Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 27

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 27

Dan ketika dia cepat menarik tangannya dan berseru keras, pengemis itu mencabut tongkatnya. Namun, Beng Tan berkata, "Tahan, aku tak bermaksud memusuhimu, Sin-kai. Aku datang untuk melihat adikmu!" Ia mengeluarkan sebutir obat untuk diberikan kepada lawan. Pendekar itu berkata lagi, "Jisin-kai terkena Pek-lui-ciang. Berikan ini kepadanya, dan lima menit tentu sembuh!" "Aku tak perlu itu!" Toa-sin-kai tiba-tiba membentak geram, langsung mengebut, dan mementalkan obat di tangan Beng Tan.

"Aku perlu tanggung jawab puteramu, Pangcu. Atau kau sebagai ayahnya mempertanggungjawabkan ini dan menghukum puteramu!" "Hm," Beng Tan berkerut kening. "Masalah puteraku tentu kutegur, Sin-kai. Tapi harap kau ketahui bahwa semuanya itu bermula dari sute-mu. Kalau sute-mu tidak menyerang dan menghantam aku, tentu puteraku yang bermaksud melindungi dan membela ayahnya tak akan menangkis. Semua orang tahu itu. Dan itu bersumber dari ketidakadilan Pibu yang diatur sute-mu!" "Hm, tak usah menggurui. Pokoknya aku menuntut ini, Pangcu, bahwa puteramu harus dihukum, atau kau maju melawanku. Marilah, aku tidak takut!" Semua orang geger. Toa-sin-kai telah mencabut tongkatnya, dan ketua Hek-yan-pang itu terang-terangan ditantang. Beng Tan harus maju atau mendapat malu.

Tetapi ketika pendekar itu merah padam dan marah mendengar tantangan, tiba-tiba Tiong Liang Hwesio berkelebat maju mengebutkan ujung lengan jubahnya. "Omitohud!" Hwesio itu mengeluarkan pujian. "Pinceng terpaksa mencampuri sedikit, Sin-kai. Apa yang dikatakan Hek-yan-pangcu ada benarnya, dan urusan ini sebaiknya ditunda dulu. Arena mencari jodoh harus dilanjutkan; Sing-kongcu menunggu. Kalau belum selesai lalu ditindih urusan ini, tentu kacau. Sebaiknya kau mundur dan suruh saja Han-kongcu itu melawan Sing-kongcu!" "Hm, benar!" Eng Sian Taijin tiba-tiba berkelebat pula, menunjang. "Apa yang dikatakan rekan Tiong Liang lo-suhu tidak salah, Sin-kai. Suruh saja Han-kongcu itu menghadapi Sing-kongcu. Kalau sudah, baru urusanmu dihidupkan lagi!" Ia berbisik bahwa tidak baik memiliki dua musuh sekaligus, karena Sing-kongcu adalah murid Pat-jiu Sian-ong, sementara itu adalah juga musuh pengemis ini. Maka Eng Sian Taijin menyadarkan sahabatnya, yang tiba-tiba tertegun. "Kau tentu tahu," bisikan itu menyelinap lagi, "menghancurkan satu di antara mereka berarti sudah melampiaskan sebagian dendam, Sin-kai. Temukan saja mereka itu dan adu seperti ayam jago berlaga!" Sang pengemis mengangguk. Akhirnya dia setuju dan mau dibujuk.

Beng Tan mengerutkan kening karena tiba-tiba dia menjadi tidak senang kepada Eng Sian Taijin ini. Puteranya mau diadu domba. Tetapi karena Toa-sin-kai mau mundur dan itu sudah cukup, maka apa boleh buat dia menghadapi puteranya karena tiba-tiba semua orang berseru bahwa itu memang baik. Pibu mencari jodoh harus dilanjutkan lagi, sementara yang lain-lain nanti belakangan. "Bagaimana?" Sang ayah akhirnya berkelebat ke tempat duduknya lagi. Toa-sin-kai menolong sutranya sendiri. "Kau ditantang menghadapi pemuda itu, Han Han. Tapi nanti kita harus berhati-hati terhadap kakek pengemis itu dan teman-temannya!" "Hm, aku tak takut!" Han Han bangkit berdiri. "Tapi aku bukan hendak merebut diri Tek-siocia, ayah. Aku akan bertanding karena semata disuruh. Aku akan menghadapi pemuda itu dan biar dia kurobohkan!"

Dan berkelebat tak menunggu jawaban ayahnya lagi, tiba-tiba Han Han sudah berdiri di atas panggung. Sinar matanya berkilat-kilat dan mencorong mengerikan, berseru, "Toa-sin-kai, apa yang kau ingini akan kulaksanakan di sini. Tapi ketahuilah, aku tidak bermaksud menerima Tek-siocia, meskipun aku menang. Dan karena kau rupanya penasaran oleh tindakanku tadi, maka kaupun boleh maju kalau pertandinganku sudah selesai!" Gemparlah semua orang. Beng Tan sendiri sampai pucat mendengar kata-kata puteranya itu. Tak disangkanya Han Han akan sedemikian blak-blakan dan keras, bahkan cenderung sombong. Dan karena pemuda itu berkeyakinan menang dan merendahkan Sing Kok, maka putera Sing-wangwe atau murid Pat-jiu Sian-ong yang mendengar itu juga sampai merah padam mukanya, berketruk, menggigil, dan marah bukan main, dan bergeraklah pemuda itu di hadapan Han Han.

Toa-sin-kai mau membentak, tetapi kalah dulu oleh putera hartawan Sing itu. Karena begitu melayang dan naik ke atas panggung, maka Sing Kok sudah mengeluarkan bentakan nyaring, "Orang she Beng, kau benar-benar keliwat menghina dan sombong. Yakinkah kau bahwa kau dapat memenangkan aku? Yakinkah kau bahwa aku dapat kau robohkan?" "Hm!" Han Han menjengek. "Aku she Ju, orang she Sing. Namaku Beng Han. Kalau aku berkata bahwa aku dapat merobohkanmu, maka hal itu pasti dapat kulakukan. Nah, majulah, dan lihat berapa jurus kau pertunjukkan!" Sing Kok marah sekali. Pemuda ini sampai menggigil dan tak dapat berkata-kata. Suaranya tercekik di kerongkongan saking hebatnya hinaan itu baginya. Namun begitu Han Han selesai bicara, mendadak dia menerjang dan menghantam lawannya itu. "Dess!" Han Han menangkis. Pemuda ini tidak mengelak, dan Pek-lui-ciang pun menyambar. Hawa panas berkelebat dan sinar putih pun meluncur dari tangannya. Sing Kok terkejut dan berseru tertahan, mundur terhuyung.

Tetapi karena itu baru gebrakan pertama dan ini tentu saja bukan berarti dia kalah, maka murid Pat-jiu Sian-ong itu membentak lagi. Di sini suara pukulan-pukulan beradu mulai terdengar menggetarkan lantai panggung. Han Han dirangsek, tetapi pemuda itu dapat bertahan. Lawan penasaran, dan akhirnya bergeraklah pemuda itu lebih cepat untuk mendesak Han Han. Dan ketika suara "dakduk" mulai menggetarkan orang-orang di bawah dan Han Han mengimbangi lawan dengan kecepatan yang sama, maka dua pemuda itu akhirnya bergerak dan saling belit untuk kemudian lenyap membentuk bayangan naik turun yang sama-sama mendebarkan. "Bagus, lihai sekali. Hebat...!" Seruan-seruan mulai berhamburan. Han Han sebagai pemuda yang bertahan, sementara lawan yang mencoba untuk terus mendesak.

Tetapi karena Han Han dapat berkelit lincah dan setiap pukulan-pukulan yang tidak sempat dielak selalu ditangkis dan menggetarkan lawan, maka tampaklah bahwa meskipun sebagai penyerang, sesungguhnya murid Pat-jiu Sian-ong itu bukan tandingan Han Han. Akibatnya pemuda ini menjadi frustrasi dan Sing Kok marah bukan kepalang. Orang di bawah tak melihat betapa kedua lengan pemuda ini mulai merah kehitam-hitaman, bahkan akhirnya bengkak, tak tahan menerima pukulan-pukulan Han Han yang mempergunakan Pek-nya itu. Dan ketika Pukulan Petir mulai ditambah dan Sing Kok berteriak, maka barulah orang melihat ketika pemuda itu menjerit dan terbanting di atas lantai. "Dess!" Han Han melakukan dua gerak menyilang yang mengejutkan lawan. Sing Kok terkejut dan menangkis, tetapi apa lacur dia sudah kesakitan oleh pukulan-pukulan terdahulu. Maka begitu Han Han menambah sinkangnya dan lawan menjerit, maka Sing Kok sudah bergulingan di lantai panggung dan mengaduh-aduh dengan kedua lengan terbakar!

"Aku belum kalah!" pemuda itu tiba-tiba berteriak. "Aku masih memiliki senjata, bocah sombong. Dan mari lihat permainan ruyungku!" Ia meloncat bangun menyambar ruyungnya, senjata yang tadi diletakkan di sudut. Maka pemuda ini sudah menerjang dan kalap menyerang Han Han. Kini murid Pat-jiu Sian-ong itu harus dibantu ruyungnya untuk mengalahkan Han Han. Tangan sudah tak kuat untuk diadu keras sama keras, akibatnya pemuda itu mempergunakan senjata untuk menggantikannya. Tetapi ketika Han Han mengelak sana-sini dan serangan-serangan ruyung luput mengenai angin, maka Sing Kok terbelalak dan marah bukan main, menyuruh lawan mengeluarkan senjata, tetapi Han Han mendengus mengejek. Pemuda itu tertawa, dan tawanya yang dingin mendirikan bulu roma. Lalu ketika ruyung menyambar dahsyat dan Han Han disuruh menangkis, maka pemuda ini bergerak dan satu gerakan tangan kirinya tiba-tiba membuat ruyung patah.

"Cukup, sekarang kau robohlah!" Ruyung yang mencelat tiga potong tiba-tiba disusul teriakan Sing Kok yang terlempar dari atas panggung, tak mampu menguasai diri lagi. Karena begitu Han Han mengerahkan Pek-lui-kang-nya, maka sinar putih meledak menghantam ruyung, terus menyambar pemuda itu, dan terpelantinglah Sing Kok dengan jeritan tinggi. Dan ketika pemuda itu terbanting dan roboh di bawah, pingsan, maka keributan tiba-tiba terjadi ketika sorak dan tepuk tangan riuh menyambut kemenangan Han Han ini. "Hebat, luar biasa. Sing-kongcu kalah...!" Sing-wangwe pucat. Hartawan itu melihat kekalahan puteranya dan robohnya Sing Kok membuat hartawan ini buru-buru berlari. Langkahnya yang pendek-pendek sungguh lucu untuk dipandang. Tetapi ketika hartawan itu menubruk dan menangisi puteranya, menggerung-gerung, maka lagi-lagi Beng Tan berkelebat dan melihat korban puteranya itu.

"Jangan khawatir, telankan pil ini kepada puteramu!" Sang hartawan tertegun. Dia melihat ketua Hek-yan-pang itu mengurut dan menotok tubuh puteranya, tiga kali mengusap dada, dan kini mengeluarkan sebutir obat untuk puteranya. Dan karena dia bukan Toa-sin-kai, dan uluran itu disambut gembira, maka Sing-wangwe menyambar dan cepat-cepat memberikannya kepada puteranya. Beng Tan melihat bahwa korban puteranya ini tak sehebat Ji-sin-kai. Karena kalau kakek itu masih belum siuman sampai sekarang, adalah pemuda ini tiba-tiba bergerak dan membuka mata begitu menelan obatnya. Tetapi ketika pemuda itu melihat siapa yang datang, tiba-tiba dia berteriak dan menghantam Beng Tan. "Kau pun manusia jahat!" Beng Tan batuk-batuk. Tentu saja dia mengelak dan tidak menangkis pukulan ini, tahu pemuda itu marah besar, tetapi dia bukanlah Han Han. Maka ketika Sing Kok menyerang lagi dan bangkit meloncat bangun, terhuyung, mendadak pendekar ini menepuk pundak si pemuda seraya berkata, "Sing-kongcu, aku bukan musuhmu. Kembalilah, dan jangan ke sini lagi!" Dan ketika pemuda itu menjerit karena tepukan lawan bukan sembarang tepukan, melainkan memencet jalan darah di pundak, maka pemuda itu roboh dan jatuh terduduk.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment