Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 23

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 23

Hartawan Tek terkejut dan buru-buru turun. Ia tertawa menyambut tamu tersebut. Orang-orang akan tercengang keheranan melihat seorang pengemis masuk ke sebuah pesta, bahkan disambut langsung oleh tuan rumahnya sendiri.

Namun, ketika Tek Lian, putri Tek Wangwe itu, berteriak dan memanggil kedua pengemis ini dengan sebutan "suhu" (guru), maka agaknya keheranan atau ketercengangan itu sirna. Kedua pengemis ini tertawa-tawa ketika disambut oleh Hartawan Tek. Mereka tidak membalas ketika tuan rumah membungkuk di depan mereka karena mereka sudah menoleh dan menyambut Tek Lian yang berlari lalu merangkul mereka.

Saat Tek Wangwe cengar-cengir sementara kedua pengemis itu menepuk-nepuk pundak muridnya, mereka tiba-tiba tertegun melihat Beng Tan dan putranya sudah duduk di kursi kehormatan di atas panggung.

"Siapa mereka?" tanya kedua pengemis ini tanpa sungkan-sungkan. "Kehormatan apakah yang kau berikan kepadanya, Wangwe? Pantaskah mereka duduk di situ?"

"Ah!" Tek Wangwe didahului putrinya menjawab. "Itu adalah Beng Taihiap dan putranya, Suhu. Beliau yang terhormat adalah Ketua Hek Yan Pang dan Beng Kongcu. Mari, Ayah sudah menyiapkan kursi untuk kalian pula. Tinggal beberapa tamu penting lagi yang belum datang."

"Ketua Hek Yan Pang?" pengemis di sebelah kanan tertegun. "Maksudmu Pek Jit Kiam Hiap yang mendampingi istrinya di perkumpulan Walet Hitam itu?"

"Benar, itulah dia, Suhu. Mari kuperkenalkan. Beng Taihiap baru saja datang dan merobohkan Huang Ho Coa Li!"

"Hm, sombong! Jadi begitukah sikap seorang tamu di rumah orang lain? Wah, tidak tahu aturan, Tek Lian. Seharusnya diusir pergi dan tidak usah menduduki kursi kehormatan!"

Tek Lian tiba-tiba kaget. Pengemis di sebelah kiri, gurunya yang nomor dua, tiba-tiba berseru memaki-maki Ketua Hek Yan Pang itu. Ia bergerak dan sudah melayang ke atas panggung. Gerakannya gesit dan ringan luar biasa. Tahu-tahu ia sudah berada di atas dan siap membentak Beng Tan karena dianggap membuat onar dengan merobohkan orang lain di rumah yang bukan miliknya sendiri.

Namun, saat Tek Lian berkelebat dan berteriak memanggil gurunya, ia segera menarik dan menyambar baju sang guru. Pengemis yang tampaknya berangasan itu pun segera diberi tahu.

"Tahan, jangan salah paham. Beng Taihiap justru menolong muka Ayah, Suhu. Huang Ho Coa Li yang membuat onar dan mengganggu mereka. Dengarkan ceritaku!"

Tek Lian buru-buru menceritakan peristiwa itu. Meskipun didengar, rupanya penjelasan itu disambut kurang baik. Kakek ini terkekeh dan mengebutkan ujung lengan bajunya.

"Ah, begitukah kiranya? Kurang ajar, sungguh Huang Ho Coa Li tidak tahu malu. Kalau saja aku sudah datang, tentu tidak perlu minta pertolongan Ketua Hek Yan Pang yang terhormat ini. Hm, kalau begitu aku harus menghaturkan terima kasih, Tek Lian. Aku sudah salah paham!"

Si kakek menyeringai dan membungkuk. Tiba-tiba, ia yang sudah berada di atas panggung itu menjura dan berseru nyaring, "Ketua Hek Yan Pang, sungguh kebetulan kau datang. Kau telah memberi pelajaran dan mengusir wanita busuk itu. Namun sebenarnya di sini ada muridku, tak usah kau berlagak memamerkan kepandaian. Apakah kau kira murid Ji Sin Kai tidak mampu menggebah pengacau? Maaf, Ketua Hek Yan Pang, kau termasuk lancang meskipun telah menolong Tek Wangwe!"

Sambil mengebutkan ujung lengan bajunya, tiba-tiba kakek itu menyerang dan melepaskan pukulan *sinkang*.

"Suhu!"

Pukulan itu tidak mungkin ditarik kembali. Ji Sin Kai (Pengemis Sakti Nomor Dua) tertawa dan terang-terangan menghantam Beng Tan. Dari ujung bajunya yang apek, keluar angin menderu dan bau tidak enak.

Beng Tan yang berdiri menyambut pengemis itu tiba-tiba tertawa lebar. Awalnya ia terkejut, tetapi segera tersenyum ketika mendengar bahwa pengemis ini adalah Ji Sin Kai, dan yang di sana tentu Toa Sin Kai. Mereka adalah pengemis-pengemis berkepandaian tinggi yang dikenalnya sebagai pengemis budiman, meskipun berwatak aneh, angkuh, sombong, dan tidak suka mengakui kepandaian orang lain.

Begitu Ji Sin Kai menyerangnya dengan pukulan terbuka sambil membentak untuk mengujinya, pria ini tertawa lebar dan menggerakkan tangan kiri ke depan.

"Sin Kai, jangan salah paham. Aku tidak pamer kepandaian, melainkan Huang Ho Coa Li itulah yang menyerangku habis-habisan. Kalau kau tidak senang dengan perbuatanku, tentu saja aku minta maaf. Selamat berkenalan dan berjumpa di sini, plak!"

Dua pukulan itu beradu. Beng Tan tertawa dengan tangan kirinya, sementara si kakek tampak berkutat dengan ujung lengan bajunya. Ji Sin Kai merasakan gempuran tenaga dahsyat yang menahan pukulannya. Tenaga itu mendorong dan seolah menolak balik. Tentu saja ia bertahan. Karena terkejut, ia menambah tenaganya, namun lawan pun melakukan hal yang sama.

Beng Tan menambah tenaganya hingga si kakek pucat dan bergoyang-goyang. Ji Sin Kai menggeram, namun tiba-tiba ia terdorong. Kakek itu terus terdorong hingga lantai panggung berderit, tanda betapa hebatnya ia bertahan. Beng Tan tiba-tiba menarik pukulannya dan mundur dengan cepat, membuang seluruh tenaga lawannya ke samping.

"Maaf, kau hebat, Sin Kai. Tapi kukira cukup... bress!"

Lantai panggung berderak dan hancur patah-patah. Para tamu tercengang, sementara Ji Sin Kai berjungkir balik di udara. Ia berseru keras karena kaget sekaligus kagum; lawannya benar-benar luar biasa. Kalau saja Beng Tan meneruskan serangannya, tentu kakek itu akan mengalami luka dalam. Namun, Ketua Hek Yan Pang itu menarik pukulannya dan menyelamatkan Ji Sin Kai.

Ketika kakek itu mendarat dengan wajah memerah, ia memuji meski merasa penasaran. "Ketua, kau hebat. Tapi aku belum puas!"

"Cukup!" Beng Tan menggoyangkan lengan. "Lebih baik aku mengaku kalah, Sin Kai. Aku terpaksa mundur karena tenagamu hebat. Sudahlah, tidak baik membuat Tek Wangwe cemas. Lihat, dia memandang kita!"

Mata Ji Sin Kai bersinar-sinar. Tek Wangwe cepat-cepat memburu sambil menggoyangkan lengan dan membungkuk-bungkuk. Hartawan ini ngeri dan pucat jika si pengemis menyerang lagi, karena Ketua Hek Yan Pang adalah tamunya yang agung dan calon besan yang diam-diam diincarnya!

Saat Ji Sin Kai menggeram penasaran namun Beng Tan tidak melayaninya lebih jauh, hartawan itu menarik sang pengemis agar duduk sambil bersoja-soja.

"Locianpwe, harap tenang. Kalian semua adalah tamu. Masih ada kesempatan untuk mengadu kepandaian dalam acara *pibu*. Duduklah, Locianpwe. Jangan buru-buru mengumbar adat kalau acara itu belum tiba!"

Setelah mendudukkannya, ia menghampiri Toa Sin Kai, pengemis satunya yang masih berdiri di sudut. Hartawan ini pun buru-buru membujuknya sambil mengerling pada putrinya.

"Dan kau pun tamuku yang terhormat, Sin Kai. Mari... mari duduk dan nikmati hidangan seadanya!"

Toa Sin Kai menyeringai. Ia belum berbuat apa-apa ketika Tek Wangwe menarik dan mengajaknya duduk. Tek Lian, muridnya, tiba-tiba berkelebat dan menarik tangannya pula. Ketika kedua orang itu mengajaknya duduk, pengemis ini pun terkekeh. Toa Sin Kai duduk di samping adiknya dan diam-diam mengerahkan ilmu suaranya untuk bertanya.

"Sute, bagaimana kepandaiannya? Kau tidak mampu bertahan?"

"Hm," jawab sang Sute dengan mata merah. "Ketua Hek Yan Pang itu hebat sekali, Suheng. Aku memang kalah, tapi baru soal tenaga. Kepandaiannya dan ilmu silatnya belum!"

"Hm, kalau begitu aku jadi tertarik untuk coba-coba. Baiklah, nanti aku yang maju dan kita ramaikan ulang tahun Tek Wangwe ini dengan *pibu* yang seru!"

"Aku juga, aku masih penasaran. Biar aku saja yang maju dan nanti kita sama-sama lihat!"

Kedua kakek itu berkedip. Mereka bicara menggunakan ilmu suara jarak jauh. Bibir mereka bergerak-gerak, tetapi tidak ada kata-kata yang terdengar. Itulah tanda betapa hebatnya kedua pengemis ini. Namun, Beng Tan yang tersenyum diam-diam mendengarkan pembicaraan itu menggunakan ilmu pendengaran jarak jauhnya. Tiba-tiba ia memandang putranya karena Han Han mendadak bangkit berdiri dan melotot ke arah kedua kakek pengemis itu.

"Ayah, Ji Sin Kai masih penasaran. Sebaiknya aku yang maju dan menghajarnya!"

"He!" sang ayah terkejut dan cepat-cepat menarik putranya. "Jangan mencari gara-gara, Beng Han. Duduklah dan jangan jauh dari ayahmu!"

Beng Han mengerutkan kening. Kedua kakek itu memandangnya. Toa Sin Kai maupun Ji Sin Kai terkejut. Mereka mendengar kata-kata itu karena Han Han tidak menggunakan ilmu suara. Bicaranya begitu terang-terangan dan lantang. Tentu saja mereka marah, terutama Ji Sin Kai!

Namun, ketika pemuda itu ditarik ayahnya dan Beng Tan mengangguk kepada mereka berdua untuk meminta maaf, sang ayah berbisik menggunakan ilmu suara agar kedua pengemis itu tidak gusar.

"Harap Ji-wi Sin Kai memaklumi bahwa putraku ini masih seorang pemuda yang berdarah panas. Tentu kalian tidak akan mudah terpancing oleh omongannya yang lancang itu. Maaf, nanti saja kita main-main lagi!"

"Hm, kau mau melayani aku, Ketua Hek Yan Pang? Kau tentu tidak takut, bukan?"

"Aku tentu melayanimu dengan gembira. Namun tidak perlu bersungguh-sungguh karena kita sekadar bermain-main saja!"

"Hm!" Kedua pengemis itu melotot, tetapi akhirnya dapat menahan diri. Mereka kemudian disuguhi arak dan Tek Lian cepat-cepat menghibur gurunya. Gadis ini agak mengerutkan kening karena ia juga mendengar kata-kata dan sikap Han Han tadi. Ia merasa tidak senang, tetapi mencoba tersenyum manis.

Beberapa tamu kembali datang. Ayah dan anak tuan rumah menyambut tokoh-tokoh penting yang muncul. Pertama adalah seorang laki-laki pendek gendut berpakaian perlente yang berusia sekitar lima puluh tahun, diiringi oleh seorang pemuda yang berjalan di sebelahnya. Dialah Sing Wangwe bersama putranya, Sing Kok.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment