Chapter 42
Gadis itu menyusuri sungai, matanya sesekali menoleh ke kiri dan kanan seolah mencari sesuatu. Han Han harus berulang kali menarik kepalanya agar tidak terlihat ketika gadis itu menengok ke belakang.
Ketika gadis itu bertemu serombongan orang yang membentaknya kasar, seorang pria berjanggut lebat melompat dan menghadangnya. Han Han melihat gadis itu terkejut dan mengerutkan kening, namun tidak terlihat takut.
"Siapa kalian, dan mau apa!" seru gadis itu, membuat Han Han kagum karena ia mendahului lawan.
Belasan pria itu, yang muncul dari rerumputan di tepi sungai, tampaknya sengaja bersembunyi dan kini memperlihatkan diri untuk mencari mangsa. Mereka rata-rata berwajah kasar dan bengis, sikap serta gerak-gerik mereka seperti perampok rendahan, membuat Han Han mendengus. Kini Han Han mulai tahu mana orang baik-baik dan mana penyamun atau perampok. Han Han tidak khawatir dan percaya pada Yu Yin.
Ketika gadis itu bertanya dan mendahului pria berjanggut, yang tertegun dan membelalakkan mata, pria itu mendengar teman-temannya tertawa.
"Ha-ha, kau didahului, It-twako. Gadis ini bertanya kau mau apa!"
"Ha-ha, jawab saja bahwa kau mau mengambil bini. Sambar gadis itu dan berikan cium sebagai tanda mata!" pria berjanggut itu tertawa lebar. Akhirnya dia pun tertawa setelah teman-temannya.
Mereka mengejek dan merendahkan Yu Yin, tanpa melihat sinar mata gadis itu berkilat bagai seekor harimau betina yang siap menyergap mangsa. Namun, ketika Yu Yin menunggu dan pria berjanggut itu berhenti tertawa, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, ia berseru, "Heh, aku adalah It Bong, penjaga atau penguasa sungai It-kiang. Tidak tahukah kau bahwa yang lewat harus membayar pajak, nona? Kau datang tanpa izin, harus memberi upeti atau pajak sesuai peraturan di sini. Nah, katakan kau mau ke mana dan kenapa pagi-pagi begini muncul di sungai It-kiang!"
"Hm, kau kira perampok? Buaya bajak sungai?" Yu Yin mendengus. "Minggir, brewok. Atau kupecahkan kepalamu nanti!"
"Wah, It-twako mendapat macan galak. Ha-ha, tertangkap kau, twako. Hajar dan tangkap saja gadis ini!"
"Benar, dan telanjangi tubuhnya. Dia telah menghina It Bong-twako!"
Pria berjanggut itu terbelalak lebar. Dia dimaki dan tidak dipandang mata lawannya, Yu Yin menyuruhnya minggir sementara dirinya disamakan dengan buaya sungai. Ketika pria itu terkejut dan heran, tidak menyangka gadis secantik ini berani kepadanya padahal sendirian, tiba-tiba pria itu tertawa terbahak-bahak dan merasa lucu!
"Ha-ha, ini rupanya betina yang kucari-cari, kawan-kawan. Sudah lama aku tak menemukan calon istri segarang ini. Ah, kalian benar. Dia harus ditangkap dan ditundukkan. Ayo, kalian maju dan tangkap dia, tapi jangan ditelanjangi!"
Yu Yin berkilat marah. Pria berjanggut yang tiba-tiba mundur dan tidak marah sekonyong-konyong sudah menyuruh teman-temannya maju. Kiranya dia adalah pemimpinnya, dan benar mereka semua adalah perampok atau bajak laut sungai yang kini naik ke darat, mungkin karena melihat dirinya tadi.
Ketika Yu Yin marah dan matanya berkilat, melihat dua pria di belakang si brewok meloncat dan menubruk maju tiba-tiba tanpa banyak bicara, gadis ini bergerak...
Kakinya menendang dua kali tepat mengenai dada lawan, yang langsung muntah darah. "Haiikkk.... bluk-dess!" Yang lain terkejut. Yu Yin bergerak luar biasa cepat ketika dua orang tadi menubruk, menyelinap dan lewat di bawah ketiak mereka untuk akhirnya berbalik dengan tendangan kilatnya. Semua itu berlangsung amat cepat dan tahu-tahu dua pria itu berteriak dan roboh terlempar. Mereka muntah darah.
Ketika semua terkejut karena Yu Yin membuat dua pria itu pingsan dalam sekejap, gadis itu bergerak dan meneruskan serangannya kepada si brewok, juga yang lainnya. "Kalian perampok-perampok hina. Rupanya pagi-pagi belum mendapat sarapan. Nah, terima ini, tikus-tikus busuk. Dan enyahlah kalian ke dasar neraka!"
Yu Yin berkelebat dan sudah bergerak cepat, menyerang dan menendang si brewok. Tiba-tiba pria itu berteriak karena terlempar pula. Selanjutnya gadis ini berkelebatan seperti walet menyambar-nyambar, belasan orang itu dihajar dan dibuatnya jatuh bangun. Ketika mereka menjerit dan terlempar ke sana-sini tak keruan, Yu Yin sudah memporak-porandakan lawan-lawannya sekejap saja.
Gadis itu tidak mau memberi ampun karena si brewok dikejar dan akhirnya diberi tendangan lagi, melesat dan tercebur ke sungai. Ketika yang lain juga kalang-kabut dan terguling-guling tak sempat mencabut senjata, gerakan Yu Yin amat luar biasa cepatnya. Mereka yang berkaok-kaok dan berteriak tak keruan-keruan itu mendadak meneruskan gerakannya dan... mencebur ke sungai pula. "Byur-byurr...!"
Yu Yin tertawa menghina. Belasan orang itu akhirnya jatuh ke air, yang pingsan atau luka-luka disambar temannya untuk dijauhkan dari gadis ini. Ketika semua tercebur dan berenang ketakutan, mereka sudah menyeberangi sungai itu dan merah padam di sana.
"Keparat, jahanam terkutuk. Gadis siluman!" Yu Yin mengerutkan kening. Orang-orang itu, yang kini berada di seberang, ternyata masih berani memaki-makinya. Mereka mengacung-acungkan tinju sementara si brewok sendiri basah kuyup mengamankan golok. Gemas dan mengancam, tapi tak berani maju.
Ketika Yu Yin mendongkol dan marah, orang-orang itu menghinanya di sana, tiba-tiba dia menggerakkan ujung kakinya dan belasan kerikil hitam melesat dan menyambar orang-orang itu, termasuk si brewok. "Tak-tak.... aduhh!" Pria berjanggut dan teman-temannya terpelanting. Mereka melempar tubuh sambil menjerit-jerit, kepala atau hidung mereka bengkak sebesar telur ayam. Yu Yin mengerahkan kepandaiannya untuk menendang dari jauh, mempergunakan kerikil-kerikil hitam itu.
Ketika orang-orang itu menjerit dan lari lintang-pukang, dari seberang masih juga dapat dihajar gadis siluman itu, maka mereka berkaok-kaok dan meninggalkan tepian. Yu Yin tertawa dan sejenak melupakan kesedihannya sendiri. Dia telah menghajar orang-orang itu.
Namun, ketika gadis ini hendak meninggalkan sungai dan meneruskan perjalanan, mencari-cari sesuatu, mendadak sebuah perahu meluncur tanpa penumpang. Yu Yin terkejut dan tertegun. Perahu itu melawan arus dan anehnya justru mendatangi dirinya. Perahu itu terus bergerak dan maju dengan cepat, seolah dikemudikan siluman.
Ketika perahu itu berhenti dan tepat berada di depannya, hal yang membuat gadis ini merinding, perahu itu seolah perahu siluman. Yu Yin terbelalak melihat sepotong papan berisi tulisan untuknya: "Nona benar-benar gagah. Silakan naik perahu ini untuk menerima kagum dari kami, orang-orang Ang-liong-pang (Perkumpulan Naga Merah)."
Yu Yin tertegun. Perahu itu bergoyang-goyang dan kiranya merupakan semacam undangan yang aneh. Gadis itu terkejut karena mendengar Ang-liong-pang adalah perkumpulan bajak yang amat ditakuti. Kalau tidak salah, dipimpin oleh sepasang kakak beradik Ang-liong Twa-mo dan Ang-liong Ji-mo, dua pria yang dikabarkan lihai dan memiliki ilmu pukulan Ang-liong-kang, sejenis pukulan yang mengandalkan tapak tangan berbisa yang amat ganas.
Tapi karena Yu Yin adalah gadis yang tak kenal takut dan justru dia "mencari mati" untuk membebaskan diri dari kekecewaan terhadap ayahnya, maka begitu mendengus dan mengeluarkan tawa dari hidung, tiba-tiba tanpa banyak bicara lagi gadis ini melompat dan sudah memasuki perahu.
"Ang-liong-pang, aku memang bukan orang penakut. Kalau kalian ingin mengenal nonamu, tentu saja aku datang. Nah, mari kutemui kalian dan lihat siapa yang mau banyak tingkah!" Yu Yin berseru sambil sudah mematahkan sebuah dahan, maksudnya adalah untuk mengayuh atau mengemudikan perahu itu.
Tapi ketika perahu bergerak dan tahu-tahu sudah meluncur ke hilir, mendahului gadis itu yang hendak mendayung, maka Yu Yin kaget karena tiba-tiba kakinya terpeleset oleh gerakan perahu yang oleng ke kiri kanan, cepat sekali. Begitu dia berada di dalam perahu, tiba-tiba saja gadis ini mendengar kecipak perlahan di bawah lantai perahu dan kiranya dua orang menjalankan perahu itu dari bawah, mendorong sambil menyelam!
"Hei, keparat. Kiranya kalian di situ!" Namun Yu Yin dibuat sibuk mempertahankan diri. Perahu yang disangka perahu siluman itu ternyata dikemudikan dua orang penyelam yang amat lihai. Mereka betah di dalam air tanpa memperlihatkan diri, mendorong dan meluncur seperti ikan. Karena perahu sudah mengikuti aliran sungai dan gerakannya luar biasa cepat, karena didorong pula oleh arus air yang kuat, maka Yu Yin berkali-kali mengeluarkan teriakan kaget karena tubuhnya miring ke kiri kanan dipermainkan gerakan perahu yang oleng ke sana ke mari, tajam dan miring di mana berkali-kali bibir perahu nyaris menyamai permukaan air.
Yu Yin tidak pandai berenang dan karena itu terpekik-pekik marah dipermainkan dua penyelam ini. Mereka mendorong dan mempermainkan perahu hingga nyaris gadis ini terguling. Kalau Yu Yin tidak meloncat-loncat atau berpegangan pada bibir perahu yang tinggi, tentu dia sudah kecebur!
Ketika gadis itu marah karena perahu kini memasuki aliran sungai yang deras, yang membuat gadis itu terbelalak dan pucat, maka Yu Yin menggerakkan dahan pohon di tangannya untuk menghajar penyelam di sebelah kiri, yang saat itu kebetulan menongolkan kepalanya. "Dess!" Penyelam itu menjerit. Rupanya dia tak menyangka karena Yu Yin sudah dibuatnya sibuk mempertahankan keseimbangan tubuh agar tidak kecebur di air. Maka begitu senjata di tangan gadis itu menyambar dan mengenai kepalanya, keras sekali, maka pria itu berteriak dan seketika melepaskan pegangannya. Perahu meluncur dan kini tinggal dikuasai seorang penyelam saja.
Yu Yin mengerahkan *sin-kang* di kakinya hingga kini kakinya itu melekat di lantai, tak bakalan membuat dia terlempar atau meloncat-loncat lagi.