Chapter 36
"Aku dan dua orang temanku ini adalah sahabat-sahabat Hek-kwi Sam-houw, Bocah. Kalau benar kau yang telah merobohkan mereka, maka kami, teman-temannya, datang untuk membunuhmu. Menyerahlah, atau kepalamu kupenggal!"
Han Han terkejut. Sekarang dia mulai berhadapan dengan orang-orang *kangouw* yang kasar. Selama ini, dia baru mengenal orang-orang *kangouw* di pesta Tek-wangwe saja; selebihnya dia belum banyak tahu. Namun, ketika orang bersikap garang dan sudah mulai mengancamnya, kekasaran dunia *kangouw* tampak jelas di sini. Tiba-tiba saja Han Han mendengus dan watak dinginnya muncul.
"Hm, kalian tikus-tikus busuk mau apa? Aku tidak mengganggu orang-orang yang tidak mulai menggangguku. Kalau Hek-kwi Sam-houw yang kalian maksud adalah tikus-tikus besar di kedai arak itu, maka aku jadi ingin melempar kalian dari atas kuda. Turunlah, dan rasakan tamparanku nanti!"
"Keparat, kau berani bicara begitu sombong! Eh, tuanmu tidak suka sikap seperti ini, Bocah. Sayang sekali kau harus mampus lebih cepat meskipun kau meminta ampun... *Singgg!*"
Pedang menyambar dari atas kuda menghantam kepala Han Han, tiba-tiba disusul oleh dua bentakan dan serangan dari dua laki-laki di atas kuda lainnya. Mereka juga marah dan mendelik mendengar kata-kata Han Han tadi. Mereka adalah teman-teman Hek-kwi Sam-houw yang ingin menuntut balas.
Namun, begitu pedang mereka bergerak, Han Han menyambutnya dengan dua jari, menjepit, dan menekuknya. Berturut-turut tiga batang pedang itu patah dan pemiliknya tertarik dari atas kuda hingga jatuh terpelanting.
"Plak! Plak! Plak!" Han Han menambahinya dengan tiga tamparan ke arah tiga laki-laki itu. Mereka berteriak dan bergulingan mengaduh kesakitan dengan pipi yang membengkak.
Alih-alih gentar, saat melompat bangun dan merasa marah, mereka kembali naik ke atas punggung kuda dan menyambar tombak untuk menerjang dengan dahsyat.
"Hm, tidak tahu diri!" Han Han mendengus. "Kalian minta kupatahkan tulangnya baru kapok? Baiklah, rasakan ini dan lihat bagaimana kalian bisa menyerang lagi!"
Han Han berkelebat, mendahului tombak-tombak itu, dan tiba-tiba mengebutkan ujung lengan bajunya. Ujung lengan baju itu seketika berubah sekeras baja. Tiga tombak yang menyambar ditangkis perlahan, tetapi nyatanya ketiga batang tombak itu patah menjadi tiga bagian dan membalik menyambar tuannya sendiri.
Tombak pertama dan kedua membentur lengan pemiliknya hingga kedua laki-laki itu berteriak; tulang mereka berkeratak dan mereka jatuh dengan lengan patah. Orang ketiga menjerit karena potongan tombaknya menyambar paha, berdetak, dan membuatnya terguling. Laki-laki itu berteriak karena pahanya terkulai akibat tulangnya putus menjadi dua.
"Aduh... *bluk-bluk-bluk!*"
Ketiganya menangis tidak keruan bagai babi disembelih. Han Han telah menghajar mereka lebih keras dan kini ketiga lawannya mengaduh kesakitan. Barulah mereka menjadi gentar, namun Han Han sudah tidak mau mengampuni karena mereka terlalu congkak dan tidak tahu diri. Saat mereka pucat dan jerih memandang pemuda itu, Han Han mengibas dari jauh dan ketiga laki-laki itu terlempar bagai diembus angin topan.
"Tobat...!"
Ketiganya terbanting dan pingsan. Mereka tidak dapat menahan sakit lagi ketika lengan atau kaki yang patah beradu keras dengan tanah. Setelah semuanya tersungkur, Han Han memutar tubuhnya dengan dingin dan tenang meninggalkan lawan-lawannya untuk memasuki kota An-tiong.
Han Han tidak memedulikan tatapan kaget dari beberapa orang yang lewat di jalan itu. Beberapa orang memang kebetulan lewat dan menyaksikan akhir dari pertarungan tersebut. Ketika Han Han meneruskan langkah memasuki kota dan mengebutkan ujung bajunya yang kotor, pemuda ini mulai berjalan-jalan tenang sambil berpikir apa yang akan dilakukannya.
Hatinya tiba-tiba tertarik oleh sebuah toko kain yang menjual beberapa pakaian bagus. Han Han teringat bahwa bekal pakaiannya harus ditambah karena hanya tersisa beberapa potong saja. Saat dia melangkah menghampiri toko itu dengan maksud membeli pakaian baru, tiba-tiba dia tertegun melihat seorang dara cantik juga berada di sana, sedang memilih beberapa gaun sutra mahal.
Gadis itu kebetulan menoleh.
"Ah!" Han Han membuang muka. Entah kenapa tiba-tiba dia terkesiap oleh bola mata yang bening dan lebar dari si gadis cantik. Mata itu begitu terang dan jernih, menyambar bagai gunting yang tajam. Han Han yang biasanya acuh terhadap wanita mendadak tergetar hebat. Dia cepat-cepat melengos dan memasuki pintu toko sebelah kiri yang menjual pakaian laki-laki.
Namun, karena tersandung dan terantuk kaca depan yang menipu pandangan, buntalan Han Han jatuh dan pemuda itu geragapan karena kaget.
"Ih, Kongcu, harap hati-hati. Awas kaca!"
Wajah Han Han merah padam. Gara-gara tergetar oleh bola mata si gadis, dia menumbuk dinding kaca. Seharusnya dia tahu, tetapi kekacauan hati membuatnya hilang kesadaran. Saat Han Han menengok dan mendengar suara lembut nan nyaring itu, ternyata si cantik bermata bintang itu telah berada di dekatnya dan mengambilkan buntalannya.
"Ah, terima kasih. Aku... eh... aku tidak melihat kaca ini!"
Terdengar kekeh tertahan. Han Han semakin malu karena si dara mengembalikan buntalannya sambil tertawa. Suara tawanya begitu merdu dan enak didengar. Jantung Han Han berdegup kencang dan dia kembali gugup. Setelah menerima buntalannya dan mengucapkan terima kasih, dia mundur dan cepat-cepat memilih pakaian. Si cantik pun kembali memilih gaun-gaunnya.
Namun, Han Han tertegun. Dua setel pakaian yang sudah dipilih dan diminta dari pemilik toko tiba-tiba tidak dapat dibayarnya. Pakaian itu sudah dibungkus dan siap diberikan, tetapi Han Han tidak dapat mengeluarkan uangnya. Dia terpaku dan bengong dengan muka pucat karena malu. Pemilik toko pun curiga.
"Kongcu, ini pakaian pilihanmu. Delapan tail perak saja!"
"Aku... aku...!" Han Han bingung. "Uangku tidak ada!"
"Heh, tidak membawa uang berani membeli? Eh, jangan main-main, Anak Muda. Kalau memang tidak punya uang, sebaiknya tidak usah memasuki toko. Kau penipu, rupanya hanya berpura-pura..."
*Wut!* Tangan Han Han tiba-tiba bergerak menyambar leher baju pemilik toko itu dengan cepat dan kuat.
"Kau bilang aku penipu? Kau kira aku berpura-pura? Eh, jaga mulutmu, Orang Tua, atau kuhancurkan mulutmu nanti. Aku kehilangan uangku, bukan berbohong!"
"Celaka!" si pemilik meronta dan berteriak-teriak. "Tolong, Pui-ek! Aku malah dicekik dan diancam. Tolong... tolong...!"
Han Han menjadi marah. Sebenarnya dia hanya ingin memberi tahu pemilik toko agar tidak menghinanya. Han Han sedang bingung dan kaget karena uangnya mendadak lenyap. Buntalannya sudah dibuka, tetapi uang bekalnya tidak ada di situ. Seluruh isi kantongnya sudah dikuras, namun uangnya tetap tidak ada. Lenyap entah ke mana. Aneh!
Saat Han Han sedang mencekeram leher baju pemilik toko, tiba-tiba dua orang pelayan muda memburu dan menangkap lengannya.
"Hei, jangan main gila! Lepaskan tuanku!"
"Hm!" Han Han mendengus. Dia bertambah marah karena dua pelayan itu menarik-narik dan bahkan menggigit lengannya. Dia membentak dan tiba-tiba kakinya bergerak menendang. Ketika dua pelayan itu terpental dan menjerit-jerit, suasana toko menjadi gaduh. Tiba-tiba si gadis cantik datang dengan suaranya yang nyaring merdu.
"Hei, kalian jangan menghina Kongcu ini. Dia jelas bukan perampok atau pencuri. Kalau uangnya tidak ada, biarlah aku yang bayar... *Cring!*"
Pemilik toko melotot. Sekeping uang emas telah berada di sana. Han Han melepaskan cekikannya. Si cantik datang dan membayar pakaiannya. Namun, bukan itu yang membuat Han Han terkejut, melainkan kepingan uang emas itu yang menancap di meja kasir. Uang itu menancap amblas hampir setengahnya.
Pemilik toko tertawa dan mencoba mencabut uang itu, tetapi ternyata tidak bisa. Han Han tertegun sementara pemilik toko kebingungan mencari alat hingga akhirnya menemukan sebuah tang kecil. Dengan tang itulah dia mencabut uang tersebut. Sambil menyeringai gembira, dia menyerahkan buntalan pakaian Han Han.
"Terima kasih, ha-ha... sungguh baik benar nona budiman ini. Ah, bawalah, Anak Muda. Dan jangan mengganggu aku lagi!"
Namun, Han Han tidak beranjak dari tempatnya. Dia masih terkesima memandang si cantik dan kemampuannya menancapkan uang emas di atas meja. Ternyata si cantik ini bukan gadis sembarangan!
Saat Han Han masih bengong, tiba-tiba gadis itu memutar tubuhnya, menyambar barang belanjaannya sendiri, lalu berkelebat dan lenyap.
"Hei...!" Han Han tersadar. "Tunggu, Nona! Aku tidak mau menerima kebaikanmu ini!"
Si gadis menoleh sejenak. Han Han melihat senyum manis itu, namun gadis tersebut tidak berhenti. Dia terus bergerak memasuki kompleks pertokoan lain atau pasar. Han Han mengejar, tetapi si gadis bergerak kian cepat hingga Han Han kehilangan jejak di balik kerumunan orang banyak.
Han Han berhenti dan celingukan mencari-cari. Tiba-tiba, seikat pakaian jatuh di pundaknya, tepat ketika dia melihat gadis itu berkelebat di sudut kiri jalan.
"Copet! Pencuri!"
Han Han terkejut. Tiba-tiba empat orang menyerbunya sambil berteriak marah.