Chapter 39
Dan ketika gadis itu gelap mata karena kini tinggal sebatang dahan lagi yang menjadi pijakan mereka berdua, Han Han bergelantungan di bawah sementara gadis itu di atasnya untuk menusuk atau menyerang Han Han, maka pedang itu kembali berkelebat.
Dahan itu pun putus.
"Matilah, dan kau akan jatuh ke tanah!" Namun, Han Han sungguh luar biasa.
Begitu tidak mendapat tempat bergelantungan lagi, padahal dia tidak mau jatuh ke tanah, tiba-tiba pemuda ini mengayun tubuhnya empat kali tinggi-tinggi ke atas.
Gadis itu sendiri juga terjatuh karena dahan yang sama-sama mereka pijak tertebas putus.
Tapi ketika gadis itu berjungkir balik ke bawah, geram dan memaki Han Han, maka Han Han sendiri sudah berjungkir balik ke atas.
Ia hinggap di pohon lain, tidak jauh dari pohon yang sudah ditebas dan dirusak gadis itu.
"Keparat!" Gadis itu mendelik, lalu hinggap dan melayang turun ke tanah, tidak menyangka Han Han dapat melakukan itu.
"Kau cerdik dan lihai sekali, manusia sombong.
Tapi kau juga tidak dapat mengalahkan aku!" "Hm!" Han Han tertawa, mengejek sekaligus kagum.
"Siapa bilang begitu, Nona? Kau sendiri menentukan bahwa siapa yang terjatuh ke tanah, dialah pecundang.
Dan kau menginjak tanah.
Kau kalah!" "Tidak, aku masih memegang pedang. Maksudku ialah siapa yang tidak dapat menyerang lawannya lagi.
Maka dia kalah. Aku masih dapat menyerangmu. Lihat, kau licik!" Dan gadis itu yang bergerak dan menjejakkan kakinya, lalu melesat ke atas tiba-tiba menyerang dan menusuk Han Han di pohon sebelah.
Dia geram dan marah karena persyaratannya harus "diralat" dan ditambahi. Dan ketika Han Han mengelak, lalu pedang mengenai tempat pijakan kaki Han Han, maka dahan itu putus lagi, dan Han Han bergerak ke tempat yang lebih tinggi.
Han Han tahu bahwa dia pasti dikejar, dan benar saja, gadis itu berteriak penasaran, mengejar, dan berjumpalitan lagi ke atas, ke tempat Han Han berada.
Dan ketika dahan itu dibacok putus, Han Han melompat-lompat ke tempat yang lebih tinggi lagi.
Akhirnya semua dahan di bawah habis ditebas gadis itu.
"Nah!" Gadis itu melotot.
"Kau boleh terbang lagi ke pohon lain, pemuda siluman.
Dan aku akan membabat habis isi hutan ini!" Han Han terkejut.
Dia tidak menyadari sudah berada di puncak tertinggi.
Dahan-dahan di bawahnya habis ditebas semua dan kini tinggal dahan di puncak paling atas.
Sekarang keadaannya berbalik dengan sebelumnya; jika tadi dia bergerak dan melompat-lompat ke bawah, sekarang dia harus bergerak dan melompat-lompat ke atas.
Gadis lawannya itu agaknya penasaran karena sudah sekian lama belum juga mampu merobohkannya.
Gadis itu menghendaki dia jatuh ke tanah sementara Han Han tentu saja tidak mau, ia tetap bertahan.
Dan ketika sekarang mereka sudah di puncak tertinggi dan ranting serta dahan-dahan di bawah ditebas habis, pohon itu hampir gundul dengan sebatang dahan kecil di puncak tertinggi, maka Han Han tidak ada tempat berpijak lagi jika menghindar.
Pohon di sebelahnya terlalu jauh dan Han Han harus berpikir cepat: turun, atau bersama-sama turun dengan gadis itu!
Dan ketika Han Han terbelalak karena gadis itu sudah berjumpalitan ke atas, siap dengan pedangnya yang bergetar di tangan, penuh kemarahan, maka Han Han bermaksud untuk menangkis pedang dengan tangan telanjang, sekadar mencoba.
"Plak!" Han Han terkejut.
Pedang yang sudah diduganya ampuh itu ternyata menggores siku lengannya sampai tergores ke bawah, padahal dia sudah memasang kekebalannya.
Dan ketika Han Han terkejut karena lengannya luka, pedang terus bergerak menuju leher, maka Han Han tiba-tiba membentak dan secepat kilat tangan kirinya bergerak memukul pergelangan tangan gadis itu.
"Plak-aduh!" Gadis itu terlepas pedangnya.
Dalam saat yang berbahaya itu, Han Han dipaksa jatuh ke bawah.
Sebenarnya dia tadi hendak melepaskan pedang lawan dengan tangkisannya, tidak tahunya pedang itu benar-benar hebat hingga dia yang sudah mengerahkan sinkang masih juga terluka.
Dan karena pedang terus menyambar dan lehernya akan menerima bahaya, maka begitu dia menunduk dan memiringkan kepala, secepat kilat tangan kirinya menghantam pergelangan tangan gadis itu. Begitu gadis itu terpelanting dan jatuh ke bawah, pedangnya terlepas mencelat, maka Han Han sendiri yang tadinya mengelak dan memiringkan kepala juga ikut terjatuh ke bawah dan berjungkir balik melayang turun.
"Jahanam!" Han Han mendengar suara dari sebelahnya.
Mereka sama-sama jatuh dan Han Han sempat melirik gadis yang terlempar itu.
Gadis itu terpelanting, tapi sambil berjungkir balik dan melengking marah, dia sudah berhasil mengubah posisi kepalanya yang tadinya di bawah menjadi di atas, meluncur, dan terus jatuh tanpa dapat menahan diri lagi.
Dan ketika dia anjlok dan jatuh dengan kaki yang bersuara agak keras, terhuyung-huyung, maka Han Han baru beberapa detik kemudian menyusul, karena di tengah udara tadi Han Han membuat tubuhnya seringan kapas hingga nyaris kehilangan bobot.
"Wut!" Han Han benar-benar seperti burung yang hinggap dengan ringan.
Pemuda ini jatuh dan berdiri dengan kedua kaki tegak, tidak terhuyung, apalagi bersuara keras seperti ketika lawannya tadi.
Dan ketika gadis itu terbelalak dan marah memandangnya, maka Han Han berseru bahwa gadis itu kalah lagi, tiba lebih dulu dan jatuh di tanah.
"Aku tidak berkata begitu.
Yang kumaksud adalah siapa yang tidak dapat menyerang lagi.
Keparat!" Dan gadis itu yang berkelebat dan memekik gusar, tiba-tiba menyerang Han Han dengan tamparan tangannya, bergerak dan menerjang sengit. Han Han mengerutkan kening.
Kalau begini, dia dipaksa untuk merobohkan lawannya itu.
Dan karena dia akan terus diserang dan diserang karena gadis itu rupanya nekat dan keras kepala, tidak mengenal menyerah, maka Han Han mengeluarkan Pek-lui-kangnya dan dengan ilmu silat Tangan Petir, dia melayani lawan.
"Baiklah, kau yang meminta sendiri, Nona.
Aku akan merobohkanmu dan kau tidak akan dapat menyerang lagi...
Plak-plak!" Dan Han Han yang menangkis serta mengeluarkan tenaga Petir miliknya tiba-tiba membuat lawan menjerit dan terpental kaget, ia maju lagi tapi ditangkis lagi, dan gadis itu pun berteriak.
Han Han membuat pukulannya mengeluarkan hawa panas, membuat tamparan dingin yang dilancarkan gadis itu kalah.
Dan ketika empat kali dia menangkis dan empat kali itu pula lawan berteriak mengaduh, dengan lengan gadis itu gosong, akhirnya Han Han menjadi kasihan dan mengurangi tenaganya, melihat gadis itu menangis.
"Keparat!
Jahanam terkutuk.
Kau bunuhlah aku, pemuda siluman.
Kau robohkan aku dan jangan tanggung-tanggung!
Hayo, aku sekarang tahu bahwa itu adalah Pek-lui-kang.
Kiranya kau adalah murid Pek-jit-kiam Ju Beng Tan!" Han Han terkejut.
Lawan tiba-tiba kalap dan tidak memedulikan lengannya yang gosong.
Nama ayahnya disebut-sebut, dan Han Han seketika berubah karena, kalau begitu, jelas gadis ini mengenal ayahnya.
Dan ketika dia terus menangkis karena gadis itu juga terus menyerang, nekat, maka Han Han mulai bertanya siapa sebenarnya gadis itu.
"Aku musuhmu, tidak perlu cerewet.
Hayo, pukul aku sampai mati dan jangan kira aku takut!" Han Han tergetar.
Kalau sudah begini, maka dia tidak tahan melihat air mata bercucuran itu.
Han Han biasanya akan menjadi ganas dan dingin kalau lawan sudah nekat, tidak tahu diri.
Tapi menghadapi gadis ini yang entah mengapa membuat perasaannya tidak karuan, maka Han Han justru mundur-mundur dan terus mengurangi tenaganya.
Lawan tentu saja heran, tapi gadis itu terus mendesak.
Dan ketika Han Han tinggal bertahan dan lengan gadis itu bengkak-bengkak, tidak dapat dipergunakan lagi, maka Han Han disapu sebuah tendangan dari bawah hingga mencelat dan terlempar.
"Terkutuk kau, bedebah!" Han Han terkejut.
Dia tidak menyangka, tapi dapat bangun dengan bergulingan menjauh.
Lawan menangis lagi dan mengejar dengan sebuah tendangan melingkar, mengenai pantatnya, tapi gadis itu sendiri yang malah terjungkal!
Dan ketika Han Han menjadi kasihan sekaligus kagum karena gadis ini benar-benar keras hati dan nekat, maka dia berkelebat ketika gadis itu hendak menyambar pedangnya.
"Tahan!
Plak!" Dan Han Han yang memukul pedang itu hingga jatuh, akhirnya melihat gadis itu terguling dan tersedu-sedu.
Gadis itu tidak menyerang lagi dan kini meringkuk menyedihkan.
Han Han terkejut sekaligus memelas.
Perasaannya terguncang-guncang mendengar tangis yang tersedu-sedu itu.
Dan ketika dia melangkah maju dan bergetar mendekati, bermaksud menolong lawan yang lengannya bengkak-bengkak itu, mendadak sebuah tendangan masih juga diluncurkan saat dia membungkuk.
"Pergi!" Han Han menarik kepalanya ke belakang.
Pemuda ini mengelak, namun caping bambunya yang menjadi sasaran.
Mukanya memang tidak terkena tendangan, tapi caping bambunya itu yang menjadi korban, karena caping itu lebih lebar dari kepalanya.
Dan ketika Han Han terkejut karena capingnya mencelat dan talinya putus, maka gadis itu melompat bangun dan tertegun oleh wajah Han Han yang tampak seluruhnya: gagah dan tampan!
"Kau...!" Han Han terkesima.
Gadis itu memandangnya terbelalak dan dia yang tadinya hendak marah mendadak bengong dan terlongong-longong.
Gadis itu menuding sementara cuping hidungnya kembang-kempis, matanya terbelalak lebar dan tiba-tiba pucat.
Seolah, gadis itu sudah mengenalnya.
Tapi ketika gadis itu terkejut dan membuang muka, melengos, maka gadis itu merah padam dan meloncat mundur.
"Kau sudah mengalahkan aku, baik.
Tapi kemenanganmu ini jangan membuatmu bangga dulu.
Satu kekalahan akan kutebus dengan dua kemenangan.
Wut!" Dan gadis itu yang berkelebat menjejakkan kaki, tiba-tiba tidak melihat adanya sebuah akar pohon yang melintang di depan.
Dia terjerembap dan jatuh berteriak kaget, dan Han Han memburu untuk menolong gadis ini.
Dan ketika gadis itu menangis dan mengibaskan lengannya, bangkit terhuyung-huyung, ternyata dia jatuh terduduk lagi karena kakinya keseleo, terkena akar pohon tadi.
"Sial, jahanam terkutuk.
Kau sungguh pembawa sial.
Ah, kau bunuhlah aku, manusia sombong.
Bunuhlah aku dan jangan tertawa!" "Hm," Han Han menahan senyumnya yang disangka tawa oleh gadis itu.