Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 33

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 33

"Dan dari mana pula kau dapatkan cara berlatih sinkang yang aneh itu!" Han Han menunduk.

Pagi itu, dengan wajah kuyu dan sendu, pemuda ini menghadap. Seperti biasanya, Han Han berbaju putih dan membiarkan saja ujung bajunya yang panjang menyembunyikan kesepuluh jari tangannya yang kokoh itu. Pemuda ini menunduk dan tidak segera menjawab.

Namun, ketika dia ditanya lagi, dia merasa lebih dekat dan disayang oleh ayahnya karena Beng Tan tak pernah marah kepadanya. Pemuda itu menarik napas dan mencoba menenangkan debaran jantungnya.

"Aku tak tahu mengapa aku begitu senang dan suka dengan caping itu, Ayah. Tapi aku merasa seakan caping itu adalah bagian dari hidupku. Caping itu bagus dalam penglihatanku, dan aku menyukainya. Aku merasa barang ini seolah milikku sendiri yang hilang."

"Hm, dan cara melatih sinkang dengan berjungkir balik itu?"

"Aku mendapatkannya dari sebuah kitab kecil..."

"Apa? Sebuah kitab?"

"Ya, sebuah kitab, Ayah. Aku coba-coba melatihnya dan merasa cocok. Aku merasa aliran darahku bertambah lancar dan sehat. Aku merasa sesuatu yang enak dan nyaman."

"Hm, kitab apa itu? Dari mana?" Han Han ragu. "Ayah akan merampasnya pula?"

Wajah Beng Tan memerah. "Kalau itu kitab yang baik, tentu tak perlu aku merampasnya, Han Han. Tapi kalau kitab itu berisi pelajaran-pelajaran sesat, tentunya kau sendiri harus membuangnya!"

"Tidak, kitab ini hanya berisi pelajaran sinkang, Ayah. Tidak ada pelajaran lain!"

"Dari mana kau dapatkan itu!"

"Dari sumur tua di belakang rumah."

"Hm, bersama caping itu juga?" Han Han mengangguk. "Kemari, berikan padaku, Han Han. Coba aku melihatnya!"

Han Han mengambil sebuah kitab dari balik sakunya, lalu tanpa ragu memberikannya kepada ayahnya. Ayahnya memang berbeda dengan ibunya. Ayahnya lebih penyabar dan penuh kasih sayang. Sudah berkali-kali terbukti bahwa jika ibunya marah-marah, maka ayahnya inilah yang maju membela. Begitu sang ayah meminta, Han Han segera memberikan kitab kecil itu kepada Beng Tan.

Namun, begitu Beng Tan membuka dan mempelajari isinya, tiba-tiba pendekar ini mencelat dan berseru tertahan, "Pelajaran dari Si Golok Maut!"

Han Han terkejut. Dia melihat ayahnya terguncang dan wajahnya berubah-ubah. Beng Tan menggigil; wajahnya pucat dan merah berganti-ganti. Pendekar itu terkejut bukan main. Begitu dia sadar dan Han Han bangkit berdiri, kitab itu tiba-tiba dibantingnya.

"Han Han, ini kitab yang tak baik bagimu. Ah, dari seorang gila! Kau tak boleh mempelajarinya dan jangan berlatih lagi!" Kitab itu tiba-tiba hancur, remuk menjadi serpihan-serpihan kecil.

Han Han kaget bukan main. Ayahnya tidak menepati janji dan merusak barang miliknya begitu saja tanpa izin. Ketika pemuda ini pucat dan gemetar membelalakkan mata, Beng Tan tiba-tiba beringas dan memandang putranya dengan sinar mata bagaikan api.

"Apa lagi yang kau dapatkan selain ini? Apa lagi yang kau simpan!"

"Tidak ada..." Han Han menggigil dan menjawab dengan lemah. "Aku tak menyimpan apa-apa lagi, Ayah. Tapi... tapi kenapa kau menghancurkannya!"

"Itu milik Si Golok Maut! Itu milik orang gila! Kalau benar kau tak mendapat apa-apa lagi, coba bawa aku ke sumur tua itu... wut!" Beng Tan menyambar serta menarik putranya, lalu berkelebat menuju belakang rumah.

Han Han telah berkata bahwa kitab itu ditemukan di sumur tua di belakang rumah. Kini Beng Tan ingin menyelidikinya lebih jauh. Ketika mereka tiba di sumur tua itu dan Han Han menuding ke bawah, pemuda ini berkata bahwa kitab itu didapat di dasar sumur. Sang ayah tak bertanya lagi; dia tiba-tiba bergerak dan lenyap memasuki sumur tua itu. Beng Tan berkelebat dan hilang di dalam.

Selagi Han Han menunggu, sang ayah mencari-cari di bawah. Ketua Hek-yan-pang itu keluar lagi dengan menjepit sepasang katak jantan dan betina. "Tak ada apa-apa lagi, hanya ini!"

Han Han tertegun. Teringatlah dia akan sepasang katak yang berkejar-kejaran itu. Kini ayahnya membawa mereka naik; itulah katak yang dulu menjadi penyebab dia menemukan caping dan kitab sinkang yang kata ayahnya adalah milik Si Golok Maut.

Karena dia sudah sering mendengar nama ini disebut-sebut, sementara murid-murid Hek-yan-pang tidak berani membicarakannya, maka begitu ayahnya keluar, pemuda ini segera menghampiri. Ayahnya melempar sepasang katak itu, namun binatang-binatang ini kembali lagi dan lenyap ke dalam sumur. Rupanya mereka sudah kerasan di sana.

"Ayah, siapa sebenarnya Si Golok Maut itu? Kenapa berkali-kali kau membicarakannya?"

"Hm, dia... dia musuh ayahmu yang paling lihai, Han Han. Seorang gagah tapi dipenuhi dendam yang membuatnya gila. Dia pernah bertanding di sini dan sekarang aku ingat apa yang terjadi. Kiranya caping yang kau dapatkan itu pun adalah miliknya!"

Han Han terkejut. "Miliknya?"

"Ya, tak salah. Benda itu asli miliknya, Han Han. Itu milik Si Golok Maut. Dan kitab itu, hmm... rupanya terjatuh setelah pertandingan kami selama dua hari dua malam!"

"Hebatkah dia? Betul-betul saktikah dia hingga Ayah tak mampu merobohkannya?"

"Hm, Golok Maut tokoh yang luar biasa, Han Han. Dia memang hebat dan sakti. Tapi dia pun tak mampu mengalahkan ayahmu. Kami seri!"

"Kalau begitu, ceritakan padaku kenapa Ayah bermusuhan dengannya. Dan bagaimana dia tewas? Benarkah dikeroyok ribuan orang pasukan kerajaan?"

"Kau sudah tahu?"

"Sebagian saja, Ayah. Tapi tidak lengkap. Aku ingin tahu apa saja yang pernah terjadi antara Ayah dengannya!"

"Hm, aku tak ingin bercerita. Kisah itu membawa kenangan yang buruk. Sudahlah, aku tak ingin kau tahu tentang tokoh ini, Han Han. Dan sekarang aku tahu pula bahwa caping yang kau dapatkan itu adalah miliknya. Buang benda itu dan jangan pelajari pula ilmu sinkangnya!"

"Tidak!" Han Han tiba-tiba pucat. "Aku... aku tak merasa apa-apa dengan semua itu, Ayah. Aku tak merasa bahwa ilmu yang kupelajari adalah sesat. Dan... sesungguhnya aku menaruh kagum kepada tokoh ini. Aku ingin tahu tentang dia lebih banyak!"

"Apa?" Sang ayah melotot. "Kau mengagumi orang gila itu? Kau tidak mau mendengarkan kata-kata ayahmu?"

"Maaf, aku... aku tak dapat melaksanakan kata-katamu itu, Ayah. Kalaupun kau memaksa, maka hati ini yang tak dapat ditundukkan. Ayah telah menghancurkan kitab yang kutemukan, dan sekarang Ayah ingin aku membuang caping itu. Salah apakah aku hingga kau bersikap kejam, Ayah? Kenapa tiba-tiba Ayah pun sama dengan Ibu?"

"Eh, aku tak mau banyak berdebat, Han Han. Aku tak mau menjawab semuanya itu. Yang jelas, aku tak ingin kau ketularan penyakitnya. Buang caping itu dan jangan sekali-kali memakainya, atau aku akan menghajarmu! Juga tentang ilmu sinkang itu, Han Han. Kalau kau melatihnya, maka aku tak mau menganggapmu sebagai putraku lagi!"

Han Han pucat. Pemuda itu tiba-tiba menggigil hebat. Sang ayah tidak tanggung-tanggung dalam melarangnya menyimpan caping serta melatih sinkang dari kitab yang sudah dihancurkan tadi. Han Han tiba-tiba tidak tahan dan air matanya pun bercucuran. Ayahnya begitu bengis dan keras sekarang, padahal sikap itu belum pernah diperlihatkan selama ini.

Ketika Beng Tan tertegun dan tak tahan melihat putranya menangis—hal yang sangat luar biasa—tiba-tiba sang ayah berkelebat pergi meninggalkan putranya. Han Han telah diancam untuk membuang semua benda yang pernah dimiliki Si Golok Maut, termasuk caping itu. Padahal, kini Han Han justru semakin ingin mempertahankannya setelah tahu bahwa benda itu milik seorang tokoh yang dikaguminya; tokoh yang menarik namun sayangnya selama ini ceritanya hanya dia dengar sepotong-sepotong.

Ketika sang ayah pergi dengan marah dan mengancam tidak akan mengakuinya sebagai anak—pukulan yang amat berat—tiba-tiba Han Han mengeluh dan roboh terguling. Selanjutnya, pemuda ini menangis tersedu-sedu; timbullah rasa penasaran serta kekecewaan yang amat hebat. Kenapa ayahnya sebengis dan sekejam itu, tak mengenal ampun? Apa salahnya hingga kitab dan caping harus dimusnahkan?

Ketika ayahnya tadi berkata bahwa besok caping itu sudah harus dimusnahkan di depannya, tiba-tiba pemuda ini mengguguk. Orang akan terkejut melihat pemuda yang biasanya pendiam dan amat tenang ini sekonyong-konyong berubah seperti anak kecil yang tidak punya pegangan. Han Han tersedu dan menutupi mukanya dengan air mata bercucuran. Pemuda itu terpukul hebat oleh ancaman ayahnya.

Namun, ketika dia bangkit berdiri dan wajah yang seram menggantikan kedukaannya, tiba-tiba Han Han berkelebat meninggalkan sumur tua itu. Semalam dia dibenci dan dimarahi ibunya, nyaris dibunuh. Dan ketika sekarang ayahnya pun kehilangan kasih sayang dan bersikap kejam, kekecewaan pemuda ini berubah menjadi rasa marah yang luar biasa.

Beng Tan tak tahu bahwa Han Han adalah keturunan Si Golok Maut. Watak dan pembawaan Si Golok Maut tentu saja menurun pada pemuda ini, karena Han Han sebenarnya adalah Giam Liong, Si Naga Maut atau Naga Pembunuh yang kelak menggegerkan dunia persilatan, jauh lebih hebat daripada sepak terjang ayahnya dulu.

Begitu dia diancam tidak akan diakui sebagai anak jika tetap mempertahankan caping dan ilmu sinkang itu, tiba-tiba "jiwa pemberontak" yang mudah berkobar di hati pemuda ini sekonyong-konyong bangkit dan menerima tantangan! Han Han tak takut dan merasa ayahnya bersikap keterlaluan. Semalam pun dia rela dibunuh ibunya gara-gara mempertahankan caping itu, yang sebenarnya adalah barang milik mendiang ayahnya. Getaran gaib antara ayah dan anak kandung mulai bekerja. Beng Tan tak tahu semua itu karena memang tidak menduganya sama sekali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment