Chapter 28
Sing-wangwe segera berseru bahwa Beng Tan justru menolongnya, memberi obat dan menyadarkannya dari pingsan.
Dan ketika pemuda itu tertegun dan membelalakkan mata, mengeluh, maka ayahnya sudah buru-buru mengangkat bangun putranya ini untuk diajak pergi.
"Jutaihiap benar, kita harus pulang."
Mari, kembali, dan Sing Kok menyeringai. Pemuda ini menahan sakit dan apa boleh buat dia harus menderita kekalahan. Sorak dan tepuk tangan riuh tak dihiraukannya.
Tapi ketika dia dipapah dan hampir mendekati pintu keluar, tiba-tiba dia mendesis dan mengancam Beng Tan bahwa perbuatan Han Han akan dibalasnya bersama gurunya.
"Kekalahan hari ini kuterima, tapi aku akan datang lagi menuntut balas. Awas kalian, ayah dan anak!" Beng Tan menarik napas. Setelah putranya merobohkan musuh, maka tiba-tiba dia menjadi tak nyaman. Bukan takut, melainkan semata tak senang mengikat permusuhan.
Tapi karena semuanya itu bukan putranya yang mulai dan Han Han hanya menerima dan melayani tantangan, maka di atas panggung terdengar bentakan. Toa-sin-kai berkelebat dan sudah menghadapi putranya.
"Bocah, kau hebat. Tapi aku menerima tantanganmu. Nah, majulah. Mari kita bertanding dan lihat siapa yang roboh!" Sang ayah terkejut.
Untuk kesekian kalinya lagi, tiba-tiba dia melihat putranya siap bertempur. Toa-sin-kai berapi-api dan tongkat di tangan kakek itu bergetar hebat, tanda betapa kemarahan tak dapat ditahan lagi oleh kakek itu.
Maka begitu putranya ditantang dan kakek pengemis itu siap menyerang, penonton tiba-tiba berhenti bersorak. Mendadak Beng Tan berkelebat ke atas dan berseru nyaring, "Tahan, sebaiknya hentikan semuanya ini, Sin-kai. Jangan layani kekanak-kanakan sikap puteraku dengan cara serius!" dan berdiri menghadang di depan putranya.
Beng Tan pun lalu mendorong mundur, berkata, "Han Han, jangan mengundang permusuhan dengan siapapun. Kalau ingin pibu boleh pibu, tapi jangan dilandasi dendam!"
"Hm!" sang pengemis melotot. "Apa maksudmu, pangcu? Kau takut putramu terbunuh?"
"Tidak," Beng Tan menggeleng, penuh keyakinan diri. "Bukan begitu, Sin-kai, melainkan semata mencegah jatuhnya korban yang lebih parah. Aku tak ingin puteraku bersikap kejam dan telengas. Aku minta maaf dan sebaiknya semua ini dibatalkan!"
"Apa?" Toa-sin-kai mendelik. "Dibatalkan? Setelah dia membuat adikku pingsan dan belum sadar? Keparat, enak saja kau bicara, Hek-yan-pangcu. Kalau kau takut putramu maju, biarlah kau yang melayaniku dan aku tak mau sudah sebelum bertanding!"
"Hm," Beng Tan bersinar matanya, masih menahan diri. "Sutemu pingsan karena kau tak mau menerima obat penolongku, Sin-kai. Kalau tidak, tentu dia sudah siuman dan tak akan begini. Kau jangan mendesak..."
"Aku tetap akan mendesak!" sang pengemis membentak, memotong marah. "Kecuali kalau kau berlutut dan minta ampun di depan kakiku, pangcu, juga putramu itu!"
Beng Tan menjadi marah. Akhirnya si pengemis telah mengeluarkan kata-kata menghina dan Han Han di belakangnya tiba-tiba menggeram maju. Putranya itu tak tahan dan sudah mendorong ayahnya, Beng Tan disuruh minggir!
Dan ketika Beng Tan terkejut, namun putranya sudah berhadapan dengan lawannya itu, maka Han Han membentak, balas memaki pengemis itu.
"Sin-kai, tak perlu banyak cakap. Aku ada di sini, tak perlu perlindungan ayahku. Ayo majulah, dan gerakkan tongkatmu!" dan ketika si pengemis mendelik dan melotot gusar, tiba-tiba sang pengemis sudah membentak dan menghantam maju.
Toa-sin-kai memang paling marah kepada pemuda ini. Han Han telah membuat sutenya pingsan sampai belum sadarkan diri, padahal kejadian sudah berlangsung sekian lama. Jadi jelas pukulan pemuda tadi terlalu dahsyat dan amat tak diduga, karena memang sutenya tak menduga bahwa untuk pukulan pertama tiba-tiba Han Han sudah membalasnya begitu kuat, sepenuh tenaga.
Maka begitu pemuda itu mendorong ayahnya dan Beng Tan tak kelihatan mencegah, marah karena Toa-sin-kai menghinanya di depan orang banyak, maka begitu ditantang, sekonyong-konyong pengemis ini menggerakkan tongkatnya dan menghantam Han Han.
"Dess!" Han Han menangkis. Semua orang melihat pengemis itu mencelat tinggi dan suara yang menggetarkan membuat lantai panggung berderak. Toa-sin-kai berteriak tinggi, sementara Han Han hanya terdorong setindak, tanda betapa hebat pukulan si pengemis tadi, tapi Han Han juga mengerahkan segenap kekuatannya.
Rupanya, tahu bahwa pemuda itu orang yang berdarah dingin dan Han Han tak segan-segan mengerahkan semua tenaganya untuk membalas, maka Toasin-kai juga menghantam dan menyerang pemuda ini dengan sepenuh tenaganya pula.
Tapi si pengemis tetap kaget. Han Han menangkisnya dengan tenaga yang luar biasa dan dia bersama tongkatnya terpental ke atas, merasakan benturan yang amat dahsyat dan pengemis ini tentu saja berteriak. Berhadapan langsung dengan Han Han, tiba-tiba saja dia tahu bahwa pemuda itu memang pemuda luar biasa, tenaganya tidak main-main dan kaget bukan main hati pengemis ini bahwa dia masih kalah, padahal dia sudah mengerahkan segenap tenaganya!
Tapi karena Toa-sin-kai bukan pengemis biasa dan tenaga tolak yang membuatnya terpental cepat dielak dengan jalan berjungkir balik, maka begitu dia melengking dan melayang turun, tiba-tiba tongkatnya kembali bergerak dan menghantam.
"Dess!" Han Han memutar tubuh setengah lingkaran. Pengemis itu dengan cerdik memutar pula tongkatnya di tengah jalan, tadi menuju ke pundak tapi tiba-tiba ke kepala. Toa-sin-kai mempergunakan jurus yang disebut Tongkat Menyabet Buntut, satu gerak tipuan karena itulah yang dia inginkan dari lawannya ini, mengira serangan menuju pundak tapi sebetulnya menyambar kepala, dahsyat dan tongkat di tangan bersiut saking hebatnya kakek ini mengerahkan tenaga.
Tapi ketika Han Han memutar tubuh dan otomatis tongkat berhadapan langsung, tidak lagi dari samping atas seperti tadi, maka begitu menyambar kepala, hal ini malah kebetulan karena Han Han menangkis dengan tinjunya. Dan begitu tongkat terpental lagi dan balik menyambar kepala si kakek, yang tentu saja disambut seruan keras si pengemis sakti, maka Han Han membalas dan berkelebat menampar kakek itu.
"Plak!" Si pengemis jungkir balik. Toa-sin-kai mengeluarkan teriakan keras dan kakek itu mengaduh-aduh. Tulang pundaknya serasa remuk tapi untung tak hancur, karena dia telah melindungi pundaknya tadi dengan sinkang. Tapi begitu dia terbalas dan tamparan lawan membuatnya jungkir balik, padahal baru sekali membalas, maka kakek ini pucat dan menggereng bagai seekor beruang luka.
Toa-sin-kai merasa malu karena baru segelintir saja dia telah dibuat jatuh bangun. Tadi dia tak sempat menangkis karena gerakan Han Han amatlah cepatnya. Dia sendiri baru menahan tongkat yang menyambar kepalanya, jadi sibuk dengan urusan sendiri. Maka begitu Han Han berkelebat dan si kakek mendapat tamparan, maka terpelantinglah kakek itu dan Toa-sin-kai pucat karena tulang pundaknya serasa disambar api, maklum bahwa itulah pukulan Pek-lui-kang, Pukulan Petir!
"Keparat, aku akan membunuhmu, anak muda. Aku akan mengunyahmu bulat-bulat. Awas... haiittt!" dan si kakek yang tak tahan oleh semuanya itu tiba-tiba melesat dan telah berkelebat cepat mengurung dengan tongkatnya. Han Han berkelit ke sana-sini, namun si kakek mengejar. Kegeraman dan kemarahan kakek ini tak dapat dibendung lagi.
Dan ketika dua putaran tongkat meliuk dan menari bagai naga berebut mustika, maka Han Han menerima gebukan dahsyat yang membuat lantai panggung melesak.
"Des-dess!" Penonton membelalakkan mata. Han Han terhuyung namun tidak apa-apa, pundaknya berubah seperti karet mobil yang membuat tongkat membalik, membal. Tapi ketika si pengemis berteriak lagi dan sambaran atau pukulan bertubi-tubi mengejar pemuda ini, maka sekejap kemudian Han Han sudah terkurung dan terdesak hebat, menangkis dan menerima gebukan-gebukan tanpa mampu membalas.
Toa-sin-kai berteriak bagai orang kesetanan dan ilmu silat tongkat Koaitung (Tongkat Gila) mengitari pemuda ini. Ke manapun Han Han bergerak, ke situ pula tongkat di tangan si pengemis memburu. Akibatnya Han Han benar-benar terkurung dan tak dapat melepaskan diri.
Tapi ketika setiap gebukan atau sambaran tongkat selalu disusul oleh mentalnya tongkat itu, karena Han Han kebal dan melindungi diri dengan sinkang, maka lawan membelalakkan mata dan marah bukan main karena pemuda itu benar-benar tangguh, tak dapat dirobohkan!
"Keparat, setan belang. Mampus kau, bocah. Mampus.... wuuttt!" dan tongkat yang dilepas dan meluncur dari tangan si kakek tiba-tiba menyambar dan menuju mata pemuda ini. Sinkai telah mempergunakan jurus nekatnya untuk mengadu jiwa. Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio sampai berteriak kaget dan berdiri dari tempat duduknya, begitu pula Beng Tan, yang berteriak dan memperingatkan putranya akan serangan mengadu jiwa.
Tapi ketika Han Han mendengus dan menggerakkan pinggang, membungkuk setengah badan, maka tongkat yang menyambar mata lewat di atas dan secepat kilat pemuda itu mengebut dan tongkat pun hancur.
"Krakk!" Penonton pun berteriak memuji. Han Han telah menghancurkan tongkat yang berantakan seperti bubuk, debunya menyambar sana-sini tapi Han Han tidak berhenti sampai di situ saja. Karena ketika penonton berteriak dan Toasin-kai tertegun, bengong, maka saat itulah Han Han berkelebat dan menendang pengemis ini dengan satu tendangan maut setengah melingkar, menuju dada.
"Jangan...!" bentakan itu disusul oleh berkelebatnya sesosok bayangan yang luar biasa cepatnya. Beng Tan yang melihat putranya hendak membunuh lawan, dengan tendangan Petir tiba-tiba berteriak dan melesat ke depan. Toa-sin-kai sedang bengong dan pengemis itu pasti roboh dengan dada hancur. Han Han mengerahkan segenap kekuatannya di tumit kaki dan hanya orang-orang seperti Beng Tan itu yang tahu betapa dahsyatnya tumit kaki yang sedang digerakkan sepenuh tenaga ini. Biarpun Sin-kai melindungi dadanya, tetap pula dia tak tahan, karena Han Han jelas memiliki sinkang yang jauh lebih kuat daripada kakek itu.