Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 190

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 190

Kebencian atau kemarahan yang bersumber dari gangguan terhadap rasa ego atau "aku" memang bisa bermacam-macam akibatnya dan dapat berkembang luas. Oleh karena itu, waspadalah agar kalian tidak terjebak dan kelak susah sendiri karena terlibat dalam rantai setan yang tak ada habisnya.

Kedok Hitam memang jahat, korban dari kepicikan pikirannya sendiri. Namun, kalau Giam Liong menghadapinya dengan landasan dendam dan sakit hati, maka itu bukanlah watak pendekar. Sebab, keluarga atau anak keturunan orang itu akan mencarinya dan kelak membalasnya juga. Jadi, tidak ada habis-habisnya.

Daripada begitu, putuskanlah rantai dendam itu dan hadapilah lawan kalian berdasarkan keadilan serta cinta kasih. Gerakan atau tindakan kalian tentu akan jauh berbeda dengan jika kalian menghadapi musuh berdasarkan dendam atau sakit hati. Jelas?" Han Han dan teman-temannya mengangguk-angguk. Mereka tentu saja dapat melihat, merasakan, serta menerima hal tersebut. Sekarang jelaslah bahwa kejahatan tidak harus dihadapi dengan dendam dan sakit hati, melainkan dengan keadilan dan cinta kasih. Karena perwujudan ini berbeda dengan sepak terjang Giam Liong yang bengis dan sadis, maka Han Han maupun teman-temannya dapat membedakan hal itu.

"Benar, ini pelajaran yang baik. Tapi bagaimana kelanjutannya?" Kakek itu tampaknya baru setengah bicara.

"Kami mulai paham," ujar Han Han lagi, kini tiba-tiba semakin tertarik. "Tapi bagaimana selanjutnya, Sian-su? Mohon kau menjelaskan lagi dengan contoh Giam Liong."

"Ha-ha, pemuda itu harus menetralisasi ke-aku-annya. Lihatlah bahwa 'aku' yang dipunyai ini hanyalah bersifat lahiriah dan semu. Lihatlah jauh ke belakang bagaimana ayah ataupun kakeknya dibunuh musuh. Pertikaian atau permusuhan antar golongan memang begitu. Di mana-mana risikonya sama, sewaktu-waktu diancam kematian. Kalau tidak mau menderita, ya harus pandai menjaga diri, atau nanti seperti ayah yang kehilangan anaknya itu; tewas tergigit ular berbisa karena tak melindungi rumahnya dengan pagar dan celakanya lengah menjaga putra sendiri bermain-main di rawa!"

"Hm, begitukah?"

"Ya, begitu, sederhana sekali. Kalau tak ingin digigit ular berbisa, jangan mendirikan rumah di tepi rawa yang sudah jelas banyak ularnya. Tetapi kalau ini semua sudah dilakukan namun sang ayah tetap teledor menjaga anaknya, ya jangan lalu mengamuk dan dendam kepada ular itu. Kita harus mengerti ini, tak perlu dipelajari. Sama seperti halnya rumah yang terlalu dekat dengan telaga. Kalau telaga sewaktu-waktu meluap dan rumahnya kebanjiran, ya jangan mengeluh. Itu risikonya. Kalau tak mau ambil risiko, ya jangan dekat-dekat telaga atau sungai yang bisa menimbulkan bahaya, ha-ha!"

Han Han kagum. Ia tersenyum dan akhirnya tertawa ketika kakek itu menuding sebuah tempat tinggal anggota Hek-yan-pang yang terlalu dekat dengan telaga. Kakek ini seakan berseloroh, meskipun sebenarnya kata-katanya amat tepat dan tajam, penuh pengertian yang dalam. Ketika ia mengangguk-angguk sementara temannya yang lain juga sependapat, ia melihat kakek itu tiba-tiba bangkit berdiri.

"Maaf, perahu akan terbalik..."

*Prat!* Gelombang telaga tiba-tiba menderu, perahu miring, dan sekonyong-konyong Yu Yin maupun Tang Siu menjerit. Begitu kakek itu berdiri, tiba-tiba perahu miring seakan kehilangan keseimbangan. Sesaat setelah kakek itu selesai bicara, perahu terbalik dan empat anak muda itu terguling.

"Byuurrr!" Han Han dan teman-temannya tercebur. Entah bagaimana asal mulanya, tiba-tiba mereka semua gelagapan. Tadi mereka begitu asyik hingga tak tahu bahwa terjadi perubahan angin. Hanya karena kakek itu berada di tengah, perahu tetap seimbang, padahal ombak mulai membuih diterpa angin dingin yang kuat. Malam menjelang pagi dan perubahan udara inilah yang membuat riak telaga berubah.

Empat anak muda itu tak tahu dan tiba-tiba terguling. Namun, ketika Han Han menyambar Tang Siu dan Giam Liong menyambar Yu Yin, dua pemuda itu menendang perahu agar berdiri lagi. Bubeng Sian-su terkekeh-kekeh di tengah, melihat dua pemuda ini melompat dan melayang naik dari dalam telaga. Pakaian mereka tentu saja basah kuyup!

"Ha-ha, inilah risikonya tinggal di perahu, anak-anak. Sewaktu-waktu dapat terbalik kalau diserang ombak. Hidup memang selalu begini. Kepanasan kalau di gurun, tapi kedinginan kalau di laut. Ah, pelajaran apa yang kalian dapat!"

Han Han terbelalak. "Sian-su... Sian-su tidak basah?"

"Aku telah waspada dibandingkan kalian, melompat ketika perahu tadi terbalik. Kalian kurang cepat dan keburu terlempar."

"Hm!" Putra Ju-taihiap ini memutar matanya, merasa ganjil. "Agaknya ada lagi pelajaran yang harus kami cari, Sian-su. Entah apa itu!"

"Ha-ha, pelajaran ada di mana-mana. Cari dan temukan itu. Kalau kalian mengerti, tentu kalian semakin cerdas. Barangkali omong-omong ini cukup..."

"Eh, nanti dulu!" Han Han berseru saat kakek itu hendak berkelebat. "Masih ada yang belum selesai, Sian-su. Bagaimana dengan bait kedua dan ketiga?"

"Hm, itu? Gampang saja. Satu di antara yang bermusuhan akan menjadi periuk atau gentanya. Yang lebih kuat menimpa dan menghancurkan yang lain."

"Maksud Sian-su?"

"Ha-ha, memupuk kebencian sama halnya menyimpan racun di periuk atau genta, anak muda. Yang kecil akan ditimpa yang besar dan yang kuat akan menghancurkan yang lemah!"

"Kami tak jelas..."

"Kelak akan lebih jelas lagi. Yang jelas, anak muda ini sudah menjadi genta, namun mungkin kelak dia menjadi periuknya. Ha-ha, dendam kesumat itu harus kalian hindari saja. Ingat akan semua nasihatku tadi. Dan tentang bait ketiga, ah, apalagi yang harus dilakukan temanmu kecuali pasrah dan menebus dosa? Api dan dendamnya telah mengecil, anak muda. Tapi tidak padam. Dan kalau dia tidak membuang racun itu, maka lingkaran setan akan membelitnya lagi; dia akan dibalas atau membalas!"

"Kami masih belum mengerti...."

"Ah, lihatlah perumpamaan dengan keluarga di tepi rawa itu. Kalau sudah tahu banyak ular, lebih baik menyingkir. Kalau tetap ingin tinggal, maka hati-hatilah dan pasanglah pagar. Atau kalian akan menghadapi ular-ular lain dan tak habisnya sepanjang hari mencari dan dicari musuh!"

"Jadi Giam Liong seperti ayah dari keluarga ini?"

"Kau cerdas. Dan beruntung ia sudah memutuskan untuk pergi. Nah, pergilah dan jangan berhubungan dengan kota raja lagi. Atau ular-ular lain akan berdatangan mengganggunya. Karena itulah kunasihatkan agar cepat-cepat mengubur Golok Maut karena golok itu membawa pengaruh jahat!"

"Dan aku... aku boleh mendampinginya, bukan, Sian-su? Atau ada sesuatu yang khusus hendak kaupesankan?" Yu Yin tiba-tiba berseru sambil bangkit berdiri.

"Hm, sudah kukatakan agar kau tetap memegang sumpahmu, Nona. Jangan pergi dan berhubungan dengan istana lagi. Sebaiknya awasi suamimu agar tidak melihat atau mengambil lagi golok warisan ayahnya itu!"

Yu Yin mencengkeram erat kekasihnya. Giam Liong gemetar menahan gejolak, matanya berkejap-kejap. Namun, ketika kakek itu menepuk pundaknya dan ia tenang, kakek ini berkata sekali lagi agar pemuda itu melepaskan sisa-sisa api kemarahannya dan jangan mendendam kepada siapa pun, baik sekarang maupun kelak kemudian hari.

Kakek itu mengingatkan agar racun dendam benar-benar dilenyapkan; apa pun yang terjadi, pemuda itu harus tenang dan tabah. Ia juga menyinggung kembali soal ego atau rasa ke-aku-an. "Ingat, tak ada hak milik. Yang ada hanya hak manfaat. Ego atau aku hanya diperlukan untuk membedakan punyamu dan punyanya orang lain dalam usaha menjaga ketenteraman dan ketenangan dalam hidup kebersamaan. Kalau ego atau aku sudah memasuki hal-hal yang bersifat non-lahiriah dan tidak proporsional, maka semuanya bakal kacau. Untuk menghadapi lawanmu, jangan dilandasi dendam atau kebencian, melainkan hadapilah berdasarkan keadilan dan cinta kasih. Barangkali kau agak pening, tapi seirama dengan kematangan jiwamu, kau akan tahu ini. Nah, kembalilah dan selamat tinggal!"

Empat anak muda itu terbelalak. Kakek itu mengebutkan lengan bajunya dan tiba-tiba terdengar ledakan. Segumpal asap putih pecah di udara dan bersamaan dengan itu kakek itu pun lenyap. Ketika cahaya berwarna-warni menyilaukan mereka di langit yang berbintang, tiba-tiba Yu Yin dan Tang Siu menjerit karena mereka terlempar membentur tembok. Begitu dua gadis itu berteriak dan Han Han maupun Giam Liong merasa diangkat oleh sesuatu yang kuat, mencelat, dan terlempar, dua anak muda itu terkejut sekali karena mereka tiba-tiba jatuh dari pembaringan.

Perahu dan segalanya yang mereka rasakan di tengah telaga tadi hilang! Hancur!

"Eihh!" Giam Liong terkejut dan terbelalak. "Apa yang terjadi, Han Han? Mana kakek itu!"

"Benar, mana kakek itu. Mana Sian-su!" Han Han juga bingung. "Dan kita... kita berada di kamar sendiri, Giam Liong. Kita bermimpi!"

Dua pemuda ini terdiam. Mereka ternyata ada di kamar sendiri dan bantal guling mereka jatuh di lantai. Serasa terjun dari alam gaib, dua pemuda ini melotot. Mereka tak tahu dan tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Namun, ketika terdengar jeritan Tang Siu dan ayam jantan berkokok, Giam Liong dan Han Han berkelebat menuju kamar gadis itu. Terlihatlah bahwa Tang Siu maupun Yu Yin sama-sama terjatuh dari tempat tidur dan bantal atau guling mereka juga berantakan di lantai.

"Kami... kami bertemu Sian-su. Kami bermimpi. Mana kakek itu!"

"Benar," Yu Yin juga kebingungan dan tiba-tiba ngeri. "Kami bercakap-cakap dengannya, Giam Liong. Dan kalian ada pula di sana. Tapi bagaimana tahu-tahu kami ada di sini, di kamar kami kembali!"

"Bersama kami?" Han Han terbelalak.

"Ya, bersama kalian, Han Han."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment