Chapter 41
Ketika Han Han melangkah maju dengan gemetar untuk menyerahkan pita itu, ia berkata bahwa ia hendak mengembalikan barang milik si nona. Namun, gadis itu justru mengeluh dan enggan menerima pita rambutnya.
"Kau... kenapa tidak mengelak? Kenapa tidak menangkis? Bukankah kepandaianmu jauh lebih tinggi dariku? Ah, kau lagi-lagi menghinaku, Han Han! Kau membuatku malu. Kau sombong!" Gadis itu tergugu dan merebahkan diri di tanah, lalu menangis sejadi-jadinya karena menganggap Han Han merendahkannya. Pemuda itu membuatnya malu karena membiarkan tamparan mendarat di pipi, padahal maksudnya hanya ingin menyerahkan pita rambut.
Ketika Han Han kembali bingung karena disalahkan, ia tersenyum pahit dan duduk di sebelah gadis itu. "Nona, kau aneh sekali. Kau membuatku bingung. Kalau aku salah, maafkanlah. Aku sama sekali tidak bermaksud menghina atau merendahkanmu."
Gadis itu tidak menjawab dan terus menangis.
"Hm," Han Han menyerahkan kembali pita rambut itu. "Kalau kau masih marah, boleh serang aku lagi, Nona. Kau tamparlah, atau..."
"Nona... Nona!" Gadis itu membentak dan tiba-tiba melompat bangun. "Kalau kau terus memanggilku 'Nona', tidak usah kau tanya namaku, Han Han! Apa gunanya aku memberitahukannya kalau kau masih memanggilku seperti itu!"
Han Han tertegun. "Kau sudah tahu namaku, bukan? Atau kau mau mempermalukanku lagi?"
"Hm," Han Han bangkit berdiri. "Kalau begitu, harus bagaimana? Apa yang harus kuperbuat?"
"Kau tidak usah bertanya. Kau sudah tahu namaku Yu Yin. Nah, tidak perlu panggil 'Nona' lagi, kau dapat menyebut namaku saja!"
Han Han mengangguk-angguk dan akhirnya tersenyum. "Baiklah," katanya. "Aku tidak akan memanggilmu 'Nona' lagi. Kusebut namamu begitu saja. Hm, kau aneh, Yu Yin. Mudah marah dan berang. Tapi, ah... aku jadi bingung!"
"Kenapa bingung? Semua sudah jelas, kau sudah menanyakan namaku dan sudah tahu. Bingung apalagi?"
"Hm, aku bingung akan sikapmu ini. Sebentar marah, tetapi sebentar kemudian tertawa..." Han Han teringat ketika gadis itu terkekeh saat ia menanyakan nama, padahal sebelumnya ia baru saja marah-marah karena keseleo.
Ketika gadis itu tersenyum dan tiba-tiba tertawa lebar, Han Han justru disemprot dan dianggap bodoh. "Kaulah yang tolol. Kenapa tidak mengetahui watak wanita hingga membuatku marah-marah? Sudahlah, asal kau baik, tentu aku tidak akan marah. Eh, kau sendiri bagaimana, Han Han? Kenapa tidak menyenangi orang tuamu? Ayo, sekarang gantian kau yang bercerita!"
Han Han tiba-tiba menarik napas dalam. Ia tampak murung, lalu menyambar dan mengenakan capingnya kembali. "Kau sudah tahu bahwa aku putra ketua Hek-yan-pang, tetapi aku tidak tahu siapa ayah atau ibumu. Masa aku harus bicara? Ceritamu belum lengkap, Yu Yin. Siapa ayahmu dan kenapa kau tampaknya membencinya?"
"Aku memang benci ayahku. Dia tidak pernah menghiraukanku!"
"Hm, siapa ayahmu?"
Gadis itu mengerutkan kening dan terisak. "Aku tidak suka bicara tentang dia, Han Han. Harap kau memakluminya. Aku tidak suka!"
"Kalau begitu, tidak apa-apa. Namun yang jelas, ayahmu tentu seorang yang berkepandaian tinggi..."
"Memang kepandaian Ayah amat tinggi!" gadis itu tiba-tiba merasa bangga. "Dan barangkali ayahmu sendiri pun tidak dapat mengalahkan ayahku, Han Han. Tapi, ah... sudahlah. Aku tidak suka bicara tentang dia!"
Han Han tertegun. Ia terkejut dan setengah percaya akan perkataan gadis ini. Namun, menyadari bahwa gadis itu memang berkepandaian tinggi dan sulit ditaklukkan, Han Han merasa tertarik. Meski demikian, ia menahan rasa ingin tahunya karena Yu Yin telah menyatakan ketidaksukaannya membicarakan sang ayah. Jika ia mendesak, gadis itu pasti akan marah lagi.
Maka, daripada membuat gadis itu marah, Han Han memendam keingintahuannya dan kembali menarik napas dalam. "Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi, Yu Yin. Kita tidak usah bicara tentang ayahmu. Sebaiknya kita bicara yang lain saja."
"Ya, tentang kau. Kenapa kau tidak menyenangi ayah dan ibumu? Kelihatannya nasib kita sama!"
"Aku diusir. Maksudku, seperti diusir..."
"Apa? Kau diusir? Gilakah ayah dan ibumu itu?"
"Tidak," Han Han menggeleng. "Mereka hanya marah atas sikapku saja, Yu Yin. Maksudku, ada sesuatu dari perbuatanku yang tidak disukai oleh mereka."
Gadis itu terbelalak dan tiba-tiba memandang tajam. "Kau main wanita?"
Han Han terkejut, wajahnya seketika memerah. "Tidak, justru aku tidak pernah bergaul dengan wanita!"
"Hm!" Gadis itu tiba-tiba berseri dan merasa lega. "Sudah kuduga tidak mungkin begitu, Han Han. Kau pendiam dan sorot matamu pun tidak berminyak seperti laki-laki lain!"
"Berminyak?" Han Han heran. "Berminyak bagaimana, Yu Yin?"
"Kau tidak mengerti? Benar-benar tidak mengerti?"
"Tidak."
"Kalau begitu, bagus. Kau memang pemuda yang baik dan rupanya benar-benar jujur. Maksudku, mata berminyak itu adalah mata yang suka melotot dan memandang wanita secara kurang ajar. Laki-laki tidak tahu malu itu, kalau memandang wanita, pasti mengandung maksud kotor di hatinya. Nah, itulah yang kumaksud, dan aku pasti menghajar laki-laki demikian karena di sepanjang jalan aku banyak mengalami hal itu!"
"Hm," Han Han mengangguk-angguk. "Kiranya begitu, Yu Yin. Baiklah, aku mengerti. Selama ini aku tidak pernah melakukan itu."
"Ya, aku percaya!" Gadis itu tertawa. "Kalau tidak, tentu aku tidak mau berdekatan denganmu, Han Han. Karena itu, aku melihatmu sebagai pemuda yang tidak jelalatan dan baik terhadap wanita!"
Han Han tersenyum pahit. "Lalu?"
"Lalu apanya? Kau yang harus melanjutkan ceritamu!"
Han Han tertawa. "Yu Yin, aku sendiri kurang suka menceritakan apa yang kuperbuat hingga membuat orang tuaku tidak senang. Karena kau juga tidak suka membicarakan ayahmu, maka aku juga tidak senang membicarakan hal ini."
"Sompret!" Gadis itu memaki. "Kau membalas aku, Han Han. Kau membuatku penasaran!"
"Sama seperti aku yang juga penasaran akan ceritamu yang tidak kau lanjutkan," Han Han tertawa. "Kita impas, Yu Yin. Namun sebenarnya aku tidak bermaksud membalas. Aku memang enggan menceritakan itu."
Yu Yin tertegun. Han Han tiba-tiba menunduk sedih dan wajahnya yang tampan mendadak muram. Gadis ini melihat kesungguhan Han Han dan tergetar hatinya ketika melihat Han Han menitikkan air mata.
Han Han kemudian bangkit berdiri dan menggigit bibir. Ia berkata bahwa ia ingin melanjutkan perjalanan. "Aku pikir perkenalan kita cukup sampai di sini. Kau tentu memiliki keperluan sendiri. Selamat berpisah, Yu Yin. Aku tidak mau kau ikut berduka mendengar ceritaku."
"Nanti dulu!" Gadis ini tersentak dan melompat bangun. "Aku sendiri tidak memiliki keperluan apa-apa, Han Han. Aku berjalan tanpa tujuan tentu. Kalau boleh, mari kita jalan bersama karena kita rupanya senasib sepenanggungan!"
Han Han terkejut. "Apa? Jalan bersama? Laki-laki dan perempuan?"
Yu Yin juga terkejut dan tampak menyadari ucapannya. Ketika mata mereka bertemu, wajah Yu Yin memerah padam. Ia menunduk dan terisak. "Maaf, aku... aku tidak memikirkan hal itu, Han Han. Aku hanya ingin bersamamu untuk melanjutkan percakapan. Tapi, sudahlah... nanti kau menganggapku gadis tidak tahu malu. Kau benar. Baiklah, kita berpisah dan mudah-mudahan bersua lagi!"
Yu Yin berkelebat mendahului Han Han, lalu memutar tubuhnya dan meloncat pergi. Han Han tertegun dan tiba-tiba merasa kehilangan. Ia yang awalnya hendak pergi lebih dulu, justru ditinggalkan. Ketika ia hendak memanggil namun diurungkan, ada rasa perih di hatinya seolah perpisahan itu meninggalkan luka.
Han Han terpaku memandangi gadis itu sampai lenyap dari pandangan. Ia mendadak bingung. Semula ia ingin meninggalkan gadis itu, tetapi kini merasa berat ditinggalkan. Perkenalan singkat itu rupanya telah membawa kehangatan. Han Han memejamkan mata; ia mendadak rindu.
Dengan perasaan gemetar, kaki Han Han melangkah tanpa sadar. Ia memanggil gadis itu. "Yu Yin...!"
Namun, gadis itu telah lenyap dari hutan. Han Han mengeluh. Dorongan kuat untuk mengejar Yu Yin tidak dapat ditahan lagi. Ia berkelebat mengejar dengan cepat. Ketika ia melihat bayangan gadis itu di kejauhan sedang terisak, Han Han terguncang. Ia tidak menyadari bahwa panah asmara mulai menancap di hatinya.
Pemuda ini terus berlari mendekati si gadis. Namun, teringat bahwa Yu Yin mungkin masih marah, Han Han memperlambat larinya dan memilih untuk menguntit secara diam-diam. Ia bingung kenapa dirinya tidak sanggup ditinggalkan oleh gadis itu. Yu Yin, yang terus menangis tanpa tahu sedang diikuti, melanjutkan perjalanannya ke arah selatan.
"Berhenti!" Pada hari ketiga, Han Han mendengar sebuah bentakan di tepian sungai.
Malam sebelumnya, ia melihat Yu Yin tidur di atas pohon di dalam hutan. Han Han merasa kasihan dan ingin mendekat, tetapi ia tidak berani. Ia memilih tidur di pohon lain yang tidak terlalu jauh untuk menjaga gadis itu dari ancaman binatang buas. Menjelang fajar, ketika mendengar suara dedaunan berkerisik, Han Han melihat Yu Yin bangun untuk mencuci muka dan berangkat kembali. Han Han pun bergegas bergerak agar tidak ketinggalan jejak.