Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 21

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 21

"Ayah mau mengajakku ke mana? Ada urusan apa?"

"He, ayahmu mendapat undangan Tek-wangwe (hartawan Tek), Han Han. Masa kau lupa dan tidak ingat utusan itu!"

"Oh, orang-orang sekereta yang dulu itu, Yah? Hm, aku ingat. Tapi aku tak tertarik. Aku ingin di sini saja kalau Ayah tak keberatan. Lagi pula, bukankah ada Ibu? Ayah dapat pergi berdua dan aku menjaga di sini."

"Hm, Ibumu tak enak badan, Han Han. Dan aku tentunya tak mau pergi sendiri. Kau menemani Ayahmu, mau atau tidak?"

"Baiklah," Han Han tampaknya ogah-ogahan. "Kalau kau memaksa, tentu saja aku tak menolak, Yah. Tapi aku tak mau pakai baju yang bagus-bagus untuk ke pesta itu!"

"Gampang, tapi juga jangan yang terlalu sederhana. Kau jelek-jelek adalah putra ketua Hek-yan-pang, harus bersepatu dan berkopiah, necis!" Pemuda ini mengangguk.

"Kapan Ayah berangkat?"

"Seminggu lagi, kau siap?"

"Baik, Yah. Aku siap."

Dan ketika Han Han pergi, seminggu kemudian ayah dan ibunya menunggu. Betul saja, Han Han siap dengan sepatu dan baju yang bersih, tidak baru, tetapi cukup bagus dan pantas. Namun, ketika pemuda itu ditanya mana kopiahnya, dandanan agar putranya itu tampak sebagai seorang *siucai* (sastrawan), Beng Tan kaget bukan main ketika anaknya itu menyambar dan memperlihatkan sebuah caping, topi bambu.

"Aku tak mau memakai kopiah, aku pilih ini. Lihat, Yah. Aku senang dengan caping ini dan pas benar di kepalaku!" Han Han mengenakan caping itu. Ia tampak gagah dan tampan, tetapi Swi Cu tiba-tiba terpekik. Wanita ini melihat betapa wajah Sin Hauw tiba-tiba muncul. Han Han benar-benar mirip Sin Hauw atau mendiang Si Golok Maut itu. Karena Han Han mengenakan caping itu di depan ayah dan ibunya—dan tak tahu bahwa trauma yang pernah dirasakan ibunya masih hebat—tiba-tiba Swi Cu membentak dan menyerang putranya, seolah sedang menghadapi Si Golok Maut dan bukan Han Han!

"Lepaskan caping itu, atau kau kubunuh!" Han Han terkejut. Ia tak menyangka ibunya menyerang, tetapi pemuda ini secara otomatis menangkis, menolak, dan mementalkan ibunya. Dan ketika Swi Cu berjungkir balik sementara Han Han terhuyung, caping di kepalanya mencelat. Pemuda ini terheran dan pucat memandang ibunya, menggigil.

"Ibu, apa... apa artinya ini? Kau mau membunuh aku?"

"Hm!" sang Ibu melayang turun, kaget dan sadar akan perbuatannya tadi, sebuah serangan otomatis. "Aku tak suka kau mengenakan caping itu, Han Han. Aku benci melihat kau mengenakan topi bambu. Buang itu dan kenakan kopiah yang pantas. Kau anak seorang ketua perkumpulan!"

"Dan dari mana kau dapatkan itu?" sang Ayah kini juga bicara, maju dengan cepat. Selain untuk mencegah istrinya menyerang lagi, ia juga heran dan kaget bagaimana tiba-tiba putranya itu memilih caping bambu, bukannya kopiah atau topi yang pantas sebagaimana layaknya putra seorang ketua. Han Han memilih caping itu, yang lebih pantas dikenakan seorang jembel atau pengemis, padahal itu tentu saja tak pantas baginya. Karena caping itu juga mengingatkan Beng Tan akan profil Si Golok Maut, pria ini mencegah putranya mengenakan caping.

"Aku... aku mendapatkannya di belakang," Han Han menjawab, bingung dan juga tampak tidak mengerti kenapa Ayah atau Ibunya marah-marah. "Aku menemukannya di sumur tua, Ayah, mengambilnya dan senang karena caping ini pas sekali di kepalaku. Aku... aku tidak mengerti kenapa Ayah atau Ibu marah-marah!"

"Hm, kau harus tahu," sang Ayah menerangkan. "Kau putra seorang ketua perkumpulan, Han Han, bukan anak seorang pengemis atau jembel."

"Tapi caping ini masih bagus, juga kuat. Tak mungkin punya kaum jembel!"

"Kau tak mau mendengar kata-kataku?" sang Ayah mengerutkan kening. "Setidaknya jangan buat Ibumu malu, Han Han. Caping itu tak pantas untukmu, buang saja. Dengar nasihatku!"

"Tidak... jangan, Ayah!" sang pemuda tiba-tiba menyambar kembali caping itu. "Aku suka dan jangan buang caping ini. Ini barang temuanku!"

"Hm, tapi aku tak suka!" sang Ibu tiba-tiba berkelebat, merasa bahwa tenaga putranya tadi demikian hebat. "Sini dan berikan caping itu, Han Han. Ibumu yang akan menyimpan!"

Han Han tertegun. Ibunya merampas dan mengambil caping itu, berkelebat dan tak lama kemudian sudah membawa pengganti: sebuah topi indah dari bulu domba, bagus, dan mengenakannya pada kepala putranya. Dan ketika Han Han membiarkannya saja dan bertanya apakah ibunya tidak membuang caping itu, pemuda ini berkerut kecewa.

"Aku harap Ibu menepati janji. Itu adalah milikku, barang temuanku. Aku tak suka Ibu membuangnya karena aku tentu akan mencari yang lain lagi sebagai gantinya."

"Hm, kau tak usah khawatir. Ibu menyimpannya di kamar Ibu, tapi sekarang pakailah ini dan pergilah bersama Ayahmu!" Han Han tak banyak membantah. Beng Tan melihat putranya itu menunjukkan muka kecewa, namun dipendam. Sang istri memberi isyarat dan segeralah sang Ayah mengajak putranya pergi.

Dan ketika Han Han mengangguk dan berkelebat bersama Ayahnya, dua laki-laki ini sudah tiba di tempat Tek-wangwe. Hartawan itu adalah teman baik Beng Tan dan kini merayakan ulang tahunnya yang keenam puluh. Sebagai ketua perkumpulan yang disegani, Tek-wangwe sering memberi sumbangan kepada Hek-yan-pang ini, di samping sebagai jalinan persahabatan juga sekaligus sebagai pelindung kalau orang berani mengganggu hartawan itu.

Tek-wangwe memang cukup dermawan, meskipun tentu saja kedermawanannya itu bukan tanpa maksud. Sebagai hartawan atau orang kaya yang banyak uangnya, ia harus menjalin hubungan dengan orang-orang pandai. Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau kaum hartawan atau bangsawan memiliki sahabat orang-orang *kang-ouw* atau tokoh-tokoh persilatan. Mereka itu perlu 'menempel' karena persahabatan mereka dengan orang-orang *kang-ouw* atau tokoh-tokoh persilatan tertentu ini memberikan semacam status tambahan kepada diri mereka. Oleh karena itu, ketika Tek-wangwe juga 'menempel' Beng Tan dengan sumbangan-sumbangannya yang tetap kepada perkumpulan Hek-yan-pang, mau tidak mau Beng Tan harus menghargai hartawan itu. Maka, ketika dia tiba di sana, di kota Li-yang, Beng Tan disambut hangat dan penuh hormat.

"Ah, ha-ha, kiranya Hek-yan-pangcu (ketua Hek-yan-pang). Selamat datang, Taihiap... selamat datang. Mari masuk dan duduk di kursi kehormatan!" Tuan rumah langsung menyambut sendiri kehadiran Beng Tan. Semua mata menoleh dan otomatis Ayah dan anak menjadi pusat perhatian. Beng Tan tersenyum-senyum dan menjura di depan tuan rumah, sementara putranya tersipu dan sedikit malu. Han Han tak biasa menjadi perhatian demikian banyak orang, dan para wanita atau gadis yang duduk di deretan kursi sebelah kiri tiba-tiba berdecak kagum. Mereka melihat kegagahan dan ketampanan pemuda itu, juga gerak-geriknya yang halus namun menyembunyikan kekuatan yang dahsyat. Sinar mata Han Han yang demikian tajam dan mengandung kekuatan *sinkang* sungguh tak dapat disembunyikan, meskipun pemuda itu berusaha menunduk dan malu-malu. Dan ketika Beng Tan atau sang Ayah juga memiliki sinar mata yang sama—tajam dan berkilat meskipun disembunyikan dalam tawa dan senyum yang ramah—semua orang merasakan getaran pengaruh yang didatangkan ayah dan anak ini, apalagi mereka tahu bahwa Beng Tan adalah seorang pria gagah perkasa yang dulu telah menumbangkan Si Golok Maut.

"Terima kasih... terima kasih...!" Beng Tan membalas tuan rumah dengan tawa yang ramah. "Kami tak membawa apa-apa untukmu, Wangwe, melainkan sekadar ucapan panjang umur dan sedikit bungkusan ini. Terimalah, putraku masih malu-malu, namun kau tentu mengenalnya!"

"Ha-ha, ini Beng-kongcu (tuan muda Beng)?" "Ah, selamat datang pula, Kongcu. Dan maaf kalau sambutan kami masih kurang memuaskan!"

Menjura dan tertawa-tawa di depan pemuda itu, tiba-tiba Tek-wangwe memberi isyarat kepada seorang gadis yang muncul mendadak. Gadis ini tadi bersembunyi di sudut pilar dan kini maju begitu Tek-wangwe memanggil. Agaknya, hartawan ini sudah mengatur itu karena begitu Beng Tan dan Han Han tiba, mendadak saja dia sudah didampingi gadis ini, yang bukan lain adalah putrinya sendiri bernama Tek Lian. Han Han menyerahkan kado ulang tahun dan bukan Tek-wangwe yang menerima, melainkan putrinyalah. Dan ketika Tek Lian maju dan menyambut, menjura terlebih dahulu di depan Beng Tan baru kemudian Han Han, gadis atau putri Tek-wangwe ini mengeluarkan suaranya yang merdu.

"Beng-Taihiap, sebagai putri Ayah, aku menghaturkan selamat datang atas kunjungan ini. Terima kasih atas kadonya dan semoga Beng-Taihiap dan Kongcu sehat-sehat dan betah di tempat kami!" Beng Tan tertawa. Ia melirik putranya ketika kado diserahkan, melihat jari-jari mereka bersentuhan, dan putranya itu cepat menarik diri. Ada sesuatu yang agak membuat kening pendekar ini berkerut. Han Han serasa disentuh ular ketika jari-jari lentik Tek Lian menyentuh tangan putranya. Hm...! Dan ketika Han Han mundur dengan cepat dan Tek Lian tampak tertegun, bersemu merah, Beng Tan batuk-batuk dan mencoba menghilangkan ganjalan yang sedikit tidak enak itu.

"Kami duduk di mana?"

"Ah!" Tek-wangwe cepat sadar. "Duduk di tempat yang telah kami sediakan, Taihiap. Mari... mari... kursi untuk kalian berdua adalah di atas panggung!" Beng Tan menggamit putranya. Han Han tampak bersemu merah pula karena sikapnya tadi diperhatikan sang Ayah. Diam-diam Beng Tan berbisik agar putranya itu bersikap wajar saja. Mereka di rumah orang, mereka adalah tamu. Dan ketika Han Han mengangguk, tiba-tiba terdengar suara cekikikan. Mendadak seorang wanita berbaju kuning berkelebat dan menghadang di tengah jalan, ketika Ayah dan anak ini siap diantar ke kursi kehormatan oleh hartawan Tek.

"Wangwe, bolehkah aku berkenalan sebentar dengan Hek-yan-pangcu dan putranya ini? Maaf, bukan untuk mengganggu, melainkan sekadar menyatakan kagum dan ingin berkenalan secara tulus!" Tek-wangwe mengerutkan kening.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment