Chapter 29
Maka begitu melihat putranya menendang dan tendangan itu pasti membinasakan Toa-sin-kai, hal yang tidak dikehendaki pria ini, Beng Tan berkelebat. Apa boleh buat, dia menggerakkan kakinya menendang pula, mengadu tumit dengan tumit, sama-sama mengerahkan tendangan Petir.
"Dess!" Sisa panggung ambruk dan jebol.
Dentuman keras meledak di situ dan semua orang berteriak tertahan.
Yang dekat dengan panggung tiba-tiba terlempar.
Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio sendiri harus mencelat dari tempat duduknya kalau tidak mau terlempar.
Mereka terkejut dan berseru keras ketika panggung berhamburan ke sana-sini, pecah berantakan.
Atapnya menimpa mereka dan tentu saja hal ini membuat yang lain menjerit.
Tempat itu seakan diseruduk gajah yang sedang gila saja.
Dan ketika pekikan dan teriakan terdengar di mana-mana, Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio tertegun karena tidak melihat ayah dan anak, yang seolah-olah hilang dan lenyap begitu saja di tengah-tengah panggung, ketika mereka berjungkir balik.
"BRESS!" Dua tumpukan papan tiba-tiba dipukul orang.
Dari bawah tiba-tiba muncul dua tubuh laki-laki itu, pemuda dan ayahnya.
Dan ketika Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio terkejut karena itulah Beng Tan dan anaknya, ketua Hek-yanpang itu pun membentak, "Han Han, jangan membunuh orang. Tahan keberingasan dirimu!" Ketika pendekar itu meloncat dan berjungkir balik dari timbunan lantai panggung, Han Han sendiri juga sudah meloncat dan berjungkir balik melepaskan diri, hinggap dan melayang turun jauh dari tempat semula.
Panggung itu beserta atapnya sudah tidak dapat dipergunakan lagi.
Lucu dan juga menyedihkan ketika melihat puluhan orang lain kini merangkak dan merintih-rintih dari lantai panggung yang menimpa mereka.
Itulah para tamu yang tidak sempat menyelamatkan diri ketika panggung runtuh.
Mereka tertimbun dan terkubur hidup-hidup.
Tapi ketika semua keluar dan merangkak satu per satu, hanya menderita lecet-lecet atau luka ringan, Eng Sian Taijin yang terbelalak dan diam-diam ngeri melihat kedahsyatan Han Han sudah melihat Pek-jit Kiam-hiap atau si Pendekar Berpedang Matahari mencengkeram dan menepuk pundak putranya, yang masih kelihatan beringas dan mata bersinar-sinar.
"Han Han, sadarlah. Atau kau akan berhadapan dengan ayahmu... plak!" Han Han tergetar, sadar, dan cepat menghilangkan semua kemarahan dan tenaganya ketika ayahnya itu mencengkeram dan menepuk pundak.
Getaran tenaga sakti pemuda itu sudah dibuyarkan dan Beng Tan khawatir sekali akan anaknya ini.
Han Han seperti harimau haus darah, mau menerkam dan rupanya siap menggigit siapa saja.
Tapi ketika pendekar itu melihat wajah putranya sudah kembali biasa dan mata yang mencorong bersinar-sinar itu tidak kelihatan beringas seperti tadi, Han Han pun tiba-tiba berlutut dan menjatuhkan diri di depan ayahnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud membunuh siapa pun, Ayah. Kalau aku juga tidak diancam musuh. Aku menyesal, tapi harap Ayah berlaku adil dengan melihat siapa yang salah dan siapa yang benar."
"Bangunlah!" Sang ayah tahu.
"Aku mengerti apa yang kau maksud, Han Han. Tapi tidak selayaknya kita melakukan pembunuhan di tempat pesta. Cepat minta maaf kepada Tek-wangwe dan kita pulang!"
Han Han menarik napas. Sekarang dia sudah menekan semua hawa anehnya yang tadi tiba-tiba naik ke kepala.
Entahlah, melihat lawan yang tidak tahu diri dan sombong macam Toa-sin-kai tadi tiba-tiba ada semacam hawa membunuh yang naik ke kepalanya, setelah pengemis itu melontarkan tongkat.
Kalau dia tidak berkepandaian tinggi dan mampu menghancurkan serangan lawan, tentu dia sudah roboh tinggal nama.
Pengemis itu tidak tahu diri dan patut dihajar.
Untung ada ayahnya sehingga tendangannya tadi ditangkis dan digagalkan ayahnya pula.
Dan ketika pemuda itu mengangguk dan bangun berdiri, Tek-wangwe yang terbelalak dan merah pucat berganti-ganti cepat-cepat menyambut pemuda ini dengan ngeri.
"Wangwe, aku minta maaf. Selamat tinggal dan biar lain kali kuperbaiki tempatmu yang berantakan ini."
"Ah, tidak... eh, tidak apa-apa! Aku, ah... aku tidak perlu minta ganti, Kongcu. Biarlah kuperbaiki sendiri dan sampai ketemu lagi!"
"Dan maafkan kalau pestamu menjadi kacau, Wangwe. Biarlah lain kali putraku diam di rumah dan aku bersama istriku saja," Beng Tan menyusul, membungkuk dan memberi hormat di depan tuan rumah mengiringi putranya.
Sang hartawan buru-buru membalas dan gugup serta kacaulah perasaan hartawan ini.
Han Han tidak disangka begitu ganas dan mirip harimau yang tidak boleh diganggu.
Sekali diganggu akan mengaum dan menerkam siapa saja, tidak peduli tokoh-tokoh terhormat atau orang biasa.
Tapi ketika ayah dan anak meminta diri dan semua memandang dengan ngeri, gentar, tiba-tiba terdengar angin bercuit dan sebatang pisau belati menyambar Han Han dari belakang.
"Plak!" Sang ayah menangkis dan meruntuhkannya.
Han Han diam saja seolah-olah tidak tahu, padahal pemuda itu sudah siap bergerak dan mengebutkan lengan.
Sekali hal itu terjadi, tentu pisau akan membalik dan mengenai penyambitnya, tidak boleh tidak.
Berarti sebuah jiwa akan melayang, tapi Beng Tan yang ada di samping putranya sudah menangkis dan meruntuhkan pisau itu.
Dan ketika ayah dan anak membalik dan melihat siapa pelemparnya, ternyata di sana berdiri tertegun Ji-sin-kai, pengemis yang rupanya sudah sadar, sute atau adik dari Toa-sin-kai.
"Hm!" Pendekar ini merah mukanya.
"Beginikah sikap seorang ksatria, Ji-sin-kai? Menyerang dan pengecut melempar pisau dari belakang? Kalau putraku yang menangkis, tentu kau bakal roboh tidak bernyawa. Bersikaplah jantan dan jujur kalau masih tidak puas. Tempat tinggalku tentu boleh kau datangi sewaktu-waktu dan melanjutkan pertandingan dengan jujur. Maaf, aku tidak menghendaki keributan di sini dan pisaumu kukembalikan lagi.... Crit!" Pisau itu tiba-tiba ditendang, mencelat, dan menyambar Ji-sin-kai, dan orang-orang terkejut karena mengira pisau itu akan menancap di leher si pengemis.
Memang dari jauh pisau itu tampaknya menyambar leher.
Ji-sin-kai mengelak, namun ajaib sekali pisau itu mengikutinya, seolah bernyawa.
Dan ketika pengemis itu berseru kaget dan meloncat ke belakang, menumbuk dinding, pisau menancap di samping lehernya dan memantek lebih dari separuh!
"Ahh...!" Semua orang berseru tertahan.
Ji-sin-kai sendiri menjadi pucat dan ngeri serta gentar.
Ternyata ketua Hek-yanpang itu kalau sudah mau mengeluarkan kepandaiannya, sungguh tidak boleh dibuat main-main. Dia jelas bukan tandingan pendekar itu, harus tahu diri!
Maka ketika pengemis ini tertegun merah dan seluruh rasa malu membuat wajahnya seperti kepiting direbus, Beng Tan pun sudah membalik dan berkelebat menyambar lengan putranya.
Untuk selanjutnya, pendekar itu tidak ada lagi yang berani coba-coba.
Sekali pukul membuat Ji-sin-kai malu hebat sudah cukup membuat orang-orang lain gentar.
Ketua Hek-yanpang itu memang pantas disebut sebagai pendekar pilih tanding.
Putranya saja sudah begitu hebat!
Dan ketika semua orang diam membelalakkan mata, dan Eng Sian Taijin maupun Tiong Liang Hwesio hanya berulang-ulang mengeluarkan seruan perlahan, pesta Tek-wangwe pun berakhir dengan segala kehebatan ayah dan anak itu.
Dan begitu semua pulang dan kembali ke tempat masing-masing, Beng Tan pun di sana sudah terbang membawa kembali putranya ke markas.
"Apa kabar? Bagaimana dengan pesta Tek-wangwe?" Swi Cu menyambut suami dan anaknya itu dengan wajah berseri-seri.
Dia baru saja melihat mereka datang dan memasuki halaman, disambut, dan suami serta anaknya dipeluk.
Tapi ketika wajah suami maupun putranya muram, tidak menunjukkan kegembiraan, Swi Cu pun terkejut dan berdebar merasa ada sesuatu yang terjadi.
"Kalian bertengkar?" Wanita itu melanjutkan. "Ada apa dan kenapa murung?"
"Hm," Beng Tan melepaskan dirinya dari pelukan sang istri. "Aku capai, Nio-cu. Biarlah aku istirahat dulu dan Han Han rupanya juga capai," dan memandang putranya, pendekar ini berkata, "Tinggalkan kami, Han Han. Istirahatlah dan kembali ke kamarmu."
Han Han mengangguk. Sang ibu memberi ciuman dulu sebelum pemuda itu berkelebat.
Han Han tergetar sejenak oleh kasih dan sikap ibunya ini.
Sejak dulu ibunya selalu begitu, memberi cium sayang di pipi, meskipun dia kini sudah dewasa dan berusia dua puluhan tahun!
Tapi ketika pemuda itu meninggalkan ayah dan ibunya dan Beng Tan mengajak istrinya ke kamar, pendekar itu mendesah melempar tubuhnya di pembaringan.
"Sesuatu yang hebat terjadi. Pesta di tempat Tek-wangwe kacau!"
"Kacau?" Sang istri tertegun. "Maksudmu ada orang jahat di sana, suamiku? Dan kau bersama Han Han menghajarnya?"
"Hm, benar. Tapi aku melihat sesuatu yang mengkhawatirkan di diri anak kita itu. Han Han hampir membunuh orang, kejam dan dingin!"
"Ceritakan padaku!" Sang istri terkejut. "Bagaimana bisa begitu, suamiku? Dan apa yang terjadi?"
"Kau kenal Huang-ho Coa-li? Kau kenal Pat-jiu Sian-ong? Kau dengar nama-nama Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai?"
"Ah, Huang-ho Coa-li wanita iblis. Sedang Pat-jiu Sian-ong maupun Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai adalah orang-orang aneh yang berkepandaian tinggi! Apakah kau bentrok dengan mereka?"
"Hm, Han Han telah berkenalan dengan mereka, istriku. Dan tiga di antaranya dihajar habis-habisan. Anak kita itu telah menanam bibit permusuhan, meskipun dia tidak salah!"
Swi Cu pucat. Mendengar suaminya bercerita itu, tiba-tiba dia minta diteruskan, bagaimana hal itu bisa terjadi dan siapakah tiga yang telah menjadi korban itu.
Dan ketika Beng Tan mulai bercerita selengkapnya dan apa yang terjadi diceritakan kepada sang istri, Swi Cu pun tertegun dan berkali-kali mengeluarkan seruan tertahan.
"Sing Kok, murid Pat-jiu Sian-ong itu dipukul roboh. Dan Toa-sin-kai serta Ji-sin-kai pun dihajar keras oleh Han Han. Aku ngeri melihat sepak terjang anak kita itu, Cu-moi. Aku melihat betapa ganas dan kejamnya putra kita itu, kalau sudah dibuat marah!"
"Hm, persis siapa? Apakah Si Golok Maut?" Beng Tan tertegun.