Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 35

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 35

Tetapi ketika beberapa orang mulai berdatangan dan mereka sama-sama ingin minum arak atau bubur panas, karena pagi masih cukup dingin, maka kesendirian Han Han di sudut kedai itu menarik perhatian orang-orang ini.

Han Han mendengar bisik-bisik di antara mereka, mengangkat sedikit kepalanya dan melirik ke kanan.

Orang-orang itu tiba-tiba diam.

Han Han berkesan angker dan dingin, apalagi sinar matanya juga beku dan acuh, tidak ada senyum.

Dan ketika beberapa orang lagi masuk ke kedai itu, tetapi tempat mulai penuh, maka tiga laki-laki tinggi besar yang merupakan pendatang baru meminta agar pemilik kedai menyiapkan bangku untuk mereka.

"Sudah habis, kecuali di tempat tuan muda itu. Kalau kalian bertiga ingin duduk, silakan di sana dulu, atau menunggu..."

"Heh, kami ingin bangku dan satu meja sendiri, Ah-lopek. Tidak mau dicampur dengan segala macam tikus busuk yang bau. Kalau kau ingin kami di sana, usir dulu dia dan berikan itu kepada kami!"

"Ma... maaf!" Pemilik warung gugup, ketakutan. "Ini... ini tidak dapat kulakukan, Sam-toaya (Tuan Besar Sam). Semua tamuku adalah orang-orang yang membawa rezeki bagiku. Dia belum habis, masih menikmati buburnya. Silakan kalian tunggu atau duduk di sini saja, di tempatku!"

"Hm, kau mau menyuruh kami berasap dapur? Kau minta kubanting mampus? Kalau pemuda itu tidak dapat kau usir, biarlah kami yang melakukannya. Ini pemuda asing, harus menghormati pada yang lebih dulu menjadi langganan!" Salah seorang di antara mereka tiba-tiba mendatangi Han Han. Sikapnya bengis, dan beberapa tamu membelalakkan mata.

Mereka melihat si tinggi besar itu sudah dekat, menepuk dan mencengkeram pundak Han Han seraya berseru agar pemuda itu meninggalkan mejanya.

Tetapi ketika laki-laki itu membentak dan mencengkeram pundak Han Han, tiba-tiba dia menjerit dan berteriak mengaduh.

Apa yang terjadi? Kiranya tangan orang itu bengkak dan keseleo!

Han Han mengerahkan sinkangnya ketika pundaknya dicengkeram, diam-diam marah dan ingin menghajar orang ini.

Maka begitu lawan menepuk dan mencengkeram pundaknya, hendak diangkat dan disingkirkan ke tempat lain, Han Han sudah memberi adat laki-laki ini dengan sinkangnya yang luar biasa, membuat pundaknya sekeras besi dan tepukan atau cengkeraman laki-laki itu tentu saja bertemu hawa saktinya yang tidak diduga lawan.

Laki-laki itu menjerit karena begitu menepuk dan mencengkeram, tiba-tiba terdengar bunyi seperti dentingan besi, kelima jarinya selip dan seketika itu juga tergelincir, bengkak, dan keseleo.

Dan ketika laki-laki itu menarik tangannya dan mengaduh-aduh, berjingkrak-jingkrak, maka beberapa tamu tertawa, tetapi dua laki-laki tinggi besar yang lain tiba-tiba membentak dan mencabut golok.

"Siapa mentertawakan saudaraku? Siapa minta kubunuh!"

Mereka yang tertawa tiba-tiba diam. Mereka mengerutkan tubuh dan dua laki-laki itu menggeram. Mereka melotot sekeliling dan tiba-tiba melompat ke arah Han Han.

Pemuda itu masih tenang-tenang saja menikmati buburnya seolah tidak tahu kejadian sekeliling, begitu tenang dan acuh, kesannya tidak peduli. Atau barangkali itu merupakan ejekan bagi tiga laki-laki kasar itu!

Dan ketika mereka sudah dekat dan mengangkat golok, maka tanpa banyak bicara lagi tiba-tiba dua lelaki itu menikam punggung Han Han.

"Kau sombong dan menghina adikku. Terimalah kematianmu!"

Orang-orang melotot lebar. Pemilik kedai sendiri sampai berteriak tertahan karena ketika golok sudah menusuk, tetap saja Han Han bersikap tenang, seolah tidak tahu, atau mungkin sudah tidak sempat berkelit dan kini siap menerima kematian.

Tetapi ketika terdengar suara ting-tang dua kali dan sekelebatan sinar kuning tampak membentur golok, maka dua laki-laki itu berteriak keras dan terbanting!

Apa yang terjadi? Tidak banyak orang tahu. Han Han telah bergerak dengan amat luar biasa cepatnya dengan sumpit di tangan. Benda itulah yang menangkis dan membentur dua golok, yakni sinar kuning yang dilihat para penonton dengan tercengang.

Dan karena Han Han mengisi sumpitnya dengan sinkang yang istimewa, sumpit itu berubah seperti benda pusaka, maka dua batang golok di tangan dua laki-laki tinggi besar itu terlepas dan patah menjadi dua potong. Pemiliknya sendiri terpelanting dan bergulingan dengan kaget, mereka merasa betapa telapak tangan mereka bengkak dan pedas. Itulah sebabnya mereka menjerit dan seketika pucatlah dua orang laki-laki itu.

Dan ketika mereka melompat bangun dan melotot memandang Han Han, yang masih menghirup bubur panasnya di mangkuk yang mulai dimiringkan, maka dua laki-laki itu memutar tubuh dan... melarikan diri.

"Iblis! Pemuda itu siluman...!"

Para tamu gempar. Sekarang mereka melihat bahwa tanpa bergerak dari tempat duduknya, Han Han telah mengalahkan dua lawannya itu. Begitu mudah, begitu gampang.

Namun ketika dua laki-laki itu lari lintang pukang dan berteriak-teriak, lupa kepada saudaranya yang masih merintih-rintih di situ, mendadak mangkuk di tangan Han Han disentilkan ke kiri dan dua orang itu tiba-tiba roboh dengan kepala benjol sebesar telur angsa.

"Aduh... bluk-bluk!" Han Han bangkit berdiri.

Sekarang pemuda ini melangkah lebar menghampiri pemilik warung, meletakkan sekeping uang perak, kemudian pergi keluar. Sikapnya tenang dan dingin, caping itu sudah semakin menutupi wajahnya, dan ketika lewat di dekat dua laki-laki ini, yang berteriak dan mengaduh-aduh di depan pintu, tiba-tiba Han Han menggerakkan kakinya.

Dan ketika dua tubuh itu ditendang dan terpelanting keluar, roboh dan berdebum di sana, akhirnya Han Han meneruskan perjalanannya dan beberapa gumam atau seruan terkejut terdengar di mulut para tamu di kedai.

"Hebat, lihai sekali. Tetapi sayang, wajah setampan itu tidak pernah senyum!"

"Ya, dingin sekali. Seperti mendiang Si Golok Maut!"

Tetapi begitu Han Han berhenti dan menoleh, terkejut oleh seruan terakhir itu, maka orang yang mengeluarkan suara ini tiba-tiba menyelinap dan gentar menyaksikan sepasang mata Han Han yang mencorong dan keluar dari balik caping itu.

Orang yang mengeluarkan seruan ini sudah menyembunyikan diri di antara kawan-kawannya, pemilik warung menggigil dan ngeri melihat tampang pemuda itu. Dingin dan beku.

Tetapi ketika Han Han tersenyum dan tampak sekilas deretan giginya yang putih bersih, kuat dan rapi, maka orang-orang tercengang melihat betapa tampan dan manisnya pemuda itu, sama sekali berbeda dengan sikap dinginnya yang seolah es di gunung Mahameru.

"Siapa mengenal mendiang Golok Maut?" Seruan itu diucapkan Han Han. "Siapa di antara kalian yang tahu?"

Namun orang-orang itu menggeleng. Akhirnya Han Han sendiri tidak tahu siapa sebenarnya orang yang bicara tadi. Dia ingin mencari orang itu tetapi rupanya orang itu ketakutan.

Senyum yang tadi mengembang tiba-tiba lenyap kembali. Han Han sudah seperti gunung es yang beku.

Dan ketika tidak ada jawaban dan Han Han menarik napas, lalu pemuda itu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Han Han kecewa karena orang-orang yang sudah menyebut nama Si Golok Maut tadi mendadak bungkam, mungkin takut oleh sikapnya.

Dan karena ia menjadi jengkel dan kesal, Han Han mempercepat langkahnya dan... pemuda itu pun sudah meluncur dan lenyap di luar dusun.

"Iblis, sungguh mengejutkan. Dia seolah terbang saja!"

"Dan menanyakan mendiang Si Golok Maut! Ah, ada apa dia mencari tokoh itu? Apakah mau mengobrak-abrik makamnya!"

"Tidak tahulah, tetapi Hek-kwi Sam-houu (Tiga Harimau dari Gunung Setan) sudah dipecundanginya begitu mudah. Dia pemuda luar biasa!"

Dan ketika semua orang ribut-ribut dan membicarakan Han Han, yang pergi dan datang dengan caranya yang aneh, maka kedai arak itu menjadi bahan perbincangan yang ramai antar sesama tamu. Mereka mulai menduga-duga siapa kiranya pemuda bercaping bambu itu. Mereka teringat tokoh Si Golok Maut yang juga bercaping dan berkepandaian luar biasa.

Tetapi karena mereka tidak mengenal Han Han dan jelas pemuda itu bukanlah Si Golok Maut, karena Golok Maut telah binasa, maka Han Han tidak tahu betapa dirinya menjadi bahan perbincangan yang meluncur dari mulut ke mulut. Han Han tidak tahu bahwa di kedai itu akhirnya muncul tamu-tamu lain yang beraneka ragam, ada yang seperti petani namun ada juga yang seperti pedagang.

Dan ketika mereka terbelalak dan mendengarkan cerita itu, bertanya ke mana pemuda itu lenyap, maka ketika tiba di kota An-tiong, tiga puluh li dari kedai itu, Han Han melihat tiga orang penunggang kuda membalap dari belakang.

"Tar-tar!" Han Han menyingkir.

"Minggir, anak muda!"

Han Han minggir. Memang dia sengaja memberi jalan meskipun diam-diam mendongkol. Tiga penunggang kuda di belakang itu layaknya orang terburu-buru yang tidak menghormati pejalan kaki. Mereka menerjang saja dan cepat lewat di sisinya bagaikan terbang. Saat itu Han Han sudah mulai memasuki batas kota dan tiga penunggang kuda ini rupanya juga ingin ke An-tiong, karena mereka begitu buru-buru dan menyuruh siapa pun minggir.

Namun ketika mereka melewati Han Han dan ketiganya melirik tajam, mendadak kuda yang sudah dipacu pesat itu dihentikan tiba-tiba hingga kuda meringkik panjang dengan kedua kaki depan terangkat tinggi-tinggi.

"Heiitt... tar! Berhenti!" Tiga penunggang kuda itu berhenti.

Mereka tiba-tiba menyeringai dan Han Han yang terkejut mengerutkan kening mendadak surut selangkah ketika tiga ekor kuda itu tiba-tiba dipacu maju. Mereka ternyata orang-orang berpakaian perlente yang memiliki sorot mata buas. Han Han tidak tahu siapa mereka.

Tetapi begitu mereka datang dan memutar kudanya, maju mendekat, maka orang di depan yang dahinya codet itu bertanya, suaranya serak parau, kasar, "Anak muda, apakah kau yang baru saja dari kedai Ah-lopek? Apakah kau yang merobohkan Hek-kwi Sam-houw?"

"Hm," Han Han tidak mengenal Hek-kwi Sam-houw; julukan itu baru sekarang diketahuinya. "Siapakah itu Hek-kwi Sam-houw dan siapakah itu Ah-lopek? Aku tidak mengenal orang-orang ini. Tetapi kalau kau maksudkan kedai arak di belakang sana, memang betullah akulah orangnya. Ada apa kau bertanya?"

"Srat!" Laki-laki itu tiba-tiba mencabut pedang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment