Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 186

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 186

"Paling tidak bibimu asli karena mendiang ibumu benar-benar kakakku," kata paman. "Terima kasih," Giam Liong menunduk, air matanya mengembang.

"Terima kasih atas semua budi dan kebaikanmu, Bibi. Aku... aku hanya dapat berterima kasih. Tapi maaf, aku tak mungkin tinggal di sini selamanya."

"Hm, kenapa begitu?" Sang paman kini menepuk-nepuk pundaknya. "Kau bertahun-tahun telah menjadi puteraku, Giam Liong. Sampai sekarang pun aku dapat menganggapmu sebagai puteraku. Tak usah ke mana-mana. Hek-yan-pang bahkan semakin kuat kalau ada kalian berdua di sini!"

"Terima kasih, tapi... tapi aku harus pergi, Paman. Aku ingin melupakan semua ini dengan merantau ke tempat yang jauh."

"Hm, bagaimana dengan Yu Yin?"

"Ia akan ikut aku. Ia tak mau kembali ke kota raja."

"Kalau begitu, aku harus meresmikan kalian dulu. Bersabarlah sebentar, jangan buru-buru pergi. Kau dan Yu Yin biarlah melangsungkan pernikahan bersama-sama Han Han, kalau kami sudah meminang Tang Siu secara resmi!"

"Benar, dan aku akan menjadi wali kekasihmu," Kim-sim Tojin tiba-tiba muncul setelah mendengar percakapan itu. "Tak baik berduaan tanpa tali ikatan, Giam Liong. Bersabarlah dan turuti kata-kata pamanmu."

Giam Liong menahan runtuhnya air mata. Keluarga paman dan bibinya ini sungguh menganggapnya anak sendiri, meskipun mereka telah menemukan Han Han sebagai anak kandung. Ketika ia mengangguk dan mengucap terima kasih dengan bibir bergetar menahan keharuan, ia tak kuasa lagi menahan tangis saat dipeluk Han Han di kamar.

"Giam Liong, kau adalah saudaraku. Maafkan kalau aku pernah menentang dan menyakiti hatimu. Kita adalah sekeluarga, jangan tolak permintaan ayah dan tinggallah di sini saja bersamaku."

"Tidak, terima kasih!" Giam Liong hampir tersedu. "Aku harus ke Lembah Iblis, Han Han. Aku harus mengubur dan mengembalikan senjata itu di tempat asalnya. Justru akulah yang harus minta maaf karena berkali-kali memusuhimu!"

"Sudahlah, yang dulu tak usah dibicarakan. Kita beristirahat, Giam Liong. Silakan tidur."

Giam Liong tertegun. "Kau saja yang tidur, aku di kursi ini saja." Kamar itu hanya mempunyai satu tempat tidur, tempat tidurnya dahulu.

"Tidak, kau yang di sana, Giam Liong. Aku di sini!"

"Hm," Giam Liong menggeleng. "Kamar ini hanya mempunyai sebuah tempat tidur, Han Han, dan kau pemiliknya. Kau yang di sana dan aku di sini!"

"Tapi itu adalah tempat tidurmu dahulu. Aku hanya menumpang!"

"Tidak, sekarang milikmu, Han Han. Tidurlah di situ dan aku di kursi!"

"Tidak, aku tak mau. Kalau begitu, kita sama-sama tidur di situ. Atau aku juga di kursi dan biarkan tempat tidur itu kosong!"

"Han Han!" Namun, pemuda ini menarik tangan Giam Liong. Ia menyuruh Giam Liong tidur di situ dan barulah Han Han merebahkan dirinya. Tempat tidur itu tidaklah besar, namun bagi mereka berdua sesungguhnya cukup.

Ketika Han Han berhasil memaksa dan mereka tidur sepembaringan, Giam Liong menahan tangisnya yang seakan meledak. Ia mencengkeram Han Han dan berseru gemetar, "Han Han, pernahkah terbayang olehmu bahwa kita akan tidur sepembaringan? Terlintas di benakkah bahwa kita yang pernah bermusuhan dan bertanding begitu hebat suatu ketika dapat bersatu dan tidur seperti ini? Ah, aku merasa betapa baik dan mulia budimu, Han Han. Kau seperti ayahmu. Dan aku... aku pernah menjadi begitu ganas. Aku benar-benar pernah menjadi iblis!"

"Sudahlah," Han Han tersedak dan menahan runtuhnya air mata, lalu cepat-cepat memadamkan lampu. "Aku tak pernah memikirkan semuanya itu, Giam Liong. Tapi kau pun tak salah sepenuhnya. Tidurlah, dan jangan bicara yang membuat aku merasa diremas-remas!"

"Oohh...!" Giam Liong menjauh dan melepaskan cengkeramannya. Han Han menangis.

"Maafkan aku, Han Han... maafkan!"

Dua pemuda itu tak bicara lagi. Mereka diam, namun sesungguhnya jiwa mereka menjerit. Han Han dan Giam Liong sama-sama merasakan kebahagiaan dan keharuan yang luar biasa. Tidur sekamar dan sepembaringan seperti itu sungguh tak pernah mereka bayangkan. Seperti mimpi.

Malam itu, di kamar lain, Tang Siu dan Yu Yin juga asyik berbisik-bisik.

"Sst, mereka tidur sekamar, dan sepembaringan lagi. Bagaimana pendapatmu, Tang Siu? Apakah Han Han tak merasa jijik?"

"Jijik? Kenapa? Kau dan aku pun sama-sama tidur di pembaringan yang sama, Yu Yin. Dan aku tak merasa jijik. Giam Liong pada dasarnya baik!"

"Kau tak ingat sepak terjangnya yang lalu?"

"Dia seperti harimau garang yang tak mungkin menerkam kalau tak disakiti atau diganggu. Giam Liong pemuda luar biasa yang hanya kejangkitan semacam penyakit. Mungkin dari hawa gaib Golok Penghisap Darah warisan ayahnya itu!"

"Penyakit?"

"Ya, begitu agaknya, Yu Yin. Tapi entahlah, aku juga tak tahu. Aku hanya ingat ketika golok itu pernah mengamuk dan marah-marah kepada kita. Seperti setan!"

"Hm, aku ngeri membayangkan golok itu. Tapi aku ingin mengucap terima kasih bahwa kau telah membantu aku menghalau pemberontak yang mengepung kota raja!"

"Ah, itu soal biasa, Yu Yin. Chu-goan-swe dan orang-orangnya itu harus diusir. Aku tak tega melihat rakyat jelata menjadi korban!"

"Dan sekarang mereka telah pergi. Tanpa Giam Liong, tak mungkin mereka datang lagi!"

"Eh, bolehkah aku bertanya," Tang Siu tiba-tiba teringat. "Aneh bahwa kau tiba-tiba membantu istana setelah disakiti dan ditangkap orang-orang kerajaan. Bagaimana sebenarnya maumu ini, Yu Yin? Bolehkah aku tahu?"

"Hm, itu gampang saja. Aku ingin membalas budi. Jelek-jelek begini, Kaisar pernah memberiku kesenangan dan kemewahan. Aku adalah puteri bangsawan. Meskipun aku kini tak akan kembali dan tinggal di istana lagi, aku ingin berdarma bakti dan membalas budi baiknya. Apakah aneh?"

"Hm, begitukah?"

"Ya, di samping tak ingin rakyat jelata menjadi korban lebih jauh dari peperangan itu. Sudahlah, aku tak mau bicara lagi tentang ini, Tang Siu. Aku ingin menutup masa laluku."

Tang Siu menarik napas dalam. Akhirnya ia mengangguk-angguk. Pembicaraan mereka beralih kembali pada Han Han dan Giam Liong. Angin malam berkesiur lembut hingga mereka menguap.

"Tang Siu, aku mengantuk."

"Aku juga... Marilah tidur dan semoga bermimpi indah!"

Ketika keduanya kembali menguap dan lampu dipadamkan, Yu Yin segera terlelap disusul Tang Siu. Hawa dingin dari angin yang segar membuat malam semakin larut. Ketika kentongan pukul satu terdengar dari tengah pulau, telaga berdesir dan beriak perlahan, seluruh penghuni rumah pun telah lelap.

Tiba-tiba, sesuatu yang tak terduga terjadi. Giam Liong, yang tertidur pulas bersama Han Han, mendadak merasa seperti diangkat. Mimpi yang mengejutkan membawa mereka dalam kesadaran. Giam Liong merasa digoyang dan seketika ia bangun. Han Han juga tersentak membuka mata dengan terbelalak ketika sesosok bayangan putih muncul di tengah-tengah mereka. Tempat tidur berguncang lembut.

"Hantu!" Giam Liong dan Han Han berseru berbarengan.

Mereka kaget sekali dan Han Han bergerak menyerang bayangan putih itu yang melayang di udara. Namun, tawa lembut menyambut serangannya dan pemuda itu terjelungup ke depan. Giam Liong juga bergerak, tetapi tangannya ditangkap. Dua pemuda itu terkejut karena sapaan halus memasuki telinga mereka.

"Maaf, jangan bersuara keras-keras, anak-anak. Perahu nanti terguling!"

Han Han dan Giam Liong tertegun. Mereka diusap oleh lengan yang lembut dan tawa yang empuk itu terdengar begitu sedap. Han Han membelalakkan mata.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment