Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 37

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 37

Han Han tak mengingat atau memperdulikan pakaian yang jatuh di pundaknya itu, mengejar si gadis karena dara cantik itu menampakkan diri di ujung jalan. Maka ketika empat laki-laki berteriak padanya dan Han Han mendorong mereka, keempatnya terpelanting sementara Han Han mengejar dan kini melempar setumpuk pakaian itu. Namun, pakaian-pakaian yang lain berjatuhan menimpanya. Setiap Han Han melewati jalan atau lorong di mana gadis itu berkelebat, maka penjual pakaian di kiri kanan jalan berteriak-teriak.

Han Han mula-mula heran, tapi akhirnya dia menjadi gemas ketika dilihatnya gadis itu menimpukkan sesuatu dan pakaian yang bergelantungan di atas toko-toko pun berjatuhan, putus talinya oleh tindakan dara nakal itu. Dan ketika pasar menjadi ribut sementara Han Han berkelebat mengejar si gadis, maka gadis itu ternyata berputar-putar dan berlari dari satu tempat ke tempat yang itu-itu juga. Tak ayal, suasana menjadi kacau dan penjual buah atau sayur-sayuran pun berteriak-teriak. Mereka didorong gerobaknya hingga jungkir balik. Si gadis melakukan itu untuk menghalangi pengejaran Han Han.

Tapi karena Han Han dapat melewati semuanya itu dengan baik dan dua kali sudah gadis itu berputaran mengelilingi pasar, maka Han Han menjadi gemas dan akhirnya mencegat atau memotong jalan. Tapi celaka. Sebuah tenda tiba-tiba roboh. Han Han tertelungkup dan terjebak di sini, mendengar teriakan orang-orang di sekitar yang sudah dibuat marah oleh ulah mereka berdua. Buah-buahan dan sayur-sayuran tumpah ruah di jalanan kecil itu, lorong-lorong pasar atau pusat perbelanjaan bagi penduduk An-tiong.

Dan ketika Han Han terkejut karena pikulan kayu atau apa saja menghantam dirinya, yang tertelungkup dan terjebak di tenda itu, maka didengarnya si gadis terkekeh dan tertawa terbatuk-batuk. "Hi-hik, awas hati-hati, kongcu. Tangkap dan kejar lagi aku kalau bisa!" Han Han gusar. Akhirnya dia menggerakkan tangannya ke kiri kanan dan tenda itu terlempar ke belakang. Batu dan pikulan atau apa saja yang menimpanya sekarang berbalik menghantam pemiliknya sendiri. Orang-orang itu memekik, jidat atau hidung mereka terkena sial.

Dan ketika Han Han keluar dan melompat mengejar, maka sepasukan pengawal kota muncul dan membentak mereka, yang membuat gaduh. "Berhenti, kalian kami tangkap!" Namun Han Han mendengus. Entah dari mana tiba-tiba saja belasan pengawal itu muncul. Mereka mencabut pedang atau golok dan beberapa pentungan pun tak ketinggalan. Han Han mengejar si gadis karena dara yang nakal itu tiba-tiba terbang ke selatan, lidahnya dijulurkan begitu melihat pengawal keamanan kota.

Dan ketika Han Han membentak namun dirintangi belasan pengawal ini, yang tak keburu menghadang si nona dan mencegat Han Han, maka pemuda ini berjungkir balik dan.... sudah melewati kepala semua orang. "Minggir, aku tak berurusan dengan kalian!" Para pengawal terbelalak. Komandannya, yang berkumis tebal sekepal sebelah, tiba-tiba berteriak. Dia menyambar seekor kuda dan mengejar.

Han Han sendiri sudah berkelebat dan mengejar gadis yang nakal itu. Dan ketika ketiganya berkejar-kejaran dan Han Han terkejut karena gadis di depannya itu juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat baik, maka An-tiong menjadi ribut oleh keonaran di pagi itu. Para pedagang berteriak-teriak bahwa selain kacau barang dagangannya, juga peti-peti uang mereka lenyap. Han Han hanya melihat gadis di depannya itu menggendong sebuah buntalan besar, entah apa itu.

Dan ketika dia gemas dan menambah kekuatannya, tiba-tiba kuda si komandan tertinggal jauh dan komandan itu terbeliak melihat Han Han tak menginjak permukaan tanah lagi, melayang atau terbang seperti siluman. "Hantu! Iblis...!" sang komandan tersentak membelalakkan mata. "Bukan manusiakah pemuda itu? Silumankah dia?"

Namun bukan hanya komandan ini saja yang terkejut membelalakkan mata. Gadis cantik itu, yang semula tertawa dan mengejek menggoda Han Han, sekonyong-konyong tersirap dan mengeluarkan seruan kaget. Han Han yang jaraknya tadi masih jauh, tiba-tiba saja sudah tinggal beberapa meter lagi di belakangnya. Han Han menyuruh gadis itu berhenti namun si nona tak mau mengikuti perintahnya.

Dan ketika jarak tinggal dua meter lagi dan Han Han mengulurkan lengan, siap menyambar pundak si nona, tiba-tiba gadis itu menggerakkan tangan ke belakang dan belasan sinar emas menyambar Han Han, dari muka sampai ke kaki. "Cring-cring-cringg!" Han Han menampar runtuh. Kiranya itu adalah uang-uang emas dan Han Han terkejut membelalakkan mata. Lawannya ini tak sayang-sayang membuang sekian uang emas yang dijadikan senjata rahasia. Betapa royalnya!

Dan ketika di belakang terdengar derap kuda dan komandan itu sudah mengejar bersama puluhan pasukannya, maka si gadis yang terkejut melihat Han Han mampu meruntuhkan semua uang emasnya, sudah membentak dan menyambarkan sepasang anak panah hitam yang bersiut ke mata pemuda ini. "Coba terima, kalau kau gagah!"

Han Han belum banyak pengalaman. Dia menjadi marah ketika kembali gadis itu menyerangnya, meskipun diam-diam dia kagum karena gadis yang di depannya ini ternyata gadis luar biasa. Di samping cantik, ternyata lihai. Dan ketika dia mendengus dan menampar panah-panah itu, yang terpukul runtuh oleh telapak tangannya, tiba-tiba gadis itu tertawa dan Han Han merasakan rasa gatal yang tidak wajar di telapak tangannya itu.

"Hi-hik, bagus, bocah. Kau telah terkena racun panahku. Tak mungkin kau dapat mengejarku lagi!" Han Han tertegun. Sekejap, tak sampai semenit, mendadak rasa gatal menjalar sampai ke atas. Rasa ini lalu disusul rasa nyeri dan panas. Han Han terkejut ketika tiba-tiba tenaganya pun serasa dilolosi, hilang.

Tapi ketika Han Han membentak dan mengerahkan sinkang untuk menahan semua rasa yang tidak enak itu, racun yang kiranya menempel di panah hitam, maka dia dapat mengejar lagi dan membuat si gadis terbeliak. "Eh, kau tak apa-apa? Dapat mengejar aku lagi? Hebat, tapi rasakan lagi tujuh panahku ini. Coba kau masih sanggup mengalahkan nonamu ini atau tidak.... wut wut-wutt!" Tujuh panah hitam kembali menyambar, kali ini menuju ke tujuh jalur darah di depan Han Han, dan semuanya bercuitan tanda dilepas oleh tenaga yang cukup hebat.

Han Han kagum sekaligus marah. Dan karena dia tidak takut akan panah-panah itu dan mendengus serta menampar, maka enam panah itu runtuh sementara yang satu diterima oleh giginya dan "Crep!" Han Han tertawa mengejek, berkelebat dan mengejar lagi. "Boleh kauhabiskan semua anak-anak panahmu, nona. Tapi kukira kaupun harus menerima panahmu ini!" Han Han meniup, panah di mulut tiba-tiba menyambar dan mendesing di belakang gadis cantik itu. Si gadis berteriak karena panah menyambar seperti dilepas dari busur. Bukan main!

Dan ketika dia melompat tinggi dan berjungkir balik menghindari panahnya itu, yang melayang dan lewat di bawah, maka Han Han berseru kagum karena gadis itu akhirnya menukik dan menyambar serta merampas anak panahnya kembali. "Bagus!" Han Han memuji. "Kau hebat, nona. Tapi betapapun kau harus berhenti. Cukup kau mempermainkan aku!"

Si gadis melengking marah. Han Han mengejar lagi karena gadis itupun sudah berlari cepat memasuki hutan. Kalau Han Han tak dapat menangkap, maka gadis itu pasti lolos. Han Han menggeram dan tiba-tiba menyambar sebutir kerikil hitam. Dan tepat gadis itu di mulut hutan, tiba-tiba dia menjentikkan kerikil ini yang tepat mengenai pundak lawannya. "Aduh..!" Gadis itu terguling.

Han Han tertawa dan siap menotok lagi ketika tiba-tiba dari bawah berhamburan kerikil-kerikil lain. Gadis itu berteriak dan balik menyerang pemuda ini dengan puluhan kerikil yang diraup. Han Han terkejut dan kagum karena lagi-lagi gadis itu tak apa-apa, padahal seharusnya sambaran kerikilnya tadi merobohkan gadis ini. Dan ketika dia harus mengelak dan mengebut puluhan kerikil itu, maka si gadis sudah melompat bangun dan.... meneruskan larinya lagi.

"Pemuda keparat, kau tak tahu budi. Awas nanti kalau para pengawal itu sudah tidak mengejar kita lagi!" Han Han terkejut. Lagi-lagi dia melihat lawannya itu berkelebat dan menunjukkan ilmunya meringankan tubuh yang hebat, meluncur dan sudah memasuki hutan. Kini dia bisa ketinggalan sementara komandan di belakang berteriak mengejar-ngejar mereka. Han Han gemas.

Dan karena dia tak mau kehilangan lawannya itu, yang aneh dan menarik hatinya, maka Han Han bergerak dan tiba-tiba menyambar seperti elang di atas kepala gadis itu, yang terpekik dan menjerit kaget. "Heii... dukk!" Han Han menggerakkan lengan ke bawah. Si gadis akan dicengkeram ketika tiba-tiba dengan marah lawannya itu menangkis. Si gadis membentak dan cengkeraman Han Han bertemu tenaga yang kuat dan menggetarkan.

Han Han tertahan tapi gadis itu terlempar berjungkir balik. Nyata si gadis kaget sekali karena Han Han memiliki sinkang yang begitu hebat. Baik ginkang maupun sinkang pemuda ini masih di atas dirinya, karena Han Han mampu mengejar dan tadi menyambar dirinya dari atas. Tapi karena gadis itu penasaran dan Han Han mengejar lagi, juga kagum dan tergetar bertemu lengan yang halus namun kuat itu, maka gadis ini berseru agar mereka masuk ke tengah hutan yang lebat.

"Aku tak takut padamu, mari kita bertempur seribu jurus. Tapi jangan pasukan di belakang itu turut campur!" "Hm, aku pun tak mau orang lain turut campur urusan kita, nona. Asal kau mau berhenti dan mengatakan mengapa kau mempermainkan dan mengejek aku, maka aku tak akan memburumu lagi. Berhentilah, dan katakan kepadaku!" "Aku tak mau berkata di sini. Komandan itu dan pasukannya mengejar. Hayo ke tengah dan kita bertempur di dalam'" Han Han mengangguk.

Akhirnya dia mengikuti gadis itu yang minta agar dia masuk ke hutan. Cepat dan luar biasa, gadis itu sudah berkelebat dan menyelinap lagi. Kalau Han Han tak mengerahkan semua kepandaiannya, barangkali dia akan kehilangan jejak. Hebat!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment