Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 191

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 191

Kami berempat berada di perahu dan bercakap-cakap dengan kakek dewa itu. Kakek itu berbicara tentang aku dan dendam. Ia mengupas syairnya!

"Hm...!" Han Han menoleh kepada Giam Liong. "Aneh sekali, Giam Liong. Kita bermimpi, tapi seolah tidak bermimpi. Namun, kalau tidak bermimpi, nyatanya kita seperti mimpi. Coba kau jelaskan lagi apa yang terjadi!"

Pertanyaan terakhir ini ditujukan kepada Tang Siu. Han Han meminta gadis itu menceritakan bagaimana Tang Siu bertemu dan berbicara dengan Sian-su, apa yang terjadi, dan bagaimana akhirnya. Ketika semua "mimpi" itu tepat sekali dengan apa yang mereka lihat dan rasakan—bahwa Han Han maupun Giam Liong juga sama-sama merasa berhadapan dan berbicara dengan kakek itu di tengah telaga, berempat dengan Tang Siu dan Yu Yin—maka empat anak muda ini saling pandang. Muka mereka menunjukkan keheranan sekaligus ketakjuban. Bulu tengkuk meremang!

"Aku melihat bulan dan bintang-bintang begitu dekat di atas kepala kita, hanya belasan meter saja. Tapi ketika kakek itu selesai bicara dan mengebutkan lengan bajunya, tiba-tiba terdengar ledakan dan kami semua terlempar ke mari!"

"Dan aku merasa ganjil, bagaimana rumah dan taman-taman di sini ada di atas perahu itu. Aneh sekali!"

"Tentu kita mimpi, sama-sama ke alam gaib!"

"Hm," Han Han menggeleng. "Kalau mimpi, tak mungkin pakaianmu basah kuyup, Tang Siu. Kita tidak sedang bermimpi!"

"Benar," Giam Liong juga menggeleng. "Kita tidak sedang bermimpi, Tang Siu. Lihat bahwa Yu Yin, Han Han, dan aku sendiri basah kuyup. Kita tadi tercebur di telaga!"

"Menakjubkan... luar biasa. Kalau begitu, apa namanya ini!"

"Aku juga tak tahu, tak mengerti. Tapi itulah kenangan kita yang indah!"

Pada saat itu, berkesiur dua bayangan tubuh. Empat anak muda yang sedang bercakap-cakap dan merasa senang sekaligus seram ini tak habis-habisnya merasa heran. Seumur hidup, baru kali itulah mereka merasa sesuatu yang ganjil dan aneh luar biasa. Namun, begitu dua bayangan berkelebat ke kamar mereka dan melihat pakaian mereka yang basah kuyup, kontan saja pendekar itu berseru, "Eh, apa yang terjadi? Apa yang kalian perbincangkan? Dan kenapa semuanya seakan habis mencebur di telaga!"

Han Han maju bicara. Dialah yang menyambut dan memberitahukan ayah ibunya perihal keanehan yang mereka alami ini. Ayam jantan kembali berkokok dan ternyata hari telah terang tanah. Ketika suami-istri itu tertegun dan seakan tak percaya karena cerita anaknya seperti dongeng saja, muncullah Kim-sim Tojin yang juga berkelebat datang.

"Siancai, itulah Siausing-sut (Ilmu Menembus Badan Mengeluarkan Roh). Aih, hanya kakek dewa seperti Bu-beng Sian-su saja yang mampu melakukan itu. Kalian beruntung, telah dibawa ke alam gaib!"

Beng Tan dan istrinya mengangguk-angguk. Akhirnya mereka sendiri juga teringat peristiwa yang mereka alami dulu, betapa mereka juga seakan-akan dibawa terbang dan menembus alam roh. Kini putra mereka dan tiga yang lain juga mengalami hal serupa. Karena Beng Tan maklum betapa kakek itu amatlah saktinya—apa saja dapat dilakukan tanpa sesuatu yang sukar—maka pendekar ini menarik napas dalam-dalam dan diam-diam kecewa kenapa dia tidak diikutsertakan.

"Hm, beruntung sekali. Luar biasa. Tapi kenapa kakek itu hanya mengajak kalian berempat dan tidak bersama kami-kami ini?"

"Entahlah," Han Han juga tak mengerti. "Tapi kami telah mendapat pelajaran bagus dari wejangan kakek itu, Ayah. Sian-su mengupas tentang ego dan rasa milik!"

"Apa saja katanya?" Sang Ayah bersinar-sinar. "Sayang bahwa kami tak tahu."

"Ego atau rasa ke-aku-an sering dipindah-pindahkan tempatnya oleh manusia. Yang seharusnya hati dimasuki ego, dan ego sendiri merambah hampir ke segenap penjuru permasalahan!" Han Han mencoba menerangkan.

"Wah-wah, apa ini? Coba yang urut!" Kim-sim Tojin tertawa berseru karena Han Han masih baru dan agaknya bingung bagaimana harus mulai.

Tapi ketika Tang Siu membantu bahwa ego atau "aku" harus ditempatkan secara proporsional, jangan memasuki urusan hati kalau hati yang sedang bicara, maka pemuda ini mengangguk-angguk.

"Ya-ya, begitu... begitu. Ego atau 'aku' telah begitu serakah merambah ke tempat yang bukan tempatnya dan ia menjungkirbalikkan manusia sehingga manusia jadi terjebak dan terseret ke dalam nafsunya. Ego mengajarkan rasa milik, sedangkan kita ini sesungguhnya tak punya hak milik!"

"Hm, hak milik? Tak punya? Lalu kalau begitu manusia mempunyai hak apa?"

"Hak manfaat, Suhu. Manusia hanya memiliki hak manfaat, itu saja. Hak milik hanya dimiliki oleh Yang Maha Tunggal alias Yang Mahakuasa. Semua rasa milik yang kita miliki adalah semu, baik itu keluarga atau apa pun saja!"

"Wah, aku jadi ingin mendengar. Coba kau ulang lagi!" Kim-sim Tojin berseru.

"Dan hak milik atau rasa kepemilikan menjerumuskan manusia ke dalam permusuhan dan pertikaian. Mereka terjebak oleh ke-aku-annya yang tinggi. Padahal manusia sesungguhnya tak mempunyai apa-apa!"

"Ha-ha, ceritakan kepadaku, anak muda. Aih, sayang benar pinto tak berhadapan sendiri dengan kakek itu. Wah, pinto kecele!"

Han Han tersenyum. Ia dan Tang Siu lalu silih berganti mengoper apa yang mereka dengar dari Bu-beng Sian-su. Yu Yin juga ikut menyambung dan hanya Giam Liong yang tidak ikut bicara dan diam saja. Ketika semua orang duduk mendengar dan tenggelam dalam keasyikan itu, Giam Liong bergerak dan keluar secara diam-diam. Pemuda buntung ini sudah duduk di tepi telaga, tepekur memperhatikan tempat di mana semalam ia seakan bermimpi bercakap-cakap dengan kakek dewa itu.

Air telaga beriak tenang dan Giam Liong menarik napas dalam-dalam. Tempat di mana semalam mereka berbincang dengan Bu-beng Sian-su ternyata biasa-biasa saja. Tempat itu damai dan hening. Kecipak lembut dari riak telaga membawa daun-daun kering yang hanyut secara berirama, naik-turun perlahan-lahan. Tampak ada sesuatu benda putih terbawa pula oleh riak telaga ini, melekat atau "nangkring" di sehelai daun kering menuju ke arah Giam Liong.

Karena Giam Liong tertuju pandangannya ke sana dengan mata mengamati, yang semula kosong dan tak acuh, mendadak ia kaget mengira benda putih yang disangkanya sebagai sampah biasa itu adalah sebuah surat!

Ia tertegun dan tak percaya. Benda putih di atas daun kering yang terbawa riak telaga ini kian mendekat... dekat... dan dekat. Giam Liong akhirnya melompat dan menyambar surat itu, kertas putih yang dilipat manis sebagaimana layaknya sebuah surat yang baik, meskipun sedikit basah. Ketika Giam Liong tertegun karena surat itu diperintahkan untuk diserahkan kepada Yang Im Cinjin ataupun Kim-sim Tojin, dua kakek lihai dari Kun-lun dan Laut Selatan, maka Giam Liong terkesima dan mengamati sampul surat itu: *Berikan kepada Yang Im Cinjin ataupun Kim-sim Tojin. Sian-su.*

Giam Liong bengong. Sekarang ia yang menjadi perantara, padahal beberapa hari yang lalu dua kakek itulah yang mendapat surat dan disuruh menyerahkannya kepadanya. Aneh sekali sepak terjang kakek ini, penuh rahasia. Namun, ketika ia mau berbalik dan kembali ke dalam, ternyata berkelebat bayangan-bayangan kakek itu dan teman-temannya.

"Giam Liong, apa yang kau pegang itu? Kenapa menyendiri!"

"Hm," Giam Liong merasa kebetulan. "Ada surat untuk Kim-sim Totiang, Yu Yin. Aku mendapat ini dari Sian-su."

"Surat?"

"Ya, silakan Totiang terima, baru saja kudapat!" Giam Liong langsung memberikan itu kepada Kim-sim Tojin. Kakek ini sudah di depan dan langsung saja surat itu diterima. Ketika ia terkejut tapi cepat membukanya, entah apa isinya, mendadak kakek ini tertawa bergelak.

"Ha-ha, syair lagi, anak-anak. Kelanjutan dari ini. Aih, aku dan Yang Im Cinjin ditantang untuk menjawab debat kami dulu. Ha-ha, kakek dewa itu luar biasa. Ia akan mengakhiri pembicaraan yang belum lengkap. Ia akan bicara tentang Kebenaran!"

"Kebenaran? Surat itu hanya terisi syair?" Tang Siu terbelalak.

"Ya, lihat dan bacalah. Pantas Cinjin tak mau di sini karena mungkin khawatir bertemu kakek itu. Atau mungkin ada sebab-sebab lain. Ha-ha, kami telah menantang untuk bicara tentang Kebenaran!"

Tang Siu menyambar dan membaca surat ini. Ternyata isinya memang syair dan teman-temannya mendekat. Han Han dan lain-lain menjadi penasaran dan mereka pun membaca. Ketika sebuah syair kembali terlihat tapi kali ini lebih hebat, pening dan puyeng untuk mencerna isinya, maka Han Han menarik napas dalam-dalam dan mundur. Ia merasa tak dapat mengupas, begitu pula ayah dan ibunya. Syair untuk Giam Liong agak mudah, tapi syair baru ini lebih sukar. Penuh teka-teki, misterius.

Namun, ketika Kim-sim Tojin justru berseri-seri dan penuh kegembiraan, teringat perjumpaannya dulu dengan kakek dewa itu bersama guru Han Han, maka kakek ini berkata, "Aku telah menantangnya untuk bicara tentang Kebenaran. Dan kakek itu kini menjawab dengan syairnya. Hm, akan kuberikan Cinjin dan kuberitahukan kepadanya. Kami tak mau kalah!"

"Apa yang Suhu lakukan?"

"Kami orang-orang tua menantangnya berdebat, Tang Siu. Dan Bu-beng Sian-su menjawabnya. Ha-ha, pinto ingin bertemu dengannya dan mengupas rahasia ini. Siapa yang menang!"

Ju-taihiap bersinar-sinar. Ia telah membaca dan mengingat-ingat isi syair itu. Ia juga ingin mengupas. Namun, ketika Kim-sim Tojin memandang kepada muridnya dan lalu kepadanya, kakek itu berseru, "Taihiap, pinto kecele menunggu Bu-beng Sian-su. Kakek itu telah menemui anak-anak dan rupanya sengaja tak mau diganggu. Tentu sekarang pinto harus pulang dan biarlah urusan anak-anak pinto tunggu kelanjutannya dari kebijaksanaanmu. Pinto harus kembali dan biarlah sekarang juga pinto pergi!"

"Eh, Totiang terburu-buru?"

"Ha-ha, tak ada lagi yang dinanti, Taihiap. Muridku kubawa dan biarlah sekalian Yu Yin juga ikut pinto. Kau datanglah ke Kun-lun dan pinto menjadi wali bagi gadis-gadis ini menerima pinanganmu di sana. Mereka akan kusiapkan untuk dua pemuda itu kalau kau sudah datang!"

Yu Yin terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment