Chapter 46
Kepala yang nyaris dibabat membuat dia marah dan juga pucat. Namun, karena di situ ada dua orang ketua yang masing-masing sudah menerjang dan menggerakkan golok atau ruyung, Yu Yin dipaksa naik-turun karena pedangnya kini tak mendapat sasaran.
"Curang, seorang dikeroyok tiga orang!" Han Han yang melihat itu tiba-tiba membentak marah.
Pemuda ini hendak membantu, namun Yu Yin di balik gulungan pedangnya membentak agar pemuda itu tidak maju. Yu Yin merasa sanggup menghadapi lawan-lawannya karena memang dia belum terdesak. Yu Yin tak tahu bahwa tiga tokoh Ang-liong-pang itu tak berani bersikap keras semata-mata karena mengingat nama Coa-ongya, pangeran berpengaruh di kota raja.
Namun, karena sikap seperti ini justru merugikan mereka sendiri dan si gadis kian ganas menyambar-nyambar, maka apa boleh buat, Twa-mo tiba-tiba membentak dan melepas empat pelor hitam ke arah si gadis. Senjata rahasia itu akan meledak dan menghamburkan jarum-jarum halus ke muka lawan.
"Awas...!" Yu Yin terkejut.
Si ketua memberi peringatan, namun dia tersenyum mengejek. Yu Yin menangkis dengan maksud membuat pelor-pelor itu terpental. Namun, karena pelor itu akan meledak jika beradu dengan pedang—hal yang tidak diketahui Yu Yin—gadis itu menjerit ketika tiba-tiba terdengar ledakan dan berhamburannya jarum-jarum halus.
"Aihhh... dar-dar!" Yu Yin terkejut bukan main.
Pedang yang semula menangkis dan hendak menyerang lawan tiba-tiba digerakkan secepat kitiran. Bayangan hitam bergulung-gulung membungkus rapat tubuh gadis ini. Ketika semua jarum terpental dan menyerang balik ketiga orang itu, sebagian menyambar anak buah Ang-liong-pang hingga terdengar jeritan di antara mereka yang terkena.
"Awas, mundur semua!" Yu Yin marah sekali.
Twa-mo membentak orang-orangnya agar menjauh sedikit. Dia melepas lagi empat pelor hitam dan Yu Yin melindungi diri dengan putaran pedangnya yang cepat. Air hujan pun agaknya tak mampu membasahi gadis ini jika dia sudah bergerak seperti itu. Ketika empat pelor kembali meledak dan menghamburkan jarum-jarum halus yang kemudian dipukul runtuh, Ji-mo juga mengeluarkan paku-paku tulang untuk menembus kerapatan bayangan pedang di tangan si gadis.
"Serang terus sampai dia lelah!" Aba-aba ini membuat Yu Yin naik pitam.
Dia membentak dan membuka gulungan pedangnya untuk menyerang Ji-mo. Laki-laki itulah yang berseru memberi aba-aba. Tapi saat dia membuka diri untuk menyerang Ji-mo, ruyung menderu sementara tujuh pelor hitam melesat cepat untuk merobohkannya.
"Cring-crang-dar!" Yu Yin menjadi gusar.
Dia terpaksa menarik serangannya dan secepat kilat melindungi diri lagi. Tusukan ke arah Ji-mo dibatalkan karena harus menangkis ruyung yang ditarik pemiliknya secepat kilat karena tak mau beradu keras. Ketika tujuh kembang api memuncrat indah karena pedang akhirnya membentur pelor-pelor hitam yang meledak, Yu Yin selanjutnya dipaksa untuk selalu "bersembunyi" di balik gulungan pedangnya.
"Ha-ha, bagus! Biarkan dia menghabiskan tenaga, Ji-te. Kita akan menangkapnya dengan mudah kalau sudah begitu!"
"Benar, hebat sekali gadis ini. Kalau kita tidak ingat pesan Coa-ongya, tentu tak segan-segan aku menghabisinya!"
"Jangan, bersabarlah sedikit, Ji-te. Tak usah naik pitam dan biarkan dia kelelahan. Lihat, pedangnya sudah mulai kendur!"
Benar saja, gerakan Yu Yin tampak mengendur. Gadis itu mandi keringat karena lawan hanya berputar mengelilinginya. Setiap dia menangkis, lawan cepat-cepat menarik senjata. Karena pelor atau paku-paku tulang terus dilancarkan sementara dia hanya bertahan, akhirnya Yu Yin kelelahan dan tenaganya menyusut.
"Ha-ha, lihat apa kubilang tadi," Twa-mo tertawa bergelak. "Gadis ini akan kendur dan kehabisan tenaga, Ji-te. Lihat, dia sudah gemetar dan sebentar lagi roboh!"
Ketua nomor satu Ang-liong-pang itu membujuk agar si nona menyerah baik-baik dan melempar pedangnya. "Nona, menyerahlah. Kami memandang muka ayahmu. Kau tak perlu mendapat malu lebih jauh karena kami akan segera menghentikan serangan!"
"Tutup mulutmu!" bentak gadis itu sambil menggigit bibir. "Aku tak akan menyerah sebelum terbunuh, Twa-mo. Kau boleh omong besar, aku tidak peduli. Persetan dengan apa yang kalian katakan, aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan!"
"Hm, kau putri Coa-ongya. Kami mendapat pesan dari ayahmu. Mengapa berpura-pura tidak mengaku?"
"Keparat, aku bukan gadis bermarga Coa, Twa-mo! Aku orang lain, sudah kubilang tadi. Ah, kalian cerewet dan membuatku marah... clap!"
Pedang yang berkelebat tiba-tiba menusuk ke arah leher si ketua, diiringi tendangan ke kanan yang membuat Kwan Bhe berteriak. Wakil ketua Ang-liong-pang itu mencelat dan Twa-mo berseru kaget sambil melemparkan tubuhnya ke belakang. Pedang terus bergerak dan berputar ke arah Ji-mo, ketua nomor dua. Karena gerakan pedang itu sangat berbahaya, Ji-mo melemparkan tubuh ke kiri dan bergulingan.
"Aku pergi sekarang!" Yu Yin tiba-tiba membalikkan tubuh.
Kiranya, setelah melakukan serangan ganas tadi, dia yakin tak akan menang karena ketiga lawannya hanya mengepung dan menghindar untuk menguras tenaganya. Gadis ini tak mau lagi melayani lawan. Dia yakin akan roboh sendiri jika terus memutar pedang seperti kitiran, padahal lawan hanya menunggu dia kelelahan.
Karena sudah merasa lelah sementara lawan siap merobohkannya begitu dia jatuh, Yu Yin menggunakan jurus Siluman Terbang Membabat Teratai, sebuah jurus berbahaya yang memaksa lawan-lawannya mundur. Begitu mereka bergulingan dan si wakil ketua terkena tendangannya, Yu Yin tertawa lalu melesat meninggalkan pertempuran.
"Han Han, ayo kita pergi! Aku sudah muak melayani orang-orang licik ini!"
Han Han tertegun. Yu Yin yang semula tak mau didekati, mendadak mengajaknya pergi bersama. Ini berarti si gadis sudah mau berbaik hati, meski Han Han maklum bahwa itu dilakukan karena dia ingin meminta perlindungan secara tidak langsung.
Para pemimpin Ang-liong-pang itu cukup lihai dan cerdik. Terbukti mereka ingin menguras tenaga si gadis karena pedang hitamnya terlalu ampuh. Karena hal itu sudah dilakukan dan Yu Yin merasa gemas karena lawannya selalu mengelak, Han Han tiba-tiba tersenyum dan mengangguk. Dia merasa itu memang yang terbaik, apalagi dia sendiri tidak suka mencari permusuhan.
"Baik," Han Han berkelebat. "Sudah kubilang tadi, Yu Yin. Tapi kau sendirilah yang mencari perkara."
"Eh, siapa yang mencari perkara?" Gadis itu mendadak berhenti dan melotot. "Jaga mulutmu baik-baik, Han Han! Atau aku akan menyerangmu dan kau boleh membela orang-orang itu!"
"Eh, maaf... maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Sudahlah, mari pergi dan tinggalkan orang-orang ini!"
Namun terlambat. Pertengkaran singkat itu memberi kesempatan bagi ketua-ketua Ang-liong-pang. Twa-mo yang marah segera melompat bangun dan memberi aba-aba kepada anak buahnya. Mereka bergerak mengepung dan menutup jalan keluar. Sementara kedua muda-mudi itu bercekcok, seratus lebih anak buah Ang-liong-pang sudah membuat lingkaran lebar sehingga Yu Yin tak mungkin lolos tanpa membuka kepungan.
Twa-mo melompat maju bersama Ji-mo. Tiba-tiba kedua ketua ini melepaskan senjata rahasia mereka. "Awas, jangan sampai gadis itu lari! Siapkan jala... dar-dar-dar!"
Yu Yin terkejut. Dia membentak dan bergulingan saat pelor-pelor itu meledak ketika ditangkisnya. Han Han sendiri hanya mengelak dan menangkap empat pelor hitam yang tidak meledak karena disambut dengan telapak tangan yang lunak. Ketika paku-paku tulang juga dielakkan dan sebagian ditiup runtuh—hal yang membuat dua ketua Naga Merah itu terbelalak—Han Han melempar balik empat pelor itu ke arah orang-orang Ang-liong-pang.
"Heii, awas!"
"Nah, sudah ada jalan. Ayo keluar!"
Yu Yin kagum. Dia sendiri meloncat bangun saat Han Han menyambar lengannya. Han Han begitu berani menangkap pelor-pelor yang bisa meledak jika disambut dengan keras. Karena Han Han rupanya mampu mengatur tenaga dari keras ke lunak, Yu Yin mendecak kagum dan tertawa di samping pemuda itu.
"Bagus, terima kasih, Han Han. Tapi tak usah kita berpegangan!"
Han Han terkejut. Dia memang memegang tangan gadis itu hanya untuk mengajaknya pergi, bukan karena maksud lain. Namun, karena ucapan gadis itu, wajahnya menjadi merah bersemu. Han Han melepaskan pegangannya dan mereka keluar dari kepungan.
Namun, bentakan tiba-tiba terdengar dari kiri dan kanan. Belasan benda berkilat menyambar dari atas. Han Han dan Yu Yin terkejut karena ternyata itu adalah jaring-jaring berkerincing yang hendak menyungkup kepala mereka.