Chapter 188
Ketika kakek itu tertawa dan mengangguk-angguk, menarik napas dalam, ia berkata, "Baiklah, syair ini sederhana sekali, anak-anak, tak ada yang sukar. Namun, harus kalian perhatikan baik-baik karena akibat dari hal ini bisa tak ada habisnya dan berkepanjangan kalau tidak segera diputuskan. Nah, dengarlah baik-baik!"
Empat orang muda itu mendengarkan. Mereka memasang telinga baik-baik, sementara Giam Liong merasa agak gelisah. Ia tahu bahwa dialah yang nantinya akan dituju. Jika kakek ini tidak dikenal sebagai orang yang memberi manfaat kepada orang lain, tentu ia enggan mendengar. Pembicaraan ini pasti akan menusuk-nusuk hatinya. Ia harus siap menerima pedih. Namun, karena tempaan demi tempaan sering dialaminya, Giam Liong tabah dan menjadi matang, sehingga ia membiarkan saja kakek itu bicara.
Bu-beng Sian-su pun mulai bicara, "Pertama, mari kita kupas bait pertama. Ada empat baris kata di sana. Pembukaannya adalah Api. Hm, kalian tahu apa itu api, anak-anak? Bisa kalian katakan sebentar?"
Han Han mengangguk. "Api adalah benda panas yang membakar, Sian-su. Ia sanggup menghanguskan apa saja!"
"Bagus. Dan api ini adalah benda berbahaya. Api dari segala api yang paling berbahaya adalah kebencian. Kalian pernah benci?" Semua melengak. "Eh, kenapa melengak? Jangan pandang aku seperti itu, anak-anak. Jawablah pertanyaanku, apakah kalian pernah benci!"
Han Han tiba-tiba tersenyum, dan tiga temannya tersipu. "Pernah," jawabnya.
"Dan apa yang kalian rasakan itu?"
"Rasa tidak suka atau marah kepada yang dibenci."
"Itu saja?"
"Ya, itu saja."
"Ha-ha, tidak lengkap. Coba kau jawab, anak muda. Bagaimana rasanya benci!"
Giam Liong terkejut. Dialah yang ditanya dan diminta menjawab. Agaknya jawaban Han Han tadi kurang sempurna dan harus disempurnakan. Karena merasa dialah yang paling tepat ditanya—sementara Han Han terlalu lembut dan mulia seperti ayahnya—Giam Liong mengepal tinju. "Aku ingin membunuh dan mencincang musuhku. Aku ingin menamatkan riwayatnya!"
"Ha-ha, inilah benci. Benci yang sudah berkobar! Kau tepat, anak muda. Itulah api benci yang sudah merayap cepat dan membakar bumi. Tahukah kalian siapa yang kumaksud 'bumi' di sini? Ada yang dapat menjawab?"
Han Han bergidik. Jawaban Giam Liong dengan kepalan tinjunya tadi membuat ia waswas. Ia heran bahwa kakek dewa ini bermain dengan kata-kata yang bisa membuat temannya marah. Giam Liong bisa bangkit kebenciannya dan kembali ganas. Pemuda itu bisa menjadi iblis lagi.
Namun, ketika kakek itu tertawa dan bertanya kepada mereka siapakah "bumi" yang dimaksud dalam bait pertama, Giam Liong menggeleng. Teman-temannya juga tak tahu. "Mungkin bumi yang kami tinggali ini, tanah tempat berpijak. Tapi Sian-su tentu bermaksud lain."
"Ha-ha, benar. Bumi yang kumaksudkan di situ adalah tubuh kalian. Tubuh kalian ini yang dibakar dan dihanguskan oleh api kebencian. Tanpa tubuh atau wadag, kebencian tak dapat berbuat banyak karena ia tak mampu melampiaskan diri. Nah, tubuh kalian inilah yang kumaksud bumi. Sekali api kebencian membakar dan merayap cepat, maka tiadalah kasih dan budi di jiwa kalian lagi. Yang ada hanyalah benci yang kotor dan hitam!"
Han Han dan dua lainnya mengangguk-angguk, sedangkan Giam Liong diam saja.
"Lalu apa yang terjadi?" kakek itu melanjutkan. "Tubuh kalian dipakai oleh api yang bernama benci untuk melampiaskan diri. Selama ia belum terlampiaskan, maka tak ada akhir dari benci ini. Padahal, benci membuat manusia ringkih dan keropos bagai tulang-tulang tua yang dimakan tanah!"
"Keropos? Ringkih?" Han Han heran. "Giam Liong justru tampak semakin mengerikan dan dahsyat, Sian-su. Ia seakan makhluk kuat yang luar biasa menakutkannya. Ia tegar dan gagah perkasa!"
"Ha-ha, bukan itu. Keropos dan ringkih yang kumaksud adalah miskinnya sumber kehidupan. Tahukah kau apa sumber kehidupan itu? Tidak lain adalah cinta kasih. Benci bukanlah sumber kehidupan karena ia bersifat merusak dan menghancurkan. Orang yang diamuk benci adalah orang yang jauh dari sumber kehidupan ini, maka ia sesungguhnya keropos dan ringkih. Orang yang sudah tahu akibat dari benci tak akan berani menenggelamkan diri. Benci itu ibarat telaga berapi yang siap menghanguskan dan merusak diri sendiri!"
Han Han tertegun.
"Lihat temanmu ini, lihat anak muda ini. Bukankah gara-gara benci, ia sekarang kehilangan sebelah lengannya? Kalau ia menyadari dan mengerti benar tentang benci, tentu ia akan berpikir seribu kali untuk hanyut dan tenggelam dalam api itu."
Han Han mengangguk-angguk, tapi Giam Liong tiba-tiba mengangkat kepala. Sinar matanya mencorong, persis seekor naga yang mau murka. Suaranya dingin, "Sian-su, apakah kau hendak bermaksud bahwa orang tak boleh membenci? Bahwa biarlah kepala kita diinjak-injak dan dihina orang lain dengan patokan tidak boleh membenci itu?"
"Ha-ha, kau terpancing emosi. Tapi ini berarti jiwamu hidup, memberontak! Bagus, tapi sayang aku tidak bermaksud begitu. Kau salah!"
"Jadi bagaimana? Sian-su setuju bahwa kita juga boleh membenci?"
"Itu juga tidak, melainkan sesuatu yang lain. Aku hendak bermaksud bahwa kita mengamati benci itu sebagai 'benda' yang asing, lalu selidiki dari mana ia berasal. Kalau sudah ketemu, maka kita tak akan terjebak dan dibawa ke liku-liku yang rumit. Benci sesungguhnya berasal dari ego yang diganggu, rasa ke-aku-an. Karena rasa ke-aku-an ini berasal dari pikiran, bukan hati, maka kita harus waspada. Tapi celakanya, banyak yang terjebak!"
"Hm, aku bingung. Apa itu si-aku?"
"Aku adalah ego, rasa kepemilikan. Semakin tebal seseorang memupuk ke-aku-annya, semakin jauh dia dari cinta kasih. Contohnya adalah ini..." Kakek itu tiba-tiba memandang Yu Yin. "Siapakah gadis ini? Salahkah kalau kusebut bahwa dia adalah kekasihmu? Dan siapakah Jutaihiap suami-istri? Salahkah kalau kusebut sebagai ayah-ibu temanmu, Han Han? Nah, mereka ini adalah orang-orang milik kalian, anak muda. Kalian tentu menyebutnya sebagai kekasih atau ayah-ibuku. Lihat, kata 'ku' di situ adalah ego. Ia menunjukkan kepemilikan. Kalau kalian sudah jelas ini, tentu kita akan lebih lancar lagi bicara."
Han Han dan Giam Liong bersinar-sinar. Hal seperti ini baru kali itu mereka dengar, dan karena merasa tertarik, mereka mengangguk-angguk. Begitu pula Tang Siu maupun Yu Yin. Namun, belum kakek itu bicara lagi, Giam Liong sudah memotong.
"Kalau begitu, apa salahnya rasa ego ini, Sian-su? Bukankah rasa ke-aku-an itu wajar dan tidak salah? Apakah kau hendak menghendaki agar kita tidak memiliki lagi rasa itu? Ingat, kau menghubungkan rasa kebencian itu dengan aku, ego!"
"Ha-ha, benar. Dan kau tampak bersemangat sekali. Bagus, jiwamu hidup, anak muda. Kau cocok sebagai figur yang meletup. Tapi nanti dulu, aku tidak berkata bahwa ego harus dibuang. Ego sudah ada di dalam diri setiap manusia seperti jantung atau hati. Ia sudah menjadi bagian dari wujud utuh manusia. Ia tak dapat dihilangkan dan tak mungkin pula dihilangkan. Tapi kalau ego sudah nyasar ke tempat lain, seperti halnya otak tiba-tiba berpindah ke jantung atau jantung berpindah ke otak, maka kehidupan manusia menjadi kacau-balau. Inilah yang terjadi!"
"Hm, bagaimana itu..."
"Nanti dulu, jangan tergesa memotong. Dengarkan. Kalau jantung kutaruh di kepala dan otak kutaruh di jantung, bagaimana jadinya? Bukankah semuanya serba kacau? Begitu pula dengan ego ini; masing-masing sebenarnya sudah ada di tempatnya, tapi oleh manusia lalu dipindah-pindah seenaknya. Contohnya adalah kau ini. Gara-gara ego kau pindah ke tempat lain, maka semuanya berantakan dan kau pun akhirnya menderita!"
"Aku tidak mengerti..."
"Aku akan membuatmu mengerti," kakek itu menyergap tangkas. "Dengar dulu dan ingat apa yang kukatakan tadi, anak muda. Bahwa kita harus mengamati benci sebagai 'benda asing' di tubuh kita. Lihat bagaimana ia datang, dari mana. Karena benci berasal dari ego yang diganggu dan ego berasal dari pikiran, inilah yang merusakmu dan tidak kauwaspadai!"
"Nanti dulu, apa yang merusak dan tidak kuwaspadai, Sian-su? Aku tidak merasa apa-apa!"
"Ha-ha, inilah tololnya manusia. Sudah digerogoti dan dimakan oleh api kebencian, masih saja bilang tidak merasa apa-apa. Eh, jawab pertanyaanku, anak muda. Bagaimana dan dari mana dendam itu berasal ketika kau membunuh Kedok Hitam?"
Giam Liong terkejut dibentak. Tiba-tiba ia merasa marah dan sinar matanya beringas menatap kakek dewa itu. Watak Si Naga Pembunuh muncul; ia tak takut! Ketika dua pasang mata beradu di udara dan Yu Yin menjerit melihat sinar mata Giam Liong yang merah membakar, pemuda itu berkata lantang, "Sian-su, aku membunuh Kedok Hitam karena ia membunuh dan mencelakai ayah-ibuku. Darah harus dibayar darah. Tak ada anak yang dapat membiarkan itu kecuali anak yang tidak berbakti!"
"Ha-ha, bagus. Coba ulang sekali lagi. Siapa yang dibunuh Kedok Hitam hingga kau sekarang ganti membunuhnya?"
"Ayah-ibuku!"
"Siapa?"
"Ayah-ibuku!"
Giam Liong melompat, membentak keras sekali, tapi kakek dewa itu justru tergelak. Giam Liong berdiri dengan merah terbakar, tapi anehnya kakek itu tak peduli. Han Han terkejut dan cepat menangkap temannya ini untuk menenangkan. Ketika Giam Liong tertegun karena suara lembut kini mengganti tawa bergelak itu, sinar mata berwibawa menyorot menembus sinar matanya yang beringas, kakek itu berkata, "Nah, lihat dan dengarkan sendiri kata-katamu tadi. Yang diganggu adalah milikmu, anak muda. Yang dirusak adalah milikmu. Siapa itu Sin Hauw dan mendiang Wi Hong? Kau mengatakannya sebagai ayah dan ibu-ku. Nah, bukankah 'ku' atau ego muncul di sini? Ayahmu maupun mendiang ibumu juga sama saja."