Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 22

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 22

Tiba-tiba matanya bersinar tak senang karena munculnya Huang-ho Coa-li (Dewi Ular Dari Huang-ho), tamu tak diundang yang muncul di saat dia merayakan ulang tahun. Namun, karena yang dituju adalah Beng Tan dan tamunya itu tampak mengangguk memberikan isyarat, maka hartawan ini tersenyum dan buru-buru menjura.

"Ah, kiranya Huang-ho Coa-li. Selamat datang, Nona. Dan maaf kalau aku lupa mengundangmu!"

"Hi-hik, tak usah basa-basi. Aku datang memang tanpa sepengetahuanmu, Wangwe. Dan tak usah khawatir terhadap Beng-taihiap ini. Dia tak akan menuduhmu bergaul dengan orang sesat. Aku datang sekadar ingin melihat keramaian dan kini tiba-tiba tertarik melihat Beng-taihiap dan puteranya ini!"

Sang hartawan merah mukanya. Huang-ho Coa-li dengan sikap dan kata-katanya yang tidak dipikirkan langsung saja ceplas-ceplos; kesannya kasar dan urakan. Namun, karena wanita itu memang termasuk golongan sesat dan sudah lama ingin mengganggu hartawan ini tetapi terbentur oleh nama besar Hek-yan-pangcu alias Beng Tan, maka begitu Beng Tan muncul, wanita yang sejak tadi menyelinap di deretan kursi wanita itu sekonyong-konyong ingin mencari perkara.

Beng Tan, yang mengenal dan mendengar bahwa wanita ini adalah orang sesat selama dua atau tiga tahun belakangan, tersenyum saja melihat wanita muda itu bertingkah. Sebagai pria yang kini cukup umur dan matang pengalaman, segera dia tahu bahwa maksud dan tujuan Huang-ho Coa-li adalah mencari perkara. Jago-jago muda atau orang-orang sesat yang baru muncul memang biasanya begitu. Mereka akan mencari dan membuat gara-gara jika ada seseorang yang dikatakan lihai, jago, dan tak terkalahkan, biasanya untuk menjajal kemampuan dalam sebuah pertandingan.

Huang-ho Coa-li pun tentu tak terkecuali. Namun, karena Beng Tan tinggal di Hek-yan-pang dan markas perkumpulannya dijaga oleh banyak murid, maka mencari gara-gara di dalam perkumpulan tentu tidak berani dilakukan oleh Huang-ho Coa-li. Keluarnya Beng Tan dari markas dianggap sebagai kesempatan baik oleh orang-orang semacam Huang-ho Coa-li.

"Nona, kami datang sebagai tamu. Kalau kau pun datang sebagai tamu, tentunya kita akan menghormati tuan rumah dan menunggu saja acara suguhan apa yang bakal dikeluarkannya. Kalau sekadar berkenalan, tentu kami tak menolak. Tapi kalau ingin lebih, tentu saja kami juga akan menyambut, tapi biarlah kita nantikan acara khusus yang akan dikeluarkan oleh tuan rumah!"

"Hi-hik, Pangcu cepat tanggap. Ah, terima kasih, Pangcu. Tapi aku sekadar ingin berkenalan saja. Nanti kita tentu bertemu lagi. Sudah lama aku mendengar namamu yang menggetarkan jagat. Terimalah salamku dan selamat bersua!"

Beng Tan mundur. Tiba-tiba wanita itu mengangkat tangannya melepas pukulan sinkang, berkata memberi salam namun sebenarnya menyerang. Dilihat sepintas lalu, Huang-ho Coa-li tampak memberi hormat karena kedua lengan yang diangkat itu memang seperti orang bersoja. Namun, Beng Tan bukan anak kecil dan tentu saja tidak bodoh. Ketika pukulan menyambar dan dia menghindar ke arah kiri—di mana puteranya berada—dengan cepat dan sambil tertawa dia berkata, "Han Han, aku tak sanggup menerima kehormatan wanita ini. Biarlah kau yang menerima dan beri salam hormat kembali!"

Han Han mengerutkan kening. Sebagai putra ayahnya yang hebat, tentu saja dia tahu bahwa ayahnya diserang. Huang-ho Coa-li pada dasarnya ingin mencoba kekuatan ayahnya di balik kata-kata salam. Karena pemuda ini membenci wanita dan tidak suka melihat kebrutalan lawan, tiba-tiba Han Han maju dan secepat kilat menerima pukulan itu sambil mendengus.

"Huang-ho Coa-li, ayah enggan menerimamu. Biarlah aku yang menerima dan terima kasih... des!"

Huang-ho Coa-li tiba-tiba mencelat, kaget dan berteriak panjang. Wanita itu terbanting dan membentur dinding. Han Han rupanya terlalu keras memberi "pelajaran", sehingga wanita itu menjerit dan jatuh terguling-guling. Ketika dia muntah darah, semua orang terkejut, termasuk Beng Tan. Suasana tiba-tiba menjadi gaduh dan ribut karena hanya dengan sekali tangkis saja, Beng Han atau Han Han telah membuat Huang-ho Coa-li menderita luka dalam!

"Ah, tak boleh begitu!" Beng Tan berkelebat menegur puteranya. Bukan maksudnya untuk melukai atau mencederai lawan, namun Han Han ternyata terlalu ganas. Ketika Beng Tan menyambar dan menahan wanita yang terbatuk serta muntah-muntah itu, dia cepat menotok dan mengeluarkan obat. Namun, belum sempat dia memasukkan obat ke mulutnya, Huang-ho Coa-li sudah mengeluh dan terkulai pingsan!

Gegerlah tempat itu. Keganasan dan sikap dingin Han Han tiba-tiba membuat semua orang meremang. Tek-wangwe sendiri tertegun karena hanya dengan sekali balas, Han Han sudah menunjukkan "tangan besi". Mungkin pemuda itu belum dapat mengatur pukulannya karena belum pernah "turun gunung", belum berhadapan dengan orang lain selain ayah dan ibunya sendiri, serta beberapa murid Hek-yan-pang yang jarang dipertandingkan.

Begitu Huang-ho Coa-li tak sadarkan diri dan para tamu menjadi ribut, Tek-wangwe cepat berlari menghampiri untuk menolong Beng Tan yang wajahnya merah padam saat berusaha menyadarkan wanita itu.

"Maaf..." Pendekar ini gemetar. "Han Han terlalu keras, Wangwe. Bukan maksudku untuk menyuruhnya begitu. Biar nanti dia kutegur, sekarang aku sadarkan dulu wanita ini!"

"Tak apa," sang hartawan pun gugup. "Huang-ho Coa-li telah bersikap liar dan menyerangmu duluan, Taihiap. Kalau dia bersikap baik dan tidak kasar seperti tadi, tentu Beng-kongcu juga tidak akan membuatnya begini. Puteramu marah, dan itu wajar. Biarlah ini menjadi pelajaran baginya agar dapat bersikap sopan di rumah orang!"

Huang-ho Coa-li akhirnya sadar setelah Beng Tan menotok dan menjejalkan dua butir obat. Wanita itu membuka mata dan terbelalak ketika melihat Beng Tan. Dia mengeluh dan cepat melompat bangun, menepis tangan sang pendekar. Ketika wanita itu terhuyung dan terisak memandang Han Han yang berdiri di dekat ayahnya, dia melengking dengan mata berapi-api.

"Hek-yan-pangcu, kau bertanggung jawab atas perbuatan puteramu. Aku tak terima!"

Huang-ho Coa-li menerjang dan menusuk Han Han. Dia sudah mencabut pedangnya, namun tiba-tiba ditangkis oleh Beng Tan yang tak ingin melihat Han Han bertindak ganas lagi. Pendekar itu berseru bahwa itu adalah tanggung jawabnya; Huang-ho Coa-li boleh menyerangnya, tapi jangan kepada Han Han. Ketika pedang ditangkis hingga terpental, Huang-ho Coa-li memekik. Hampir saja dia terlempar oleh tamparan lawan, namun wanita ini membentak dan maju lagi, bertubi-tubi melepaskan serangan.

Beng Tan tentu saja mendongkol. Sebenarnya, dia ingin menyelamatkan wanita ini dari ketidaksabaran puteranya. Dia tidak ingin melihat Huang-ho Coa-li terbanting dan terluka lagi oleh balasan Han Han. Maka, ketika dia berkelit dan melihat Han Han sudah memandang beringas serta siap menghajar wanita itu lagi, buru-buru Beng Tan mengebutkan ujung bajunya. Dengan kepandaiannya yang tinggi, pendekar itu membelit dan mematahkan pedang lawan. Begitu lawan terkejut dan memekik kaget, tiba-tiba Beng Tan menggerakkan dua jarinya. Robohlah wanita itu oleh sebuah totokan jarak jauh.

"Bluk!" Huang-ho Coa-li mengerang pendek. Sekarang wanita ini tak dapat menyerang lagi karena dibuat lumpuh tak berdaya. Pedangnya pun dipatahkan. Orang-orang bersorak memuji melihat gerakan ketua Hek-yan-pang yang begitu mudah merobohkan lawannya. Ketika lawan menangis, Beng Tan menggerakkan tangannya lagi untuk membebaskan totokan. Huang-ho Coa-li pun melompat bangun dengan tubuh menggigil.

"Hek-yan-pangcu, kau telah menanam permusuhan denganku. Baiklah, lain kali kita bertemu lagi dan aku pasti membuat perhitungan di kemudian hari!"

Wanita itu berkelebat pergi sambil terisak. Huang-ho Coa-li yang tadinya mencari gara-gara mendadak menjadi bahan tertawaan orang saat meninggalkan tempat itu. Kepandaian Beng Tan justru mendapat tepuk tangan dan pujian di sana-sini. Namun, saat Beng Tan menarik napas dan membungkuk di depan Tek-wangwe, pendekar itu meminta maaf dan menyatakan penyesalannya.

"Tak apa... tak apa..." sang hartawan malah tertawa gembira. "Sudah lama wanita itu mencoba mengganggu aku, Taihiap. Berkali-kali datang meminta uang namun tak pernah kukabulkan. Sudahlah, sekarang dia mendapat hajaran dan lain kali tentu tidak berani datang lagi!"

Beng Tan ditarik ke panggung. Ketua Hek-yan-pang ini digandeng oleh Hartawan Tek untuk menduduki kursi terhormat di atas panggung, duduk bersebelahan dengan tuan rumah. Ketika Han Han ditarik oleh ayahnya dan diajak ke tempat itu, Beng Tan agak tersipu karena tamu-tamu lain yang berdatangan hanya disambut oleh beberapa pembantu, tidak seperti dirinya yang disambut langsung oleh tuan rumah.

"Ah, mereka itu... ha-ha, biarkan saja, Taihiap. Aku memang hanya menyambut tamu-tamuku yang paling penting. Selebihnya, biarlah pembantuku yang mengurus. Aku di sini saja bersamamu!"

"Hm, aku jadi tidak enak," Beng Tan merasakan lirikan tajam dan tidak senang dari beberapa tamu yang merasa diacuhkan oleh Tek-wangwe. "Kalau kau terlalu berlebihan menyambutku begini, tentu aku tidak enak duduk di sini, Wangwe. Jangan bersikap seperti ini. Lihat, ada dua pengemis datang!"

Anehnya, Tek-wangwe tiba-tiba bangkit berdiri. Para tamu yang berpakaian bagus dan perlente tiba-tiba bersikap berbeda dibandingkan saat melihat dua pengemis yang baru datang itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment