Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 48

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 48

Ketika Ji-mo melemparkan tubuhnya dan tujuh paku tulang terlepas dan melesat ke arahnya, gadis itu terkejut. Yu Yin menangkis, empat paku terpental, namun tiga lainnya mengenai bahu dan lehernya. Pedang di tangannya sendiri akhirnya menebas udara kosong.

"Aduh...!" gadis itu roboh.

Yu Yin menatap tajam, lalu tiba-tiba berguling.

Bahu dan lehernya menghitam.

Ternyata paku-paku tulang itu beracun!

Saat gadis itu pingsan dan Jimo terhuyung, ditolong kakaknya, Han Han tertegun. Yang lain pun terkejut melihat ketua mereka hampir tewas.

"Tangkap gadis itu, ikat dia di sini!" Han Han tiba-tiba menggeram.

Pemuda itu berkelebat, dan sebelum orang-orang Ang-liong-pang mendekat, dia sudah berlutut di dekat temannya.

Han Han terkejut melihat luka menghitam itu, menyadari racun ganas menyerang Yu Yin.

Ketika dia melihat gerakan di sekeliling dan menyadari dirinya terkepung, Twa-mo dan wakilnya ada di sana. Han Han menyambar dan memondong gadis itu.

"Ketua Ang-liong-pang, minggir dan menyingkirlah dengan baik. Berikan obat penawar racun atau aku akan membunuh kalian semua!"

"Hm!" Twa-mo, yang gentar namun kembali berani karena bersama banyak orang, mendelik dan membalas membentak Han Han. Ia berkata bahwa pemuda itulah yang harus menyerahkan Yu Yin dan pergi dengan baik, kalau tidak ingin dibunuh.

Saat Han Han berkilat dan Twa-mo marah karena pemuda itu membuat saudaranya kesakitan, ketua Ang-liong-pang ini berkata, "Aku tidak menghendaki nyawa anjingmu. Kami semua tidak mengenalmu. Serahkan gadis itu dan pergilah dengan baik, anak muda. Atau kami akan membunuhmu dan kau tidak akan bisa pulang menemui ibumu!"

"Hm!" Han Han mendengus. "Begitukah? Baiklah, kau sendiri yang mencari penyakit, Ketua Ang-liong-pang. Kalau begitu, aku akan membasmi kalian dan jangan salahkan aku!"

Han Han menyambar pedang hitam, matanya berkilat berbahaya, dan Twa-mo terkejut melihat pedang itu. Han Han masih memondong Yu Yin, dan hanya dengan tangan kiri, pemuda itu memegang pedang hitamnya. Namun, karena pemuda itu sudah menunjukkan kelihaiannya dan pedang di tangannya bukan pedang sembarangan, begitu Han Han bersiap, ketua ini melemparkan empat pelor ledak yang menubruk pemuda itu.

"Serang, bunuh pemuda ini!"

Han Han berkelebat. Melihat sang ketua menyerang tanpa peringatan, Han Han tiba-tiba menjadi marah. Dia sudah melihat gerakan bahu ketua itu dan cepat mengelak saat pelor-pelor berbahaya menyambarnya. Karena ia tidak mau menangkis karena dapat membahayakan Yu Yin yang dipondongnya, begitu berkelebat dan membiarkan pelor lewat, Han Han menusuk dan menyambar ketua Ang-liong-pang itu.

"Cret!" Sang ketua terkejut. Dalam satu gebrakan itu, Han Han telah melukai pelipisnya.

Pedang sebenarnya hendak menukik lagi, namun Kwan Bhe dan anggota Ang-liong-pang lainnya sudah menyerangnya. Mereka melindungi sang ketua, dan Twa-mo sendiri menjerit sambil melempar tubuhnya bergulingan.

Saat pria itu melompat bangun dan Han Han berkelebat melayani lawan-lawannya, dengan pedang di tangan kiri, tiga kepala tiba-tiba terpenggal dari tubuh mereka, jatuh menggelinding diikuti pekik kaget dan jeritan lain.

"Aihhh.... crat-crat-crat!"

Han Han tersenyum dingin. Pemuda itu berkelebat dan pedang di tangannya sudah mencium darah segar. Pemuda ini tidak mau memberi ampun, dan keganasan serta kekejamannya tampak jelas. Tiga anggota yang sudah roboh tanpa kepala disusul oleh lima tubuh lain. Delapan anggota Ang-liong-pang tiba-tiba saja binasa begitu cepat.

Saat pemuda itu terus berkelebat semakin cepat dan Kwan Bhe menjerit karena lengannya putus, terbabas oleh pedang hitam, selanjutnya Han Han seperti seekor naga haus darah yang membabati dan merobohkan lawannya.

"Awas, mundur. Awas, kita bertemu pemuda yang ganas!"

Han Han tertawa dingin. Belasan anak buah Ang-liong-pang tiba-tiba saja berjatuhan, tidak diberi ampun.

Han Han adalah putra seorang ahli pedang ternama. Ayahnya, Pek-jit Kiam-hiap Ju Beng Tan, adalah seorang jago tanpa tanding. Maka, begitu lawan mengeroyoknya dan Han Han mengeluarkan kepandaiannya, kepandaian bermain pedang, bayangan hitam sudah bergulung-gulung naik turun bagai naga sakti menyambar mangsa.

Han Han marah, dan timbul kebengisannya. Yu Yin yang pingsan dan terluka oleh paku beracun membuat pemuda itu kejam. Watak dinginnya muncul, dan kalau sudah begini, Han Han bukan lagi putra Pek-jit-kiam Ju Beng Tan, melainkan lebih tepat sebagai putra si Golok Maut, karena memang itulah ayah kandungnya, ayah yang mengalirkan darah dan watak yang bak pinang dibelah dua, dingin dan sama-sama ganas.

Saat belasan anggota Ang-liong-pang bergelimpangan mandi darah, rata-rata kutung kepalanya dibabat Han Han, maka Twa-mo dan Ji-mo yang terbelalak di luar ngeri hatinya. Dua orang ketua Ang-liong-pang ini marah sekali. Ji-mo, yang sudah dapat berdiri tegak ditolong kakaknya, melotot bagai ikan mas. Tokoh nomor dua dari Ang-liong-pang ini hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Belasan orang anak buahnya, ah tidak, puluhan orang anak buahnya sudah bergelimpangan dibabat Han Han. Tidak kurang empat puluh lebih yang kini dibantai pedang hitam itu.

Han Han bergerak dan berkelebat bagai rajawali menyambar-nyambar. Setiap kali pedang bergerak, setiap kali itu pula darah memuncrat. Kepala yang menggelinding sungguh tak terhitung lagi karena berceceran di tanah. Bahkan, Kwan Bhe akhirnya terpenggal, dan kepala si Naga Kuning itu mencelat ditendang Han Han, jatuh dan tepat berhenti di dekat dua orang ketuanya.

Saat Ji-mo menjerit, sementara enam puluh anggotanya pucat dan berteriak-teriak, mengepung namun menyerang dari jauh, ketua nomor dua dari perkumpulan Naga Merah ini membentak, menerjang maju.

"Jangan...!" Twa-mo berseru, kalah cepat. "Kembali, Ji-te. Jangan dekat-dekat!"

Namun sang adik sudah naik pitam. Ji-mo tidak peduli lagi, dan kemarahannya melihat anak buahnya dibantai membuatnya tidak memperdulikan kepandaian lawan. Goloknya yang baru sudah dicabut lagi, dan tangan kirinya bergerak melepas belasan paku-paku tulang. Semuanya berdesing, tetapi Han Han mendengus dan memutar pedang di depan tubuh, melindungi Yu Yin yang ada di pondongannya.

Saat paku tulang terpental berhamburan ke sana kemari, menyambar Ji-mo dan anak buahnya sendiri, tiga belas orang roboh terkena paku-paku tulang itu yang ditangkis Han Han.

"Aduh..!" Ji-mo semakin mata gelap. Dia menggerakkan goloknya menangkis empat paku tulang yang berbalik menyambar dirinya, meruntuhkan, dan setelah itu bergerak lagi ke arah Han Han. Dan karena tokoh nomor dua ini sudah mata gelap dan membacok Han Han sekuat tenaga, Han Han membalik dan menggerakkan pedang hitam. Golok di tangan pria itu putus menjadi dua.

"Crangg!" Ji-mo melempar tubuhnya bergulingan. Han Han membalasnya, namun lawan menyelamatkan diri. Anak buah Ang-liong-pang bergerak, dan Twa-mo sendiri mencelat membantu adiknya. Ruyung di tangan ketua nomor satu itu menderu menghantam Han Han, dari belakang.

Saat Han Han memutar pedang, namun ruyung ditarik cepat, tak berani diadu, maka Han Han sudah dikeroyok dan menghadapi lagi dua orang ketua Ang-liong-pang ini, yang dibantu puluhan anak buahnya. Namun Han Han terlalu hebat. Pek-jit Kiam-sut (Silat Pedang Matahari) yang dimainkan begitu hebat telah membungkus pemuda ini dan temannya. Yu Yin, yang berkali-kali diincar untuk dibunuh atau dimaksudkan untuk mengacaukan perhatian pemuda itu, ternyata tidak dapat disentuh. Si pemuda menggerakkan pedangnya secepat kilat.

Karena pedang hitam itu memang hebat dan Han Han berkelebat bagai rajawali menerkam mangsa, tidak tinggal diam di tempatnya, maka lain pemuda ini lain pula Yu Yin. Gadis itu tadi hanya memutar pedang dan menunggu serangan, jadi berhenti di tempat dan kewalahan oleh tiga tokoh Ang-liong-pang. Tapi Han Han yang bergerak dan membalas, sering melancarkan serangan tak terduga-duga membuat lawan-lawannya kerepotan dan sering terkejut, apalagi kalau pedang sudah menyambar di depan hidung!

Twa-mo sendiri sampai harus melempar tubuhnya cepat-cepat sambil berteriak meminta tolong. Adiknya bergerak dan membokong Han Han. Tapi ketika Han Han memutar pedangnya lagi dan membabat golok di tangan Ji-mo, maka pria itulah yang harus menyelamatkan diri dan bergulingan seperti kakaknya.

"Keparat!" dua orang itu gemetar. "Pemuda ini hebat sekali, Kakak. Agaknya, kita harus mengalah dan pergi!"

"Hm, tidak mungkin pergi!" Han Han sudah marah, menjawab dan tertawa dingin mendengar omongan itu. "Kalau kalian mau pergi, maka kepala kalian harus ditinggalkan di sini dulu, Ji-mo. Baru setelah itu boleh kalian pergi!"

Ji-mo dan Twa-mo gusar. Mereka membentak dan menyerang lagi, namun pedang hitam menyambut. Mereka berteriak dan memaki lawan bahwa Han Han terlalu mengandalkan senjata pusaka, padahal pedang itu bukanlah miliknya. Dan saat Han Han mendengus dingin dan menyimpan pedang, hal yang mengherankan kedua orang itu, maka Han Han bergerak dengan tangan kosong melayani lawan.

"Baiklah, lihat kepandaianku, Ji-mo. Tanpa pedang pun aku mampu membunuh kalian berdua!"

Dua orang itu girang. Mereka membelalakkan mata namun menerjang lagi. Sisa anak buah dikerahkan dan anggota-anggota Ang-liong-pang berseri. Han Han menyimpan pedang, dan itu berarti si pemuda mencari mati. Tapi ketika semua berhamburan dan menyerang berteriak-teriak, bangkit semangatnya, tiba-tiba mereka menjerit karena tangan pemuda itu pun ternyata mampu memotong atau menahan senjata-senjata tajam mereka, tak kalah dengan pedang.

"Crak-crak-crak!" Han Han membacok dengan sisi telapak tangannya. Pemuda ini memang telah memiliki sinkang yang begitu hebat hingga dengan telapak tangannya pun dia mampu beradu senjata tajam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment