Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 34

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 34

Pendekar itu tak menyangka bahwa "puteranya" ini bukanlah puteranya. Anaknya sendiri, anak kandung, telah ditukar oleh Wi Hong dan dibawa lari. Semua itu tak diketahui Beng Tan dan tentu saja dia tak tahu bahwa watak pendendam dan mudah marah ada pada puteranya ini. Kalau Han Han sudah ditantang, maka setan pun akan dia lawan. Jangankan orang tua, iblis pun dia tak gentar! Maka begitu diancam dan Han Han merasa tak bersalah, ayah dan ibunya dianggap terlalu, maka malam harinya, setelah sehari penuh dia menutup pintu kamar, tiba-tiba pemuda ini bergerak dan meluncur membelah telaga.

Siang tadi sudah dipikirnya untuk pergi, namun anak-anak murid Hek-yan-pang pasti mengetahuinya. Dia ingin pergi secara diam-diam dan untuk itu ditunggunya sampai malam tiba. Dan ketika malam datang dan dia sudah menyiapkan semua buntalannya, pakaian dan roti-roti kering, maka pemuda itu berkelebat dan membuka pintu kamarnya. Han Han tak mau lewat depan karena ayah ibunya mungkin tahu. Karena itu, begitu ia menutup pintu kamarnya kembali dan melesat ke kiri, ke samping rumah, maka pemuda ini sudah bergerak dan menuju telaga.

Hek-yan-pang, sebagaimana diketahui, adalah markas perkumpulan yang berada di tengah sebuah telaga. Perkumpulan itu dikelilingi air telaga yang tak pernah surut dan untuk masuk keluar tentu saja harus mempergunakan perahu. Tapi ketika Han Han berada di sini dan melepas sepatunya, melempar dan mempergunakan itu sebagai perahu, maka "perahu" aneh yang dipergunakan pemuda ini sudah meluncur dan bergerak tanpa suara! Itulah demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi. Swi Cu, ibunya sendiri, masih belum berani melakukan seperti apa yang dilakukan pemuda ini. Yang dipergunakan wanita itu adalah batang pisang, karena batang pisang mampu mengapung dan tinggal dikemudikan saja, meskipun tentu saja harus memiliki ilmu meringankan tubuh karena tanpa itu tentu batang pisang tak akan meluncur dengan cepat. Perahu sendiri akan kalah cepat kalau diadu lari dengan wanita itu. Tapi Han Han yang mampu mempergunakan sepasang sepatunya untuk bergerak dan membelah telaga tentu bakal membuat bengong anak-anak murid yang melihatnya, karena hal itu hanya ketualah yang mampu mengimbangi. Dan Han Han memang sudah setingkat.

Ada dua hal mengapa pemuda itu tidak mempergunakan perahu. Pertama, kalau dia mengambil, tentu perahu yang hilang akan segera diketahui anak-anak murid yang berjaga, karena betapapun tepian telaga hampir penuh oleh anak-anak murid yang berjaga. Kedua, karena perahu tentu akan menimbulkan suara beriak, hal yang tak dikehendaki Han Han, maka jadilah pemuda itu mempergunakan sepasang sepatunya sendiri untuk bergerak dan meluncur di tengah telaga. Dengan begini dia dapat meninggalkan pulau tanpa suara. Perahu aneh yang ditungganginya itu memang nyaris tak beriak. Han Han telah mempergunakan seluruh ilmu meringankan tubuhnya agar sama sekali tak menerbitkan suara. Han Han ibarat sebuah daun kering yang menempel di atas sepatu itu, ditiup atau didorong oleh angin yang bergerak hingga mendorongnya maju.

Dan ketika pemuda itu tiba di daratan seberang tapi tetap tak berani gegabah untuk mengeluarkan suara, maka begitu pemuda ini menendang sepatunya ke atas, maka sambil berjungkir balik mengejar sepatu itu pemuda ini sudah mengenakannya di udara. "Cepcep!" Sepatu itu telah melekat di kedua kaki dengan cara luar biasa. Han Han telah melayang turun dan hinggap di tanah dengan kedua sepatu seperti semula. Kakinya terbungkus rapat, tanpa salah! Dan ketika pemuda itu bergerak dan menyelinap menerobos perumahan di luar telaga, yang rata-rata dihuni anak-anak murid lelaki, maka pemuda itu sudah terbang dan meninggalkan Hek-yan-pang, seperti siluman!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan terkejutnya ayah ibunya di dalam. Beng Tan yang tak menyangka puteranya akan pergi tiba-tiba tertegun melihat sepucuk surat yang ditinggalkan. Han Han memang meninggalkan sepucuk surat untuk ayah ibunya itu. Dia berkata bahwa lebih baik dia pergi daripada ayah ibunya sudah tak memiliki kasih sayang lagi. Dia akan mempertahankan caping yang dipertengkarkan dengan taruhan nyawa. Biarlah ayahnya tak mengakuinya anak karena ayahnya itu memang sudah kehilangan kasih sayang. Han Han telah menunjukkan jiwa mudanya yang bergemuruh. Sang ayah terpaku. Han Han minggat!

Tapi ketika Swi Cu menjerit dan menyobek-nyobek surat itu, memaki-maki puteranya, tiba-tiba ibu yang ikut terpukul ini mengguguk dan membanting-banting kakinya. "Han Han, kau tak pantas sebagai putera ayah ibumu. Kau lebih pantas sebagai putera Sin Hauw! Ah, jahanam terkutuk kau, anak keparat. Tak tahu diuntung dan dibaiki orang tua. Biarlah... biar kau minggat karena kasih sayang itu memang tak ada lagi di hatiku!"

"Tidak," Beng Tan tiba-tiba terkejut, sadar. "Kau... kau tak boleh bicara seperti itu, Cu-moi. Han Han adalah anak kita satu-satunya. Dia darah daging kita, anak tunggal. Aku harus menyusul dan menyuruhnya kembali!"

"Kau mau menjilat ludahmu sendiri?" sang istri melengking, menyambar ujung baju suami. "Kau mau tak dihargai anak itu? Tidak, biarkan ia sendiri, suamiku. Dan lihat siapa yang harus tunduk. Aku jadi benci kalau anak sudah tak mau dinasihati orang tua. Biarkan dia, lepaskan saja!"

"Ah, kau tak khawatir akan sepak terjangnya di luar? Kau benar-benar tak memiliki kasih sayang seorang ibu?"

"Aku tak perlu bohong kepada diriku sendiri, suamiku. Han Han tak mirip dirimu, ia mirip Sin Hauw. Aku... aku melihatnya sebagai Sin Hauw. Aku benci anakku itu!" dan Swi Cu yang menangis serta menubruk suaminya lalu tersedu-sedu menceritakan perasaan hatinya yang tak keruan. Betapa dia sudah tak memiliki kasih sayang lagi sebagaimana layaknya seorang ibu. Betapa dia membenci puteranya itu setelah Han Han menemukan caping Sin Hauw. Mendiang Si Golok Maut itu rupanya menurunkan musibah kepada mereka. Tokoh yang amat pendendam itu rupanya masih mau mengganggu mereka lewat Han Han.

Maka ketika Swi Cu menangis dan memaki-maki pula Si Golok Maut itu, tiba-tiba suaminya menggigil dan mencengkeram lengannya. "Cu-moi, orang yang sudah mati tak perlu diungkit-ungkit lagi. Kau tak perlu memaki-maki. Diamlah dan jangan membuat aku bingung!"

"Siapa yang lebih bingung? Kau atau aku? Akupun juga bingung, suamiku. Kenapa Sin Hauw masih mengejar-ngejar kita dari alam baka. Padahal kita sama sekali tak mengganggunya dan bahkan menghormatinya. Ah, kalau aku bertemu dengannya di alam baka, tentu akan kulabrak dan kumaki-maki dia di sana!"

"Sudahlah, sudah... aku bingung bukan karena Sin Hauw. Aku bingung akan anak kita itu. Aku bingung akan Han Han. Aku telah bersikap terlalu keras dan kejam..."

"Siapa bilang? Kau sudah benar, suamiku. Han Han tak layak menyimpan atau memakai caping itu. Itu benda terkutuk milik Si Golok Maut. Nanti dia kena tulah dan dosa-dosanya. Kalau dia tak mau menuruti omongan orang-orang tua, biarlah dia mendapat celaka di sana!"

"Hush, kau mengutuk anak sendiri? Kau mendoakannya jelek di perjalanan?"

"Biar, suamiku. Biar. Aku tak perduli. Han Han tak menurut pada kita dan membuat sakit ayah ibunya!"

"Tapi dia anak tunggal, anak semata wayang..."

"Aku masih muda. Aku masih dapat memberikan keturunan lagi untukmu!" dan ketika Beng Tan tertegun dan semburat merah, kaget, maka isterinya sudah mengguguk dan lari meninggalkan kamar itu. Kepergian Han Han tiba-tiba saja bukannya membuat anak itu disayang tapi malah semakin dibenci oleh isterinya. Beng Tan was-was jangan-jangan isterinya itu tidak waras. Anak sendiri sampai diperlakukan sedemikian rupa. Ngeri dia! Tapi ketika dia dihadapkan pada dua kemungkinan untuk menyusul Han Han atau menghibur isterinya itu, yang terguncang, tiba-tiba pendekar ini terhuyung melangkah pergi untuk menyusul isterinya. Beng Tan menggigit bibir karena isterinya benar. Han Han dinilai tak patuh sebagai anak yang baik. Anak itu bahkan menerima tantangannya dan pergi, hanya untuk membela sebuah caping bambu. Caping Si Golok Maut! Dan ketika pendekar itu menutup pintu kamar dan mengikuti isterinya, maka Han Han bertualang dengan maut!

JILID 7

PEMUDA ITU, yang malam itu juga pergi meninggalkan ayah ibunya, sudah berkelebat menuju ke utara. Han Han tak tahu hendak ke mana dan dia hanya menurutkan saja kakinya melangkah. Baginya saat itu adalah kebebasan terbesar sejak dia dikurung di Hek-yan-pang. Sebenarnya ini adalah petualangan pertama kalinya di mana dia berjalan seorang diri. Baru kali itulah Han Han minggat dan pemuda itu diam-diam menggigit bibir. Kenapa ayahnya demikian kejam hendak membuangnya sebagai anak hanya karena gara-gara sebuah caping? Dan kenapa ibunya juga demikian benci kepadanya akhir-akhir ini? Dan membayangkan bahwa semua itu hanya karena benda-benda milik Si Golok Maut, tokoh yang kini menarik dan menggetarkan hatinya, diam-diam Han Han tidak setuju kenapa ayah ibunya itu harus demikian keras.

Han Han memang tak tahu akan riwayat mendiang Si Golok Maut itu. Tak ada murid-murid Hek-yan-pang yang berani banyak terlalu bercerita. Kalau dia bertanya kepada murid-murid yang tua, yang senior, maka mereka lalu menjawab biarlah dia bertanya kepada ayah ibunya, menyatakan tidak tahu, padahal ayah ibunya tentu saja tak mau bercerita! Hm, semua itu malah menarik perhatian Han Han dan karena kini dia telah melatih sinkang dari kitab peninggalan orang sakti itu dan capingnya juga sudah dipergunakan di atas kepalanya, maka Han Han tak menyadari bahwa kini dia benar-benar mirip Si Golok Maut itu. Dan ini diketahuinya ketika keesokan harinya, setelah terang tanah dan dia ingin mengisi perut di sebuah kedai arak, Han Han duduk di sudut dan minta semangkok bubur panas. Mula-mula tak ada keanehan. Han Han duduk di sudut menyendiri, capingnya dibenamkan di atas kepalanya agar semata dia tak mudah dikenal. Itu saja.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment