Chapter 25
Dan ketika Tek Lian mempercepat gerakannya dan si pemuda tidak dapat mengikuti, tampaklah di sini bahwa dalam soal kecepatan, gadis ini jauh lebih unggul daripada lawannya.
Akibatnya, Cong To menerima gebukan-gebukan dan penonton bersorak melihat pemuda itu terhuyung-huyung.
Pemuda ini mulai marah karena lawan mempermainkannya.
Yang menonton mengangguk-angguk karena Tek Lian bersikap cerdik, tidak mau beradu tenaga.
Dan ketika satu kemplangan tongkat menimpa tengkuk pemuda itu dan Cong To mengeluh, begitu pemuda itu terhuyung ke depan tiba-tiba Tek Lian menendang bokongnya dengan satu tendangan kilat.
"Dess!" Terlemparlah pemuda itu dari atas panggung.
Cong To berteriak dan roboh ke bawah, tersungkur.
Dan ketika Tek Lian tertawa meminta maaf, lawannya itu melotot, tetapi segera pergi terburu-buru, kalah.
"Maaf, aku sedikit menyakitimu, Cong To.
Tapi inilah pibu.
Ayo, siapa yang mau main-main lagi!" Penonton tertawa.
Mereka melihat pemuda itu pergi tersipu-sipu.
Kepongahan atau kesombongan yang kini mulai muncul dalam sikap gadis itu tidak terlalu diperhatikan.
Dan ketika bayangan seorang pemuda lain berkelebat dan berdiri di atas panggung, orang berhenti bersuara karena kini muncullah pemuda gagah dengan muka yang lumayan.
"Aku Leng Sip, kagum akan kepandaian Tek Siocia.
Bolehkah main-main dan berkenalan dengan Nona? Tapi aku tidak berani bertangan kosong, aku biasa mengandalkan pedang.
Kalau Nona tidak takut, tentu aku gembira dan akan senang sekali mencoba kepandaian murid Ji Sin Kai locianpwe!" "Hm!" Tek Lian bersinar-sinar, yang ini tidak memualkannya.
"Siapa pun kau, tentu tidak perlu membuatku takut, orang marga Leng.
Majulah, dan cabut pedangmu!" "Nona memperkenankan?" "Kalau kau tidak takut aku buat jungkir balik seperti orang marga Wi tadi.
Majulah, dan cabut pedangmu!" Si pemuda tersenyum.
Tek Lian agaknya menemukan kepercayaan dirinya yang besar setelah merobohkan si muka buruk tadi, Cong To.
Tapi karena si muka buruk berotak udang dan gadis itu berotak cerdas, maka Leng Sip yang sudah melihat gaya dan permainan silat lawan lalu mencabut pedangnya dan membungkuk.
Pibu memang bersifat mengadu ilmu, di samping kecerdasan.
"Aku siap, dan silakan Nona mulai." "Tidak, kau tamu, Sobat.
Kaulah yang mulai dan jangan sungkan-sungkan.
Majulah!" "Begitukah? Baik, awas, Nona.
Lihat pedang!" Dan Leng Sip yang mulai membuka serangan dan membentak sebagai peringatan, tiba-tiba bergerak dan sudah menusuk lawan.
Mula-mula pedangnya bergerak perlahan karena takut melukai lawan, ternyata Tek Lian bergerak gesit dan menghantam pedang itu dari samping, hingga si pemuda terhuyung.
Dan ketika pemuda itu ditertawakan dan penonton mulai bersorak, pemuda itu bersungguh-sungguh dan tidak sungkan-sungkan lagi.
Melihat Tek Lian membalas dan tongkat atau senjata di tangan gadis itu sudah menderu di atas kepalanya, ditangkis dan terpental, tetapi menyambar punggungnya dari belakang.
Dan ketika Tek Lian bergerak dan berkelebatan bagai walet seperti tadi, pemuda itu harus mengakui bahwa murid Ji Sin Kai ini memang lihai.
"Trik-trakk!" Pedang bertemu tongkat.
Dari adu tenaga itu, Tek Lian tahu bahwa si pemuda tidak memiliki tenaga sebesar Cong To tadi, namun lihai karena tiba-tiba pedangnya dipentalkan dan dibabatkan ke bawah, menyerampang kaki.
Dan ketika Tek Lian harus meloncat, namun pemuda itu menggerakkan tangan kirinya, menghantam, maka Tek Lian menyadari bahwa lawannya yang ini memang tidak berotak kerbau.
"Dess!" Dan Tek Lian pun terhuyung.
Agaknya, sebagai wanita yang dikodratkan lebih lemah daripada laki-laki, meskipun lawannya itu tidak sehebat Cong To, namun tenaganya masih lebih kuat dibandingkan tenaganya sendiri.
Mau tidak mau, Tek Lian mengulang gaya permainannya seperti tadi, bergerak dan berkelebatan menyambar-nyambar mengandalkan *ginkang* (ilmu meringankan tubuh).
Dan ketika lawan mencoba mengimbangi, namun kalah cepat, karena Tek Lian bergerak seperti walet beterbangan, maka satu-dua pukulan tongkatnya mulai masuk.
"Plak-plak!" Si pemuda kewalahan.
Tidak lama kemudian dia terdesak dan tertawalah Ji Sin Kai melihat muridnya mempermainkan lawan.
Leng Sip agaknya bukan tandingan gadis ini karena meskipun pedangnya menangkis sana-sini, namun tongkat itu bergerak lebih cepat lagi, mengemplang atau menusuk, dan setiap tusukan atau sodokan ini tentu mengarah jalur-jalur darah yang menyakitkan.
Akibatnya, pemuda itu menyeringai karena tusukan atau sodokan itu terasa pedas.
Dan ketika semakin lama dia kesakitan dan mundur-mundur, penonton bersorak gegap-gempita, maka akhirnya dengan satu gerakan manis, gadis ini membuat lawan terpelanting, tongkat mendarat di tengkuk.
"Cukup, dan mundurlah!" Pedang di tangan si pemuda terlempar.
Tek Lian menendangnya sebelum mendaratkan tongkatnya itu.
Lawan dibuat jungkir balik dan terpelanting ke bawah panggung.
Dan ketika kemenangan ini disambut riuh dan tepuk tangan, lawannya itu pergi terburu-buru, sementara Tek Lian berdiri tegak mengusap keringatnya, juga anak rambut yang menjuntai di dahi.
"Maaf, jangan kapok menghadapi pibu, orang marga Leng.
Aku siap menghadapimu lagi kalau masih penasaran!" Pemuda itu malu.
Penonton mengejeknya sementara Tek Lian terkekeh mengiringi, "Ah, gadis itu kian sombong saja."
Tapi ketika selanjutnya tidak ada lagi pemuda yang mau naik di atas panggung, menghadapi si Nona lihai, maka Tek Lian agak kebingungan memandang ke bawah, diam-diam melirik Han Han karena diharapkannya pemuda itu akan mau maju, bersentuhan dan bersenggolan tangan.
Tek Lian memang diam-diam mengharapkan pemuda itu setelah dua pemuda pertama dirobohkannya.
Dia juga ingin menjajal kepandaian Han Han setelah tadi pemuda itu mengusir Huang Ho Coa Li.
Tapi karena Han Han bersikap dingin saja dan pemuda itu memandang tidak acuh, sama sekali tidak bersorak atau gembira melihat pertandingan di atas panggung, maka Tek Lian siap mengundurkan diri ketika tiba-tiba Hartawan Sing, lelaki pendek gemuk itu tertawa naik panggung, bergoyang-goyang.
"Ha-ha!" Penonton dan Tek Lian terkejut, sama-sama mengira hartawan itu mau maju bertanding, padahal jelas tidak bisa silat!
"Aku ke sini ingin mengajukan usul, Tek Wangwe.
Bagaimana kalau pibu ini dijadikan semacam sayembara.
Maksudku, yang berkaitan dengan putrimu itu, khusus untuk anak-anak muda!" Dan ketika Tek Wangwe bangkit dan menerima tamunya itu, tergopoh-gopoh dan terbelalak, maka hartawan ini bertanya apa yang dimaksud rekannya itu.
"Aku tidak mengerti," tanyanya.
"Apa maksud Wangwe dengan ini?" "Ha-ha, maksudku arena cari jodoh.
Lihat, putrimu sudah tidak ada tandingnya lagi, Tek Wangwe.
Dia hebat dan memang luar biasa.
Tapi tidak mungkin di sini tidak ada para pemuda lagi yang berani menghadapinya.
Lain kalau mereka itu diiming-imingi dulu sayembara jodoh, hingga kalah pun tentu tidak perlu kecewa!" Tek Wangwe tiba-tiba tersenyum.
Mendadak dia mengangguk dan berseri-seri.
Usul atau gagasan ini tiba-tiba ditangkapnya sebagai sesuatu yang bagus.
Putrinya sudah dewasa, dia sudah pula waktunya untuk bermenantu.
Dan ketika dia tertawa dan melirik putrinya, yang tersipu dan tiba-tiba kemerahan, maka hartawan itu bergelak menjawab nyaring, "Ah, siapa tidak suka ini? Aku setuju, Wangwe. Tapi tentunya harus kutanyakan putriku itu, juga kedua gurunya.
Kalau mereka suka, tentu saja aku semakin gembira.
Hm, tapi ini khusus untuk anak-anak muda.
Yang kakek-kakek atau tua tidak boleh ikut!" "Ha-ha, tentu saja.
Masa aku akan menghadapi putrimu? Kalau dia setuju, maka putraku menjadi jagonya, Wangwe.
Dan kita dapat berbesan kalau anakku dapat merobohkan putrimu!" "Hm!" Tek Lian tiba-tiba mendengus.
Dia malu dan jengah mendengar pembicaraan dua orang tua itu.
Hartawan Sing memang sudah dikenalnya karena dialah mitra dagang ayahnya.
Sing Wangwe sering berkunjung ke rumah, tapi baru kali itu dilihatnya Sing Kongcu, putra Sing Wangwe itu.
Dan ketika ayahnya memandang kepadanya sementara putra Sing Wangwe itu menatapnya bersinar-sinar, muka bercahaya, maka tiba-tiba Tek Lian menjadi malu ketika dihampiri dan ditanya ayahnya.
"He, kau tidak menolak pibu ini diubah jadi arena jodoh, Lian Ji? Kau berani menghadapi calon-calon penantangmu yang tentu gagah perkasa?" "Aku menyerahkan hal itu kepada Suhu," Tek Lian tiba-tiba melengos.
"Dan aku tentu tidak takut menghadapi siapa pun, Ayah.
Asal Suhu atau Ayah dapat memilihkan seorang yang benar-benar dapat mengalahkan aku!" "Ha-ha, bagaimana, Ji Wi Sin Kai? Kalian mendengar kata-kata anakku ini?" "Hm!" Ji Sin Kai tiba-tiba bangkit berdiri.
"Kalau pibu diubah jadi arena sayembara, tentu aku tidak menolak, Wangwe, hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahunmu.
Tapi muridku lihai, jangan-jangan tidak ada seorang pemuda pun yang dapat mengalahkannya!" "Ah, itu kita lihat saja nanti.
Yang jelas banyak pemuda-pemuda di sini, Sin Kai.
Dan mereka tentu mau maju asal diberi kesempatan.
Bertanding dengan harapan mendapat jodoh tentu membuat pemuda lebih bersemangat, tapi bagaimana aturannya, terserah kau!" Kakek itu terkekeh.
"Tek Lian harus dikalahkan oleh seorang lawan.
Kalau ada lawan yang dapat merobohkan, maka orang itu harus berhadapan dengan peserta baru, begitu seterusnya sampai tidak ada penantang lagi.
Bukankah adil?" "Ha-ha, bagus.
Kalau begitu usul Sing Wangwe kuterima!" Dan ketika hartawan itu berhadapan dengan sahabatnya dan berkata setuju, sementara Tek Lian tersipu-sipu dengan wajah kemerahan dan sikap jengah, maka Sing Wangwe meloncat kegirangan dan turun ke bawah.
"Sing Kok, majulah.
Hadapi dan robohkan calon istrimu itu!" Sing Kok, pemuda di bawah, tersenyum bangkit berdiri.
Sang pemuda yang bertubuh kekar dan bermuka kepucat-pucatan ini mengangguk menyambut ayahnya.
Sungguh lain pemuda itu dengan ayahnya yang pendek gemuk.
Sing Kok adalah pemuda gagah dan gerak-geriknya yang ringan cekatan jelas menunjukkan dirinya bukan sebagai pemuda hartawan yang biasanya malas dan suka bersenang-senang.