Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 20

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 20

Kalaupun ada yang lucu, puteranya ini hanya tersenyum sedikit, setelah itu mulutnya terkatup rapat. Kesannya, pemuda itu dingin dan tidak suka banyak bicara. Hal itu sangat berbeda dengan wataknya atau watak istrinya yang riang dan suka terkekeh jika ada sesuatu yang lucu.

Ketika Beng Han juga tidak menunjukkan ketertarikan pada wanita, dingin, dan acuh, Beng Tan atau sang ayah menjadi khawatir dan tidak nyaman. Di Hek-yan-pang sebenarnya banyak gadis cantik, putri-putri para murid senior yang sudah menginjak remaja. Beng Han atau Han Han sering dibicarakan secara bisik-bisik oleh gadis-gadis remaja itu, bahkan banyak yang mencoba memikat dan menjatuhkan hati. Namun, karena Han Han dingin saja dan tidak acuh, hatinya tampaknya tawar oleh semua itu, maka Beng Tan diam-diam khawatir puteranya tidak mau menikah.

Suatu kali, Beng Tan mencoba menggoda puteranya, menanyakan apakah Han Han tidak tahu lirikan anak-anak murid Hek-yan-pang yang naksir padanya. Namun, ketika Han Han tersipu malu dan menunduk, mendiamkan godaan ayahnya, Beng Tan penasaran dan menepuk pundak puteranya.

"Eh, apa jawabmu, Han Han? Kau tidak tertarik atau jatuh hati pada gadis-gadis remaja itu? Kau tidak tahu bahwa kau dilirik dan ditaksir banyak dari mereka?"

"Ah, Ayah. Kenapa kau menggodaku seperti ini? Aku tidak tahu tentang semua itu, dan aku tidak tertarik dengan semua itu. Aku tidak suka wanita, aku jijik dengan mereka!"

"Apa?" Sang ayah terbelalak. "Kau jijik? Maksudmu?"

"Entahlah," Han Han tampak bingung. "Aku tidak suka wanita, Ayah. Aku benci mereka. Di sudut hatiku, bahkan terasa ada semacam permusuhan yang tidak bersebab. Aku tidak suka mereka!"

"Tapi ibumu wanita!"

"Maaf," pemuda itu tampak terkejut. "Itu lain, Ayah. Tapi, ah... sudahlah. Aku tidak suka bicara tentang ini!"

Ketika Beng Han pergi dan meninggalkannya, Beng Tan atau sang ayah terkejut membelalak, terngiang, dan terheran-heran oleh kata-kata puteranya. Bayangkan, Han Han menyatakan jijik terhadap wanita, padahal laki-laki normal tentu sebaliknya dan justru cepat tergila-gila kepada wanita. Tidak normalkah anaknya itu dan adakah sesuatu kelainan pada jiwanya?

Saat itu, sebuah helaan lembut terdengar di telinganya. "Aku juga merasa aneh, kenapa Han Han bersikap dan berkata seperti itu!" Beng Tan membalik. Istrinya muncul, bersinar, tapi tiba-tiba berkaca-kaca.

Ketika Beng Tan memeluk dan menyambar istrinya ini, tiba-tiba Swi Cu menangis. "Aku takut," sang istri tersedu-sedu. "Han Han sepertinya tidak wajar, suamiku. Dia banyak mengurung diri dan berdiam di kamar. Dan... dan... wajahnya seperti Sin Hauw!"

"Apa?" Beng Tan tersentak. "Sin Hauw? Kau... kau bicara apa?"

"Benar," Swi Cu mendorong suaminya ini, mengusap air matanya. "Aku melihat sesuatu yang ganjil, suamiku. Aku tidak melihat wajahmu pada wajah anak kita itu, melainkan wajah Sin Hauw! Lihat bentuk dagunya, lihat sinar matanya. Bukankah mirip dan tidak seperti kau? Han Han memang tampan, suamiku. Tapi dia dingin, tidak seperti kita!"

"Tapi dia anak kita!"

"Benar."

"Dan tidak mungkin anak Sin Hauw! Eh, apakah dulu semasa mengandungmu kau membenci Si Golok Maut itu, Cu-moi? Apakah kau sering membayangkannya hingga tipe Si Golok Maut itu membekas pada bayi yang masih ada dalam kandunganmu?"

"Memang begitu, tapi bukan perasaan benci. Aku justru kasihan dan haru kalau membayangkan mendiang Si Golok Maut itu, yang hidupnya penuh penderitaan."

"Tapi itu agaknya cukup. Anak kita seperti dia!"

"Hm, tidak begitu, suamiku. Kalau seseorang hamil membenci orang lain, maka paling-paling hanya wajah atau beberapa bagian mukanya saja yang mirip. Watak, atau sikap, tentunya tidak. Tapi Han Han ini mirip luar dalam. Lihat sikap dan gerak-geriknya. Lihat dagu dan pandang matanya itu, begitu dingin dan menyembunyikan keganasan terpendam!"

"Kau tidak boleh mengata-ngatai anakmu sendiri. Han Han adalah anak kita!" Beng Tan menegur, terkejut. "Eh, kenapa tiba-tiba kaupun berubah begini, Cu-moi? Ada apa ini?"

"Entahlah," Swi Cu mengguguk, menubruk suaminya. "Aku takut, suamiku... aku ngeri. Kadang-kadang aku melihat pandang mata ganas pada diri anakku itu. Han Han sepertinya orang lain. Dan..... dan..... kadang-kadang aku pun tidak memiliki cinta kasih sebagaimana layaknya seorang ibu!"

"Ah, gila!" Dan Beng Tan yang mencengkeram serta meremas istrinya ini tiba-tiba mendorong dan pucat, menggigil. "Cu-moi, apa... apa katamu tadi? Kau tidak memiliki cinta kasih seorang ibu? Maksudmu kadang-kadang kau membenci anakmu itu?"

"Tidak... tidak, bukan begitu. Hanya... hanya kadang-kadang aku tidak suka melihat mukanya itu, suamiku. Aku melihat bahwa Han Han adalah Sin Hauw, bukan puteramu!"

"Hm, tidak benar," Beng Tan meremas pundak istrinya ini, terguncang. "Kau bicara yang tidak benar, Cu-moi. Kau melantur. Agaknya kau terkena trauma dari mendiang Si Golok Maut itu. Kau diselubungi ketakutan sendiri, kau tidak beres. Sudahlah, buang ketidakwajaran itu dan kendalikan dirimu dalam menilai anak kita!"

Swi Cu mengangguk. Memang dia merasa bahwa tidak benarlah perasaannya itu, tidak baiklah dia memperlakukan Han Han seperti itu. Tapi karena perasaan tidak senang itu kadang-kadang muncul karena wajah dan sikap atau watak puteranya itu mirip Si Golok Maut Sin Hauw, maka entah kenapa wanita ini tidak dapat mencintai puteranya itu sebagaimana layaknya seorang ibu.

Swi Cu tidak mengerti bahwa indra keenamnya telah bekerja dan bahwa inderanya itulah yang memberi tahu bahwa tidak usah dia mencintai Han Han sebagai putra sendiri. Han Han bukanlah anaknya melainkan keturunan Si Golok Maut Sin Hauw, bocah yang dulu ditukar oleh ibunya dan tidak diketahui Swi Cu maupun suaminya ini. Namun, karena indra keenam juga tidak dapat bicara secara lisan dan Swi Cu pun tidak mengerti isyarat itu, masing-masing terpengaruh oleh gaya atau kebiasaannya sehari-hari, maka isyarat atau pemberitahuan indera keenam itu tidak tertangkap wanita ini.

Swi Cu hanya merasa samar-samar dan perasaan samar-samar itu membuatnya tidak puas, rasa yang akhirnya tentu saja membuatnya tidak senang dan terganggu, perasaan yang kemudian terlampiaskan dengan rasa tidak sukanya kalau melihat bahwa wajah Han Han lebih mirip Si Golok Maut daripada suaminya. Tapi, ketika suaminya menegur dan menyuruhnya sadar, maka Swi Cu terisak dan perasaan yang mengganggu itu berusaha dinetralisirnya agar tidak menyolok mata.

Dan Swi Cu memang berhasil melakukan ini. Han Han, yang kadang-kadang dipandangnya tidak puas, akhirnya dipandang dengan penuh belas kasihan dan haru. Memang tidak ada alasan baginya untuk tidak senang kepada puteranya itu. Salah siapakah kalau Han Han mirip Si Golok Maut? Bukankah salahnya sendiri kenapa sewaktu mengandung dulu dia terguncang oleh wajah Si Golok Maut itu? Kalau tidak, tentu juga tidak, dan mirip Si Golok Maut atau bukan, Han Han ini tetap puteranya, anak laki-laki yang dia besarkan dan kini sudah mengisi kehidupan rumah tangganya!

Swi Cu tenang. Beng Tan, suaminya, sering memantau gerak-geriknya, dan ini membuat Swi Cu sadar bahwa dia diamati. Suaminya itu memengaruhinya dan lama-lama perasaan yang "tidak beres" itu hilang, Swi Cu dapat bersikap biasa lagi kepada Han Han. Dan ketika Beng Tan melihat bahwa istrinya sudah betul-betul biasa, wajar, maka dialah gembira dan dapat mengajak istrinya bercakap-cakap tentang rumah tangga mereka.

Tapi ada yang masih mengganjal. Kebiasaan Han Han yang suka mengurung dan mengeram diri di kamar membuat pria ini tidak puas. Han Han dinilai kurang bergaul dan itu tidak menguntungkannya di masa depan. Han Han harus diajaknya keluar dan dibawanya pemuda itu mencari udara segar. Mungkin Han Han bosan oleh kehidupan di tempat tinggalnya sendiri, jemu. Maka, ketika suatu malam dia bercakap-cakap dengan istrinya dan Swi Cu setuju, maka istrinya itu bahkan mendorong.

"Boleh, tentu baik! Tapi ke mana kau akan pergi, suamiku? Dan berapa lama? Aku tidak melarang, tapi bagaimana kalau Han Han dibiarkan sendiri, atau, setidaknya dengan seorang dua murid Hek-yan-pang, sebagai teman!"

"Hm, anak kita itu pendiam, dan jarang pula bergaul dengan anak-anak murid Hek-yan-pang. Aku kira dia tidak akan setuju, isteriku. Karena itu sebaiknya aku temani dan kebetulan minggu depan aku diundang Tek-wangwe untuk menghadiri selamatan ulang tahunnya yang keenam puluh!"

"Ah, benar. Kau mendapat undangan. Boleh.... boleh saja, suamiku. Bawalah Han Han dan biarkan putera kita itu mendapat suasana yang lain di luar!"

"Jadi kau setuju?"

"Aku setuju, tidak keberatan!"

"Bagus, kalau begitu biar kubicarakan dengan anak kita itu dan akan kubawa dia ke sana. Akan kuajak dia menghadapi pesta dan aku tidak percaya bahwa hatinya tidak akan tergerak kalau melihat tamu-tamu bermacam jenis!"

"Dan Tek-wangwe mempunyai anak gadis cantik. Siapa tahu Han Han terpikat hatinya!"

"Hm, itu pula yang kumaksud. Aku ingin menggerakkan hatinya dan melihat bagaimana kalau dia jatuh cinta!" Beng Tan dan istrinya berseri. Swi Cu tertawa ketika suaminya mengucapkan kata-kata itu, teringat peristiwa sendiri ketika dulu mula pertama ia jatuh cinta dengan suaminya itu. Dan ketika Beng Tan juga tertawa dan menyambar istrinya itu, maka keduanya sudah berciuman mesra.

"Lihat, betapa nikmatnya hidup dalam cinta. Masa putera kita tidak mewarisi ini dan ingin hidup lajang? Ha-ha, akan kuperkenalkan dia dengan segala gadis-gadis yang ada di pesta itu, Cu-moi. Karena Tek-wangwe juga tentu mengundang tokoh-tokoh persilatan dalam merayakan ulang tahunnya yang keenam puluh!"

Swi Cu berseri gembira. Hari itu juga suaminya memanggil Han Han, menyuruh pemuda itu menghadap. Dan ketika Han Han ditanya apakah mau keluar bersama ayahnya, maka sang ibu melihat puteranya berkerut kening, acuh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment