Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 30

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 30

Sang istri menangis dan menahan sedu sedan. Tiba-tiba cerita dari suaminya itu membuat wanita ini kembali membenci Han Han. Kasih dan sayangnya yang tadi ada tiba-tiba musnah kembali, terganti kemarahan dan kebencian karena semua cerita itu dibayangkannya sebagai perbuatan mendiang Si Golok Maut, Sin Hauw, yang memang kejam dan tak mengenal ampun kepada musuh.

Tetapi ketika Beng Tan teringat dan sadar akan sikap istrinya yang tidak wajar kepada Han Han, pendekar ini batuk-batuk dan buru-buru meralat serta memperbaiki ucapannya.

"Maaf, kau jangan menuduhnya seperti itu, Cu-moi. Betapapun Han Han tidak salah karena musuh selalu mendahuluinya. Aku pribadi tak menyalahkan putraku itu karena orang lainlah yang lebih dulu berbuat tidak baik!"

"Tapi kau sendiri bilang Han Han membalas tanpa ampun. Sekali tangkis membuat Huang-ho Coa-li mencelat dan Ji-sin-kai pun roboh pingsan!"

"Benar, tapi... ah, mungkin itu dikarenakan Han Han belum mampu mengukur tenaga, Cu-moi. Dia belum biasa mengendalikan sinkangnya!"

"Tapi dia sudah sering berlatih denganmu. Tentunya dia dapat mengatur sinkangnya itu dan tidak terlalu kejam!"

"Hm, Ji-sin-kai ataupun Huang-ho Coa-li tentunya tak sekuat aku, Cu-moi. Kebiasaan Han Han menghadapi aku terbawa dalam tangkisannya ketika menghadapi kakek pengemis itu dan Huang-ho Coa-li. Dan tentu saja lain. Aku masih dapat menerima itu!"

Sang istri tertegun. Akhirnya Swi Cu mau juga mendengar kata-kata suaminya ini, bahwa mungkin kebiasaan berlatih Han Han dengan ayahnya terbawa ketika menghadapi Huang-ho Coa-li dan Ji-sin-kai yang tentu saja tidak sekuat suaminya.

Dan ketika Beng Tan membujuk lagi bahwa semuanya itu adalah kesalahan musuh yang bersikap sombong dan tak tahu diri, pendekar ini menutup pembicaraan.

"Betapapun Han Han tak memiliki kekejaman itu kalau musuh tidak mendahului. Ingat saja dirimu atau diriku, Cu-moi. Tentu juga tak akan marah-marah atau sampai bertindak kejam kalau musuh tidak kelewatan. Sudahlah, aku hanya melapor saja dan tak perlu kau marah-marah kepada Han Han!"

"Aku hanya marah kepada kekejamannya itu. Aku marah karena dia seperti Sin Hauw!"

"Hm, tak baik membawa-bawa orang yang sudah mati, Cu-moi. Sin Hauw sudah tiada dan tak perlu kita mengingat-ingatnya kembali..."

"Tapi Han Han seperti dia. Aku jadi benci dan takut!"

"Ah, semua orang yang diserang orang lain tentu marah dan dapat berbuat kejam, istriku. Tak perlu kau membesar-besarkan. Sudahlah, dia tetap anakmu dan tak boleh kau membencinya!"

Swi Cu menangis. Akhirnya dia menubruk dan dipeluk suaminya itu. Beng Tan menghibur dan berkata bahwa besok dia akan membawa anak-anak murid Hek-yan-pang untuk memperbaiki apa yang telah rusak di tempat Tek-wangwe.

Dan ketika malam itu kemarahan Swi Cu mereda dan tidak membenci putranya lagi—setelah sang suami memperingatkannya untuk membuang kenangan Si Golok Maut—keesokannya wanita ini telah normal kembali dan tidak menaruh perasaan tidak senang kepada putranya itu. Betapapun Han Han adalah putranya dan suaminya benar. Anak itu tak bersalah. Yang keterlaluan adalah Ji-sin-kai dan yang lainnya.

Namun, ketika perasaan Swi Cu sudah pulih dan dia dapat memandang lagi putranya dengan senyum, saat suaminya pergi ke tempat Tek-wangwe, mendadak sesuatu yang mengejutkan kembali mengguncang wanita ini ketika pagi itu putranya menghadap.

"Ibu..." Han Han agak ragu. "Bolehkah aku minta sesuatu dan meminta maaf dari Ibu?"

"Hm, apa yang kau minta, Han Han? Dan kenapa minta maaf?"

"Mungkin Ibu marah kepadaku atas sepak terjangku di tempat Tek-wangwe kemarin. Aku hanya membela diri, mereka terlalu mendesak dan sombong...."

"Aku tahu," sang ibu memotong sambil merangkul putranya ini. "Ji-sin-kai dan yang lainnya itu patut dihajar, Han Han. Tapi lain kali jangan terlampau kejam. Ibu kurang suka. Kau harus lemah lembut seperti ayahmu, jangan bengis!"

Han Han merah mukanya. "Aku juga menyesal, tapi.... ah, mereka tak tahu diri!"

"Sudahlah, apa maksudmu datang kemari? Apa yang hendak kau minta dari ibumu?"

"Aku hendak meminta caping itu. Ibu sudah berjanji...."

"Han Han!" sang ibu tiba-tiba tersentak kaget. "Kau... kau mau apa dengan caping itu? Untuk apa kau mengingat-ingat lagi benda terkutuk itu? Itu sudah kubuang, Han Han. Ibu tak suka!"

Wajah pemuda ini tiba-tiba berubah. Han Han tampak terkesiap dan kaget mendengar kata-kata ibunya itu, bentakan yang serasa menggelegar di telinga, dan tiba-tiba pemuda itu mundur selangkah.

Swi Cu sendiri sampai kaget ketika tiba-tiba dari sepasang mata anaknya menyambar sinar tajam bagai seekor naga yang sedang mencorong. Hawa berkilat yang mendirikan bulu roma mendadak membuat Swi Cu juga surut mundur selangkah. Ibu itu kaget dan ngeri sekali melihat sikap putranya. Begitu menyeramkan!

Tapi ketika Han Han sadar dan rupanya ingat bahwa yang ada di depannya adalah ibunya, wanita yang selama ini mengasihi dan membesarkannya, tiba-tiba pemuda itu menunduk. Hilanglah semua keganasan yang muncul mendadak itu, seperti singa lapar yang siap menerkam korbannya.

"Ibu membuang caping itu? Ibu tidak bohong?"

Aneh sekali, Han Han tiba-tiba menangis. Swi Cu tertegun melihat air mata mengalir di pipi putranya dan tampak betapa Han Han menahan duka atau perih yang sangat. Sang ibu terdiam kaku, tapi segera berkata bahwa caping itu memang sudah dibuang. Swi Cu tiba-tiba marah mengapa putranya menanyakan caping itu dan mengingatkannya pada Si Golok Maut.

Ketika dia menegaskan dengan marah agar Han Han tidak usah memikirkan barang itu lagi, putranya membalikkan badan dan tersedak.

"Ibu kalau begitu tidak menepati janji. Ibu merampas barang milik orang lain!"

Swi Cu tertegun. Untuk kedua kalinya dia merasa heran dan aneh melihat tingkah putranya itu. Han Han terhuyung dan melangkah pergi sambil menggigit bibir. Tampak jelas betapa pemuda itu amat berduka seolah kehilangan harta karun yang besar, padahal itu hanyalah sebuah caping bambu yang tak berarti!

Ketika Swi Cu melongo dan mengawasi putranya, Han Han lenyap memasuki kamarnya dan sehari penuh pemuda ini tidak muncul-muncul. Swi Cu berdebar. Aneh dan luar biasa anaknya itu. Mengecamnya sebagai orang yang tak menepati janji dan dituduh merampas pula. Betapa berani dan kerasnya, padahal selama ini Han Han selalu lembut dan pendiam kepadanya, patuh sebagaimana layaknya seorang anak kepada ibunya.

Karena Swi Cu merasa tidak nyaman dan malam itu suaminya juga belum kembali, dia menghampiri pintu kamar anaknya dan mengetuk perlahan.

"Han Han, Ibu ingin bicara!"

Tak ada jawaban. Swi Cu mengetuk lagi dan memanggil nama anaknya. Tetap tak ada jawaban. Ketika tiga kali berturut-turut dia memanggil namun tak ada jawaban, wanita ini marah dan mendobrak pintu kamar. Dia tahu anaknya ada di dalam, terbukti dari tarikan napas yang naik turun secara teratur.

Namun, begitu wanita ini membentak dan siap memaki putranya yang memang ada di dalam, tiba-tiba Swi Cu terbelalak dan menjerit mundur. Han Han, putranya itu, memang ada di dalam, tetapi bukan dalam keadaan biasa melainkan dalam keadaan luar biasa. Begitu Swi Cu membentak dan mendobrak pintu kamar, dilihatnya putranya itu sedang berjungkir balik mengatur napas dalam keadaan telanjang bulat.

"Aiiihhh...!" wanita ini seketika membekap mulutnya sendiri.

Han Han yang siap dimaki tiba-tiba tak jadi diapa-apakan. Anaknya itu berjungkir balik dengan tenang, dan sikapnya yang begitu bebas serta santai sungguh membuat wanita ini tertegun. Kiranya Han Han bersemedi sehari penuh dengan caranya yang luar biasa, memusatkan semua konsentrasi pada alam semedi yang hening. Begitu heningnya hingga dia tidak tahu meskipun pintu kamar didobrak. Itu tanda betapa pemuda itu telah mencapai titik tertinggi dari alam semedinya. Satu tanda bahwa Han Han telah memiliki kekuatan sinkang atau tenaga sakti yang hebat sekali.

Tetapi karena pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat dan Swi Cu tidak tahu putranya dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba saja wanita ini meloncat dan menutup pintu kamar lagi dengan bantingan keras!

"Brakkk!"

Han Han tetap tidak bergeming. Swi Cu tidak mendengar gerakan apa-apa di dalam, tanda bahwa putranya benar-benar mencapai titik semedi yang paling khusyuk. Langit ambruk pun kiranya pemuda itu akan tetap dalam keadaan siuliannya, sungguh luar biasa!

Teringat bahwa putranya itu bukan anak-anak lagi melainkan sudah seorang pemuda dewasa yang sempurna dengan tubuh tegap mengagumkan, wajah wanita ini memerah dan dia tersipu-sipu sendiri. Swi Cu bukanlah wanita berbatin kotor. Wanita itu amatlah bersih hingga tidak pernah dia menyeleweng. Namun, melihat bentuk tubuh putranya yang mengingatkannya akan sang suami, tiba-tiba Swi Cu mengeluh dan lari ke kamarnya.

Nafsu yang aneh tiba-tiba bergejolak. Sehari dia ditinggalkan suami dan tiba-tiba saja rasa rindu yang hebat menyerang. Swi Cu menangis dan tiba-tiba mencengkeram serta meninju-ninju guling dengan marah. Tiba-tiba saja dia ingin suaminya ada di situ untuk melampiaskan birahi. Aneh sekali, dia merasa terangsang oleh tubuh putranya sendiri!

Ketika Swi Cu menjerit dan meloncat bangun, wanita itu mengamuk dan menyerang apa saja. Piring dan gelas dibanting hancur. Kursi dan meja akhirnya juga pecah berantakan. Tetapi ketika semuanya berhenti dan nafsu itu mengendur dengan sendirinya, Swi Cu tersedu-sedu dan meremas-remas rambutnya sendiri.

"Terkutuk, bedebah jahanam. Masa aku harus terangsang dan mencintai putraku sendiri? Masa aku harus tergila-gila dan mengingini tubuh anakku? Oh, siluman keparat. Pergi kau, setan terkutuk. Enyahlah kau!"

Swi Cu menangis, tergetar dan ngeri oleh perasaannya sendiri. Dia terus memanggil-manggil nama suaminya. Wanita ini ketakutan, namun sang suami belum juga pulang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment