Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 31

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 31

Dan ketika malam semakin larut dan Swi Cu lupa akan maksud semula memanggil puteranya, wanita itu kelelahan dan tertidur dengan tubuh serta mata basah. Keringat dan air mata sama-sama bercucuran dari tubuh wanita ini. Rasa khawatir dan berahi yang sudah padam membuat Swi Cu tertekan dan kelelahan.

Ketika bulan sudah condong ke barat dan wanita itu tertidur pucat, masuklah sesosok bayangan dari luar jendela. Swi Cu tidak mengetahuinya. Sang bayangan pun menutup daun jendela dengan tenang lalu berendap-endap memasuki kamar. Langkahnya bagai seekor kucing yang sama sekali tidak mengeluarkan suara, begitu ringan dan perlahan. Namun, ketika lampu temaram di kamar itu memperlihatkan Swi Cu yang sedang tidur dengan pakaian kusut di tepi pembaringan, bayangan ini menahan napas melihat sedikit paha Swi Cu tersingkap.

Namun, bayangan itu tidak berbuat hal lain. Dia menggerakkan jarinya dan angin dingin berdesir menyambar. Swi Cu yang terlelap tiba-tiba tertotok dan jatuh tidak sadarkan diri. Ketika wanita itu mengeluh dan sekejap membuka mata karena kaget, bayangan itu bergerak ke lemari dan mencari-cari sesuatu. Swi Cu sendiri lalu roboh lagi dan samar-samar mengingat bayangan ini.

Siapa dia? Tidak lain adalah Han Han. Apa yang dilakukannya? Mencari caping! Begitu dia bergerak menotok ibunya agar sang ibu tidak terbangun, Han Han segera membuka lemari dan mencari-cari barang yang diinginkan itu. Pemuda ini memasuki kamar setelah melihat ibunya kelelahan, akhirnya sadar dari samadinya, dan mendengar bantingan gelas atau cangkir-cangkir itu. Pemuda ini terkejut dan melompat bangun, bergegas menyambar pakaiannya, dan berkelebat ke kamar ibunya.

Mungkin ada musuh datang. Han Han sudah bersiap-siap. Namun, ketika dilihatnya ibunya menangis dan mengamuk sendirian, Han Han tidak tahu sebabnya. Pemuda itu pun tertegun dan mengintai di luar kamar. Han Han mendengar ibunya memanggil-manggil sang ayah, juga mendengar Swi Cu mengumpat-umpat Si Golok Maut. Karena nama itu hanya disebut sekali atau dua kali saja, Han Han membelalakkan mata. Keingintahuan pemuda ini terpendam tak terjawab dan Han Han mulai merasa aneh akan semuanya itu.

Sebenarnya, secara diam-diam, dia pernah mendengar ayah atau ibunya berbicara tentang Si Golok Maut. Tokoh itu sering disebut-sebut dan jika membicarakan hal ini, ibunya tiba-tiba menangis. Apalagi kalau menyebut nama Wi Hong, suci atau kakak seperguruan ibunya, yang berarti termasuk supek-bo atau uwak guru perempuan baginya. Han Han akhirnya tahu bahwa dia masih mempunyai seorang supek-bo, yakni kakak seperguruan dari ibunya. Namun, karena pemuda ini pendiam dan jarang bertanya, Han Han menyimpan saja semua keheranan dan berbagai pikiran yang mulai berkecamuk di otaknya.

Mula-mula dia merasa heran bahwa beberapa murid Hek-yan-pang yang termasuk senior tidak mau bicara tentang ini. Jika dia bertanya di mana supek-bo-nya dan mengapa tidak muncul di Hek-yan-pang, murid-murid tertua akan tutup mulut. Mereka hanya menyuruhnya bertanya kepada ibunya. Namun, ketika dia bertanya, sang ibu menjawab pendek bahwa supek-bo-nya itu sudah tidak ada lagi, lalu menutup pembicaraan agar dia tidak bertanya-tanya lagi.

"Memang ibumu mempunyai seorang saudara seperguruan perempuan. Tapi sudahlah, kakak seperguruan ibumu itu tidak diketahui di mana rimbanya, Han Han. Dia orang aneh dan agak terganggu jiwanya. Mungkin dia sudah mati karena belasan tahun tidak berjumpa lagi dengan ibumu."

"Tapi Ibu tidak berusaha mencarinya? Kenapa begitu kejam?"

"Hm, dulu dia pernah mengacau di sini, Han Han. Dan Ibu hampir saja celaka. Supek-bo-mu itu dapat berbuat aneh-aneh, tidak waras. Tapi karena ayahmu dapat mengusirnya, dia akhirnya pergi dan sampai sekarang tidak kembali lagi. Ibu enggan mencarinya karena tentu akan terjadi keonaran!"

"Kenapa dia mengacau, Ibu? Apakah benar karena Ibu merampas kedudukannya sebagai ketua?"

"Han Han!" sang ibu menghardik. "Kau bicara apa ini? Ibu tidak merampas, justru Ibu menyelamatkan Hek-yan-pang karena supek-bo-mu itu gila!"

"Kenapa dia gila? Apa yang menjadi sebabnya?"

Swi Cu tertegun. "Han Han," wanita ini bergetar. "Kenapa hari ini kau banyak bicara? Bukankah selamanya kau tidak pernah mengusut dan mengusik masa silam? Ibumu akan berduka kalau kau bicara tentang itu. Sebaiknya tanya saja ayahmu atau kau tidak usah bertanya-tanya!"

Han Han diam dan tidak bertanya lagi. Memang dia pendiam dan selanjutnya tidak banyak bertanya. Apa yang didengar dan diketahuinya sedikit itu dipendam saja sebagai sesuatu yang kian menumpuk. Anehnya, tiba-tiba dia ingin tahu di mana dan bagaimana wajah supek-bo-nya itu. Dia ingin tahu dan merasa kasihan kepada supek-bo-nya yang dikatakan gila dan tidak waras. Kenapa gila? Kenapa tidak waras? Dan ketika suatu hari dia berjalan-jalan sendiri dan menemukan caping itu—caping yang menggetarkan hatinya—Han Han seolah sudah mengenal caping itu sejak lama, seolah merupakan bagian dari hidupnya!

Han Han tertegun. Waktu itu, saat merenung sendirian sambil berjalan di belakang rumah, tiba-tiba dua ekor katak berlompatan kejar-kejaran. Mereka rupanya katak-katak yang kesiangan dan keduanya melompat lincah. Katak yang di belakang mengeluarkan suara mengorok dan Han Han berhenti melihat katak itu akhirnya menerkam yang di depan. Tepat pada saat itu, katak di depan meloncat tinggi. Temannya terbawa, namun malangnya mereka melompati sumur dan tiba-tiba terjatuh ke bawah karena tidak sampai menyeberang.

Ketika Han Han melongok karena merasa kasihan dan bermaksud mengeluarkan sepasang katak itu dari sumur yang kering, dia melihat caping itu di lantai dasar. Han Han terkejut. Selama ini dia belum pernah melongok karena sumur itu adalah benda mati yang tidak menarik lagi. Murid-murid Hek-yan-pang juga tidak pernah menengok sumur ini karena airnya sudah habis. Sumur itu adalah sumur tua yang sudah mati.

Maka, ketika secara kebetulan dia melihat caping itu di bawah gara-gara dua ekor katak yang tercebur, Han Han bergerak memasuki lubang sumur tersebut. Sesuatu yang aneh menarik perhatiannya begitu besar. Han Han tidak tahu bahwa itulah caping yang dulu dipakai mendiang Si Golok Maut Sin Hauw. Caping itu terlempar dan jatuh ketika Sin Hauw bertanding hebat dengan ayahnya, Beng Tan. Pertempuran itu begitu dahsyat hingga selama dua hari dua malam tidak ada yang kalah atau menang. Setelah caping itu terlempar dan selama dua puluh tahun tergeletak di dasar sumur tanpa ada yang tahu, hari itu Han Han menemukannya secara kebetulan.

Han Han mengambil caping ini dan melupakan dua ekor katak tadi. Dia bergerak melayang keluar, mengenakan caping itu, dan berseri-seri karena terasa pas di kepalanya. Ternyata bentuk kepalanya sesuai benar dengan pemilik caping lama. Begitu enak dan nyaman dipakai!

Namun, ketika ibunya marah dan menyerangnya gara-gara caping itu, Han Han tertegun. Perasaan tertarik dan penasarannya akan caping tersebut membuat Han Han malam itu bergerak memasuki kamar ibunya. Pemuda ini tidak tahu mengapa ibunya menangis dan mengamuk sendirian. Dia tidak tahu bahwa ibunya terguncang melihat keadaannya tadi saat samadi yang telanjang bulat, karena Beng Tan tidak pernah mengajarkan ilmu samadi seperti itu kepada puteranya.

Ketika Han Han menunggu dan melihat ibunya tertidur kelelahan, niat untuk mencari caping itu tiba-tiba bangkit. Han Han tidak percaya bahwa ibunya telah membuang caping tersebut. Tidak, ibunya tidak biasa membuang barang milik orang lain. Saat waktu yang ditunggu tiba, Han Han memasuki kamar ibunya dan menotoknya agar tidak terbangun. Segera pemuda ini membuka lemari dan mencari-cari benda itu. Ternyata benar, caping itu ada di dalam!

Han Han melihat caping ini ditempelkan ibunya di dinding lemari. Saat ia menariknya, seketika berdesirlah angin dingin dari belakang. Tepat saat Han Han mengambil caping itu, sesosok bayangan berkelebat dan membentaknya. Han Han membelakangi orang ini dan terkejut ketika sebuah serangan tiba-tiba menghantam. Dia tidak mendengar gerakan orang itu, dan orang tersebut pun tidak melihat siapa sebenarnya Han Han karena kamar yang temaram serta Han Han yang hanya memunggunginya. Namun, begitu Han Han membalikkan badan dan menangkis pukulan ini, ia mengenali bentakan itu sebagai suara ayahnya. Han Han segera mengelak sekaligus melemparkan tubuhnya bergulingan.

"Ayah... dess!"

Keduanya terkejut. Penyerang itu, Beng Tan, memang tidak menyangka bahwa puteranyalah yang ada di dalam kamar itu. Tadi dia berkelebat dan melihat jendela kamar istrinya terbuka. Ia terkejut, berdebar, dan curiga bahwa sesuatu telah terjadi, apalagi ketika isi kamar itu berantakan dan Beng Tan melihat sesosok bayangan membuka lemari pakaian.

Beng Tan baru saja datang dari tempat Tek-wangwe dan malam itu terlambat pulang karena bertemu beberapa orang lainnya. Meskipun sudah lewat tengah malam, pendekar ini tetap melanjutkan perjalanan pulang. Ketika dia melihat jendela kamar istrinya terbuka sementara meja dan kursi jungkir balik tak keruan, Beng Tan terkesiap. Dia segera menduga ada musuh berbahaya yang datang mencelakai istrinya dan mencari-cari sesuatu di dalam lemari. Beng Tan tidak tahan lagi, lalu membentak bayangan itu dan menyerangnya dengan pukulan Pek-lui-ciang. Namun, ketika bayangan itu memanggil namanya dan ternyata adalah puteranya sendiri, Han Han, pukulan bertenaga penuh itu segera dikurangi sehingga mereka berdua sama-sama terbanting.

"Kau...?" Beng Tan melompat bangun dengan kaget dan terbelalak. "Apa yang kau lakukan di sini, Han Han? Dan... kenapa ibumu?"

Han Han tertegun. Dia tidak segera menjawab, sementara sang ayah tiba-tiba melakukan totokan untuk membebaskan istrinya. Swi Cu memang berada dalam pengaruh totokan dan segera sadar begitu mendengar keributan itu. Wanita ini terkejut karena ketika sadar, ternyata tubuhnya tidak dapat digerakkan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment