giam Liong diminta untuk tidur di kamar Han Han, sementara Yu Yin bersama Tang Siu.

Giam Liong mengerutkan kening dan mula-mula menolak. Tapi ketika Han Han berkata bahwa kamar itu dulunya adalah kamar yang ditempati Giam Liong ketika ia disangka sebagai putra kandung Ju-taihiap, Giam Liong akhirnya tak menolak. Paman dan bibinya—begitu sekarang Giam Liong menyebut mereka—juga mengiyakan.

"Kau tak usah sungkan atau malu. Han Han benar. Kalian tidurlah di satu kamar karena kalian sudah bukan orang lain lagi bagiku."

"Dan kau boleh tinggal selamanya di sini kalau kau suka," Swi Cu berkata dengan pandangan haru dan kasih yang berbeda dari sebelumnya. "Aku boleh kauanggap sebagai ibumu, Giam Liong."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment