Chapter 40
Aku tidak menertawakanmu, Nona, melainkan bermaksud menolongmu. Kaki dan tanganmu salah urat, kau harus digosok...." "Digosok apanya?" "Digosok hidungmu itu! Kau mau kurang ajar?" Si gadis menyemprot, memotong kata-kata Han Han, dan pemuda ini jadi salah tingkah.
Han Han memang hendak menolong gadis itu ketika tiba-tiba saja mukanya menjadi merah ditegur lawan.
Tiba-tiba dia tertegun, mematung.
Tapi ketika dia menarik napas dan teringat caping bambunya yang dilempar dan ditendang gadis itu, maka Han Han memutar tubuh dan mengambil caping bambunya itu.
Tapi ketika dia hendak mengenakannya di atas kepala, tiba-tiba gadis itu berseru, "Stop! Jangan pakai dulu. Apakah kau Si Golok Maut Sin Hauw?" Han Han terkejut.
"Apa? Si Golok Maut? Bukankah dia sudah tiada?" "Itulah, aku juga heran. Tapi kau mirip pinang dibelah dua!" "Hm!" Han Han berdegup.
Dia tak jadi memakai caping bambunya itu karena tiba-tiba si gadis melempar segulung kertas, berseru padanya agar dia melihat dan membuka kertas itu.
Dan ketika Han Han mendekat dan mengambil kertas ini, membukanya, Han Han tertegun karena itu ternyata gambar seorang laki-laki gagah yang mirip dirinya, dingin meskipun tampan.
Seorang laki-laki bercaping bambu!
"Nah, lihat," gadis itu berseru. "Bukankah mirip?" Han Han mundur, tergetar.
"Dia ini Si Golok Maut? Atau kau diam-diam mencuri lukis diriku?" "Cih, siapa mencuri lukis? Itu tampang Si Golok Maut, pemuda sombong. Dan aku jadi heran bagaimana kau mirip benar dengannya, padahal kau adalah murid Pek-jit-kiam Ju Beng Tan?" "Hm, aku putranya," Han Han tak perlu menyembunyikan diri lagi.
"Aku Ju Beng Han, Nona, panggilanku sehari-hari adalah Han Han. Aku heran bagaimana gambar Si Golok Maut ini bisa berada di tanganmu dan apakah kau tahu betul riwayatnya!" "Tentu saja aku tahu betul riwayatnya. Nasibnya menyedihkan. Sedang gambar itu, Hmm... kuambil dari ayah!" Si gadis tiba-tiba terisak, sedih dan berduka, dan Han Han terkejut ketika tiba-tiba gadis itu menangis.
Dan ketika suaranya mengguguk dan Han Han tercekat, maka dia mendekat dan gambar itu digulungnya lagi sementara caping bambunya pun dipakai.
"Ada apa?" Han Han berhati-hati.
"Kenapa kau menangis begini sedih dan penuh perasaan? Siapa ayahmu itu dan kenapa kau mengganggu aku seperti ini?" "Aku ingin mencari mati, Han Han. Aku tak ingin hidup lebih lama dan karena itu aku mengganggumu atau mengganggu setiap orang. Kau bunuhlah aku, aku ingin mencari mati!" Han Han terkejut, terbelalak.
"Kau gila? Kau tidak sinting?" "Aku memang tidak gila, aku tidak sinting. Tapi aku ingin mencari mati dengan mengganggu dan mempermainkan orang. Tapi sayang, aku belum menemukan orang seperti itu karena mereka semua kukalahkan dan tak dapat menandingi, kecuali dirimu!" "Hm!" Han Han menahan napas.
"Aneh dan luar biasa sekali caramu ini, Nona. Pasti ada sesuatu yang membuatmu begitu. Kenapa kau seperti ini dan kenapa kau minta mati...?" "Aku membenci ayahku!" "Hmm...."
"Dan aku melampiaskan kebencian dan kemarahan hatiku itu dengan mengganggu dan mempermainkan orang-orang lain! Lihat, bukankah ini dompetmu, Han Han? Bukankah kau tak tahu ketika aku mengambilnya dari kantong buntalanmu?" Han Han terkejut.
"Dan itu juga uang milik orang-orang lain yang kuambil. Aku mencuri atau mencopetnya tanpa sedikit pun mereka tahu. Aku melakukan ini agar aku dibenci dan dimusuhi orang. Aku ingin agar mereka dapat membunuh dan mengalahkan aku!" Han Han terkejut.
Si gadis melempar sebuah dompet hitam dan mengobrak-abrik buntalan besarnya. Itulah buntalan yang tadi dibawa lari-lari dan kini dari buntalan itu menghambur uang emas dan perak. Dugaan Han Han bahwa gadis itu menyimpan uang banyak ternyata benar. Dan ketika semua uang itu berkerincing tapi dinyatakan sebagai uang copetan, dicuri atau dicopet, maka Han Han tertegun sementara gadis itu terus menangis tersedu-sedu.
"Lihat... lihat, Han Han. Inilah pekerjaanku selama ini. Aku mencuri dan mencopet, juga merampok! Aku memang mengganggu dan mempermainkan orang banyak agar mereka itu mengejar dan membunuhku. Tapi sayang, mereka kurcaci-kurcaci rendah yang tak dapat mengalahkan aku. Baru kau inilah orangnya. Nah, bunuhlah aku dan habisi riwayatku yang buruk!" Han Han tertegun.
Si gadis sudah meloncat bangun dan berdiri menantang untuk dibunuh. Bukan main. Baru kali ini Han Han menemui hal seaneh ini, orang yang tak mau hidup lagi dan minta dihabisi nyawanya.
Tapi ketika dia tersenyum karena Nona itu menahan sakit, kakinya masih keseleo, maka Han Han menggerakkan lengannya dan secara halus dia mengurut-urut kaki itu.
"Duduklah, tenanglah. Agaknya kau dapat menceritakan semua kepedihan hatimu ini kepadaku. Kita rupanya mempunyai persamaan, meskipun tidak mirip..." "Persamaan apa?" Si gadis tertegun, merah tapi tidak menolak ketika Han Han mengurut-urut kakinya.
Dan ketika Han Han menotok dan urat yang keseleo itu pulih, maka Han Han menarik napas dan menjawab, "Rasa tidak senangmu kepada orang tuamu itu. Aku pun juga begitu...." "Apa? Kau membenci dan juga memusuhi ayahmu?" "Tidak, aku tidak membenci, Nona, melainkan sekadar rasa tidak senang. Aku sampai di sini pun karena itu..." "Hm, menarik. Coba kau ceritakan kepadaku!" Han Han tertawa.
"Kenapa sebaliknya? Justru kau yang harus terlebih dahulu menceritakannya, Nona. Bukan aku!" Gadis itu kagum. Setelah Han Han tertawa, tiba-tiba saja wajah yang luar biasa tampan tampak di sini. Han Han memang biasanya beku dan dingin, senyumnya mahal. Maka begitu dia tertawa dan tawanya itu tampak tulus dan hangat, tiba-tiba saja gadis itu kagum bukan main karena wajah yang gagah dan tampan itu semakin tampan dan menarik saja.
Tapi ketika dua mata mereka beradu dan gadis ini sadar, mendadak dia tersipu dan menarik kakinya yang sudah dilepas Han Han, duduk bersimpuh.
"Aku enggan menceritakannya, tapi karena kau yang minta, biarlah kukatakan..." "Hm, nanti dulu. Kau sekarang sudah tahu siapa aku, siapa namaku. Bolehkah aku tahu siapa namamu?" Gadis itu terkekeh, aneh sekali.
"Apakah begitu perlu?" tanyanya. "Apa gunanya sebuah nama? Kau sebut saja aku Jing-ci-touw, Han Han. Karena itulah namaku akhir-akhir ini!" "Jing-ci-touw (Copet Seribu Jari)?" Han Han berkerut kening.
"Itu bukan nama, Nona. Kau main-main. Aku ingin tahu namamu yang sebenarnya!" "Nama itu pemberian ayah, aku tidak suka!" "Hm, suka atau tidak, kau pasti sudah mempunyai nama. Beritahukanlah kepadaku agar aku dapat memanggilmu dengan baik."
Gadis itu menunduk, wajahnya tiba-tiba muram. "Aku Yu Yin," katanya, lirih. "Aku sudah hampir lupa namaku sendiri karena lama tak ada orang memanggilku." "Yu Yin?" Han Han kagum.
"Ah, nama itu indah sekali, Nona. Cantik seperti orangnya!" "Apa?" Yu Yin terkejut. "Cantik? Kau memujiku atau mau kurang ajar?" "Maaf," Han Han merasa kelepasan bicara. "Aku memujimu, Nona. Aku tak sengaja. Biarlah kutarik kata-kata itu dan aku tidak akan mengatakannya lagi." "Kalau begitu kau mengatakan aku tidak cantik!" Si gadis mendadak marah, bangkit berdiri, bertolak pinggang!
"Kau sama halnya mengatakan aku jelek, Han Han. Dan kalau memang jelek, kau mau apa!" "Lho!" Han Han tersentak, kaget. "Apa maksudmu, Nona? Kenapa tiba-tiba marah begini?" "Jelas!" gadis itu membentak. "Bicara tidak cantik berarti jelek, Han Han. Dan kau menjelek-jelekkan aku. Nah, memangnya kenapa kalau aku jelek!" Han Han melongo.
Caping bambunya yang dipakai tiba-tiba diangkat sedikit. Dia jadi bingung dan kaget melihat sikap gadis ini, juga gugup. Kalau begitu, bagaimana? Memuji disangka kurang ajar, tidak memuji diartikan gadis itu jelek! Wah, mana ada perkara macam begini? Dan melihat gadis itu bertolak pinggang dan marah-marah dengan pipi kemerahan, cuping hidung itu berkembang kempis bagai bunga yang kuncup mekar, maka Han Han tak dapat bicara dan tiba-tiba mencelat ketika si Nona membanting kaki di dekat pantatnya!
"Hayo bicara, memangnya kenapa kalau aku jelek!" "Hei!" Han Han bangun melompat. "Aku tidak berkata begitu, Nona. Aku tidak mengatakan dirimu jelek. Aku tidak bicara apa-apa! Siapa bilang begitu?" "Kalau begitu kau bilang apa?" "Aku... aku tidak bilang apa-apa. Aku..." "Bohong!" Hardikan itu membuat jantung Han Han jungkir balik.
"Kau tak perlu berpura-pura, Han Han. Kalau kau tidak memujiku, maka tentu kau menghina. Nah, apalagi itu kalau bukan demikian!" "Eh, aku tidak menghina..." "Kalau begitu harus memuji!" "Lho, bukankah nanti dianggap kurang ajar?" "Siapa kurang ajar? Kalau kau memujinya dengan tulus dan matamu tidak melotot, tentu kau tak akan kuanggap kurang ajar, Han Han. Tapi kalau kau tidak memuji dan mengatakan sebaliknya, maka kau justru menghina aku!" "Nona..." Han Han bingung.
"Aku, eh... bagaimana ini? Bagaimana tiba-tiba semuanya kaubuat jungkir balik begini? Aku bingung, aku tak mengerti...." "Kau memang bodoh, sombong. Kalau tidak mengerti, ya sudah. Aku tak mau lagi bicara denganmu dan terima kasih kalau kau membebaskan aku!" Dan berkelebat menahan tangis, tiba-tiba gadis itu meninggalkan Han Han yang melongo keheran-heranan. Han Han benar-benar jadi bingung dan tak mengerti akan sikap gadis ini yang aneh.
Tapi begitu gadis itu meloncat terbang, mendadak pita rambut si gadis terlepas tanpa diketahui pemiliknya. Han Han berkelebat dan menyambar ini. Dan ketika dia berseru dan mengejar, maka Han Han sudah melayang dan berjungkir balik di depan gadis itu, menghadang.
"Tunggu, ada sesuatu yang ketinggalan!" Namun gadis itu ternyata marah. Baru saja Han Han menginjakkan kakinya, sekonyong-konyong dia membentak dan menyerang, tangan kirinya menyambar dan langsung ke pipi Han Han. Han Han terkejut tapi tidak mengelak. Dan ketika gadis itu juga terkejut karena tamparannya mendarat, maka Han Han terpelanting dan caping bambunya mencelat.
"Plak!" Gadis itu tertegun. Han Han sudah meloncat bangun dan pita merah itu diperlihatkan, pipinya merah kena tapak lima jari. Gadis itu terkejut.