Chapter 47
Agaknya, para anggota Naga Merah yang sudah diperintah ketuanya menyiapkan itu, menyerang dan berlompatan mengejar, sementara dua jaring dari belakang menyambar paling hebat, cepat, dan luar biasa karena itulah sepasang jaring yang digerakkan ketuanya sendiri, Twa-mo dan Ji-mo.
Dan karena dua puluh jaring sudah di atas kepala dan musuh-musuh di kiri-kanan tidak membiarkan mereka pergi maka Yu Yin memutar pedangnya dan jaring di atas kepalanya terbabat putus.
"Cras-cras-cras!" Yu Yin terhindar.
Namun, Han Han berbeda dengan gadis ini.
Pemuda yang tidak bersenjata atau yang saat itu tidak mengeluarkan senjata tiba-tiba menggerakkan dua jari tangannya, telunjuk dan jari tengahnya.
Dan begitu Han Han bergerak dan menusuk atau merobek maka semua jaring di atas kepalanya pecah dan terpotong juga seperti agar-agar yang teriris pisau dapur.
"Aih, pemuda siluman!" dua ketua Ang-liong-pang itu berteriak.
Mereka terkejut karena jaring yang mereka pergunakan juga robek dikerat oleh jari-jari pemuda itu.
Tadi Han Han sudah menunjukkan kelihaiannya dengan menangkap peluru-peluru berbahaya, kini menunjukkan kepandaiannya yang lain, yaitu jari-jarinya sekeras dan setajam pisau belati, bahkan, agaknya, jauh lebih tajam lagi!
Dan ketika mereka tertegun dan tercengang membelalakkan mata maka dua muda-mudi itu sudah bergerak dan lari lagi.
"Kejar, tangkap mereka!" Twa-mo tiba-tiba berseru gusar.
"Dan bunuh si pemuda itu!" Para anggota Ang-liong-pang bergerak.
Mereka mengejar dan berhamburan menyerang lagi.
Twa-mo melepas lagi beberapa peluru ledaknya, namun Han Han dengan ringan mengelak atau menangkap, tanpa menoleh, hanya mengandalkan pendengaran dan ketajaman telinganya.
Dan ketika pemuda itu melempar balik dan peluru-peluru meledak melukai anggota-anggota Ang-liong-pang sendiri maka Twa-mo mencak-mencak dan tidak berani melontarkan peluru-pelurunya.
"Jahanam, pemuda itu ternyata lebih hebat daripada Coa-siocia!" Twa-mo sekarang sadar. Tadi ia merendahkan dan tidak memandang Han Han, tapi kini tiba-tiba terkejut dan kaget.
Sungguh tidak disangka-sangkanya bahwa pemuda yang bercaping dan tampak sederhana itu demikian lihainya.
Namun karena Coa-siocia harus ditangkap dan itu penting sekali maka ketua nomor satu dari Ang-liong-pang ini berkelebat dan terbang mendahului, disusul saudaranya dan Kwan Bhe, wakilnya, juga mengikuti dan melampaui anggota-anggota mereka.
Para anggota itu tidak secepat mereka dan memang tiga orang tokoh inilah yang dapat mendahului, paling depan.
Dan ketika Twa-mo berada di belakang lawan-lawannya dan dua muda-mudi itu dibentak agar berhenti, tidak mau, maka laki-laki ini menggerakkan ruyungnya, dan menderu amat hebat menghantam Han Han.
"Krakk!" Ruyung itu tiba-tiba patah.
Twa-mo yang terpekik dan kaget oleh gebrakan ini tiba-tiba melihat Han Han membalik.
Pemuda itu mendengus dan menggerakkan tangan kirinya, menampar.
Dan ketika serangkum angin pukulan menyambar ketua itu, panas, maka Twa-mo menangkis tetapi mencelat bergulingan.
"Dess!" Kaget atau pucatnya laki-laki ini tidak dapat dikatakan lagi.
Twa-mo terguling-guling sementara adiknya, Ji-mo, membentak dan menyerang Han Han pula.
Dia menggerakkan golok lebarnya sementara paku-paku tulang juga berhamburan dari tangan kiri.
Tetapi ketika Han Han mengibas dan semua paku-paku tulang runtuh; sebagian ada yang menyambar kembali ke ketua Naga Merah itu maka Ji-mo juga terbanting dan mencelat bergulingan.
"Des-dess!" Dua laki-laki itu sama-sama kaget.
Kwan Bhe, sang wakil, hendak menyerang dan mengikuti jejak ketuanya.
Tetapi begitu melihat kedahsyatan Han Han, dia mendadak mundur dan menarik dayungnya.
"Keparat, pengecut jahanam!" Twa-mo meloncat bangun memaki wakilnya itu.
"Serang dan bunuh pemuda itu, Kwan Bhe! Atau kau kutendang mencelat dan mampus di sini!" Kwan Bhe terkejut.
Dia didupak dan terhuyung ke depan.
Ketuanya marah-marah dan saat itu para anggota bergiliran tiba.
Tadi Han Han tersusul karena Yu Yin sempoyongan.
Kiranya gadis itu kelelahan dan sebab itulah dua muda-mudi ini terkejar.
Han Han tidak mau meninggalkan temannya dan terpaksa melindunginya.
Dan ketika mereka dikejar lagi sementara Ji-mo dan Twa-mo membentak melepas serangan, kini ditujukan kepada Yu Yin yang dinilai lemah maka Han Han terpaksa menangkis dan menolak semua serangan-serangan itu.
"Plak-plak-plak!" Ji-mo dan suhengnya terhuyung.
Golok lebar itu ditangkis begitu saja sementara ruyung yang tinggal separuh juga tertolak ke belakang.
Kwan Bhe menyerang tetapi si Naga Kuning itu bahkan terlempar, dayungnya patah menjadi empat.
Dan ketika semua gentar namun tidak mau kehilangan Yu Yin, karena gadis itu harus ditangkap karena mendatangkan untung besar bagi mereka maka tiga orang ini mengejar lagi dan tidak mau berhenti, menyerang dari jauh.
"Yu Yin, kau sempoyongan, lelah."
"Bagaimana kalau kau memegang tanganku dan kuajak berlari cepat? Kita akan selalu tersusul kalau begini, dan aku tentu sibuk kalau harus selalu melindungi dirimu!"
"Aku masih dapat menjaga diri!" gadis itu berseru.
"Tak usah kau khawatir meskipun aku sempoyongan, Han Han. Kalau kau ingin meninggalkan aku boleh tinggalkan, dan aku juga tidak mengharap kau selalu menangkis serangan orang-orang itu untukku!"
"Hm, keras kepala," Han Han menarik napas.
"Kalau begitu, bagaimana jika kau lari saja dan kutahan mereka itu?"
"Apa? Kau mau menyuruhku lari sementara menahan mereka? Tidak, kalau mereka tidak curang dan mengeroyok begini tidak perlu aku dibantu, Han Han. Daripada kau menghadapi mereka lebih baik aku saja!" dan si gadis yang berhenti dan membalik ke belakang tiba-tiba membentak dan menyerang Ji-mo.
Laki-laki itu berada tepat di belakangnya dan berkali-kali menyuruh dia berhenti.
Paku-paku tulangnya menyambar tetapi selalu disampok Han Han hingga runtuh.
Maka ketika Han Han menyuruhnya lari dan dia dianggap seolah tidak kuat lagi, gadis itu marah, maka Yu Yin membalik dan meloncat. "Heii!" sang ketua terkejut.
Ji-mo tidak menyangka tetapi tentu saja girang.
Gadis itu sudah kehabisan tenaga dan tinggal menunggunya roboh sendiri, kalau tidak ada pemuda di sampingnya itu.
Maka begitu si nona menyerang dan Ji-mo tahu kelemahan gadis ini maka laki-laki itu menggerakkan goloknya dan menangkis.
"Crang!" Pedang si nona mencelat.
Golok Ji-mo sendiri putus tetapi Yu Yin terpelanting ke depan.
Gadis itu terbawa oleh tenaga bacokannya dan karena golok putus dibabat maka dia pun terjerumus.
Ji-mo tertawa bergelak dan melompat ke kiri, mengirim tendangan dari samping.
Dan ketika tendangan itu mengenai perut si nona dan Yu Yin berteriak maka gadis itu terlempar.
"Buk!" Ji-mo menyambar bagai rajawali menerkam mangsa.
Laki-laki ini kegirangan karena segera akan dapat menangkap lawannya.
Pedang hitam itu tidak ada lagi dan gadis ini sudah kehilangan senjatanya. Tetapi ketika Ji-mo bergerak dan mau menubruk, menangkap atau menerkam lawan maka saat itu sebuah bayangan bergerak dan tahu-tahu laki-laki ini terlempar.
"Ji-mo, tikus busuk, enyahlah!" Ketua Ang-liong-pang itu terpekik.
Han Han, pemuda bercaping tiba-tiba menerkam tengkuknya.
Dari samping pemuda itu bergerak amat cepat dan tahu-tahu ketua Ang-liong-pang ini diangkat.
Dan ketika Ji-mo dilontarkan dan dilempar bagai layang-layang putus talinya maka laki-laki itu terbanting dan seketika berdebum dengan amat kerasnya.
"Brukk!" Tokoh nomor dua dari Ang-liong-pang itu mengeluh.
Laki-laki ini mendelik dan setengah pingsan.
Anak buahnya berdatangan menolong dan Han Han saat itu sudah menyambar Twa-mo dan si Naga Kuning Kwan Bhe pula, menampar dan mendorong mereka hingga dua orang itu jungkir balik.
Lalu ketika keduanya tunggang-langgang dan berteriak-teriak maka Han Han menyambar pedang hitam dan berkelebat membawa lari Yu Yin, yang tadi mengeluh dan mengaduh akibat tendangan si ketua nomor dua.
"Yu Yin, sekarang tidak perlu kau keras kepala lagi."
"Ayo menyingkir dan ikuti kata-kataku!" Namun, gadis itu menggigit lengan Han Han.
Dalam marah dan lemahnya, Yu Yin teringat tendangan si ketua, tiba-tiba gadis itu berteriak agar Han Han melepaskan dirinya.
Han Han terkejut karena lengannya tiba-tiba berdarah, si gadis menggigit begitu kuat.
Dan ketika pegangannya kendor dan Yu Yin meloncat turun maka sambil membentak gadis itu menyambar pedangnya lagi.
"Aku mau lari kalau sudah membalas tendangan Ji-mo tadi."
"Mana dia dan biar kubalas sakit hatiku dulu!" Dan, tidak menghiraukan Han Han yang terkejut dan berseru keras, tiba-tiba gadis itu lari ke arah Ji-mo yang ditolong pembantu-pembantunya.
Laki-laki itu masih tidak dapat berdiri karena bantingan Han Han tadi amatlah kerasnya.
Dan ketika Yu Yin menerjang dan membacok lawannya yang terbaring pucat, membuat empat orang di situ yang melindunginya menjerit terkena babatan pedangnya.
Pedang di tangan si gadis memang hebat karena pedang itu adalah pedang yang ampuh.
Sudah terbukti berkali-kali bahwa golok atau dayung akan terpapas kutung.
Dan karena empat orang itu hanyalah anggota-anggota biasa dan Yu Yin tentu saja dengan mudah membabat lawannya maka pedang meluncur dan akhirnya membacok kepala Ji-mo.
"Hayaaa...!" si ketua memekik.
Ji-mo terkejut melihat itu dan tiba-tiba saja timbul kenekatannya.
Sebenarnya, berkali-kali ketua nomor dua dari Ang-liong-pang ini tidak berani bersungguh-sungguh.
Dalam serangan atau balasannya tadi selalu dia mengurangi tenaga, karena nama Coa-ong-ya masih terlalu disegani laki-laki ini.
Tetapi begitu Yu Yin membacoknya dengan pedang hitam dan gadis itu kalap tidak mau berhenti, padahal dia masih kesakitan oleh bantingan Han Han maka tiba-tiba laki-laki ini berteriak dan tujuh paku tulangnya dilepas secepat kilat ke depan sementara tubuh sendiri digulingkan menahan sakit.
"Crep-crep-crep!" Yu Yin memang sudah lemah tenaganya.
Gadis itu memang nekat dan keras kepala.
Dia sebenarnya sudah lemah dan menghadapi orang seperti Ji-mo ini seharusnya dia sudah beristirahat.
Dikeroyok dan diserang berkali-kali oleh tokoh-tokoh Ang-liong-pang sebenarnya gadis itu sudah kelelahan.