Chapter 45
Tapi pembantuku mengatakan bukan, kau menyangkal. "Apakah benar kau bukan dari kota raja?" "Apa yang kau maksud?" Yu Yin terkejut, diam-diam tergetar melihat ilmu meringankan tubuh orang yang cukup luar biasa, hanya empat kali berjungkir balik saja. "Aku tak mengerti dan tak suka menjawab pertanyaanmu. Yang jelas aku adalah gadis kang-ouw!" "Hm, kau telah melukai It Bong, dan gerak tendanganmu itu mirip Soan-hong-twi (Tendangan Badai) yang dimiliki Coaongya, apakah kau bukan puterinya?" Yu Yin pucat, tiba-tiba mundur. Tapi ketika dia marah dan membentak maju, maka gadis ini berseru, "Aku tak tahu siapa itu orang yang kau maksud. Ilmu tendangan banyak ragamnya, masing-masing hampir sama. Kalau kau pangcu dari Ang-liong-pang, maka minggirlah dan jangan mencari perkara kalau tak ingin aku membunuhmu!" "Hm," si pendek itu tersenyum, tiba-tiba menjura. "Kalau begitu betul kau orangnya, nona. Kaulah Coa-siocia (Nona Coa). Mari, silahkan turun ke perahu dan maafkan semua perbuatan anak buahku yang tidak mengenai dirimu." "Apa?" Yu Yin membentak. "Kau gila dan tidak waras! Enyahlah dan jangan ganggu aku lagi, Ang-liong-pangcu. Atau aku memaksamu turun dan biar kau kapok!" Dan Yu Yin yang marah tidak mau banyak bicara lagi, tiba-tiba menggerakkan pedangnya menusuk lawan. Ang-liong-pangcu mengelak, namun pedang terus mengejar. Laki-laki itu tetap tersenyum karena merasa dugaannya benar. Entah bagaimana, dia yakin bahwa gadis itu adalah puteri Coa-ongya (Pangeran Coa) dari kota raja. Tapi ketika pedang terus mengejar dan tak dapat dia elak terus, maka ketika dia mengelak dan merunduk, sebuah tendangan dilancarkan. "Plak!" Yu Yin terkejut, terhuyung mundur. Lawan tiga kali berturut-turut menghindar serangannya dan baru kali itu merasakan pergelangan tangannya tergetar, tapi pedang tak sampai terlepas. Gadis itu marah. Tapi ketika dia hendak menyerang lagi dan membentak lawan, tiba-tiba si kekar ini berjungkir balik dan turun ke perahunya. "Suheng, gadis ini adalah benar-benar Coa-siocia. Coba bagaimana agar dia dapat menerima kita!" "Hm," si kekar satunya, yang ternyata Twa-mo adanya, ketua nomor satu, bersinar dan mengangguk-angguk. Dia sudah melihat sekilas ilmu pedang Yu Yin tadi dan ganti melompat ke atas. Dan ketika dia berjungkir balik dan berhadapan dengan si gadis, maka dia membungkuk dan menjura. "Nona, ayahmu sudah lama mencarimu. Kami diutus untuk mencari dan menyuruhmu pulang. Kalau kau belum mau pulang, silakan berdiam di tempat kami dan nanti ayahmu datang!" "Kau bicara apa? Kenapa melantur dan bicara yang tidak kumengerti! Eh, kalau kau Ang-liong Twa-mo, maka aku pun tak takut padamu, pangcu. Lihat aku menyerangmu, dan sampai kapan kau dan yang lain-lainnya itu menutup mulut tidak bicara lagi!" Dan Yu Yin yang marah membentak maju, tiba-tiba juga menyerang dan menusuk ketua nomor satu ini. Wajahnya sudah berubah dan kakinya menggigil mendengar kata-kata orang. Yu Yin rupanya marah atau mungkin bingung. Entahlah, gadis ini tiba-tiba juga menampakkan sikap yang aneh. Tapi ketika serangannya dielak dan pedang menyambar ke samping, maka Ang-liong Twa-mo menetak dan memukul pergelangan tangan. "Plak!" Yu Yin lagi-lagi terhuyung. Dibalas dan dipukul seperti itu, tiba-tiba gadis ini melengking sengit. Dia bergerak, dan kini berkelebatanlah tubuhnya memainkan ilmu pedang yang ganas. Pedang itu membacok dan menusuk dengan tipu atau gaya setengah ilmu golok. Tapi ketika Twa-mo berseri-seri dan justru gembira melihat ini, maka di samping berkelebatan mengelak dan menghindari serangan, mulutnya pun memuji. "Ah, benar. Inilah Kiam-to Kwi-sut (Silat Iblis Golok Pedang) yang dipunyai ayahmu. Ha-ha, kau tak dapat menyembunyikan diri lagi, siocia. Kami sudah yakin dan kau tak dapat menyangkal..." Brett! Ang-liong Twa-mo menghentikan seruannya, terganti oleh teriakan kaget karena baju di sebelah kirinya robek terbabat. Dalam kegirangan dan gembiranya tadi, dia lengah memperhatikan pedang. Akibatnya, menerima tusukan miring yang bergerak luar biasa cepatnya, menukik dari atas ke bawah sebagaimana gaya tikaman sebuah golok. Dan ketika laki-laki itu tak sempat menghindar selain melempar tubuh bergulingan, maka Twa-mo lupa bahwa dia berada di atas batu karang yang tinggi. Akibatnya, ketika dia menggulingkan tubuh ke bawah, tak ayal lagi dia menggelundung ke bawah. Dan karena bawah merupakan tempat kosong alias air sungai, maka ketua Ang-liong-pang itu tercebur dan kontan basah kuyup. "Haiii...!" Namun Ji-mo, sang adik, tiba-tiba melempar sebuah dayung. Tepat kakaknya tercebur di sungai, maka dayung itu mendahului ke bawah. Twa-mo tahu maksud adiknya dan sudah meraih dayung ini, menjejakkan kaki dan berjungkir balik. Dan ketika dia di atas perahu lagi dan Yu Yin terkekeh geli, maka ketua Naga Merah itu memerah mukanya namun masih tidak marah. "Coa-siocia, silahkan turun. Kami bukan musuh. Tak apa sedikit main-main ini dengan mengingat muka ayahmu!" "Hm, begitukah? Baik!" Dan Yu Yin yang menghentikan tawa dan mukanya berubah gelap lagi, tiba-tiba menerima seruan itu dengan meloncat turun. Tapi karena di situ ada belasan perahu dan gadis ini sudah memilih perahu mana yang akan diincar, maka begitu dia meloncat dan melayang turun, bukannya perahu si ketua yang dituju, melainkan perahu lain yang berisi anggota-anggota Ang-liong-pang yang biasa. Dan begitu dia hinggap dan menginjakkan kakinya di sini, tiba-tiba gadis itu bergerak dan memukul serta menendang. Pedang hitam disimpan, dan tujuh awak perahu berteriak kaget. Mereka tak menyangka bahwa Yu Yin memilih perahunya, bukan perahu si ketua. Dan karena mereka jelas bukan tandingan karena mereka adalah anggota-anggota biasa, maka tujuh orang itu terjungkal, dan Yu Yin pun sudah menyambar dayung untuk selanjutnya melarikan diri dari kepungan. "Heii...!" dua ketua Ang-liong-pang berseru kaget. "Jangan lari, Coa-siocia. Tunggu dan kembali!" Namun Yu Yin terkekeh-kekeh. Gadis itu menggerakkan dayung selain mengayuh, juga menghantam atau mendorong perahu-perahu di depan. Gadis ini memang tak mau mendekati perahu sang ketua atau wakil ketua, sengaja ribut-ribut dengan para anggota biasa yang banyak terdapat di situ, mengelilingi batu besar di mana dia tadi berada. Dan karena Yu Yin cerdik menjalankan akalnya, perahu melesat dan yang lain diterjang, maka tujuh perahu lawan dibuat jungkir balik dan tenggelam! Gadis itu terus tertawa dan mendayung perahunya dengan cepat, bukan menyingkir, melainkan menuju seberang. Dan ketika dia meloncat dan berjungkir balik ke daratan, Han Han menyongsong, maka gadis itu berseri mengejek si pemuda. "Lihat, tanpa pertolonganmu pun aku sanggup menyelamatkan diri, Han Han. Tak perlu kau sombong dan bersikap sok!" Han Han tertegun, sejak tadi mendengarkan percakapan. "Yu Yin, kau... kau puteri pangeran?" "Siapa bilang? Kau juga mau berbuat bodoh terpengaruh oleh omongan mereka itu? Heh, jangan gila dan tidak waras, Han Han. Aku benci mendengar semua itu, dan lihat aku akan menghajar mereka di sini!" "Tidak... jangan!" Han Han terkejut, melihat ketua Ang-liong-pang dan anak buahnya itu mengejar. "Jangan mencari permusuhan, Yu Yin. Kalau dapat dihindarkan, marilah dihindarkan. Mereka hanya salah paham kepadamu." "Tapi tadi mereka mempermainkan aku di sana, mentang-mentang di tengah sungai dan aku tak dapat berenang!" "Tapi sekarang kau sudah selamat, Yu Yin. Marilah, kita pergi!" Tapi ketika gadis itu berontak dan melepaskan dirinya, Han Han memegang dan menyambar tangannya, maka gadis itu berapi-api memandang si pemuda. "Han Han, aku bukan budakmu, aku bukan apa-apamu. Kalau kau mau menguasai aku, marilah kita bertanding, dan aku akan bertempur sampai mampus!" Han Han tertegun. Kalau Yu Yin sudah marah-marah seperti ini, maka dia merasa teriris. Ada perasaan terpukul di situ. Ya, Yu Yin ini apanya. Bukan apa-apa! Dan ketika Han Han terbelalak dan mundur selangkah, ketua Ang-liong-pang itu sudah tiba dan berloncatan di tanah, maka Twa-mo membentak agar gadis itu menyerah. "Coa-siocia, kami akan terpaksa menangkapmu kalau kau tidak mau baik-baik ikut kami. Nah, pilih salah satu antara melawan atau menyerah!" "Aku akan melawan, aku akan menghajar kalian!" Dan si nona yang berkelebat memaki lawannya, tiba-tiba mencabut pedang dan menusuk ketua Ang-liong-pang ini, tak peduli pada yang lain karena selanjutnya dia sudah membentak dan melengking-lengking. Twa-mo mengelak maju mundur, namun serangan si gadis kian berbahaya. Tadi di atas batu karang saja dia hampir tertusuk, kalau tidak melempar tubuh mengelak. Dan ketika kali ini Yu Yin juga menyerangnya ganas, Twa-mo mencabut senjatanya, sebuah ruyung pendek di mana ujungnya diganduli sebuah besi bulat. Dan ketika senjata itu bergerak dan angin terdengar menderu, maka untuk pertama kali dia menangkis. "Crass!" Besi bandul itu ternyata putus! Twa-mo kaget, dan si Naga Kuning, wakilnya, berteriak agar dia tak usah mengadu senjata. Pedang di tangan gadis itu betul-betul ampuh, dan sang ketua yang sudah mencoba kini mendapat buktinya. Dan ketika Twa-mo melempar tubuh bergulingan, sementara adiknya, Ji-mo, membentak dan berteriak marah, maka laki-laki itu pun mencabut senjata berupa golok lebar. "Nona, kau tak menghargai kami. Baiklah, kami akan menangkap dan merobohkanmu.... wutt!" Dan badan golok yang menyambar dari samping tiba-tiba membacok, namun Yu Yin mengelak sambil memutar tubuh, menggerakkan pedangnya menangkis, namun golok sudah ditarik cepat. Ji-mo rupanya tak mau beradu senjata setelah membuktikan ketajaman pedang hitam. Laki-laki itu jeri! Tapi ketika dia maju lagi dan anak buah yang berdatangan disuruh berjaga atau menyerang kalau ada kesempatan, maka Yu Yin sudah dikerubut tiga, dan gadis ini sibuk. "Sing-sing-cratt!" Tali rambut Kwan Bhe putus. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya pedang hitam membabat apa saja. Wakil Ang-liongpang itu berteriak ngeri dan melempar tubuh bergulingan.