Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 50

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 50

"Hm, kau Wi Hong bekas ketua Hek-yan-pang, bukan?" Pertanyaan itu, yang dilancarkan dengan suara sengau dan agak parau, membuat si wanita terkejut.

Dia tersentak dan sikap gilanya hilang.

Sorot mata yang semula berputar-putar itu mendadak bercahaya, berkilat, dan tiba-tiba tawa terkekeh yang terhenti muncul lagi, terdengar dikeluarkan dengan lebih menyeramkan, mirip ringkik kuda.

Dan ketika wanita itu bergerak dan tiba-tiba berdiri menghadang dengan tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan menuding dan menunjuk laki-laki yang berkata, maka dia berseru, "Heh, kau ini adalah Mindra, bukan? Kakek tua bangka dari Thian-tok (India)?" "Hm, benar. Itulah aku," si kakek, laki-laki di sebelah kiri, tersenyum mengangguk dengan mata berseri.

"Dan kau adalah Wi Hong, bukan?" "Keparat, aku Sin-hujin (Nyonya Sin), kakek tua bangka. Hormati suamiku atau kau mampus kubunuh!" "Ha-ha," kakek ini tertawa, berpaling kepada temannya. "Sudah berubah,"

"Bagaimana pendapatmu, Sudra? Apakah bekas ketua Hek-yan-pang ini tidak seperti dulu lagi?" "Ya, dia sudah berubah," kakek di sebelah kanan mengangguk, matanya pun bersinar.

"Sin-hujin ini agak terganggu jiwanya, Mindra. Lihat sorot matanya yang mulai berputar-putar liar itu!" Wi Hong, wanita ini, memekik. Memang bola matanya sudah berputar-putar lagi dan sikapnya yang waras tadi hanya sejenak saja tampak, setelah itu dia terkekeh-kekeh dan mencungkil-cungkil tanah dengan kakinya.

Tapi ketika belasan kerikil tajam melayang dan menyambar dua kakek ini, yang duduk terkejut, maka keduanya berseru mengibaskan ujung lengan baju.

"Heh, awas! Tidak waras tetapi berbahaya!" Belasan kerikil itu disampuk hingga runtuh, hancur menjadi tepung, tetapi wanita itu tiba-tiba bergerak dan berkelebat ke belakang.

Dan ketika dua ekor keledai berteriak karena ditarik buntutnya sampai berontak, maka dua kakek itu tersentak karena binatang tunggangan mereka mendadak lari dan kabur dengan kesakitan.

"Hi-hik, rasakan! Boleh kalian jatuh bangun di situ!" Dua kakek ini membentak keras. Mereka marah karena keledai yang ditunggangi tiba-tiba liar. Mereka mencongklang dan lari ke kiri-kanan, masing-masing seperti kesetanan. Tapi ketika mereka bergerak dan menepuk tunggangan mereka keras sekali, maka dua ekor keledai itu berhenti namun tiba-tiba roboh.

"Keparat!" Terpaksa dua orang ini berjungkir balik melayang turun. Mereka heran dan juga kaget mengapa keledai yang ditarik buntutnya tiba-tiba bisa begitu, roboh setelah dihentikan. Tapi ketika mereka memeriksa dan melihat sebatang jarum menancap di pinggul, tepat di pangkal ekor, maka dua kakek itu gusar karena jarum beracun telah membinasakan dua ekor binatang ini.

"Heh, tak tahu diri!" Mindra, kakek pertama, membentak geram. "Baik-baik kami menanyaimu, tetapi kau menyerang kami, bocah. Kalau begitu kau perlu dihajar dan harus mengganti kerugian...!" Wut!" Kakek ini berkelebat, tangan kirinya bergerak mengeluarkan cahaya merah dan angin panas pun menyambar.

Wi Hong, wanita itu, terkekeh-kekeh dan menangkis, tidak berkelit. Tapi ketika dia terpelanting dan ujung lengan bajunya hangus, itulah Hwi-seng-ciang atau Pukulan Bintang Api, maka wanita ini berteriak dan terkejut.

"Aiihhh, tua bangka yang cukup lihai!" Wi Hong berguling-guling memadamkan sisa api dan meloncat bangun sambil mencabut pedang.

"Heh, kau mau main-main denganku, Mindra? Kau berani menyerangku?" "Hm!" Mindra, si kakek, gusar mendengus marah. "Kaulah yang menggangguku, Wi Hong. Jika tidak, tentu tidak akan seperti ini. Kau sudah tidak waras, kami hanya menegurmu karena mendengar kau menyebut-nyebut nama Si Kedok Hitam!" "Si Kedok Hitam? Ah, dia memang musuhku. Dan kalian pun musuhku karena dulu kalian juga pernah bersengkongkol dengannya. Haiittt!" Lalu pedang yang bergerak mendahului lawan tiba-tiba menusuk dan menikam dengan amat cepat.

Wi Hong marah karena nama itu tiba-tiba disebut lagi. Si kakek mengelak, namun pedang mengikutinya, bergerak bagaikan bayangan. Dan ketika hampir saja tenggorokan kakek itu disambar dan kakek ini cepat menangkis dengan Hwinya, maka wanita itu terhuyung, tetapi melengking dan menerjang lebih dahsyat.

"Mindra, aku akan membunuhmu!" Pedang yang bergerak lebih cepat menusuk dan menikam akhirnya diiringi pula pukulan-pukulan tangan kiri yang mempergunakan Angin-kang (Pukulan Awan Merah), menampar dan mendorong, dan sebentar saja kakek itu mundur-mundur. Mindra kewalahan, tetapi kakek ini akhirnya bergerak gesit, mengelak, menampar, dan balas memukul lawannya. Dan ketika tangan kiri bertemu Hwi-seng-ciang dan meledak, kalah kuat, maka Wi Hong terhuyung jatuh, namun sudah menyerang lagi.

Pedang di tangannya bergerak naik turun dan lawan dipaksa tak berani mendekat. Wi Hong memainkan silat pedang yang hebat dan bersifat mengadu nyawa. Namun karena kakek ini bukanlah kakek biasa, karena dia adalah jago dari Thian-tok yang dulu pernah dipakai Coa-Ongya untuk menghadapi Si Golok Maut, maka kakek ini dapat bertahan dan pukulan-pukulan Awan Merah dapat ditolak dengan baik, dan Wi Hong mulai sering jatuh.

"Keparat, kau boleh bunuh aku, Mindra. Tetapi tak boleh menghina!" "Hm, aku tak akan membunuhmu!" si kakek berseru, gusar, tetapi merasa kasihan, wanita itu tidak waras. "Jiwamu sudah tidak sehat, Wi Hong. Kalau kau dulu menyusul Si Golok Maut, tentu bagus. Sayang, kau masih hidup dan sekarang gila!" "Gila? Hi-hik, kaulah yang gila, tua bangka. Kau yang tidak waras dan mengatakan aku gila. Aih, aku hidup karena ingin membalaskan kematian suamiku. Dan kau dulu pernah mengeroyok di Lembah Iblis. Mampuslah, pedangku masih haus darahmu...!" Wut!" Pedang yang menyambar bergerak dari samping tiba-tiba membabat dan membacok pinggang si kakek.

Mindra menangkis, tetapi pedang ditarik kembali, cepat sekali. Dan ketika si kakek tertegun dan kaget, heran, maka pedang membalik dan tiba-tiba membacok kepalanya.

"Haih, ganas! Tetapi tak dapat membunuh aku!" Si kakek yang mengelak dan menampar ke atas, menghalau pedang, tiba-tiba melihat pedang ditarik lagi untuk diganti dengan serangan lain, kali ini tusukan ke ulu hati, dan berturut-turut wanita itu mengubah atau mengganti serangannya di tengah jalan. Rupanya, dia memang akan mengecoh kakek ini agar tak mengetahui serangan mana yang sesungguhnya nanti dilancarkan. Si kakek berkali-kali mementalkan pedangnya dengan tangkisan Hwi-seng-ciang, sementara pukulannya, Ang-in-kang, selalu terpental atau tertolak balik bertemu Hwi-seng-ciang. Maka ketika delapan kali berturut-turut Wi Hong mengubah serangannya dan terakhir kali pedang menusuk mata dengan cepat luar biasa, maka pedang tiba-tiba dilepaskan dan meluncur tanpa kendali.

"Aihhh...!" Si kakek sudah terlebih dulu dibuat sulit menduga. Tujuh kali berturut-turut menangkis dan menampar cukup membuat kakek ini marah. Dia juga bingung karena tak mau membalas dengan pukulan keras, paling-paling dia hanya membuat pedang terpental atau pukulan tangan kiri tertolak. Maka begitu serangan yang kedelapan dilakukan dengan melepas pedang, yang meluncur menyambar mata, maka kakek yang baru saja berdiri tegak mengibaskan lengan ke kiri ini tiba-tiba menjadi pucat, namun saat itu merupakan detik-detik paling kritis bagi si kakek lihai untuk menunjukkan kepandaiannya. Dia sudah tak sempat mengelak lagi dan satu-satunya jalan adalah meniupnya. Karena begitu pipi si kakek menggembung dan ditiup kuat, penuh hawa sakti, maka pedang terbentur dan... patah di tengah jalan.

"Pletak!" Wi Hong mengeluh pucat. Dia tadi melakukan jurus yang disebut Menimpuk Bunga Mengetam Padi, sebuah jurus berbahaya dan termasuk nekat, karena dia melepas senjata dan tinggal bertangan kosong lagi. Kalau gagal tentu celaka karena lawan akan marah, padahal dia sudah tak bersenjata. Dan ketika benar saja serangannya gagal dan pedang bahkan patah ditiup si kakek, hal yang mengagumkan, maka Mindra yang gusar dan berkelebat ke depan tiba-tiba menggerakkan tangan menampar kepala wanita itu.

"Tak pantas kau diberi ampun. Mampuslah!" Wi Hong berkelit. Dia terkejut ketika hawa panas mendahului tamparan si kakek, mengelak, namun kalah cepat. Tapi ketika tamparan siap mendarat di kepala wanita itu, yang berarti Wi Hong akan tewas, mendadak berkelebat bayangan putih dan tamparan atau pukulan ini ditangkis seseorang.

"Kakek kejam, tak perlu membunuh wanita!" Benturan keras yang membuat si kakek terpelanting dan berteriak kaget, terguling-guling, membuat Wi Hong maupun lawan terkejut karena di situ muncul seorang pemuda gagah bercaping bambu.

"Sin Hauw!" "Si Golok Maut...!" Dua seruan itu hampir bersamaan meluncur dari mulut si kakek maupun Wi Hong. Sudra, kakek yang lain, juga berteriak dan kaget berseru tertahan. Itulah Han Han yang datang tepat pada waktunya, melihat pertandingan dan kemarahan kakek berhidung mancung ini. Dan karena Mindra akan membunuh lawannya, sementara Han Han telah melihat dan menyaksikan dari dekat, diam-diam tergetar dan kasihan kepada wanita yang rambutnya acak-acakan ini, yang agaknya setengah gila, maka Han Han bergerak dan tak mau wanita yang patut dikasihani itu dibunuh.

Han Han menangkis dan langsung mengerahkan Pek-lui-kangnya, bertemu dengan Hwi-seng-ciang dan meledaklah suara keras bagai petir itu. Tapi ketika dua mulut berseru berlainan, satu menyebutnya sebagai Sin Hauw dan yang satu sebagai Si Golok Maut, padahal tokoh itu telah tiada, maka Han Han tertegun dan tiba-tiba terkejut ketika wanita setengah gila yang rambutnya acak-acakan ini terkekeh dan menubruknya.

"Aih, kau kiranya, Hauw-ko (Kanda Hauw). Kau datang tepat pada waktunya dan telah menyelamatkanku. Ah, terima kasih. Kau ternyata masih hidup!" Han Han yang langsung dipeluk dan diciumi, terkejut tiba-tiba melihat wanita itu terisak dan menangis tersedu-sedu. Dan saat itu kakek berhidung mancung yang ditangkis pukulannya tiba-tiba mencabut nenggala dan membentak, disusul temannya yang juga mencabut cambuk baja dan meledakkannya di udara.

"Si Golok Maut, rohmu kiranya masih berkeliaran di bumi. Mampuslah...!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment