Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 24

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 24

Ketika tamu kedua dan ketiga adalah seorang tosu dan hwesio, muncullah dua tokoh pengembara yang tak lain adalah Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio, dua tokoh dari Kongthong dan Go-bi. Hati Beng Tan agak heran melihat tokoh-tokoh ini. Maklumlah, Eng Sian Taijin maupun Tiong Liang Hwesio adalah orang-orang yang biasanya tidak suka bergaul dengan segala macam kaum bangsawan atau hartawan. Namun, teringat bahwa di sana hadir Toa-sin-kai dan Jisin-kai, yang merupakan guru dari putri tuan rumah, maka Beng Tan dapat memaklumi dan mengerti.

Dan betul saja, dua orang pengemis itu buru-buru menyambut. Mereka ikut bersama hartawan Tek menghampiri kedua orang ini, tergopoh-gopoh dan tertawa-tawa. Segera, kedua hwesio dan tosu itu diajak duduk di kursi kehormatan. Ketika mereka berada di atas panggung dan mau tidak mau bertemu pandang dengan Beng Tan, Eng Sian Taijin mengerutkan kening, merasa tidak kenal, "Siapa dia?" bisiknya.

"Ah, ketua Hek-yan-pang. Pek-jit Kiam hiap yang gagah perkasa!" "Oh, ketua Hek-yan-pang kiranya!" Dan ketika tosu itu bersinar, sementara hwesio di sebelahnya juga terbelalak lebar, Ji-sin-kai berkata bahwa ketua Hek-yan-pang ini memiliki sinkang luar biasa. "Mulai menggosok," katanya. "Aku tadi mencoba sedikit, dan terdorong. Kalau totiang mau berkenalan, silakan saja, jangan sungkan-sungkan. Siapa tahu Peksut (Silat Pedang Matahari) dari ketua Hekyan-pang dapat menambah pengalaman dengan ilmu pedangmu Kong-thong Kiam-sut (Ilmu Pedang Dari Kongthong)!"

"Hm!" Sang tosu sudah mengangguk, menjura. "Sudah lama aku mendengar namamu, pangcu. Kiranya kau masih muda dan gagah. Mengejutkan kalau Ji-sin-kai memujimu secara terang-terangan!" Beng Tan bangkit berdiri. Bahwa di situ tiba-tiba muncul beberapa tokoh kang ouw, hal ini adalah di luar dugaannya. Dia menganggap paling-paling para tamu hanyalah orang-orang sebangsa Tek-wang-we, atau paling tinggi seorang dua orang tokoh-tokoh kang-ouw kelas dua. Namun, begitu Eng Sian Taijin muncul dan Tiong Liang Hwesio dari Go-bi juga berada di situ, Beng Tan, yang harus menghormati tokoh-tokoh tua, cepat-cepat bangkit memberi hormat.

"Ah, aku biasa-biasa saja, totiang. Aku tak sehebat seperti yang dipujikan Ji-sin-kai itu. Kau jangan percaya, dan aku tentu saja tak berani menandingi ilmu pedang Kong-thong. Selamat berkenalan, dan sungguh gembira bertemu dengan jiwi berdua yang amat terkenal di dunia kang-ouw."

"Hm!" Sang tosu tersenyum mengejek. Dia sudah menjura dan ujung lengan bajunya pun bergerak ke depan. Ajaib, ujung lengan baju yang tadi lemah dan berkibar itu mendadak menjadi kaku dan berubah seperti lempengan baja, menyambar atau menghantam tubuh Beng Tan dari kiri dan kanan. Dan karena ini adalah serangan berbahaya, karena itulah pukulan sinkang yang merubah benda lemas menjadi keras, maka cepat saja Beng Tan menangkis, maklum bahwa dia lagi-lagi diuji.

"Plak!" Panggung bergetar. Eng Sian Taijin tampak bergoyang dan tosu itu kaget. Lawan tak bergeming, sementara dia hampir terhuyung! Dan ketika tosu ini cepat menambah tenaganya, namun Beng Tan buru-buru melepaskan diri, maka ujung lengan baju yang menempel di telapak tangannya itu cepat dihindari. "Totiang, terima kasih. Kau telah memberi pelajaran berharga!"

Eng Sian Taijin tertegun. Nyatalah bahwa ketua Hek-yanpang itu tak mau melayaninya lebih lanjut, padahal dia sudah mengerahkan tenaga dan siap menggempur lagi. Penasaran bahwa tadi dia tergetar! Tapi karena lawan sudah duduk lagi dan Tiong Liang Hwesio tertawa bergelak, tahu bahwa seorang lawan lihai benar-benar ada di situ, maka hwesio ini ganti melangkah dan berseru, "Omitohud, pinceng (aku) belum berkenalan denganmu, pangcu. Hebat dan kagum sekali diri ini bahwa seorang muda sudah menjadi tokoh terkenal!"

Beng Tan terkejut. Sebenarnya dia tak mau beradu pukulan lagi karena tuan rumah masih belum membuka acara pibu (adu kepandaian silat), yang biasanya pasti diadakan untuk meramaikan setiap acara pesta. Tapi karena lawan sudah melangkah lebar dan dia tak keburu bangkit, maka apa boleh buat, pukulan hwesio itu yang menyambar kepalanya terpaksa ditangkis, dengan pura-pura bersoja, mengangkat kedua lengan. "Ah, lo-suhu meninggikan aku. Maaf, aku biasa-biasa saja, lo-suhu. Dan terima kasih atas salammu!"

Terdengar ledakan, panggung berderak keras dan Tiong Liang Hwesio tiba-tiba berseru kaget. Kedua lengannya yang memukul tiba-tiba ditahan sepasang lengan ketua Hek-yan-pang itu, bertemu dengan sepasang tenaga yang luar biasa hebatnya hingga dia menggigil menahan diri, tak sanggup dan terdorong tiga tindak! Dan ketika hwesio itu pucat karena lawan dapat terus mendesak dan melemparnya keluar panggung, tiba-tiba tenaga dahsyat itu lenyap dan hwesio ini terhuyung ke depan. "Ah, hebat, luar biasa. Pinceng benar-benar bertemu orang pandai!"

Beng Tan tersenyum merendah. Dia segera tahu bahwa baik Ji-sin-kai maupun kawan-kawannya ini masih kalah dengannya. Dia memiliki sinkang atau tenaga sakti yang dua tingkat di atas mereka, tadi hanya dikeluarkan sebagian dan itu saja sudah cukup membuat lawan pucat. Maka ketika si hwesio mundur dan tahu diri, kagum, maka Beng Tan mengangguk-angguk dan tersenyum. Selanjutnya, tiga orang itu saling kasak-kusuk dan Ji-sin-kai maupun Eng Sian Taijin menunjukkan penasaran hebat. Mereka itu tak seperti Tiong Liang Hwesio yang cukup tahu diri, yang batuk-batuk dan kagum memandang Beng Tan.

Dan ketika tuan rumah menyambut beberapa tamu lagi dan akhirnya meniup lilin ulang tahun, maka para tamu bersorak ketika tuan rumah ingin dihibur dengan atraksi kepandaian silat. "Puteriku barangkali yang perlu mengawali. Dan acara ini kuserahkan saja kepada guru puteriku yang terhormat Toasin-kai dan Ji-sin-kai yang hadir di sini. Maaf, silahkan mulai, Sin-kai. Agaknya tak ramai pesta ini kalau kalian orang-orang persilatan tak menunjukkan kepandaian!"

Toa-sin-kai tersenyum lebar. Setelah para tamu dipersilakan makan minum, maka dia bangkit berdiri memanggil muridnya. Tek Lian diminta menunjukkan sejurus dua ilmu silat. Dan ketika gadis itu bergerak dan melayang ke atas panggung, disambut tepuk tangan riuh, maka Tek Lian menyambar tongkat dan memainkan ilmu silat khusus dari gurunya itu. Gadis ini sudah membungkuk terlebih dahulu ketika memainkan tongkatnya. Dia mulai berkelebatan ketika tongkatnya dilempar ke atas, tinggi dan disambar, dan selanjutnya naik turunlah gadis itu dengan gerak meliuk-liuk. Tongkat di tangan menyambar menderu-deru dan penonton bersorak melihat gerakannya yang lemah gemulai, lembut namun kuat, dan itu cukup memberi indikasi bahwa putri hartawan Tek ini bukan gadis sembarangan. Dan ketika gadis itu menutup dengan gerakan melipat, yakni tubuh dilempar ke udara sementara tongkat dibanting dan ditangkap di atas lantai, maka bergemuruhlah sorak penonton oleh puji dan kagum.

"Maaf, aku hanya dapat sebegini saja. Ilmu silatku terlalu rendah. Kalau ada cu-wi enghiong (orang-orang gagah) yang ingin menunjukkan kepandaian, silahkan naik agar dapat membuka mataku lebar-lebar!" Berteriaklah orang-orang oleh tantangan itu. Pibu telah dibuka dan putri tuan rumah telah mengawalinya dengan permainan silat yang indah. Semua mata tiba-tiba tertuju di sini dan Tek Lian menjadi pusat perhatian. Gadis itu memang muda dan cantik, suaranya pun merdu dan tinggi semampai. Maka begitu dia menyelesaikan ilmu silatnya dan menantang untuk ditemani, hal yang tentu saja membuat sorak lebih riuh, maka seorang pemuda melompat dan menjura di depan si gadis.

"Maaf, aku Wi Cong To, ingin bermain-main denganmu, Tek-siocia. Sudilah kiranya memberikan pelajaran karena aku tertarik dan kagum akan silat tongkatmu!" "Hm," Tek Lian tak menyangka, melihat pemuda ini bermuka buruk. "Kau siapa, sobat?" "Wi Cong To." "Baik, mari main-main dan perlihatkan kepandaianmu.....wut!" dan tongkat yang kembali bergerak dan berada di tangan gadis ini lalu bersiap untuk menghadapi lawan.

Tek Lian harus melengos karena si buruk itu menyeringai padanya, mulutnya melebar dan mirip kuda mau menangis. Sungguh tak disangka kalau yang pertama datang adalah pemuda macam ini. Buruk! Tapi karena dia putri tuan rumah dan pibu memang bebas diikuti siapa saja, maka Tek Lian menahan mualnya. Cong To, pemuda itu, sudah membungkuk di depan lawan. Meskipun buruk, namun pemuda ini tetaplah sopan, sikapnya tak kurang ajar, dan mulailah dia membentak melonjorkan kedua lengan. Dia tak mencabut senjata dan Tek Lian sejenak tertegun. Tapi ketika pemuda itu berkata bahwa itulah senjatanya, kedua lengannya yang kokoh, maka Tek Lian yang tentu saja tak sudi beradu lengan, lalu membentak dan menyuruh lawan maju. "Aku laki-laki, kau wanita, juga sebagai tuan rumah. Silahkan mulai dan jangan ragu-ragu, siocia. Maju dan seranglah aku."

"Wut!" Tongkat sudah menyambar, tak banyak bicara lagi. "Kalau begitu baiklah orang she Wi. Awas serangan dan jaga diri baik-baik!" dan Tek Lian yang tak ingin berpanjang lebar dengan lawan tiba-tiba sudah membentak dan menggerakkan tongkatnya itu. Dia berkelebat dan menyambar bagai seekor burung walet, lincah menubruk, namun lawan berkelit. Dan ketika Tek Lian mengejar dan lawan berbalik, maka untuk pertama kali pemuda itu menangkis. "Dukk!" Dua lengan pemuda itu bergetar keras. Tongkat terpental dan Tek Lian terkejut karena tenaga lawan kiranya begitu hebat. Dia yang menyerang, tapi dialah yang terpental. Dan ketika lawan tertawa dan gadis itu melengking, maka untuk selanjutnya murid Ji-sin-kai ini beterbangan dengan tongkat menyambar-nyambar. Sekarang Tek Lian tak mau beradu tenaga lagi karena begitu si pemuda mau menangkis, cepat-cepat dia menarik dan mengemplang ke arah lain. Ke manapun pemuda itu menggerakkan lengan, ke situ pula buru-buru dia mengganti serangan. Akibatnya si pemuda gemas karena putri Tek-wangwe itu tak mau beradu dengannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment