Chapter 52
Untung tidak putus!
Ketika kakek itu mengaduh karena Han Han menendang lebih keras, si kakek mencelat dan roboh. Mindra tak dapat bangun lagi karena seluruh tubuhnya terasa nyeri.
"Ah!" Sudra, kakek yang satu, tiba-tiba bergerak dan berkelebat. Cambuk menjeletar untuk mencegah Han Han maju menyerang. Kakek itu berteriak dan menolong temannya. Ketika Mindra dipapah bangun dan ngeri memandang ke depan, gebrakan terakhir itu menyelesaikan segalanya. Kakek itu gemetar dan menuding.
"Itu... itu tadi... bukankah itu gerakan dari jurus Bianglala Memangkas Matahari? Bukankah anak muda ini memainkan Pekjit Kiam-sut (Silat Pedang Matahari)?"
"Benar," temannya mengangguk. "Aku juga melihatnya begitu, Mindra. Kalau begitu anak muda ini adalah murid Pekjit-kiam Ju Beng Tan!"
Sudra membalik serta menghadapi Han Han yang terkejut dan mengerutkan kening. Kakek itu berseru sambil membelalakkan mata, "Anak muda, kau ada hubungan apa dengan Pendekar Pedang Matahari Ju Beng Tan? Apakah muridnya?"
"Hm, benar," Han Han tak ingin memperkenalkan diri sebagai putra ayahnya. "Aku memang muridnya. Kalau kalian mengenal guruku, maka itu bagus. Apakah kalian pernah dihajar olehnya?"
"Ah!" Dua orang itu pucat. "Kalau begitu pantas saja kau begitu sombong! Baiklah, kami tak mau ribut dengan gurumu, anak muda. Tapi beritahukan padanya bahwa peristiwa belasan tahun yang lalu tetap tak kami lupakan. Lain hari kami akan meminta petunjuk gurumu itu dan biarlah wanita itu kami bebaskan!"
Dua kakek itu memutar tubuh, berkelebat, dan pergi dengan cepat. Mindra, kakek yang terluka, masih kelihatan terhuyung dengan langkah sempoyongan. Tapi begitu temannya menarik dan menyendal, kakek itu dapat bergerak cepat dan terbang meninggalkan tempat itu, lenyap di luar hutan.
Han Han tersenyum mengejek, lalu membalik menghadapi Wi Hong. Ia membebaskan dan mengangkat wanita berambut riap-riapan itu. Namun, begitu diangkat, tiba-tiba wanita ini mengguguk dan menubruknya.
"SIN HAUW! Ah, kau.... kau melepaskan kakek-kakek jahanam itu? Kau tidak membunuhnya? Ah, benci aku kepadamu, Sin Hauw. Benci aku. Kau tak tahu penderitaanku selama ini.... plak-plak!"
Han Han yang ditampar serta dimarahi wanita itu tiba-tiba terhuyung, namun ditubruk lagi, dipeluk, dan dirangkul. Tiba-tiba wanita itu menangis menciumi dirinya. Han Han meremang, namun entah kenapa dia tidak mengelak. Semua tamparan dan kemarahan itu dibiarkannya. Hatinya terharu dan teremas-remas melihat keadaan wanita ini. Han Han tiba-tiba bercucuran air mata pula.
Ketika wanita itu melihatnya dan tertegun, ia membelalakkan mata, lalu terkekeh dan melepaskan pelukannya.
"Hauw-ko, kau menangis? Kau tiba-tiba berubah menjadi begini cengeng dan tak malu menangis? Ah, hi-hik. Lucu, Hauw-ko. Tak sepantasnya kau sebagai Si Golok Maut menangis. Atau mungkin kau menangis karena bahagia bertemu denganku lagi, oh!"
Wanita itu tertawa dan menangis lagi, benar-benar gila, lalu menubruk dan menciumi Han Han. Pemuda ini tersedak namun cepat mengelak ketika wanita itu hendak mencium bibirnya. Dia dianggap suaminya dan Han Han tentu saja jengah.
Ketika Han Han sadar bahwa salah paham terjadi di sini—wanita itu menganggapnya sebagai Si Golok Maut—dia melepaskan diri dan berkata dengan suara penuh haru, "Bibi, kau lihatlah aku baik-baik. Aku bukan Si Golok Maut, suamimu. Aku adalah orang lain, lihatlah aku bahwa aku bukan suamimu itu!"
Aneh, wanita itu tampak terkejut. Ia mengeluarkan suara kecewa ketika ciumannya dielak. Tapi ketika Han Han mendorongnya halus dan berhadap-hadapan, tiba-tiba wanita itu membanting kaki dan berseru, "Hauw-ko, apa-apaan kau ini? Kau masih juga mau mempermainkan aku? Ah, bertahun-tahun aku merindukanmu, Hauw-ko. Jangan permainkan aku seperti ini. Aku tak lupa wajahmu. Aku tak lupa akan sorot dan sinar matamu itu. Kau adalah Hauw-koku itu, kau suamiku. Jangan berkata seperti itu karena hatiku teriris luka!"
Han Han yang ditubruk serta dipeluk lagi akhirnya mendorong dan melepaskan diri, berbisik lembut, mulai terpengaruh oleh penderitaan wanita ini. "Bibi, aku adalah Han Han. Aku bukan suamimu. Aku dari Hek-yan-pang, putra ayahku Pek-jit-kiam Ju Beng Tan."
Luar biasa, wanita itu tiba-tiba mencelat. Han Han tersentak karena tiba-tiba wanita itu melengking. Suaranya menggetarkan bukit. Han Han hampir menampar wanita itu ketika mencengkeramnya saat melayang turun. Tapi sesuatu yang aneh terjadi; bola mata wanita itu yang tadi bergerak-gerak liar, sekonyong-konyong kini tampak sadar dan waras. Pundak Han Han dicengkeram kuat-kuat dan dengan suara yang ditahan-tahan, ia bertanya, "Kau.... kau dari Hek-yan-pang? Kau putra Beng Tan, ketua Hek-yan-pang? Kau anak Swi Cu?"
"Benar," Han Han mengangguk, tiba-tiba perasaannya terguncang kuat, tergetar oleh debaran yang menekan jiwa. "Bibi kenal orang tuaku? Bibi tahu ayah ibuku?"
"Ahh!" Lolong itu tiba-tiba berubah histeris, terganti tawa panjang. "Kalau begitu kau anakku, Han Han. Kau Giam Liong, bukan Han Han, oohhhh!"
Han Han yang dicengkeram dan ditubruk, mendengar tawa dan lengkingan itu, tiba-tiba melihat wanita ini roboh dan pingsan. Han Han tak tahu bahwa itulah ibunya. Wi Hong terguncang kuat oleh perasaan yang luar biasa bahagia, getaran hebat mengguncang sarafnya. Kegilaan wanita ini tiba-tiba sembuh seketika itu juga. Namun, karena guncangan itu terlampau kuat, Wi Hong jatuh pingsan.
Han Han cepat menolongnya dengan perasaan berdegup kencang. Ia sebenarnya sudah tertarik karena wanita ini ternyata adalah istri mendiang Si Golok Maut, padahal dia amat ingin tahu tentang kisah Si Golok Maut yang caping dan kitab pusakanya ditemukan di sumur tua. Maka, begitu dia bertemu wanita ini dan kebetulan wanita itu adalah orang yang paling dekat dengan Si Golok Maut, dia berharap dapat menggali cerita. Namun, kegirangan Han Han diiringi pula oleh pengakuan wanita itu bahwa dia adalah anaknya.
Han Han terguncang dan terpukul. Sedetik darahnya tersirap, tapi ia sadar wanita yang dihadapi ini adalah wanita yang tidak waras. Han Han tidak tahu bahwa seketika itu juga ibunya sudah sembuh. Begitu wanita itu siuman, ia tidak lagi menampakkan tanda-tanda gila.
"Ah, Liong-ji..... Liong-ji... kau sudah begini besar dan mirip ayahmu? Kau demikian gagah dan dapat mengusir orang-orang macam Sudra dan Mindra itu? Oh, terkabul rencana ibumu, Nak. Terkabul sekarang apa yang dulu pernah kuinginkan!"
Han Han yang diciumi serta dibelai tidak lagi melihat wanita itu menganggapnya sebagai Si Golok Maut melainkan sebagai putra sendiri. Han Han tersentuh dan menitikkan air mata, merasakan getaran penuh kasih tersalur dari jari-jari wanita itu—kasih yang belum pernah dirasakannya dari Swi Cu, ibunya.
Tapi begitu teringat ibunya, sedangkan wanita ini juga menganggapnya sebagai anak, hal yang dirasanya tak mungkin, Han Han melepaskan diri dan berkata gemetar, "Bibi, aku adalah anak Swi Cu. Aku putra Pek-jit-kiam Ju Beng Tan. Kau sadarlah dan jangan menganggapku seperti itu..."
"Oh, tidak.... tidak. Justru kaulah yang tidak tahu, Liong-ji. Kau anakku!"
"Aku adalah Han Han, bukan Liong..."
"Tidak!" Wanita itu tiba-tiba mencengkeram Han Han. "Kau bukan Han Han, anakku. Kau adalah Giam Liong. Tepatnya Sin Giam Liong, putra Si Golok Maut Sin Hauw!"
Ketika Han Han terkejut dan meremang melihat sinar mata wanita itu, wanita ini menariknya duduk. "Dengarlah, aku mau bercerita!"
Ketika Han Han duduk dan mendengarkan, jantungnya semakin berdegup kencang. Wi Hong menangis dan menahan napas. "Aku tidak bohong kalau mengatakan bahwa kau adalah anakku. Dengar, kau bukan Han Han, anakku. Melainkan Giam Liong. Aku dulu menukarmu dengan anak yang dilahirkan Swi Cu. Kau adalah anak yang kulahirkan dulu. Kau adalah benih dari ayahmu, Si Golok Maut. Dan kalau kau ingin bukti tentang ini, maka perlihatkan pangkal pahamu, karena di situ pasti ada dua goresan merah dari bekas kukuku dulu. Nah, betul atau tidak!"
Han Han terbelalak. Tiba-tiba saja ia menjadi pucat karena apa yang dikata wanita ini benar. Memang ada dua goresan merah di pangkal pahanya yang tidak dapat hilang. Han Han merasa risih dan terganggu karena itu adalah rahasia pribadinya yang tidak diketahui orang lain.
"Hayo!" Han Han pucat.
"Tunjukkan kepada ibumu, Nak. Atau biar aku merobeknya dan lihat apakah kau bukan anakku.... bret!"
Celana Han Han yang dirobek dan direnggut cepat membuat pemuda itu mengeluh dan hampir meloncat. Han Han berseru tertahan, tapi entah kenapa tiba-tiba dia tak sanggup mencegah wanita itu. Han Han seketika yakin bahwa inilah ibunya. Dan karena ibunya yang merenggut, ia mendiamkan saja ketika celananya disingkap dan benar saja tampaklah dua goresan merah itu, bekas kuku yang dulu diguratkan Wi Hong sebagai tanda.
"Nah!" Wanita itu berseru, menangis.