Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 189

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 189

Mereka membenci dan memusuhi Kedok Hitam karena Kedok Hitam mengganggu atau merusak rasa "aku"-nya. Ibumu membenci karena suaminya dibunuh, sedangkan ayahmu membenci karena ayahnya (kakekmu) dibunuh pula oleh Kedok Hitam. Masing-masing terlibat dan terjebak oleh rasa "aku"-nya itu. Ibumu menganggap ayahmu sebagai "suamiku", sementara almarhum kakekmu adalah "ayahku" bagi ayahmu. Betapa jelas dan gamblang bahwa kau dan semua orang terjungkir balik oleh ke-aku-an yang dipindah tempatnya ini. Betapa gamblang dan nyata bahwa kebencian akhirnya merusak diri sendiri. Lihat bagaimana kekasihmu hendak membunuhmu beberapa hari yang lalu. Lalu, apa jadinya kalau semua orang saling membalas dendam dan menjadi seperti binatang yang ganas dan jalang seperti ini? Bukankah kehidupan jadi kacau dan mengerikan sekali? Dunia menjadi tak tenteram dan panas untuk ditinggali!"

"Hm...!" Han Han mengangguk-angguk, sementara Giam Liong masih diam dan tertegun.

"Aku mulai dapat menangkap wejanganmu ini, Sian-su. Tapi bagaimana kalau tidak begitu? Bukankah rasa marah atau dendam sesungguhnya ada juga di hati setiap orang, seperti halnya jantung atau hati yang Sian-su katakan tadi?"

"Betul, tapi seperti kataku tadi, anak muda. Kalau kebencian atau dendam itu muncul, lihat dan amatilah dia sebagai 'benda asing' yang datang. Lihat dari mana dia berasal. Karena dia pasti berhubungan dengan ego atau 'aku', maka waspadalah agar tidak terjebak, hanyut, apalagi tenggelam oleh 'benda asing' ini. Jelas?"

"Jelas, tapi juga tidak jelas," Han Han berkerut kening, pikirannya bekerja keras. "Apakah Sian-su hendak bermaksud bahwa dengan begini kita tak boleh mendendam atau membenci?"

"Nanti dulu. Benci atau dendam tetap ada di hati semua orang. Dia tetap tinggal di situ, seperti halnya darah atau daging di tubuh kita. Tapi karena ada yang tidak cocok dalam penerapannya, jalan keluarnya maka kita terjebak dan terseret di sini. Coba katakan dulu, apakah sesungguhnya kita ini punya hak milik?"

"Tentu," jawab Han Han tanpa ragu. "Aku mempunyai ayah dan ibuku, Sian-su. Seperti juga Giam Liong ini pernah mempunyai ayah dan ibunya. Dan kupikir setiap manusia punya hak milik!"

"Ha-ha, itu semu, hanya secara lahiriah. Sebetulnya manusia ini tak mempunyai apa-apa dan tak punya hak milik. Yang ada dapat lewat dan lenyap. Kau salah!"

"Salah?"

"Bagus, kutanya lagi, jangan potong dulu," kakek itu berseri, kabut di mukanya bergerak membuka. "Coba jawab, dari semua hak milik yang dipunyai manusia, apakah yang dinilai paling berharga, anak muda? Tunjukkan kepadaku dan mari kita berdebat!"

"Hm, keluarga dan orang tua kupikir adalah hak milik paling berharga," jawab Han Han.

"Dan kalian?" kakek itu memandang Yu Yin dan yang lain. "Bagaimana jawabannya?"

"Kami pikir juga begitu," Tang Siu mengangguk, sependapat. "Keluarga dan orang tua adalah hak milik paling berharga, Sian-su. Justru karena yang paling berharga inilah yang dicabut Kedok Hitam, maka Giam Liong..."

"Ha-ha, kalian hanya bicara tentang yang di luar. Ah, di luar melulu. Alangkah bodohnya! Bagaimanakah kalau seandainya semua itu ada tapi kalian sendiri tidak ada?"

"Maksud Sian-su?"

"Jelas. Bagaimana kalau semua itu ada tapi kalian sendiri tidak ada, tidak pernah lahir? Apakah bukan justru yang ada di dalam diri kalian itulah yang paling berharga, nyawa kalian?"

Han Han dan Tang Siu terkejut. "Lihat," kakek itu melanjutkan. "Nyawa adalah milik kalian yang paling berharga, anak-anak. Karena nyawa inilah yang membuat kalian hidup. Bukankah karena ini maka kalian dapat menikmati hak-hak lain seperti keluarga dan lain-lainnya itu? Tapi ternyata yang paling berharga ini pun ternyata bukan milik kalian, ha-ha!"

"Eh!" Han Han terkejut, berseru menyergah. "Bagaimana bisa begitu, Sian-su? Masa nyawa ini bukan milik kami sendiri!"

"Ha-ha, betul. Tapi coba jawab dulu, apakah jawaban ini tidak betul bahwa hak milik kalian yang paling berharga sesungguhnya adalah nyawa kalian itu, yang membuat kalian hidup!"

"Kau benar," Han Han akhirnya mengangguk. "Nyawa kami adalah harta milik kami yang paling berharga, Sian-su. Tapi kenapa ini pun kau sanggah sebagai bukan milik kami?"

"Gampang. Kalau itu milikmu, dapatkah kau mempertahankannya kala kematian menjemput? Dapatkah kau berkata kepada Malaikat Maut bahwa itu milikmu dan karena itu jangan diambil? Coba jawab, anak muda. Dapatkah kau mempertahankannya kalau itu milikmu?"

Han Han berubah. Semua yang lain tiba-tiba juga berubah, dan tawa kakek itu amatlah mengejutkan mereka berempat. Kakek itu berkata dan tertawa begitu benar; tak dapat dibantah! Ketika mereka bagaikan melihat barang baru dan Han Han maupun teman-temannya tak mampu menjawab karena ada sesuatu yang lebih tinggi dan jauh di atas kekuasaan mereka, pemuda ini dan tiga temannya tertegun.

Kakek itu menyergap, "Ayo, bagaimana anak muda? Apakah ini pun tidak benar!"

"Benar, tapi... tapi..." Han Han bingung. "Bukankah kami memilikinya juga, Sian-su? Bukankah ini ada pada kami?"

"Itu pun benar, tapi ketahuilah bahwa hak milik yang kalian miliki sesungguhnya adalah hak milik semu. Hak milik sejati tak pernah ada pada manusia. Manusia hanya memiliki hak manfaat, itu saja. Dan kalau yang berharga saja bukan milik kalian, apalagi milik orang lain, biarpun itu ibu atau ayah kandung!"

Giam Liong tergetar. Sampai di sini ia pucat, terbelalak, dan wajah yang tadi merah terbakar perlahan-lahan surut menjadi putih. Tiba-tiba pemuda itu mengeluh. Ketika ia menutupi mukanya sementara Han Han dan yang lain terkejut, mata mereka seakan dibuka lebar-lebar. Keempat anak muda itu terhentak oleh pikiran masing-masing.

Han Han sekarang melihat bahwa sesungguhnya manusia tak memiliki apa-apa. Kalaupun ada rasa memiliki itu, semuanya bersifat lahiriah dan semu. Ketika ia mengangguk-angguk sementara dua gadis di sebelahnya mendelong dengan sikap bengong, Tang Siu teringat bahwa kakek itu belum menerangkan tentang hubungan kebencian dengan ego.

"Maaf, Sian-su," gadis ini maju bicara. "Aku sekarang mengerti apa yang telah kau uraikan ini. Tapi bagaimana selanjutnya dengan wejanganmu berikut? Kau agaknya hendak memberitahukan kami bahwa benci dan dendam sebaiknya tak perlu dipupuk. Kenapa dengan ini, dan mungkinkah pula bagi kami, manusia, menghapus begitu saja segala benci dan dendam, apalagi kalau sudah merasuk ke sumsum tulang?"

"Bagus, pertanyaanmu mengajak kembali," kakek itu mengangguk-angguk, tersenyum. "Kalian sekarang sudah mengerti bahwa rasa ke-aku-an mengajak manusia untuk menikmati secara semu, anak baik. Padahal yang semu ini bukanlah yang sejati. Yang sejati bukanlah milik kita, milik siapapun. Ia ada dan hanya milik Yang Tunggal, Yang Mahakuasa. Kalau kita ngotot dan bersitegang untuk membela yang semu ini, maka sesungguhnya kita telah memboroskan tenaga dan pikiran untuk akhirnya malah menjadi celaka sendiri.

Aku hendak memberi tahu kepada kalian bahwa kalau kebencian atau dendam itu datang, lihat dan amatilah dia sebagai benda asing. Selidiki dan cari dari mana dia berasal. Karena kebencian ini selalu berhubungan dengan ego, maka waspadalah karena sesungguhnya ego itu juga bukan milik kalian. Kalau itu bukan milik kalian, lalu apa gunanya dibela dan dipertahankan mati-matian? Bukankah hanya membenamkan diri ke dalam lumpur kotor dan hitam? Kalian akan semakin keruh saja, hilang kejernihan. Dan kalau sudah begini, maka berlakulah seperti apa yang dilakukan Si Naga Pembunuh itu!"

"Kalau begitu Giam Liong tak boleh membalas dendam? Kalau begitu ia tak boleh mencari musuhnya?"

"Kedok Hitam jelas jahat, dan siapa saja boleh menghadapinya. Tapi kalau kalian menghadapinya didasari motif dendam, maka inilah yang tidak sehat. Sebagai seorang pendekar, jiwa kalian harus dilandasi keadilan dan cinta kasih, bukan kebencian atau dendam. Lihat ini..." kakek itu memberi contoh. "Ada sebuah keluarga yang anaknya digigit ular berbisa. Sang ayah marah-marah dan sang ibu menjerit habis-habisan. Anak kesayangannya mati. Lalu apa yang diperbuat? Ayah itu lalu mencari dan membunuh ular itu, dicincangnya penuh dendam. Padahal, ketika kulihat, keluarga itu tinggal di tepi sebuah rawa dan rawa itu memang banyak ularnya. Salahnya lagi, ia tidak memagari rumahnya sehingga ular berbisa dapat masuk dan menggigit tewas anaknya—yang celakanya lagi, dibiarkan bermain-main di tepi rawa oleh keteledoran ayah ibunya sendiri! Nah, siapa yang salah?"

Tang Siu tertegun. Ia semakin membelalakkan matanya dengan perumpamaan ini. Masih penasaran, ia bertanya, "Jadi seharusnya bagaimana?"

"Ayah atau keluarga itu harus waspada. Ia harus melihat bahwa tempat itu berbahaya bagi anak-anaknya. Karena kewaspadaan pasti membuat manusia berjaga-jaga, maka tak mungkin ia membiarkan rumahnya tanpa pagar dan begitu saja membiarkan anaknya bermain di tepi rawa!"

"Hm, aku sekarang mengerti," Han Han kini juga mengangguk-angguk. "Wejanganmu dapat kami terima, Sian-su. Tapi bagaimana dengan Giam Liong ini? Kewaspadaan bagaimana yang harus ia lihat? Bagaimana ia harus bersikap?"

"Pertama, rasa ke-aku-annya harus dinetralisir. Ingatlah bahwa ibu, ayah, atau apapun juga 'aku'-ku yang lain itu bukanlah miliknya sejati. Sedangkan nyawa sendiri pun bukan milik sendiri, apalagi orang lain dan yang di luar kita. Lalu ia harus waspada dan mengamati kenapa Kedok Hitam membunuh ayahnya, seperti juga ayahnya dulu harus mengamati kenapa ayahnya itu dibunuh. Kakek atau ayah dari ayah Giam Liong ini sudah lama merupakan pembantu Chu Wen. Kedok Hitam dan kelompoknya tak berhasil membujuk. Karena mereka sama-sama bermusuhan dan membela kepentingan sendiri-sendiri, maka adalah lumrah kalau kematian atau hal-hal keji sewaktu-waktu dapat masuk."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment