Chapter 38
Dan ketika pasukan di belakang tertinggal jauh dan mereka akhirnya berada di tengah hutan, gelap dan pekat, maka gadis itu melayang tinggi dan tiba-tiba sudah berdiri di atas pucuk daun, yang rantingnya hampir sama sekali tak bergoyang, tegak di atas pohon seperti burung camar yang siap menanti lawannya!
"Hayo, kita bertempur di sini! Siapa jatuh, dia kalah!" Han Han membelalakkan matanya.
Ia melihat gadis itu sudah berjungkir balik dan hinggap di pucuk daun yang paling tinggi, jarak dengan tanah barangkali ada dua puluh meter.
Gagah dan tegak seperti burung rajawali yang siap menunggunya, jelas menunjukkan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa itu.
Dan ketika Han Han bergerak dan naik ke atas pula, menjejakkan kedua kakinya dengan jurus di tanah, maka Han Han juga sudah berdiri di atas pucuk daun yang lain, bahkan berdiri dengan satu kaki!
"Hm!" Han Han bersinar-sinar.
"Kau hebat, Nona.
Tapi rupanya suka mengganggu orang.
Nah, aku sudah di sini.
Apa yang kau maui dan bertanding berapa jurus yang kau kehendaki!" Gadis itu tertegun.
Dia sudah berdiri tak bergoyang di puncak pohon yang paling tinggi.
Tapi bahwa pemuda itu dapat menyusul dan bahkan berdiri hanya dengan sebelah kakinya saja, jelas tak mau kalah dengannya, maka gadis itu merah padam dan kembali merasa kalah setingkat!
"Kau sombong, tapi tak tahu budi.
Nah, aku ingin bertempur seribu jurus dan siapa jatuh dari sini maka dia kalah!" "Hm, nanti dulu.
Kenapa kau melakukan semuanya ini? Aku menilai kaulah yang sombong, ingin memamerkan kepandaian dan mengganggu orang.
Apa maksudmu mempermainkan dan mengejek aku? Dan kenapa kau menantangku bertanding?" "Cerewet, kau tak tahu dosa-dosamu? Eh, kaulah yang sombong, pemuda siluman.
Kau menolak pemberianku secara baik-baik di toko kain tadi.
Kenapa kau membuat aku malu dan marah? Kau kira begitu mudah kau menghina aku di depan orang banyak? Hm, kini kita sudah berhadapan.
Cabut senjatamu dan jangan sombong dengan ilmu meringankan tubuhmu itu!" Han Han tertegun.
Si Nona mencabut senjata dan sebuah pedang pendek berwarna hitam berada di tangan yang gemetar itu. Gadis ini menahan tangis!
Dan ketika Han Han menarik napas dan tersenyum pahit, merasa aneh dengan sikap gadis ini, maka dia tertarik melihat buntalan besar yang dipegang di tangan kiri lawan.
"Kau melempar-lemparkan uang emas.
Entah dari mana kau dapatkan itu dan bagaimana pula aku tiba-tiba kehilangan uangku.
Kalau boleh aku bertanya, sebelum kita bertanding, siapakah namamu dan dari mana kau berasal? Aku sendiri bernama Han Han, tak bertempat tinggal karena sedang berkelana..." "Cerewet!" gadis itu membentak.
"Siapa ingin dengar tentang nama dan dirimu? Kalau kau sudah merasa berkepandaian tinggi, mari cepat bertanding, manusia sombong.
Atau kau akan kuterjunkan dari sini dan kau mampus! Singg!" Pedang sudah bergerak, menusuk dan menikam, dan gadis itu sudah meloncat bagaikan terbang.
Han Han mengelak, namun pedang terus menyambar.
Dan ketika apa boleh buat dia harus menangkis, maka tangannya bergerak dan pergelangan tangan si gadis dipukul.
"Plak!" Gadis itu berjungkir balik.
Han Han merasa hawa dingin menyambar dari pedang hitam itu dan tahu bahwa sebatang pedang pusaka berada di tangan lawan.
Dia tak berani menerima begitu saja dan karena itu menangkis dari samping.
Lalu ketika lawan melengking dan berjungkir balik turun, berkelebatan dan menyambar-nyambarnya bagai elang menyergap mangsa, maka Han Han sudah diserang dan berada pada posisi yang didesak.
"Cabut senjatamu, atau kau kulempar dari sini!" Han Han kagum.
Tiba-tiba dia sudah dikurung oleh sinar hitam yang kian lama kian lebar.
Pedang di tangan gadis itu sudah bergulung-gulung dan Han Han sebagai putra seorang ahli pedang segera melihat bahwa permainan pedang di tangan lawannya itu hebat.
Pedang itu mengeluarkan hawa dingin sementara serangan-serangannya juga ganas dan tajam.
Tapi ketika pedang itu mulai membacok atau membelah seperti gaya permainan sebuah golok, hal yang aneh, maka selanjutnya Han Han berkelebatan menghindari lawan yang mulai memainkan silat antara ilmu pedang dan ilmu golok!
"Wah, hebat, tapi aneh sekali.
Ilmu silat apa ini, Nona? Ilmu pedang atau ilmu golok? Kau mencampuradukkannya sedemikian rupa, ini sudah bukan ilmu pedang asli!" Si gadis terbelalak.
Han Han beterbangan mengikuti sambaran pedang hitamnya.
Ke mana pun pedang itu menyambar, maka ke situ pula pemuda itu mendahului.
Geraknya seperti kapas yang ringan tertiup angin, terdorong sebelum disentuh. Dan ketika Han Han memuji namun tak dapat dibacok, terdorong dan selalu terdorong, maka gadis itu marah dan membentak sengit.
"Tak usah banyak mulut, kau keluarkan senjatamu atau aku akan merobohkanmu ke bawah...! Sing-crat!" Han Han terkejut, merunduk, dan pedang membabat dedaunan di belakang punggungnya, bergerak ke kiri tapi terus dikejar, dan tiba-tiba kaki gadis itu bergerak dari bawah ke atas.
Untuk ini Han Han tak waspada.
Maka ketika dia kena tendangan dan terpelanting ke bawah, karena mereka bertempur di atas puncak pohon yang tinggi, maka gadis itu bersorak karena menganggap Han Han akan terus terbanting ke bawah.
Namun Han Han bukanlah putra Pek-jit Kiam-hiap kalau begitu saja jatuh ke tanah.
Pemuda ini terkejut sejenak tapi sudah berseru keras menjejakkan kakinya di kaki yang lain.
Kaki kiri itu sudah menotok kaki kanan, dan begitu dia terpelanting ke bawah tiba-tiba Han Han sudah berjumpalitan dan naik lagi ke atas.
Dan ketika gadis itu terbelalak karena Han Han sudah berada di tempatnya tadi, dengan tawa mengejek, maka gadis itu menerjang lagi dan pedangnya bergerak kian ganas.
"Bagus, kau pamer kepandaian.
Tapi aku tak akan memberimu ampun lagi dan coba hindarkan serangan-serangan ini!" Han Han sibuk.
Benar saja si gadis mengeluarkan jurus-jurus simpanannya dan kini kaki atau tangan kiri gadis itu juga bergerak-gerak memukul.
Setiap pukulan mengeluarkan angin dingin dan Han Han kagum.
Dan ketika apa boleh buat dia harus menangkis karena menghindar dan mengelak saja akan membuat tubuhnya terpelanting lagi, maka Han Han sudah mengerahkan tenaga Pek-lui-kangnya menahan serangan-serangan si Nona.
"Plak-dukk!" Si Nona tergetar.
Han Han segera tahu bahwa lawan kalah tenaganya.
Gadis itu terhuyung namun hebatnya dapat menginjak daun-daun atau ranting lain di belakang tubuhnya, tanpa menoleh.
Kakinya begitu ringan dan enteng layaknya burung yang hinggap di pucuk dedaunan saja.
Dan ketika dia diserang lagi namun Han Han mulai menangkis, bergerak dan mengandalkan sinkangnya, maka gadis itu mendelik karena setiap adu tenaga dia selalu kalah, terdorong.
Akibatnya pedang itu naik turun di balik pukulan-pukulan tangannya dan Han Han tak berani menangkis.
Han Han maklum bahwa pedang di tangan lawan bukanlah pedang biasa, pedang itu pedang hitam yang ampuh, anginnya saja sudah cukup menebas rontok daun-daun di belakang tubuhnya.
Dan ketika Han Han mengelak atau menghindar sambaran pedang itu yang bergulung-gulung naik turun, maka gadis itu mandi keringat sementara Han Han bersinar-sinar matanya karena sesungguhnya ilmu pedang setengah golok di tangan lawannya itu hebat sekali.
Han Han kagum.
Kalau saja bukan dia, barangkali sudah roboh sejak tadi.
Mereka sekarang turun agak ke bawah karena ranting atau daun-daun di atas pohon sudah gundul terbabat pedang gadis itu.
Pedang itu memang hebat dan dua kali ujung bajunya sobek terkena sambaran angin pedang, baru sambaran angin pedangnya saja!
Dan ketika Han Han melihat bahwa sudah cukup dia mengelak dan menangkis, maka Han Han berpikir dia sekarang harus mulai membalas.
Dan Han Han pun sudah mulai melakukan itu.
Pemuda ini bergerak dan jari tangan yang berkerotok tiba-tiba meluncur ke nadi pergelangan tangan gadis itu.
Han Han bergerak mendahului dan dia bermaksud untuk melepaskan pedang di tangan lawannya.
Gadis itu terkejut ketika tiba-tiba Han Han bergerak amat cepat dan tahu-tahu jarinya sudah menyelinap di sepanjang badan pedang, naik ke atas dan menotok pergelangan tangannya.
Tapi ketika Han Han merasa totokannya bertemu benda yang kenyal, seperti karet, maka pemuda itu berseru tertahan karena totokannya mental.
"Hi-hik.
Kau boleh totok lagi, manusia sombong.
Hayo balas dan serang aku lagi.
Bukan hanya kau yang memiliki keunggulan!" Han Han terkejut.
Dia menotok dan ini mengulangi kegagalannya, berkelebat dan mendahului sinar pedang yang menyambar lehernya.
Tapi ketika totokan itu pun mental dan jarinya bertemu pundak yang kenyal, maka Han Han terkejut karena gadis itu rupanya menguasai ilmu memindahkan jalan darah.
"Ah, Pihiat (Tutup Hawa Lindungi Jalan Darah)!" "Hi-hik, kau tahu.
Bagus, benar manusia sombong.
Aku memiliki Pihiat!" Dan Han Han yang bengong, tertegun diam, tiba-tiba diserang dan pedang menyambar ulu hatinya.
Han Han lambat berkelit.
Dia melempar tubuh ke bawah ketika bajunya robek ditikam pedang. Berjungkir balik dan sudah menyambar sebatang dahan untuk pengait dirinya.
Dan ketika Han Han bergelantungan dan mau melemparkan tubuh ke atas, tapi si gadis menerjang dan turun ke bawah mengikutinya, maka apa boleh buat Han Han memindah-mindahkan tangannya dari satu dahan ke dahan lain, dikejar dan dikejar tapi pemuda ini terus bergelantungan berpindah-pindah.
Sikapnya mirip monyet diserang rajawali, lucu, tapi gadis itu tak tertawa karena Han Han selalu dapat menghindari diri.
Dan ketika dia melengking dan marah sekali, membacok dahan di mana Han Han bergelantungan, maka dahan itu putus dan Han Han terjatuh ke bawah, bergerak dan menyambar dahan yang lain, tapi gadis itu menyusul dengan gerakan pedangnya lagi, membacok dahan itu hingga tujuh kali tubuh Han Han harus turun dan turun saja.
Tak terasa, pohon itu menjadi pendek dan hampir gundul!
Mereka sama-sama tinggal beberapa meter lagi dari tanah dan gadis itu gemas sekali.
Tujuh bacokannya tak membuat Han Han terpelanting ke tanah karena setiap kali terpelanting tentu pemuda itu sudah menyambar dahan yang di bawahnya lagi, begitu berturut-turut.