Chapter 44
Pedang gadis itu kiranya pedang pusaka.
"Awas, jangan sampai beradu!" Pria ini menggeram dan membentak maju, menyerang lagi dengan dayungnya.
Dayungnya itu masih hebat meskipun ujungnya buntung sedikit.
Dan ketika anak buahnya juga mengikuti dan mengangguk, tahu bahwa pedang di tangan gadis itu amat tajam luar biasa, maka semua menerjang dan kembali mengeroyok Yu Yin. Mereka menarik senjata jika ingin berbenturan, dan kawan yang lain membokong atau melepaskan serangan curang jika gadis itu menghadapi lawan yang lain.
Karena berganti-ganti mereka membantu kawan dan serangan dari belakang selalu berbahaya, Yu Yin naik darah. Gadis itu pun melengking dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat seperti walet menyambar-nyambar.
"Baik, kalian laki-laki pengecut. Coba lihat siapa yang dapat merobohkan aku. Wut-wut...!" Pedang yang terus bergerak mengikuti gadis itu, membentuk bayang-bayang hitam yang cepat sekali, akhirnya mendapat korban pertama, disusul korban kedua dan ketiga. Tiga anak buah Ang-liong-pang pun mandi darah.
Mereka roboh dan menjerit tanpa dapat ditahan lagi. Yu Yin tadi membalik dengan amat cepatnya, dan merekalah tiga laki-laki yang membokong dari belakang.
Yu Yin beterbangan tak dapat diikuti mata, dan pedangnya menikam dengan cepat, langsung menghunjam dan mengenai dada lawan.
Dan ketika gadis itu beringas dan mempercepat gerakannya hingga belasan lawannya saling bertabrakan sendiri, tak mampu mengikuti gerakannya lagi, maka pedang itu kembali mendapat korban.
"Crep-crep!" Dua lengking tinggi itu tak perlu diragukan lagi.
Merekalah dua laki-laki keempat dan kelima, korban pedang hitam yang terus menyambar-nyambar bagai naga tak kenal ampun.
Dan ketika yang lain terkejut dan gentar, Ui-liong-hi Kwan Bhe sendiri mundur dengan dayung yang terbabat lagi, maka laki-laki bermuka kuning itu meloncat dan tiba-tiba meninggalkan perahu.
"Mundur... semua mundur!" Yu Yin tertawa mengejek.
Akhirnya, gadis ini melihat semua lawan berloncatan. Yang roboh atau luka-luka ditendang dan tercebur di sungai.
Kwan Bhe membiarkan saja lima anak buahnya yang kena sial itu.
Dan ketika semua melompat ke perahu yang lain, yakni dua perahu yang tadi mendekati perahu si Naga Kuning ini, maka Yu Yin tidak menduga hal buruk dan terkekeh-kekeh melihat lawan-lawannya melarikan diri.
"Hi-hik, tahu rasa kau, orang marga Kwan. Lihat siapa yang lari dan terbirit-birit!" Kwan Bhe, wakil Ang-liong-pang itu, merah padam.
Dia tidak menghiraukan ejekan ini karena dengan sisa anak buahnya, dia cepat mendayung dan memutar perahu.
Yu Yin tertawa-tawa dan girang karena mendapat perahu sendiri. Dia sekarang dapat menyeberang atau melanjutkan perjalanan.
Tapi ketika dia menyambar dayung dan menggerakkan perahu ini, mendadak orang-orang di atas perahu yang menjauhkan diri itu berloncatan atau mencebur ke sungai.
Yu Yin terheran dan membelalakkan mata melihat ini, tidak mengerti.
Namun ketika tiba-tiba perahunya terguncang dan diangkat beramai-ramai, pria marga Kwan itu rupanya sudah berada di bawah dan hendak menggulingkan perahu. Yu Yin pun kaget dan berteriak tanpa sadar.
"Heiii...!" Namun terlambat.
Si muka kuning yang bertenaga besar itu telah membentak sisa anak buahnya agar beramai-ramai menjungkalkan Yu Yin.
Perahu terangkat dan tiba-tiba terbalik.
Yu Yin mengerahkan tenaga kakinya, namun kalah jumlah dan juga kalah cepat.
Dan ketika perahu terguling dan tengkurap ke bawah, maka Yu Yin berjungkir balik dan mau tak mau harus kembali ke batu karang besar itu.
"Bedebah, keparat!" Yu Yin memaki-maki. "Kalian orang-orang curang, orang marga Kwan. Awas kalian kalau berani ke sini!"
"Ha-ha!" Naga Kuning tertawa terbahak-bahak. "Sekarang kaulah yang tahu rasa, bocah. Kau tidak dapat ke mana-mana kecuali pandai terbang!" Pria itu berenang dan menuju ke perahunya sendiri, meloncat dan naik sambil tertawa-tawa, sementara anak buahnya juga mengikuti.
Yu Yin melihat betapa mereka itu rata-rata adalah orang yang pandai sekali bergerak di air.
Pria marga Kwan itu demikian licin dan pandai seperti belut. Tubuh sudah naik ke atas, dan cepat sekali dia menyambar dayungnya.
Dan ketika yang lain sudah berlompatan dan dua perahu itu penuh lagi, maka Kwan Bhe memberi aba-aba agar menyerang dengan panah.
"Robohkan dia, sampai mampus!" Yu Yin sibuk.
Kwan Bhe sendiri sudah menjepret sebatang panah setelah maju mendekat. Dayungnya dilempar, dan kini puluhan anak panah menyambar ke arah gadis ini.
Dan ketika Yu Yin memutar pedangnya dan menangkis semua serangan itu, maka gadis yang marah ini menggerakkan tangan kiri pula untuk menangkap beberapa batang anak panah yang berani mendekat.
Lalu ketika lawan dibuat kagum karena gerakannya tangkas dan tepat, maka dia melontarkan anak-anak panah itu dan tiga anak buah pria ini roboh menjerit.
"Keparat, jangan dekat-dekat!" Namun orang-orang itu juga tidak dapat melepas panah.
Tanpa diperintah lagi, mereka sudah menjauhkan diri dan arus yang deras membuat perahu mereka berputar-putar.
Jika mereka melepaskan anak panah, maka secepat itu pula Yu Yin akan menangkap dan mengembalikannya lagi.
Sebanyak anak panah menyambar, sebanyak itu pula gadis ini mencoba menyerang balik.
Dan ketika pedang yang menangkis juga dibuat sedemikian rupa hingga panah menyambar pemiliknya sendiri, maka orang-orang itu tidak berani mendekat dan sudah memasang jarak yang terlalu jauh.
Yu Yin sudah tidak diserang lagi, dan gadis itu tertawa-tawa di atas batu karang, lupa bahwa dia juga tidak dapat turun karena tidak ada perahu mendekat.
Dan ketika si Naga Kuning memberi aba-aba untuk kembali dan lenyap di tikungan depan, maka barulah gadis itu sadar bahwa dirinya sendirian.
"Heii, kalian! Berhenti dan seranglah aku!" Namun si muka kuning tidak menghiraukan.
Yu Yin terlalu lihai baginya dan pedang di tangan gadis itu terlalu hebat.
Dayungnya buntung dua kali, dan anak buahnya terlempar tidak keruan.
Jika terus dia menyerang, bisa-bisa semua anak buahnya akan habis.
Maka ketika dia memerintahkan untuk kembali, sementara gadis itu tidak mungkin meninggalkan tempatnya (Yu Yin masih di atas batu karang), pria ini hendak memanggil bala bantuan untuk menangkap atau menghajarnya lagi.
Yu Yin tidak mengerti apa yang dilakukan lawan, dan dia mengira lawannya itu tidak kembali karena ketakutan.
Tapi ketika dia membanting-banting kaki dan gelisah tidak keruan, terkurung di tengah arus deras, maka saat itulah belasan perahu datang dengan cepat.
Si Naga Kuning tampak di depan sendiri dan kembali lagi, ternyata masih tidak jera!
"Yu Yin, tangkap tali ini. Cepat, musuh-musuhmu terlalu kuat!" Yu Yin terkejut.
Dari seberang tiba-tiba muncul Han Han.
Pemuda itu berkelebat dan sebenarnya sejak tadi sudah melihat pertempuran itu.
Han Han hendak membantu, namun dilihatnya gadis itu dapat menghadapi lawan-lawannya, dan tentu akan marah jika dia maju membantu.
Maka ketika Yu Yin ditinggalkan lawan-lawannya dan Han Han bingung mau menolong dengan apa (sebenarnya tidak mau memperlihatkan diri), mendadak pemuda itu melihat rombongan di depan itu.
Han Han melihat bahwa si Naga Kuning kembali lagi dengan banyak orang, tidak kurang dari seratus.
Dan karena dia juga bingung bagaimana caranya menolong Yu Yin, maka Han Han membuat seutas tali dan kini muncul memperlihatkan dirinya, berseru dari seberang.
Tapi ketika Yu Yin mendelik dan membuang muka, tidak mau melihat tali yang sudah dilempar, maka Han Han tertegun sementara rombongan orang-orang itu sudah kian dekat.
"Heii, tangkap tali itu. Cepat!"
"Huh, aku tidak butuh pertolonganmu!" Gadis itu mendengus, kini memperdengarkan suaranya. "Kau boleh berteriak-teriak di situ, Han Han. Tapi aku tidak takut dan tidak perlu bantuanmu!"
"Ah, tapi kau sendirian di atas batu karang, tidak dapat keluar. Bagaimana tidak perlu ditolong, Yu Yin? Ayo, cepat tangkap tali ini, kuseret dan kubawa ke seberang!"
"Aku tidak sudi!" Gadis itu melotot. "Aku masih dapat menjaga diriku, Han Han. Pergi dan enyahlah kau!" Han Han terkejut.
Saat itu orang-orang di atas perahu sudah dekat, dan Naga Kuning tertawa lebar menghampiri dengan cepat.
Di perahu nomor dua, berdiri sepasang laki-laki pendek bertubuh kekar.
Pria itu mengamati Yu Yin dengan pandangan tidak berkedip.
Han Han juga menjadi pusat perhatian karena pemuda itu tiba-tiba muncul di situ.
Namun karena orang tidak tahu siapa pemuda ini dan Yu Yin-lah yang menjadi incaran utama, maka Kwan Bhe, si muka kuning itu, berseru pada dua laki-laki di perahu nomor dua perihal gadis ini.
"Pangcu, inilah gadis siluman yang kumaksud. Dia bukan gadis yang kita duga itu dan telah melukai beberapa anak buah kita. Lihat, dia cukup lihai dan saksikan gerakan pedang hitamnya... wut!" Sebatang anak panah yang menyambar ke atas batu karang tiba-tiba telah dilepaskan pria ini untuk membuktikan kepandaian Yu Yin.
Dua laki-laki di perahu belakang tidak mengeluarkan suara. Mata mereka masih tidak berkedip memandang gadis itu.
Han Han yang ada di tepian masih juga tidak diperhatikan, kecuali oleh orang-orang di perahu lain.
Dan ketika Kwan Bhe menyerang dan melepaskan sebatang anak panah, maka Yu Yin yang masih memegang pedang hitamnya itu cepat menangkis.
"Trak!" Panah terpental dan menyambar pemiliknya.
Sama seperti tadi, gadis ini pun menangkis serta mementalkan panah lawan. Tenaganya dikerahkan sedemikian rupa agar anak panah tidak patah, karena jika tidak, tentu sudah putus seperti besi-besi yang lain.
Dan ketika anak panah itu mencelat dan menyambar pemiliknya sendiri, maka Kwan Bhe menyampuk dan anak panah itu runtuh.
"Lihat, dia cukup lihai, pangcu. Dan pedang hitamnya itu luar biasa sekali!"
"Dekatkan perahu, kepung!" Salah satu di antara dua laki-laki kekar tiba-tiba berseru dengan suaranya yang parau. "Jangan sakiti gadis itu, Kwan Bhe. Aku akan melihat sendiri apakah dia gadis yang kita maksud atau bukan!" Pria pendek yang kekar ini berkelebat serta berjungkir balik ke atas batu karang, dan tiba-tiba telah berhadapan dengan Yu Yin, sama-sama berdiri. "Nona, kupikir kau adalah orang undangan kami."