Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 49

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 49

Jari-jari atau sisi telapak tangannya telah berubah sekeras baja berkat *sinkang* atau tenaga sakti yang dilatihnya selama bertahun-tahun.

Ketika golok atau tombak patah karena tak kuat beradu dengan tangan pemuda ini, golok di tangan Ji-mo pun retak dan pecah menjadi tiga potong.

"Aih...!" laki-laki itu berseru seperti baru saja bertemu setan.

Tangan Han Han masih bergerak menyambar lehernya dan tidak dapat ditangkis lagi karena goloknya sudah terlepas. Ketika dia mencoba mengelak namun kalah cepat, sisi telapak tangan Han Han membacok bagai golok hingga leher laki-laki itu terbabat dan putus.

"Crasss!" Semua orang merinding dan berseru tertahan.

Ji-mo roboh dengan tubuh tanpa kepala, ambruk dan tumbang seperti batang pisang yang baru ditebas kelewang.

Saat semua orang mundur sementara Twa-mo mendelik tak percaya—kaget sekaligus ngeri—Han Han berkelebat menyambar ke arahnya.

"Sekarang giliranmu!" Sinar putih keluar dari tangan pemuda ini.

Han Han mengerahkan *Kiam-ciang* atau Tangan Pedang, menggunakan tenaga dari kitab kecil yang ditemukannya di sumur tua. Itu adalah *sinkang* ajaran ayahnya sendiri, Si Golok Maut. Karena Han Han menggabungkan keahlian dari ayah angkat dan ayah kandungnya, kehebatannya tentu luar biasa. Twa-mo tidak dapat mengelak dan menggunakan ruyung di tangannya untuk menangkis sambil berteriak mengerahkan segenap tenaga, namun ruyung itu hancur berkeping-keping.

Bandul besinya terpental dan menimpa seorang anak buah Ang-liong-pang yang langsung menjerit dan roboh menggelepar. Tangan Han Han terus bergerak membabat leher lawan. Seperti sebelumnya, tulang laki-laki ini berkeretak dan kepalanya terpenggal seolah dibacok senjata tajam.

"Krakk!" Han Han tidak memberi ampun.

Tangan pemuda itu sudah berlumuran darah segar, namun Han Han seolah orang kehausan yang mendapat minuman anggur. Semakin banyak darah yang terpercik, ia semakin bersemangat.

Setelah Twa-mo roboh dan tewas tanpa kepala, Han Han berkelebat dan dengan tangan kirinya membabat sisa-sisa anggota Ang-liong-pang yang tiba-tiba kocar-kacir dan menjerit-jerit.

"Ampun... jangan bunuh kami, augh...!" Han Han tidak memberi kesempatan orang itu meminta ampun. Lehernya ditebas dan kepalanya terpental menyusul sang ketua.

Semua orang panik dan tunggang-langgang. Ketika hanya beberapa orang saja yang berhasil menyelamatkan diri dan hampir seratus orang lainnya tergeletak mandi darah—anggota perkumpulan Naga Merah itu nyaris habis—Han Han berhenti bergerak. Ia berdiri tegak mengusap keringat serta darah yang membasahi tangannya.

"Aduh... ah, Han Han... di mana kau?" Han Han terkejut dan tersadar.

Yu Yin, temannya, siuman dan memanggil namanya dengan suara lemah namun masih terdengar. Saat gadis itu membuka mata dan mengeluh karena racun di tubuhnya, Han Han menurunkan dan meletakkannya di atas rumput yang tebal.

Yu Yin tiba-tiba tersentak melihat mayat-mayat yang bergelimpangan.

"Han Han, kau... kau membunuh orang-orang ini?"

"Hm, betul," Han Han mengangguk. Sinar matanya tidak lagi ganas, melainkan menyorot lembut. "Mereka minta mati, Yu Yin. Aku hanya mengantar mereka ke neraka sesuai permintaan mereka."

Yu Yin meremang mendengar kata-kata yang diucapkan dengan dingin dan tanpa perasaan itu.

"Kau membunuhi mereka? Kau tidak punya rasa kasihan?"

"Untuk apa kasihan?" jawaban itu pun terdengar dingin dan beku. "Aku sudah menyuruh mereka menepi, Yu Yin, tapi mereka tetap membandel dan tidak mau dengar. Aku tidak suka orang-orang semacam itu. Kau mau diobati atau tidak?"

"Ah!" gadis itu terisak, merasa ngeri sekaligus kasihan kepada anggota Ang-liong-pang tersebut. "Kau kejam, Han Han. Kau telengas. Mereka hanya anak buah yang tidak sepatutnya dibunuh!"

"Hm, kau mau bicara tentang mayat-mayat itu atau dirimu sendiri? Kalau kau tidak mau kubantu, aku juga tidak akan tinggal di sini, Yu Yin. Terserah kau mau menganggapku apa!"

"Plak!" Yu Yin tiba-tiba menamparnya. "Kau menghinaku, Han Han. Kau merendahkanku. Kalau kau tidak mau menolongku, pergilah dan biarkan aku mati. Aku tidak butuh pertolonganmu... auh!"

Gadis itu mengeluh dan berteriak kesakitan, lalu tiba-tiba terguling dan pingsan kembali. Yu Yin marah karena sikap dan kata-kata temannya yang dianggap terlalu beku, kejam, dan tidak berperasaan.

Han Han tertegun sejenak, lalu segera menotok dan menolong gadis itu. Ia bergerak ke arah mayat Ji-mo. Yu Yin terluka oleh paku-paku tulang milik laki-laki ini yang mengandung racun. Han Han yakin Ji-mo memiliki obat penawarnya. Setelah menggeledah mayat tersebut dan menemukan sebungkus obat, Han Han memberikan obat ini kepada temannya.

Tak lama kemudian, Yu Yin siuman kembali. Wajahnya mulai memerah dan Han Han menunggu sejenak. Ketika gadis itu membuka mata dan melompat bangun dengan lincah, Yu Yin yang sudah sembuh tanpa ia sadari sendiri langsung membentak, "Kau! Mengapa masih ada di sini? Bukankah katamu tidak akan menolongku? Pergilah, Han Han. Aku tidak butuh pertolonganmu!"

Mata Han Han bersinar. Ia tahu gadis itu sudah sembuh; gerakan Yu Yin saat meloncat tadi adalah buktinya. Han Han bangkit, menarik napas dalam, lalu memutar tubuh dan melangkah pergi sambil membenahi capingnya.

"Baiklah," pemuda itu tertawa hambar. "Kalau kau menghendaki aku pergi, aku akan pergi, Yu Yin. Selamat tinggal, dan berhati-hatilah menjaga diri..."

Yu Yin tertegun. Seketika ia sadar bahwa dirinya telah sembuh. Rasa sakit itu hilang dan tiga bekas luka yang menghitam juga lenyap. Rasa terbakar serta nyeri benar-benar sirna. Ketika ia melihat bungkusan obat dan menyadari bahwa itu adalah pertolongan Han Han, gadis itu terkesiap.

"Han Han!" Yu Yin berkelebat mengejar. "Kau sudah menolongku? Bungkusan obat itu darimu?"

"Hm," Han Han melejit menghindari hadangan gadis itu. "Tidak ada yang menolongmu, Yu Yin. Yang menyelamatkanmu adalah bungkusan obat dari Ji-mo itu. Tanya saja pada mayatnya kalau tidak percaya!"

"Han Han!" Yu Yin menjerit. "Kau menghina dan mempermainkanku? Kau menyuruhku bicara dengan mayat? Ah, mentang-mentang kau berilmu tinggi, kau bersikap sombong! Kalau begitu, terima ini dan jangan lari dulu... singg!"

Pedang hitam yang tergeletak di tanah disambar gadis itu dan ditusukkan ke arah Han Han, namun pemuda itu hanya tertawa dingin. Kemarahan Yu Yin justru membuat perasaan Han Han kembali membeku. Ia merasa tidak senang.

Saat Yu Yin menyerangnya sambil terus menusukkan pedang, Han Han menepisnya dan berseru, "Kita sudah tidak ada urusan lagi. Maaf kalau selama ini aku menguntitmu karena ingin menyelamatkanmu... plak!"

Pedang itu terpental dari tangan si gadis dan jatuh berkerontang. Yu Yin terkejut, menangis, dan jatuh terpelanting. Gadis itu berteriak memaki Han Han, menyebutnya kejam dan sombong. Yu Yin menantang Han Han untuk kembali dan bertempur seribu jurus. Namun, tawa Han Han yang terdengar sumbang dan dingin kian menjauh hingga sosoknya lenyap dari pandangan.

Gadis itu menangis dan merasa kecewa. Ia yang semula marah dan seolah tak mau didekati, mendadak ingin Han Han berada di sisinya. Yu Yin menyadari bahwa Han Han sebenarnya berniat baik karena telah berulang kali menolong dan mengalah padanya. Kini, setelah Han Han benar-benar pergi, Yu Yin justru merasa rindu dan mulai mengejarnya.

Gadis itu memanggil-manggil nama Han Han, namun pemuda itu telah lenyap entah ke mana. Merasa ada sesuatu yang mengganggu perasaannya, Yu Yin jatuh bangun mencari Han Han. Ia meninggalkan sungai, masuk dan keluar hutan sambil terus bercucuran air mata.

Sementara Yu Yin sibuk mencari, penemuan mayat tokoh-tokoh Ang-liong-pang menggegerkan dunia *kang-ouw*. Beberapa anak buah yang berhasil meloloskan diri segera menceritakan kejadian tersebut. Seorang pemuda bercaping bambu yang dingin dan menyeramkan segera dikabarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Kabar yang beredar dari mulut ke mulut pun semakin dibumbui; Han Han digambarkan seperti naga yang terbang dengan pedangnya, hingga ia dijuluki sebagai Naga Pembunuh.

Han Han tidak tahu-menahu tentang julukan tersebut. Ia memang layak disebut pemuda berdarah dingin. Baru saja muncul di dunia *kang-ouw*, ia sudah melakukan pembantaian terhadap puluhan anggota Ang-liong-pang yang sebenarnya tidak memiliki permusuhan pribadi dengannya. Kini, saat nama Naga Pembunuh yang ganas mulai dikenal, dunia *kang-ouw* pun menjadi guncang dan waspada. Siapa pun merasa khawatir jika harus berhadapan dengan pemuda misterius itu.

Seorang wanita tertawa terkekeh sendirian. Rambutnya terurai panjang sampai ke pinggul. Wajahnya cantik namun kusam dan tak terawat, meski masih merupakan daya tarik yang besar. Wanita itu menendang-nendang batu di jalan sambil sesekali menyebut nama Kedok Hitam.

Melihat tingkahnya, jelas ia adalah wanita tidak waras atau mungkin setengah gila. Namun, saat dua laki-laki muncul di tikungan dan menghadangnya sambil duduk di atas dua ekor keledai yang selalu berklinting, wanita itu tertegun. Tiba-tiba, batu yang ditendangnya ditangkap dan diremas hancur oleh salah satu dari dua laki-laki berhidung mancung tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment