Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 51

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 51

"Dar!" Cambuk menyambar dan meledak ke arah lehernya, menjerat, sekonyong-konyong disusul gerakan nenggala yang menusuk lambung.

"Minggir!" Han Han terkejut dan berseru keras.

Ia masih belum memahami situasi ketika tiba-tiba dua senjata itu menyerangnya dengan hebat. Nenggala mengaum, suaranya mirip topan menderu, sementara cambuk di atas kepala sudah siap menyambar lehernya. Kalau ia lengah sedikit saja, barangkali lehernya bisa terbabat putus. Dua senjata itu sama-sama berbahaya.

Karena wanita itu memeluknya, Han Han sempat tertegun. Tangis dan pelukan wanita itu membuat bulu romanya meremang, seolah ada sesuatu yang menyentaknya dari alam halus. Han Han segera bergerak, mendorong wanita itu, lalu melempar tubuh sambil melayangkan tendangan dari bawah.

"Des-des-tarr!" Bumi yang diinjak seketika hangus.

Han Han meloncat bangun dan terbelalak melihat itu. Dua kakek tersebut tiba-tiba menjadi sangat garang dan beringas. Mereka menyebutnya sebagai Si Golok Maut dan menyangka ia adalah arwahnya. Han Han tertegun. Namun, ketika dua kakek itu juga terbelalak kaget melihat Han Han mampu menghindar dan menendang cambuk, keduanya membentak dan menerjang lagi.

"Hei, kalian gila!" teriak Han Han melihat nenggala dan cambuk kembali menyerang dengan berbahaya.

Ia sebenarnya hanya hendak melerai dan menyelamatkan wanita setengah gila itu. Entah mengapa, Han Han merasa iba dan kasihan, tanpa menyadari bahwa wanita itulah ibu kandungnya. Karena dua kakek itu menyerang ganas dan tak peduli pada teriakannya—sementara Mindra dan saudaranya merangsek semakin hebat—apa boleh buat, Han Han berlompatan mengelak ke sana-sini. Saat terus dicecar, pemuda ini akhirnya menangkis. *Pek-lui-kang* kembali digunakan, namun ketika bertemu nenggala, lengan Han Han tergetar. Itulah tanda bahwa lawan memiliki *sinkang* kuat; kedua kakek itu bukanlah orang sembarangan.

Han Han kagum, namun juga marah. Saat nenggala kembali menusuk dan cambuk menjeletar di atas kepala bagai guruh, Han Han mencabut pedangnya. Secepat kilat ia bergerak miring sambil membabatkan pedang dari kanan ke kiri.

"Crat-tass!" Nenggala dan cambuk sama-sama buntung.

Dua kakek itu berteriak kaget dan melompat mundur. Mereka terbelalak memandang senjata masing-masing. Saat menyadari Han Han tidak memegang golok sebagai ciri khas Si Golok Maut, mereka bertanya dengan suara yang jelas gentar, karena gerakan pedang Han Han membuktikan bahwa pemuda itu memiliki *sinkang* yang jauh di atas mereka.

"Kau siapa, anak muda? Dari mana asalmu dan mengapa mengganggu kami? Kau mencari permusuhan!"

"Hi-hik, tak usah dijawab!" wanita berambut riap-riapan itu tiba-tiba melengking dan menusuk dua kakek tersebut menggunakan kukunya. "Mereka ini orang-orang yang dulu mengeroyokmu, Hauw-ko! Hayo hajar dan bunuh! Bantu aku dan jangan didengarkan mereka!"

Namun, dua kakek itu mengebutkan lengan. Wi Hong terpental dan jatuh terguling-guling. Wanita itu menjerit dan meminta agar Han Han tidak berpangku tangan. Ketika ia meloncat bangun dan menerjang lagi karena merasa "suaminya" ada di situ, Mindra dan Sudra gemas menghantamnya.

"Kau tidak tahu diri, enyahlah... des-dess!" Wi Hong terkena sapuan miring, terlempar, jatuh terguling-guling, dan menjerit menangis.

Wanita itu marah tapi juga gentar menghadapi lawannya. Han Han tidak segera menolongnya, namun ketika ia bergerak menyambar dan mengangkat wanita itu bangun, ia justru disemprot dan dimaki-maki.

"Kau tidak setia kepada istri! Kau membiarkan saja aku jatuh bangun. Aih, bertahun-tahun aku menderita untukmu, Hauw-ko. Ayo balas dan bunuh mereka sekarang! Atau aku tidak mau tidur lagi bersamamu dan biar kau mati kedinginan!"

Wajah Han Han memerah padam. Karena wanita itu bicara soal hubungan suami-istri, ia segera menotok dan membungkam mulutnya. Ketika wanita itu mengeluh dan roboh terguling, Han Han sudah menghadapi dua kakek India itu. Mindra dan Sudra sadar bahwa mereka salah sangka, meskipun mereka terkejut karena sikap dan gerak-gerik lawannya benar-benar mirip Si Golok Maut, bahkan wajahnya pun serupa, kecuali pedangnya.

"Anak muda, kau siapa? Mengapa mengganggu dan menyerang kami? Bukankah kita tidak saling bermusuhan? Dan maaf kalau aku menyangkamu sebagai Si Golok Maut. Kedatanganmu yang amat tiba-tiba dan mengejutkan ini membuat kami salah paham," ujar Sudra.

Mereka saling mengedip dan diam-diam mencekal erat senjata di tangan. Anak muda itu jelas lihai, dan senjata mereka buntung hanya dalam sekali babat, padahal mereka bukanlah orang lemah. Namun, ketika Han Han memandang dengan sinar mata tajam yang menusuk, dua kakek itu meremang karena sikap ini pun persis seperti Si Golok Maut.

"Aku Han Han, entah kalian siapa. Aku datang ke mari sekadar menyelamatkan wanita ini. Kalian menghadapi orang yang tidak waras, mengapa telengas dan tidak mengenal kasihan? Bukankah sebagai kakek-kakek kalian harus memiliki perasaan? Hm, aku tidak bermaksud mengganggu kalian, kakek-kakek kejam. Kalau kalian mau melepaskan wanita ini, tentu aku tidak akan melanjutkan urusan. Terserah kalian mau apa sekarang!"

Dua kakek itu bergidik. Mereka mendengar kata-kata itu begitu dingin dan beku. Anak muda itu bersikap hormat tapi juga mengejek; mereka seakan tidak dipandang sebelah mata. Mindra yang penasaran dan tidak puas dengan pertandingan tadi berkata, "Anak muda, kami adalah dua tua bangka dari Thian-tok. Aku Mindra dan itu saudaraku, Sudra. Barangkali kau pernah dengar nama-nama kami, atau guru serta orang tuamu memberi tahu?"

Han Han menggeleng. "Aku tidak pernah dengar," katanya sungguh-sungguh. "Tapi biarpun dari Thian-tok atau Tee-tok, aku tidak pernah takut. Kalian sebaiknya pergi dan biarkan wanita ini."

"Keparat!" Mindra tiba-tiba mendelik, tidak kuat menahan diri lagi. "Kau sombong dan pongah! Kalau begitu, coba rasakan ini dan buktikan kata-katamu!"

Nenggala menyambar, dahsyat menderu, dan Han Han berkelit ringan. Mindra marah sekali karena pemuda itu tidak memandangnya, padahal ia adalah orang yang disegani di dunia kang-ouw. Istana sendiri hormat terhadap mereka, tapi pemuda ini malah menantang dan mengejek. Begitu Han Han mengelak dan nenggala menghantam tanah hingga berlubang, sang kakek kembali menyerang dengan lebih dahsyat.

Han Han mengerutkan kening namun mulai menggerakkan tangan. Nenggala ditolak dan ditangkisnya. Ketika ia tergetar namun lawan terhuyung, si kakek semakin penasaran dan menyerang hebat. Han Han menyimpan pedangnya dan dengan pukulan-pukulan perlahan, ia mendorong atau mementalkan senjata lawan.

Mindra berteriak dan tangan kirinya tiba-tiba bergerak. *Hwi-seng-ciang*, Pukulan Bintang Api, meledak dan menyambar pemuda itu. Ketika hawa panas membuat Han Han terdorong dan terkejut, kakek itu berteriak bahwa pemuda itu akan segera roboh.

"Kau sombong dan bermulut besar! Nah, coba buktikan kata-katamu, aku ingin melihat apakah kau tidak bertekuk lutut dan menyatakan menyerah!"

"Hm!" Mata Han Han berkilat. "Menyerah? Tunggu dulu, kakek kasar. Kalau kau mengira dapat mengalahkanku, kau keliru. Lihat, aku akan merobohkanmu sebelum tiga puluh jurus... slap!"

Han Han lenyap menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, tiba-tiba bergerak luar biasa cepat mengelilingi kakek itu hingga Mindra berseru keras karena kehilangan lawannya. Han Han mengeluarkan segenap kecepatannya hingga si kakek berkunang-kunang. Saat melakukan tamparan dengan *sinkang* yang dipelajari dari sumur tua, pundak kakek itu tertampar dan ia jatuh terpelanting.

Kakek itu berusaha melindungi diri, namun Han Han mengeluarkan tawa mengejek. Ia beterbangan mengelilingi lawannya sementara nenggala diputar di bagian atas untuk melindungi pinggang dan muka. Begitu Han Han menggerakkan kaki menendang lutut yang tak terjaga, kakek itu terjerembab dan roboh.

"Nah," seru Han Han, "dua puluh tiga jurus, kakek sombong. Siapa yang roboh dan siapa yang menyerah?"

Kakek itu kaget bukan main. Ia tidak dapat mempertahankan diri karena tendangan itu tepat mengenai jalan darah *tu-hi-hiat* di tempurung lututnya. Namun, saat kakek itu terguling, mengeluh, dan mengusap lututnya hingga bisa bangun kembali, Han Han tertegun. Ia memuji bahwa lawannya hebat, karena totokan dengan ujung kaki tadi tidak mudah disembuhkan oleh orang dengan tingkat kepandaian biasa.

Namun, Han Han merasa marah karena kakek itu tetap tidak tahu diri. Ia ingin bekerja cepat. Begitu lawan menerjang dan nenggala menyambar leher dengan beringas, Han Han mencabut pedangnya. Sinar putih berkelebat, lalu terdengar jeritan lawannya.

"Aduh... crang-dess!"

Mindra terlempar. Kakek itu berteriak karena nenggalanya putus terbabat. Sebagian jarinya terpapas pula dan kulitnya robek terkupas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment