Chapter 26
Pemuda itu diminta ayahnya untuk maju meminang jodohnya, hal yang segera disambut tepuk tangan dan kegembiraan oleh seluruh penonton di sana.
Ketika Sing Kok berjalan dan tiba-tiba melayang naik ke atas panggung yang jaraknya lima meter dengan tinggi setombak, para tamu bersorak melihat pemuda ini ternyata seorang ahli. Seruan nyaring "Tek-siocia" mulai bergema.
"Aku menuruti kehendak ayahku dan ingin bermain-main denganmu. Marilah, aku menjadi bersemangat setelah mengetahui syarat-syarat pertandingan ini. Majulah, dan aku akan merobohkanmu!"
Tek Lian membelalakkan mata. Tiba-tiba saja dia sudah ditantang tanpa rasa sungkan. Dia segera bergerak dan mencabut tongkatnya. Saat semua orang bertepuk tangan melihat sepasang muda-mudi gagah dan cantik itu berhadap-hadapan, Tek Lian mendengus dan berbisik, "Sing Kok, jangan sombong. Kaukah yang dikatakan ayahmu baru pulang mengembara dari utara? Hm, aku akan membungkam kesombonganmu. Cabutlah senjatamu dan mari kita mulai!"
"Srat!" Pemuda itu mencabut ruyung yang pendek namun kokoh.
"Senjataku adalah ini, Siocia. Tapi jika belum merasa perlu, biasanya aku tak pernah mempergunakannya terlebih dahulu. Majulah, aku akan menghadapimu dengan tangan kosong!"
"Apa? Kau menantangku?"
"Aku telah melihat kepandaianmu, Nona, dan aku merasa sanggup menghadapinya. Mulailah, ruyung ini kubuang dulu di situ!"
Sing Kok benar-benar membuang ruyungnya dan bersiap dengan tangan kosong. Tiba-tiba terdengar bentakan lawan yang melengking marah. Tek Lian merasa direndahkan dan gadis itu naik pitam. Begitu dia membentak dan menerjang ke depan, lawannya justru tersenyum. Tongkat di tangan Tek Lian menderu dan menghantam dengan dahsyat.
"Wherrr...!" Tongkat itu hanya menyambar angin. Tek Lian terkejut karena pemuda itu dengan mudah mengelak. Dia membentak dan menyerang lagi, namun berturut-turut pemuda itu mampu menghindar. Sing Kok lincah berkelit, sementara tongkat Tek Lian menghantam lantai panggung.
Penonton mulai bersorak karena pertandingan ini jauh lebih menarik. Tujuh serangan gadis itu luput sama sekali.
"Wut-wut...!" Tek Lian marah bukan main. Lawannya seolah mengejek dengan berseliweran naik-turun. Tek Lian yang merasa memiliki *ginkang* tingkat tinggi segera mengerahkan kemampuannya. Namun, pemuda itu tetap dapat mengimbanginya; tubuhnya berlebatan menyambar-nyambar bagai seekor burung garuda. Tek Lian terbelalak, lawannya ternyata sungguh hebat.
"Keparat!" pekik gadis itu. "Ayo balas seranganku, Sing Kok! Jangan hanya menghindar atau berlarian seperti pengecut!"
"Hm, begitukah?" pemuda itu tertawa. "Baik, Adik Lian. Awas balasanku dan hati-hatilah!"
Begitu pemuda itu berseru dan mulai membalas, Tek Lian terkejut karena tangan lawannya tiba-tiba tampak menjadi delapan. Gadis itu terpekik. Gerakan pemuda itu amat cepat hingga lengannya seolah berubah menjadi banyak.
Ji-sin-kai yang menonton tiba-tiba berseru kaget dan bangkit berdiri, disusul oleh suhengnya. Ketika Tek Lian terdesak dan menerima satu pukulan keras, tongkat di tangannya mencelat dan gadis itu terpelanting.
"Pat-sian Sin-kun (Silat Delapan Dewa)!" seru yang lain dengan terkejut.
Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio tampak mengangguk-anggukkan kepala. Mereka mengenali Pat-sian Sin-kun, ilmu silat Delapan Dewa yang legendaris. Tek Lian yang terdesak menjadi pucat pasi dan terus mundur. Satu gerakan pemuda itu mengakhiri pertandingan saat sebuah totokan hinggap di pundaknya.
"Robohlah...!" Tek Lian terbanting. Dia benar-benar roboh hanya karena sentuhan jari pemuda itu. Sing Kok, putra hartawan Sing Wang-we, telah mengalahkannya.
Saat Tek Lian terbanting, pemuda itu dengan cepat menyambarnya agar tidak membentur lantai. Tek Lian terisak dan menangis saat totokannya dibebaskan.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu malu!"
Tek Lian segera menyambar tongkatnya dan lari. Gadis itu merasa terpukul dan malu. Sementara itu, Sing Wang-we tertawa bergelak melihat kemenangan putranya. Dia berseru kepada Tek Wang-we bahwa mereka akan segera menjadi besan.
Namun, Ji-sin-kai melompat garang dan membentak bahwa itu belum merupakan kemenangan mutlak, karena pemuda itu masih harus menghadapi penantang lain. Pengemis itu menatap Sing Kok dengan muka merah padam.
"Kau murid si tua bangka Pat-jiu Sian-ong (Dewa Lengan Delapan)? Kau datang dari utara?"
Sing Kok terkejut melihat mata pengemis itu yang memerah. Karena tahu kakek itu adalah guru Tek Lian, Sing Kok menjura dan membungkuk penuh hormat.
"Locianpwe kiranya mengenal guruku. Benar, Siauwte adalah murid beliau."
"Hm, apa perintah gurumu kepadamu? Disuruh menantang Ji-sin-kai dan pamer kepandaian di depan orang?"
Pemuda itu terkejut. "Maksud Locianpwe?"
"Keparat! Aku tidak tahu kalau kau adalah murid si tua jahanam Pat-jiu Sian-ong. Karena kau adalah muridnya, syarat pertandingan ini kutambah: jika tidak ada penantang lain, kau harus mengalahkan aku!"
"Locianpwe!" teriak Tek Wang-we dan Sing Kok berbarengan.
Sing Kok kaget karena tiba-tiba harus menghadapi si kakek. Dia menyadari bahwa Ji-sin-kai memiliki dendam hebat terhadap gurunya. Namun, saat kakek itu tertawa dan mengejek apakah dia takut, wajah pemuda itu memerah. Sing Kok menggeleng sambil menahan geram.
"Aku tidak takut. Hanya saja, mengapa syarat ini baru ditambah sekarang? Bukankah seharusnya Locianpwe memberitahukannya sejak tadi?"
"Ha-ha! Tadi aku tidak tahu kalau kau murid Pat-jiu Sian-ong. Dia adalah musuhku! Karena gurumu pernah menghinaku, maka kau sebagai muridnya harus menanggung ini, mau atau tidak!"
"Tidak adil!" seru Beng Tan tiba-tiba. "Kau tidak memegang janjimu, Sin-kai. Urusan anak muda ini tidak seharusnya dikaitkan dengan urusan gurunya. Tua dengan tua, muda dengan muda. Seharusnya kau paham itu!"
"Eh!" kakek itu menoleh dengan marah. "Kau ikut campur, Pangcu? Apakah ingin mewakili anak muda ini? Jika begitu, majulah! Kita selesaikan urusan sesama orang tua!"
"Tidak," Beng Tan menggeleng. "Aku tidak ikut campur dalam urusan jodoh, Sin-kai. Hanya saja, urusan kebenaran tidak bisa dilepaskan oleh setiap pendekar yang menjunjung tinggi keadilan. Kau tidak menambahkan syarat ini sebelumnya, dan tidak pantas jika kau menambahkannya sekarang setelah semua berjalan!"
"Ha-ha! Kalau begitu kau saja yang maju, Hek-yan-pangcu. Kita selesaikan urusan ini dengan kepalan tangan. Ayo, aku menantangmu! Kau mewakili anak muda ini karena tampaknya takut dia akan kalah!"
"Hm!" Sebuah geraman tiba-tiba menggetarkan lantai panggung. "Jika kakek ini menantangmu, biarkan aku yang maju, Ayah. Akan kuhajar dia dan kupecahkan mulutnya!"
Semua orang kaget. Han Han, pemuda yang sejak tadi diam, mendadak bangkit berdiri. Dia tidak tahan melihat ayahnya ditantang. Dia menggeram dengan tatapan beringas bagai harimau haus darah. Siapa pun akan tergidik melihat sorot matanya yang dingin dan tidak bersahabat, tajam seperti Golok Maut.
Saat Beng Tan tersentak dan berusaha menarik puteranya agar duduk kembali, Ji-sin-kai yang gusar oleh hinaan itu tiba-tiba berkelebat dan melayangkan pukulan ke arah mulut Han Han.
"Kau bocah siluman tidak tahu adat!"
Beng Tan membentak dan berusaha melindungi putranya dengan menangkis pukulan tersebut. Namun, Han Han justru mendorong ayahnya dan menyambut pukulan itu dengan adu tenaga. Ji-sin-kai terlempar dan memekik hebat. Pemuda itu ternyata mengerahkan *Pek-lui-kang* atau Tenaga Petir dengan kekuatan penuh.
"Plak!" Kakek itu terguling-guling sambil muntah darah. Ji-sin-kai terbanting dan mengerang kesakitan. Hal ini menggegerkan semua orang. Toa-sin-kai segera melompat untuk membantu sutenya.
Beng Tan terkejut, sementara yang lain ribut melihat keganasan pemuda itu. Ji-sin-kai nyaris pingsan. Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio sangat terperanjat.
"Omitohud, ganas sekali...!"
"Siancai, sungguh tidak pantas dilakukan oleh putra Pek-jit Kiam-hiap yang gagah perkasa!"
Wajah Beng Tan pucat pasi. Dia menggigil dan merasa serba salah mendengar komentar tersebut. Eng Sian Taijin, tosu dari Kong-thong, serta Tiong Liang Hwesio menatap dengan penuh keheranan. Mereka tidak menyangka bahwa putra seorang ketua terkenal seperti Han Han bisa membalas dengan begitu ganas. Pemuda itu tidak terlihat seperti manusia, melainkan harimau haus darah yang buas.
Saat orang-orang sibuk menolong Ji-sin-kai, Beng Tan berkelebat untuk memeriksa keadaan pengemis itu. Dia merasa tidak enak hati atas keganasan serangan Han Han. Namun, baru saja ketua Hek-yan-pang itu membungkuk, sekonyong-konyong Toa-sin-kai menyambar leher bajunya. Pengemis itu membentak dan melayangkan bogem mentah ke wajah Beng Tan.
"Dess!" Beng Tan menangkis dengan telapak tangan. Pukulan mendadak yang dilancarkan dengan amarah itu hampir saja mengenai wajahnya. Beruntung Beng Tan adalah orang yang waspada; begitu leher bajunya disambar, dia segera bereaksi. Toa-sin-kai melotot karena merasakan tenaga tolak yang besar, panas, dan membakar dari telapak tangan Beng Tan. Pengemis itu benar-benar terkejut.