Chapter 19
Ketika ia sadar dan tersenyum mengangguk, sadar bahwa lawan tampaknya tidak percaya, maka tosu ini membiarkan pedang lewat dan mengegos ringan sambil berkata, “Bagus, kau anak perempuan yang berpikiran cerdas, Hujin.”
Melihat ilmu silatmu ini, tentu kau cucu murid Hek-yan Tai-bo....
“Wut!” Ketika pedang lewat di sisinya, tiba-tiba kakek itu berseru bahwa ia akan membuat pedang si nyonya meleleh.
“Sekarang lihatlah, inilah Yang Kun yang kupunyai....”
“Dar!” Ketika pedang dikejar dan disentuh kakek ini, yang tangannya sudah meraih dan mendahului gerakan Wi Hong, tiba-tiba pedang hancur dan meleleh bertemu hawa panas yang keluar dari tangan kakek itu, yang seketika berubah menjadi merah marong. Wi Hong kaget bukan main melihat ini.
Kakek itu mengusap dan menyentuh pedangnya, dan pedangnya itu pun tiba-tiba leleh, persis seperti dibakar di tungku panas yang apinya luar biasa.
Ketika Wi Hong merasakan hawa panas itu juga menjalar ke lengannya yang memegang pedang, tiba-tiba wanita ini berteriak dan membanting tubuh bergulingan.
“Aihhhh...!” Wi Hong pucat bukan main.
Kaget dan terbelalak oleh ilmu pukulan itu, ilmu usapan yang demikian mengerikan, tiba-tiba saja Wi Hong tersentak dan seakan semangatnya terbang.
Itulah tenaga sakti Yang (panas) yang diperlihatkan kakek ini, dahsyat dan luar biasa. Konon, dengan tenaga panas inilah Yang Im Cinjin dapat mengeringkan sebuah telaga dengan cepat.
Orang lalu mengatakan bahwa bukan telaga saja yang dapat dikeringkan kakek itu, melainkan juga lautan, karena tenaga sakti Yang kakek itu begitu dahsyat hingga air atau apa saja dapat dihisap cepat menjadi kering.
Wi Hong sekarang membuktikan ini, tetapi Im atau tenaga Dingin kakek itu belum dilihatnya.
Katanya, dengan tenaga dingin itu kakek ini dapat membekukan apa saja, mulai air di dalam gelas sampai kepada Telaga See-ouw, telaga Barat yang terkenal besar dan hebat panoramanya itu.
Ketika Wi Hong meloncat bangun dan bergulingan menjauh, ngeri dan gentar tetapi juga masih kurang percaya, tiba-tiba wanita itu melengking dan membentak si kakek agar mengeluarkan tenaga sakti Im-nya.
“Aku kurang percaya, dan masih ingin mencoba. Keluarkanlah tenaga Im-mu itu dan kulihat apakah benar kau Yang Im Cinjin atau bukan!” Sang tosu bersinar matanya.
Tiba-tiba sesorot cahaya dingin keluar dari mata kakek itu. Rasa tidak senang, tetapi juga maklum, timbul bersamaan.
Tosu ini berkelit ketika si nyonya menyambar. Wi Hong menyerang lagi sambil berseru agar dia mengeluarkan tenaga Im-nya itu, kalau benar dia adalah Yang Im Cinjin.
Ketika kakek ini mengelak dan Wi Hong meledakkan rambutnya menghantam kepala, tiba-tiba kakek ini menghela napas dan berkata, “Nyonya, ilmu bukan untuk dipamer-pamerkan, apalagi dibuat permusuhan. Kalau kau tidak percaya bahwa aku adalah Yang Im Cinjin, maka itu adalah hakmu, aku tak memaksa. Tapi barangkali ini cukup dan selanjutnya kita berhenti....”
“Plak!” Wi Hong tiba-tiba menjerit. Rambut di kepalanya menjadi kaku, dan tiba-tiba nyonya itu terpekik.
Sang tosu menangkis dengan ujung baju, dan tiba-tiba saja serangkum hawa dingin menyengat wanita ini hingga Wi Hong menggigil, kedinginan, berketar.
Ketika wanita itu tidak dapat menggerakkan tubuhnya karena mulai dari kaki sampai kepala semuanya seperti es, dingin dan kaku, maka Wi Hong terkejut ketika air matanya tiba-tiba juga berubah menjadi es, meluncur dan berdetak di tanah, lalu mencair dan lenyap!
“Ah!” Wi Hong tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Lidahnya sudah kelu dan air liurnya pun tak dapat ditelan. Cairan yang ada di tubuhnya membeku, dan itulah akibat pukulan Im-kang, yang demikian dahsyat dan luar biasa.
Tetapi ketika tosu itu menepuk kepalanya dan semua rasa dingin lenyap, terganti rasa hangat dan biasa lagi, maka Wi Hong jatuh terduduk dan tersedu-sedu berlutut di depan kakek ini, percaya bahwa inilah Yang Im Cinjin yang masih hidup!
“Locianpwe, ampunkan aku.... maafkan aku. Sekarang... sekarang aku percaya. Bawa dan bimbinglah aku sebagai muridmu!”
“Hm,” kakek itu tersenyum. “Kau dipenuhi dendam dan sakit hati, Hujin. Tak baik menerima ilmuku. Anak ini yang akan kujadikan muridku, kau mundurlah dan pergi bersihkan dirimu itu. Aku tak dapat menerima.”
Wi Hong mengguguk. Tiba-tiba ia menjadi beringas dan kecewa, gilanya muncul. Ketika kakek itu menolaknya, mendadak ia menerkam dan menggigit kaki tosu ini.
“Kalau begitu kau tosu siluman. Bunuh dan habisi saja aku!”
Tetapi begitu kaki itu digigit dan gigi wanita ini bertemu kaki Yang Im Cinjin, mendadak Wi Hong menjerit karena kaki itu tiba-tiba merah marong, panas membakar, dan tentu saja wanita ini seperti menggigit bara. Wi Hong terpekik dan mulutnya seketika melepuh, hangus!
Ketika Wi Hong menjerit dan bergulingan mendesah-desah kepanasan, maka Yang Im Cinjin tertawa pahit dan berkelebat lenyap.
“Wanita malang, kau tak dapat menghapus api dendammu. Sayang, kau akan terbakar sendiri.”
Wi Hong berteriak-teriak. Akhirnya wanita ini bergulingan, meloncat bangun, memaki-maki si tosu. Yang Im Cinjin tak dihormatinya lagi sebagai tokoh tua, melainkan dianggap musuh yang membuat kebenciannya meluap.
Tosu itu dikejar dan ditantang-tantangnya, lucu. Padahal kalau tosu itu ada, tentu wanita ini tak akan mampu menandingi. Maklum, menggigit kakinya saja Wi Hong sudah kepanasan dan terbakar, akibat tenaga Yang atau panas yang dimiliki tosu itu.
Ketika Wi Hong menangis dan melengking-lengking, lawan tak ada di depannya lagi, maka wanita ini mengguguk dan jatuh terduduk di bawah pohon.
Hari itu Wi Hong melampiaskan kemarahannya dengan mencabut-cabuti apa saja yang ada di depannya. Frustrasi berat melandanya. Tetapi begitu ingat bahwa Giam Liong di tangan Beng Tan, tiba-tiba saja Wi Hong ingin tahu siapakah yang kelak lebih hebat. Anaknya itu ataukah Beng Han? Pewaris Bu-beng Sian-su ataukah Yang Im Cinjin!
Ketika wanita ini terkekeh-kekeh dan bangkit berdiri, mata meliar, maka Wi Hong terhuyung meninggalkan hutan itu, dan mulutnya sering tertawa-tawa meskipun air matanya bercucuran menangis!
Waktu, seperti yang kita lihat dan rasakan, adalah “makhluk” yang perkasa sekali. Tak ada benda-benda baik di dalam maupun di luar bumi yang tidak dilahapnya habis. Besi dan batu dirobahnya menjadi sesuatu yang lain. Tanaman-tanaman yang dulu muda tiba-tiba saja beberapa tahun kemudian sudah menjadi besar dan hebat, di mana akhirnya mereka itu tua dan kering. Semua benda di dalam dan di luar bumi digilas oleh makhluk yang bernama “waktu” ini hingga tak terasa sudah menjadi lain dari yang dulu.
Manusia yang dulu masih orok tiba-tiba saja sudah berkembang dan dewasa sebagai pemuda atau gadis yang gagah dan cantik. Orang yang dulu masih merupakan pemuda belasan tahun tiba-tiba sekarang sudah berusia tiga puluh atau empat puluh tahun. Itulah akibat waktu!
Ketika hal ini juga melanda Beng Tan, maka pemuda yang dulu gagah dan masih muda itu sekarang sudah berusia hampir empat puluh tahun dan sedikit janggut menghiasi dagunya yang gagah.
Giam Liong, atau yang lebih dikenal sebagai Beng Han atau Han Han oleh Beng Tan dan istrinya ini, sekarang sudah menggantikan posisi mereka dulu, sudah berubah sebagai pemuda yang tegap dan gagah serta tampan.
Pemuda ini tentu saja mewarisi kepandaian “ayahnya” dan apa yang diajarkan Beng Tan ditelannya habis. Tak ada kepandaian Beng Tan yang belum diterima pemuda ini, mulai dari ilmu-ilmu silat tangan kosong sampai kepada pedang. Karena Giam Liong alias “Han Han” ini memiliki otak yang cerdas dan bakat yang tinggi, maka dalam usianya yang hampir sembilan belas tahun itu pemuda ini sudah nyaris menyamai ayahnya.
“Kau sudah mewarisi semua kepandaianku, kau sudah sama denganku. Tetapi kau kurang pengalaman dan tinggal mematangkan ilmu-ilmu itu,” Beng Tan suatu hari berkata.
Ketua Hek-yan-pang ini, yang pagi itu bersinar-sinar memandang putranya, sama sekali tak menyangka bahwa yang dihadapinya itu adalah keturunan Golok Maut, musuhnya, lawan yang amat tangguh dan paling tangguh dari semua lawan-lawan yang pernah dihadapi.
Ketika pagi itu Beng Tan berseri memandang “puteranya”, maka Beng Han atau yang dikenal sebagai Han Han ini diam mengangguk-angguk.
“Kau tahu apa yang kumaksud, Han-ji (anak Han)? Kau tahu apa yang kuinginkan?”
“Aku tahu,” Giam Liong, atau yang marilah kita sebut sebagai Han Han ini mengangkat mukanya, balas menatap sang ayah dengan pandangan tajam dan gagah. “Kau ingin mengingatkan aku akan kepandaian-kepandaian yang kumiliki ini, ya. Bahwa aku harus selalu ingat petunjukmu bahwa ilmu silat tak boleh dipakai untuk merugikan orang lain.”
“Bagus, ha-ha, kau benar. Kau masih ingat itu. Betul, aku hendak menekankan ini kepadamu, Han Han. Bahwa dengan memiliki kepandaian, seseorang tak selayaknya merugikan orang lain, justru seharusnya menguntungkan dan memberi berkah pada orang lain. Bagus, kau ingat baik-baik katakataku itu. Sekarang, tak adakah keinginan di hatimu untuk keluar dan melihat-lihat dunia kang-ouw? Kau selama ini lebih suka mengurung diri, Han Han, giat berlatih dan tekun sekali mempelajari semua ilmu-ilmu silatku itu. Itu baik-baik saja, tetapi selalu mengurung dan menyembunyikan diri di kamar tentu tidaklah sehat bagi jiwamu yang perlu tumbuh dan berkembang.”
Han Han, pemuda ini, diam saja. Dia menunduk ketika ayahnya bicara tentang itu, dan entah kenapa mukanya tiba-tiba merona merah. Memang, selama ini tak pernah Han Han atau pemuda itu keluar rumah. Mula-mula hal itu menyenangkan Beng Tan karena hal ini tak membuat putranya keluyuran. Pemuda kalau sudah suka keluyuran biasanya pasti tak baik. Tetapi ketika semakin dewasa Han Han justru semakin suka mengurung diri di kamar, maka diam-diam Beng Tan atau sang ayah ini heran juga. Pemuda itu terlampau pendiam dan tak banyak bicara. Jarang bercanda atau bergurau.