Chapter 192
Ia tiba-tiba merasa girang, tetapi juga tidak enak hati harus berpisah dengan Giam Liong. Mereka berdua ternyata hendak "dipingit" dahulu sambil menantikan lamaran itu, jadi kakek ini langsung menjadi walinya. Ketika ia mendapat cubitan dari Tang Siu dan menyadari bahwa temannya inilah yang mengatur semuanya, Yu Yin terharu dan terisak mengucapkan terima kasih. Beng Tan mengangguk-angguk, lalu tertawa sambil berkata, "Baiklah, Totiang. Aku akan mengurus pernikahan dua anak muda ini secepatnya. Terima kasih karena kau mau menjadi wali Yu Yin. Aku tentu saja akan mewakili putra-putraku ini untuk menjodohkan mereka. Pergilah, selamat jalan!"
Kakek itu tertawa tergelak. Yu Yin dan Tang Siu telah disambar. Belum habis kedua gadis itu melambaikan tangan, mereka sudah diangkat dan diajak terbang ke perahu. Anak-anak murid Hek-yan Pang bermunculan; saat itu semua memandang, terbelalak dan tertegun melihat kakek itu sudah mengayuh perahunya dengan cepat meninggalkan pulau. Ketika ia melompat dan mengajak kedua gadis itu mendarat, mereka telah tiba di seberang. Si kakek seolah tak mau tahu saat kedua gadis itu menoleh dan berteriak ke belakang, "Giam Liong, kutunggu kau!" dan "Han Han, cepat datang ke Kunlun!"
Dua pemuda di seberang melambaikan tangan. Han Han dan Giam Liong tentu saja membalasnya; Han Han tampak gembira dan berseri-seri. Namun, ketika Giam Liong menunduk dan tampak kesedihannya, entah apa yang dipikirkannya, Beng Tan menjawil istrinya untuk mengajak kedua pemuda itu masuk. Urusan telah selesai dan pagi itu burung-burung berkicau riang. Seperti biasanya, air telaga pun berdesir lebih kuat ketika embusan angin segar bertiup.
Suami istri itu menghibur Giam Liong agar tidak bersedih. Mereka berjanji bahwa seminggu lagi pinangan akan disampaikan. Benar saja, seminggu kemudian mereka pergi ke Kunlun dan sebulan setelah itu pesta pernikahan dilangsungkan. Dua muda-mudi ini berkumpul kembali, maka beberapa hari setelah itu Giam Liong meminta pamit. Si buntung ini tak mau tinggal di situ karena ia akan pergi ke Lembah Iblis. Golok Maut akan dikubur dan di sanalah tempatnya semula. Karena pemuda itu tak mungkin dicegah dan pasangan muda ini meminta diri, Tang Siu dan Yu Yin bertangis-tangisan; mereka saling melepas dengan keharuan yang besar.
"Kami akan merantau, mencari tempat tinggal baru. Kelak kami akan berkunjung ke sini lagi jika sudah menemukan tempat itu," ujar mereka.
"Baik, pergilah, Giam Liong. Ingat, kalian berdua tak ubahnya putra-putra kami sendiri. Jangan lupakan kami, orang tua kalian ini." Giam Liong memeluk pendekar itu. Air matanya membasahi baju, dan pemuda itu berbisik menyatakan maaf. Ketika ia melepaskan orang tua itu dan Han Han berganti memeluknya, dua pemuda yang pernah bertanding hebat itu kini tampak bercucuran air mata. Han Han mengingatkan agar Giam Liong datang dan tidur lagi sekamar, sepembaringan.
"Tempat tidur itu tak akan kuperbolehkan dipakai siapa pun, bahkan oleh istriku sendiri. Datang dan tengoklah aku, Giam Liong. Aku ingin merasakan kehangatan dan hubungan kasih persaudaraan ini. Hati-hati dan buanglah semua keganasanmu yang dulu."
Giam Liong mengangguk. Ia melepaskan diri dan sekali lagi menguatkan hati. Yu Yin tersedu-sedu dan semua anak murid bengong melihatnya. Ketika pemuda itu membalik dan menjejakkan kakinya kuat-kuat, si buntung itu pun sudah menyambar istrinya; jerit atau panggilan di tepi telaga hanya dibalas lambaian tangan. Lalu, begitu keduanya lenyap meluncur keluar hutan, Ju-taihiap dan yang lainnya mengusap air mata mereka. Tang Siu terhuyung dan pingsan di pelukan Han Han.