Chapter 187
Namun, ketika ia mendengar jerit tertahan dan Tang Siu maupun Yu Yin ada di situ, di belakang bayangan putih-putih ini, maka mereka ternyata ada di perahu dan Yu Yin menuding.
"Giam Liong, sss... setan!" Giam Liong terpaku.
Ia melihat tempat tidur ada di situ, di atas perahu. Ketika ia ternganga karena gedung tempat tinggal Ju-taihiap juga ada di atas perahu ini, ia terhuyung dan mengejap-ngejapkan mata karena takjub.
"Han Han, apa yang kaulihat?"
"Aku... aku melihat tempat tidur kita! Dan... dan, eh... gedung tempat kita tinggal ada di perahu ini! Itu kamar Ayah, dan itu taman-taman bunga pula. Eh, bagaimana bisa menumpang dan berdiri di atas perahu? Kita memasuki alam gaib!"
"Benar, aku... aku merasa seram, Han Han. Dan bintang-bintang ini, aih... dekat sekali. Serasa belasan meter saja dari tempat kita. Cahayanya gemerlapan!"
"Dan itu bulan yang bundar amat indahnya. Kita serasa mimpi!"
"Benar, kita mimpi!"
"Dan ada setan!" Yu Yin tiba-tiba kembali berteriak. "Tolong, bawa aku ke tempatmu, Giam Liong. Aku tak dapat bergerak. Siapa kakek ini!"
"Benar, siapa dia?" Han Han tiba-tiba juga terkejut dan membalik.
Ia juga tak dapat melompat atau menjangkau ke depan. Tadi ia tersungkur dan ditangkap oleh jari lembut kakek itu. Namun, ketika kakek itu tertawa, tawanya yang lembut serta halus menyejukkan mereka, membuat mereka berani untuk memandang dengan jelas. Semua tertegun karena wajah kakek itu ternyata tertutup halimun, sementara dari kedua matanya menyorot cahaya lembut namun tajam. Kakek itu pun tidak menginjak tanah. Manusia roh!
"Kau... kau siapa..."
"Duduklah," kakek itu menggerakkan tangan menyuruh duduk, tawanya masih lembut terdengar. "Aku adalah orang yang menitipkan syair kepada Yang Im Cinjin, anak-anak. Jangan takut karena aku tak mengganggu kalian."
"Sian-su?" Giam Liong dan Han Han berseru serentak, kaget. "Bu-beng Sian-su?"
"Hm, itulah nama yang diberikan orang kepadaku. Aku sendiri tak bernama. Duduklah, dan harap tenang-tenang saja."
Han Han dan Giam Liong tiba-tiba terbelalak. Mereka sekarang dapat bergerak lagi sementara Tang Siu dan Yu Yin berseru tertahan. Begitu tadi kakek itu menggerakkan tangan, mereka dapat melompat dan Yu Yin maupun Tang Siu langsung saja bersembunyi di belakang dua pemuda ini. Mereka merasa takut dan gentar karena kakek ini seperti siluman. Namun, ketika kakek itu benar-benar tak mengganggu mereka dan tawanya yang lembut kembali terdengar, Yu Yin maupun temannya tenang kembali, meskipun jantung mereka terasa berdebar kencang.
"Aku terpaksa membawa kalian ke sini, tak mau mengganggu yang lain. Dan karena kalianlah yang lebih berkepentingan, maka aku hendak bercakap-cakap dengan kalian."
"Kau... kau hendak bicara apa?"
"Hm," kakek ini memandang Giam Liong, sorot matanya tajam menembus, membuat Giam Liong tersentak mundur. "Ada kejadian berat yang akan kaualami lagi, anak muda. Aku hendak memberi pesan agar kau berhati-hati dan jangan sekali-kali memiliki Golok Maut lagi. Rencanamu benar, kembalikan golok itu ke Lembah Iblis dan kuburlah dia di sana. Seumur hidup jangan dilihat lagi, jangan diambil. Atau malapetaka akan menimpamu dan seumur hidup kau bakal menderita!"
Giam Liong tergetar, terkejut. "Sian-su... Sian-su tahu ini?"
Han Han juga heran. Seingatnya, baru kepadanya Giam Liong memberitahukan rencana itu. Maka melihat kakek ini tahu dan mendengar kakek itu tahu apa yang mereka bicarakan di kamar, Han Han lebih heran lagi.
"Aku tahu, dan aku merasa bahagia bahwa kalian dapat bersatu dan hidup berdampingan. Aku juga mendengar percakapan kalian di kamar."
Han Han tertegun.
"Tapi kau..." kakek ini tiba-tiba menoleh kepada Yu Yin. "Jangan sekali-kali ke kota raja dan pegang sumpahmu, Nona. Sebaiknya tak usah kau menemui siapa pun di sana dan tak usah dikunjungi siapa pun dari sana. Mulailah hidup baru dan benar-benar lupakan kerabat ataupun sahabatmu dari istana."
Yu Yin mengangguk. "Aku memang tak akan kembali ke sana," gadis ini berkata setengah marah. "Dan aku merasa tak mempunyai kepentingan lagi dengan istana!"
"Bagus, dan pegang teguh kata-katamu ini, Nona. Atau nanti semua jadi terbalik!"
"Hm, Sian-su membuat kami berdebar," Han Han kini bicara, mulai tidak takut lagi. "Dan bagaimana dengan aku, Sian-su? Apa yang harus kuperhatikan?"
"Janganlah kaubiarkan ayah ibumu meninggalkan Hek-yan-pang dalam waktu sepuluh tahun ini. Jagalah mereka dan sebaiknya kau kawal ayah ibumu kalau ingin bepergian lama."
"Apa? Mengawalnya seperti anak kecil?" Han Han terbelalak.
"Hm, akan ada gejolak di dunia kang-ouw. Kalau kau ingin bertanya nasihatku, maka itulah yang harus kaulakukan, anak muda. Katakan agar dalam waktu sepuluh tahun ini sebaiknya ayah ibumu tak usah bepergian, tak usah meninggalkan Hek-yan-pang jauh-jauh. Itu nasihatku."
Han Han tertegun. Ia merasa heran tapi mengangguk-angguk mengucap terima kasih. Betapapun itulah nasihat untuknya dan dia akan memberitahukan ayah ibunya pula. Konon, dari kakek dewa ini pulalah ayahnya mewarisi kepandaian. Dan ketika kakek itu duduk dan berhadapan dengan mereka, Tang Siu dan lain-lain mulai berani, maka gadis ini bertanya pula, "Lalu aku bagaimana, Sian-su? Apa yang harus kuperhatikan?"
"Gurumu sebaiknya tak usah turun gunung. Dalam waktu sepuluh tahun ini tahanlah keinginannya untuk tidak keluar-keluar, sama seperti Ju-taihiap."
"Hm, dan sekarang aku ingat akan syair pemberianmu itu," Han Han kini berseru, memotong kekasihnya. "Kata Ayah maupun Ibu, kau selalu memberikan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan, Sian-su. Dan bagaimana sekarang dengan..."
"Benar," Giam Liong juga mengangguk, merasa dialah yang lebih berkepentingan. "Aku dan Han Han sudah membaca berulang-ulang, Sian-su. Tapi tidak banyak yang kami dapat."
"Ha-ha, isinya jelas dan terang. Masa kalian tak mengerti!"
"Benar, tidak semuanya kami mengerti, Sian-su. Kami hanya tahu bahwa syairmu bicara tentang dendam. Itu intinya!"
"Hm, bukan itu saja. Tapi kelanjutan dari itu lebih penting lagi!"
"Pada bait ketiga?"
"Benar, kau cerdas."
"Tapi kami tak mampu mengupasnya. Apa yang kau maksud dengan kata-kata pada baris ketiga itu?"
"Sebaiknya dibaca saja semua," Tang Siu tiba-tiba berseru. Perahu bergoyang dan mereka nyaman sekali diombang-ambing, ikan berkecipak dan hilir-mudik berenang di sekitar perahu. "Aku tak ingin tahu hanya sepenggal-sepenggal saja, Han Han. Kau boleh cerdas tapi kami ini masih bodoh!"
"Ha-ha, bukan bodoh, hanya belum mengerti. Orang yang bodoh adalah orang yang sudah tahu sesuatu tapi tak mampu mengerjakannya, Nona. Bukan karena tak bisa melainkan karena otaknya bebal."
"Dan kami barangkali bebal, kami juga begitu."
"Tidak, dalam hal ini kalian memang belum mengerti, dan belum mengerti karena memang belum kuberi tahu. Hm, duduklah yang tenang dan mari kita lihat syair itu. Siapa yang membawa?"
Giam Liong mengeluarkan syair itu. Dialah yang membawa karena memang kepada dialah Im Yang Cinjin memberikan syair tersebut. Yu Yin di sampingnya dan kini tidak takut lagi menghadapi kakek ini. Bahkan, ada rasa kagum dan takjub. Dan karena Tang Siu juga sudah di samping Han Han dan tidak bersembunyi di belakang punggung lagi, aneh bahwa semua sudah mengelilingi kakek itu, maka Bu-beng Sian-su yang tersenyum dan bersila di tengah anak-anak muda ini memandang berseri dan sorot matanya yang lembut menyapu sejuk.
"Kau bacalah," kakek itu memerintah Giam Liong. "Dan perhatikan baik-baik apa yang hendak kuberitahukan kepada kalian."
Giam Liong berdebar. Setelah dia dapat menenangkan perasaannya kembali berhadapan dengan kakek ini, mendadak sekarang ia merasa tegang dan menggigil menggenggam kertas itu. Aneh, ia seakan ketakutan dan pucat. Tapi ketika pundaknya ditepuk halus dan lenyap sudah rasa gemetaran itu, maka Giam Liong membaca, seperti ketika Yu Yin membaca syair itu:
*Api memercik di sudut hati*
*Merayap cepat membakar bumi*
*Musnahlah sudah kasih dan budi*
*Tinggallah jiwa yang penuh benci*
*Dendam kesumat membawa laknat*
*Hancur periuk ditimpa genta*
*Sudah kodrat datang menjerat*
*Celakalah badan rusak binasa*
*Satu jalan melepaskan diri*
*Membuang racun lekatkan jari*
*Taruh di tengah sang dewa cinta*
*Siap dan tenang menebus dosa!*
"Hm!" kakek itu mengangguk-angguk. "Cukup, anak muda. Terima kasih. Bagus!"
Giam Liong mengusap keringat. Membaca tiga bait syair itu saja tiba-tiba ia seakan mendapat tugas berat. Dahinya berkeringat padahal hawa udara malam masih berhembus dingin. Aneh! Tapi begitu ia selesai dan kakek itu mengangguk-angguk, pemuda ini meletakkan syairnya maka kakek itu berseri, matanya bersinar-sinar.
"Bagus, apa yang dapat kau tangkap, anak muda? Adakah yang sudah kau mengerti?"
"Hm, masalah dendam. Syair ini bicara masalah dendam. Tadi temanku Han Han juga sudah bicara begitu!"
"Ha-ha, aku tidak bertanya pendapat temanmu. Aku bertanya kepadamu sendiri, kau!"
"Aku juga begitu, Sian-su. Aku sependapat bahwa syairmu ini bicara tentang dendam," Giam Liong agak merah mukanya.
"Baik, dan kau pasti dengan pendapatmu itu?"
"Ya."
"Hm, apalagi yang kau tangkap!"
"Belum ada...." Giam Liong mengerutkan kening, sesungguhnya kurang suka bicara tentang ini. Perasaannya seperti tercabik-cabik. "Aku belum menemukan apa-apa lagi, Sian-su, kecuali itu...."
"Hm, kau," kakek ini tiba-tiba menunjuk Han Han. "Coba kaukupas dan artikan syair itu, anak muda. Barangkali kau lebih tahu!"
"Aku seperti Giam Liong," Han Han tergagap. "Aku hanya tahu sebatas itu!"
"Hm, kalau begitu bagaimana kalian!" Bu-beng Sian-su menoleh pada Tang Siu maupun Yu Yin. Yang dipandang segera berdesir. "Coba kalian baca dan artikan itu!"
"Kami... kami tak tahu. Kami hanya tahu seperti apa yang mereka katakan!" Tang Siu menjawab dan memberanikan hati. Bicara dengan kakek ini ia serasa gentar dan meskipun tidak takut, tapi perbawa dan wajah kakek itu mengerikannya. Ia merasa jerih!